Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MASA LALU


__ADS_3

Semenjak selesai sholat Subuh, Kosim sendirian menyiapkan dagangan ciloknya. Satu persatu dinaikkan kedalam gerobak kecilnya diatas sepeda motor, sambal, kecap, panci besar berisi cilok yang dibuatnya semalam dan yang terakhir tabung gas isi 3 kg. Sementara Arin masih pulas diatas kasur bersama Dede yang masih berusia 2 tahun lebih. Ketika matahari mulai menampakkan sinar paginya, Kosim pun bersiap meninggalkan rumah mengais rejeki menjajakan ciloknya keliling dari desa ke desa.


“Rin... Arin... Saya berangkat ya,”


Sudah menjadi kebiasaan Kosim sebelum berangkat ia selalu berpamitan pada istrinya yang masih berbaring di tempat tidur.


“Hm, iya bawa pulang duit yang banyak ya!” sahut Arin ketus dengan nada malas-malasan.


Suara knalpot sepeda motor Kosim terdengar dari dalam kamar perlahan-lahan menjauh dan hilang dari pendengaran Arin. Arin pun melanjutkan tidurnya lagi disamping Dede yang masih nyenyak.


“Rin, mbak berangkat dulu, ya...”


Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan lamunan Arin. Arin terhenyak spontan mendongak dari posisi duduknya. Nampak Dewi sudah rapih dengan baju seragam dealer berdiri ditengah-tengah pintu.


“Eh, i,iya mbak... Hati-hati dijalan..” sahut Arin tergagap.


“Kamu jangan ngelamun terus, pagi-pagi sudah bengong gitu,” ujar Dewi kemudian berlalu meninggalkan rumah.


Sepeninggal Dewi, Arin langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil berucap lirih mengingat kehidupannya setahun yang lalu bersama Kosim, "Astagfirullah, maafkan Arin mas..."


Pagi-pagi Arin sudah duduk sendirian di teras dèpan. Dia tidak tahu kalau tempat yang dia duduki itu tepat ditempat yang biasa Kosim duduki semasa hidupnya ketika ngobrol bersama Mahmud, Abah Dul dan Mang Ali manakala mereka kumpul. Pikiran Arin melayang jauh terbawa kedalam angan hampa mençiptakan kerinduan yang sangat dalam terhadap Kosim. Perasaan bersalah, penyesalan hingga masa-masa indah dan bahagia bersama suaminya itu menciptakan kisahnya kembali dengan jelas seperti untaian drama dokumenter didalam isi kepalanya.


“Kenapa arwah mas Kosim muncul?”


“Apakah ada sesuatu yang menjadi ganjalan Kosim sehingga dia menampakkan dirinya kembali? Apakah Kosim ingin membalas perlakuan dirinya terhadapnya?”


Pertanyaan itu yang menjadi ganjalan dihati Arin dan menghantui pikirannya setelah semalam muncul dan dapat dilihat oleh Abah Dul, ustad Arifin bahkan kakak iparnya pun dapat melihatnya. Tapi kenapa dirinya sendiri tidak dapat melihatnya?


Tanpa disadari, lamunan Arin kembali memunculkan rangkaian kisah masa lalunya tanpa mampu ia tolak. Alam bawah sadarnya menyeretnya tenggelam mengingatkan perlakuannya terhadap Kosim.


"Assalamualaikum..." ucap Kosim ketika sampai di halaman depan rumah.

__ADS_1


"Waalaikim salam," sahut Arin malas-malasan menjawabnya.


Kosim mematikan mesin sepeda motornya dan menyetandarkannya. Dia melihat putranya yang berusia 2 tahunan sedang berada dipangkuan Arin, Kosim pun langsung menghampirinya berniat menggendongnya.


"E, eh, eh, mandi dulu sana. Maen gendong-gendong aja, bau tuh!" sergah Arin.


"Dapat uang berapa hari ini?!" sambung Arin ketus.


Kosim pun langsung merogoh tas kecil yang terselempang dibadannya. Dia mengeluarkan semua uang yang ada didalam dengan menumpahkannya keatas lantai disamping Arin.


"Ya dihitung dong, malas saya ngitung uang recehan gitu!" ucap Arin Ketus.


Wajah lelah Kosim tak membalas ucapan Arin sepatah kata pun. Kosim begitu sabar menerima perlakuan tak mengenakan istrinya yang selalu diterimanya setiap kali pulang berjualan. Dia pun mulai menghitung uang recehan hasil jualan cilok seharian.


"Dua ratus tiga puluh dua Rin," ucap Kosim menyodorkan tumpukkan uang yang telah dihitungnya diatas lantai.


"Seharian cuma dapat segitu, mana bisa kaya mas!" sungut Arin mengambil uang diatas lantai itu.


Kosim tak membalas sepatah kata pun, ia langsung masuk kedalam rumah untuk mandi. Perlakuan kasar istrinya hampir setiap hari diterima Kosim, namun Kosim tidak patah semangat ia tetap saja melakukan rutinitasnya berjualan cilok dengan penghasilan maksimalnya 250 ribu. Setelah di potong untuk modal membuat cilok serta keperluan kebutuhan dagangan seminim mungkin, masih untung 200 ribu. Seharusnya itu cukup untuk kehidupan di perkampungan. Namun sayangnya, itu semua tidak cukup di mata Arin.


......................


Pagi itu Arin sudah berangkat pergi ke warung untuk belanja kebutuhan masaknya. Di warung langganannya sudah dipenuhi ibu-ibu yang juga berbelanja memasaknya. Diantara kerumunan itu ada saja yang menjadi bahan obrolan atau lebih tepatnya bergunjing yang membicarakan apapun yang mereka dengar. Belanjanya sih Cuma sebentar tetapi ngobrolnya yang lama.


“Punten...” ucap Arin menyelip diantara ibu-ibu yang asyik bergosip itu.


“Eh, Arin... mau belanja apa nih?” sapa bi Darti pedagang warung.


“Itu aja bi Darti sayur bayam, ikan asin dan sambal terasi ya,” jawab Arin sambil milih-milih ikan asin.


Beberapa pasang mata ibu-ibu yang ada di warung langsung saling melirik kearah Arin dengan sorot mata mencemooh. Samar-samar Arin mendengar obrolan ibu-ibu itu yang menyinggungnya.

__ADS_1


“Sssttt... cantik-cantik makannya sama ikan asin, hikhik...” bisik ibu gemuk berdaster kembang-kembang merah.


“Ya maklum, suaminya tukang cilok,” timpal ibu setengah baya, disusul suara tawa cekikikan.


Arin mendengarnya namun tidak begitu jelas yang diobrolkan ibu-ibu yang bergerombol agak menyamping di sudut warung hanya saja dirinya mendengar sekilas menyebut tukang cilok.


“Ini Rin belanjaannya, udah ini saja?” tanya bi Darti.


“iya, berapa bi,” jawab Arin singkat.


“Semuanya delapan ribu Rin,” sahut bi Darti.


Arin pun langsung membayar dengan uang recehan hasil jualan cilok suaminya. Saat Arin sedang menghitung uang untuk membayar itu pandangan mata ibu-ibu yang sedang menggosip spontan meliriknya.


“Sssttt... uangnya recehan semua, hikhik...” celetuk ibu-ibu berbadan kurus.


“Eh, bu Sugeng suami saya mah kalau pulang kerja tuh bawa duitnya kertasan merah, ya minimal kertasan warna biru,” sela ibu gemuk dipenuhi perhiasan pada pergelangan tangannya.


Arin buru-buru pergi meninggalkan warung itu dengan perasaan tak karuan. Ada marah, malu, sedih dan sakit hati berkecamuk jadi satu di dalam hatinya. Dengan wajah memerah menahan tangis, Arin bergegas pulang.


“Mas, cari kerjaan yang penghasilannya tidak recehan, bisa nggak sih?!” Sentak Arin.


Kosim yang sedang menemani Dede tersentak kaget tiba-tiba Arin marah sepulang dari warung.


“Ya sabar Rin, hasil jualan cilok juga kan cukup buat makan sehari-hari bahkan lebih,” sahut Kosim pelan.


“Cukup, cukup, apanya yang cukup?! Kalau cukup pasti saya sudah memakai gelang emas, kalung emas, cincin emas!” Sungut Arin.


Kosim tertunduk, dirinya memang merasa belum bisa membelikan Arin perhiasan. Kosim menengadah melihat mega-mega pagi yang disinari mentari pagi, matanya menerwang jauh memikirkan nasibnya. Namun di dalam hatinya timbul tekad akan berusaha untuk memenuhi keinginan istrinya.


Setiap hari ada saja yang menjadi persoalan yang ditumpahkan kepada Kosim. Hari demi hari, minggu demi minggu hingga berbulan-bulan kata-kata kasar selalu masuk ke telinga Kosim. Lama kelamaan, akhirnya bobol juga kesabaran Kosim. Kerja kerasnya selama ini tidak pernah di hargai secuil pun oleh istrinya dan jerih payahnya tidak pernah membuat istrinya puas.

__ADS_1


"Saya harus mengambil jalan pintas untuk cepat memiliki banyak uang agar keinginan Arin terpenuhi!" batin Kosim dengan mata menatap tajam ke langit.


......................


__ADS_2