Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
TAK TERDUGA


__ADS_3

Dewi diam- diam memperhatikan tingkah laku Arin selama makan malam itu. Ia sedikit keheranan dengan tingkahnya Arin, seperti orang yang sedang jatuh cinta. Namun Dewi sangat menyayangkan sekali jika adiknya itu benar- benar telah menyukai seseorang, padahal Dewi sendiri masih merasakan suasana kedukaan. Kosim, suaminya Arin meninggalnya saja belum genap 40 hari di tambah lagi kematian anaknya yang baru saja selesai 7 hari, hal itu tentunya sangat memalukan bagi dirinya dan Mahmud apabila tetangga- tetangganya mengetahui gelagat Arin yang sedang kasmaran.


Sementara Mahmud di dalam hatinya merasakan hal yang sama dengan yang dipikirkan oleh Dewi. Namun Mahmud lebih terlihat tenang seolah- olah tidak begitu memperhatika Arin.


Tetapi di satu sisi Dewi merasa senang juga melihat Arin yang tak lagi murung seperti hari- hari yang lalu semenjak kematian Kosim. Ditambah lagi sebulan kemudian peristiwa kematian Dede tak ubahnya seperti bom atom nagasaki yang meluluh lantakan psikologi Arin. Semenjak itu pula hari- hari Arin diisi dengan isakkan tangis dan lamunan sepanjang hari, sampai- sampai berat badan Arin pun surut karena jarang sekali makan.


“Siapa laki- laki yang mampu membuat Arin kesengsem ya,” tanya Dewi dalam hati sambil menyuapkan sesendok makanan terakhirnya.


Wajah Arin nampak berseri- seri menikmati makan malamnya lebih cepat dari Dewi dan Mahmud. Kemudian bergegas bangkit sambil membawa piring kotor bekas makannya ke dapur setelah meneguk segelas air minum.


Mahmud dan Dewi kontan berpandangan setelah berlalunya Arin dari tempatnya makan. Sepasang suami istri itu nampak saling memahami melihat tindak tanduk Arin. Namun keduanya tak saling mengungkapkan, Mahmud pun menyusul menyelesaikan suapan terakhirnya lalu beranjak pergi ke ruang tamu setelah mènutup makannya dengan minum segelas air teh, menunggu Abah Dul yang sudah janji ke rumah.


“Wi nanti bikinin kopi ya, Abah Dul mo kesini,” ujar Mahmud sambil berlalu.


Baru saja Mahmud mendaratkan pantatnya di kursi, terdengar dari luar seseorang mengucapkan salam.


“Assalamualaikum...” ucap seseorang dari luar pintu.


“Wa’ alaikum salam, masuk Bah,” sahut Mahmud.


Tak lama setelah itu pintu terbuka disusul Abah Dul muncul dari balik pintu.


“Ente makan belum Bah?” tanya Mahnud sambil menyambut uluran tangan Abah Dul bersalaman.


“Udah Mud, sebelum kemari saya makan dulu,” ujar Abah Dul kemudian duduk berseberangan dengan Mahmud.


Dewi muncul membawa dua gelas kopi hitam lalu menaruhnya diatas meja seraya berucap; “Makan dulu Bah!”


“Udah Wi, hatur nuhun...” jawab Abah Dul.

__ADS_1


Abah Dul mengambil sebatang rokok filter lalu disulutnya. Kepulan asap segera menyembul menguap keatas sesaat dihebuskan dari bibir dan hidungnya.


“Mud, Kosim kemana ya. Dia tidak pernah datang- datang lagi beberapa hari ini,” ucap Abah Dul.


“Apa dia marah karena nggak jadi rencana malam Jumat itu Bah,” kata Mahmud.


“Mm, perasaan waktu itu Kosim bisa menerimanya, kayaknya nggak mungkin, Mud,” ujar Abah Dul.


Berbeda dengan Gus Harun ataupun Tuan Denta yang kapan Abah Dul dapat menemuinya. Namun Abah Dul kesulitan untuk menemui Kosim karena tidak diketahui berada dimana dia tinggal.


Abah Dul mengutarakan rencana pembebasan arwah Dede kepada Mahmud. Awalnya Mahmud merasa ragu dan mengkhawatirkan kondisi Abah Dul, akan tetapi setelah Abah Dul meyakinkannya kalau kondisinya sudah pulih dan sudah siap untuk melanjutkan rencana itu.


"Seandainya saya bisa ikut serta membantu ya Bah," keluh Mahmud.


Abah Dul terpaku sejenak mendengar gumaman Mahmud, ia mulai kepikirian untuk melibatkan Mahmud. Meski Mahmud tidak seperti dirinya dan Gus Harun yang memiliki ilmu meloloskan sukma, namun dalam segi ilmu kebatinannya, Mahmud tidak bisa dianggap kecil. Apalagi jika mengingat darah keturunan dari kedua orang tuanya yang termasuk golongan orang- orang yang disegani memiliki kemampuan batin tinggi.


"Tapi gimana, saya nggak bisa seperti ente atau Gus Harun Bah," ujar Mahmud kecewa.


Isi kepala Abah Dul mulai memikirkan bagaimana caranya agar Mahmud dapat ikut serta dalam misi penyelamatan Dede. Terbersit di hatinya untuk membicarakan hal ini dengan Gus Harun atau bahkan mungkin saja tuan Denta bisa membantunya.


Bibir Abah Dul pun nampak tersungging senyuman, tatapan matanya memancar penuh harapan, seraya berkata pada Mahmud; "Nanti saya bicarakan dengan Gus Harun, barangkali punya jalan keluarnya."


Tanpa di duga- duga sebelumnya, tiba- tiba sebuah suara mengucap terdengar di telinga Abah Dul. Wajah Abah Dul sedikit kaget tetapi sedetik kemudian kembali tenang dan tersenyum sembari menjawabnya.


“Assalamualaikum...”


“Wa’ alaikum salam...” jawab Abah Dul dengan suara bergumam pelan.


Mahmud kontan mengernyitkan keningnya, instingnya langsung menebak ada sosok tak kasat mata yang datang. Ia pun langsung berucap, “Mata batin!”

__ADS_1


Sekejap berikutnya Mahmud dapat melihat sosok sukma Gus Harun di hadapannya tengah duduk bersebelahan dengan Abah Dul. Gus Harun tersenyum kearah Mahmud yang dibalas anggukkan oleh Mahmud.


“Apa kabar Dul, kang Mahmud?” tanya sukma Gus Harun.


“Alhamdulillah, baik Gus...” sahut Abah Dul diikuti Mahmud.


Abah Dul sempat terkesima mendengar Mahmud menyahut, ia menoleh kepada Mahmud. Awalnya ia keheranan namun kemudian cepat tersadar kalau Mahmud sudah dapat melihat dengan indera spiritualnya.


“Kelihatannya ente sudah pulih ya Dul?” tanya Gus Harun.


“Njih Gus, alhamdulillah, nggak bersama tuan Denta Gus?” Abah Dul gantian bertanya karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.


“Saya nggak ajak dia Dul, saya berfirasat kalau ente membutuhkan saya. Jadi saya langsung aja meluncur, ada apa Dul?” ujar Gus Harun.


“O, iya saya lupa ingin bertanya, sejak kapam Kang Mahmud dapat membuka mata batinnya?” tanya Gus Harun gantian menoleh pada Mahmud yang ada di hadapannya.


“Hehehehe... sejak Abah Dul kembali dari nyarasnya di alam jin, hehehe...” ujar Mahmud diiringi tawa kecil dengan sedikit malu- malu menoleh pada Abah Dul.


Kemudian Abah Dul langsung menimpali menceritakannya kalau itu semua berkat bantuan tuan Denta. Gus Harun manggut- manggut takjub mendengar cerita tersebut.


Lantas sekalian Abah Dul pun menyampaikan kesiapannya untuk kembali melanjutkan rencana yang tertunda itu sekaligus menceritakan keinginan Mahmud pada Gus Harun namun terkendala dengan keterbatasannya.


Gus Harun terdiam beberapa saat, ia nampak berpikir keras. Ia mengerutkan dahinya dalam- dalam mencoba mencari- cari cara berbagai kemungkinan untuk bisa membuat Mahmud dapat melakukan ‘Melepas Sukma’ secara instan.


Apabila melakulan laku tirakat untuk memperoleh ilmu ‘Melepas Sukma’ seperti dirinya dan Abah Dul melalui proses sebagai mana mestinya, tentunya akan membutuhkan waktu berhari-hari. Sedangkan batas penyelamatan arwah Dede hanya selama 40 hari terhitung dari saat hari pertama kematiannya.


Abah Dul dan Mahmud memperhatikan Gus Harun dengan penuh harap. Abah Dul sendiri tidak memiliki metode khusus yang dapat diberikan kepada Mahmud agar bisa melepas sukma. ●Bersambung...


......................

__ADS_1


__ADS_2