
“Har… kamu… kamu…” ucap Hasan langsung memeluk adiknya.
“Iya kak, Hariri sudah sembuh, sudah sehat sekarang,” sahut Hariri dalam pelukan kakaknya.
“Kenapa kamu bengong begitu San, kayak orang kesambet saja hehehehe…” sela pak Harjo.
“Ma, maksud bapak ini toh kejutannya?!” sungut Hasan.
“Kenapa bapak nggak langsung bilang kemarin?!” sambung Hasan gemas.
“Ya kalau bapak bilang kemarin namanya bukan kejutan San, hehehee…” sergah pak Harjo tertawa kecil.
“Masya allah… alhamdulillah Gusti allah masih memberimu kesempatan Har, salah dan dosa apa yang sudah kamu buat sampai kamu sakit aneh begitu?” ucapan Hasan sekaligus sebagai pertanyaan yang tidak disengaja itu seketika membuat Hariri terkesiap kaget.
Awalnya Hariri berprasangka buruk kalau kakaknya itu sudah mengetahui penyebab sakit aneh yang dideritanya. Akan tetapi sedetik berikutnya pikiran negatif itu berusaha ia buang jauh- jauh, Hariri meyakini bahwa tidak ada seorang pun yang tahu penyebab dari sakitnya tersebut kecuali dirinya, anak kecil yang hadir dalam mimpinya dan Fina.
Sementara Hasan sendiri tidak tahu kalau pertanyaan yang mengalir spontan dan tidak disengaja itu nyatanya seperti sebuah palu godam yang menghujam ulu hati bagi Hariri. Akan tetapi Hariri berusaha mengembangkan senyumnya untuk menyembunyikan kelukaan hatinya yang terasa terpukul dengan telak oleh ucapan kakaknya tersebut.
Ucapan kakaknya sepenuhnya tidak salah! Di dalam benaknya Hariri mengakui kalau sakitnya itu memang akibat dari kelakuan nakalnya sendiri dan itu pun baru di sadari Hariri setelah mendapat mimpi aneh di malam kesembuhannya.
“Ya ini takdir dari Gusti allah kak, Hariri mana tahu, hehehe…” kilah Hariri berusaha bersikap biasa saja untuk
menutupi kebenaran ucapan kakaknya.
Hasan tak menanggapinya dengan serius karena ucapannya tersebut hanyalah sebuah basa- basi dan kelakar biasa kepada adiknya. Hasan kembali memeluk adik satu- satunya itu dengan erat, perkiraan- perkiraan buruk dan segala kemungkinan situasi terburuk yang akan terjadi pada Hariri jauh- jauh hari sudah Hasan persiapkan. Jika saatnya nanti situasi terburuk itu terjadi dan harus kehilangan adiknya, setidaknya Hasan tidak terlalu shok ketika mendapat kabar duka.
Tetapi saat ini semua pikiran- pikiran buruk yang sudah disiapkannya secara mental telah benar- benar sirna
dari dalam pikirannya. Hasan terharu sekaligus bahagia melihat adiknya kembali sehat seperti sedia kala meskipun tubuhnya saat ini nampak kurus kering seperti tengkorak hidup saja.
“Kamu harus banyak- banyak makan Har, biar badanmu kembali normal tidak kurus seperti tengkorak hidup tuh,”
seloroh Hasan. Hariri dan bapaknya hanya tertawa kecil mendengar selorohan Hasan.
“Sudah, sudah sekarang kita keluar, bantu- bantu mempersiapkan tempat buat acara syukuran besok.” Kata pak Harjo sambil menepuk bahu kedua putranya.
“Njih, njih pak, ayo Har... kamu mau minta apa sama kakakmu ini?” ucap Hasan sambil berjalan keluar kamar menguntit dibelakang bapaknya.
__ADS_1
“Beneran nih kak?” Hariri balik tanya menegaskan.
“He- eh, beneran. Aaaaapa aja!” tanya Hasan sungguh- sungguh.
“Mmmm… apa saja?” tanya Hariri memastikan.
“Apa saja!” tegas Hasan.
“Pasti di turuti kak?” tanya Hariri lagi.
“Pasti kakak turuti, asal jangan minta bulan atau matahari saja, kakak tidak sanggup, hehehe…” seloroh Hasan.
“Kalau begitu, permintaan Hariri Cuma satu kak,” ujar Hariri.
“Yakin Cuma satu nih?” goda Hasan.
“Yakin lah kak, yakin banget malah,” sergah Hariri.
“Apa?” tanya Hasan penasaran.
“Hariri pengen sekali cepat- cepat punya kakak ipar kak,” jawab Hariri tegas.
sesuatu namun tak kunjung keluar kata- kata dari mulutnya seakan lidahnya terasa kelu tiba- tiba. Hasan tampak bingung menanggapi permintaan adiknya tersebut, saat itulah Hasan merasa sangat ceroboh dengan ucapannya yang secara tidak langsung telah berjanji.
“Ingat loh kak, kakak sudah janji akan memenuhi apapun permintaan Hariri,” ucap Hariri mengingatkan.
Hasan nampak semakin kebingungan untuk menjawabnya. Jika dirinya mengatakan “iya” sedangkan dirinya masih jomblo bahkan belum pernah sekalipun memiliki teman dekat atau kekasih apalagi kategori calon istri. Akan tetapi jika pun dirinya menolak permintaan adiknya itu sama saja dengan mengingkari janjinya sendiri.
“I, iya insya allah kakak akan bawakan kakak ipar secepatnya Har,” jawab Hasan pasrah, sebab dirinya juga tidak memiliki gambaran tentang perempuan manapun yang akan ditunjukannya nanti.
“Serius kak?!” tanya Hariri sumringah.
“Insya allah…” gumam Hasan tidak yakin.
“Hasan… Hariri… cepat kemari, kalian lagi ngobrolin apa sih serius amat?” kata bapaknya menoleh kebelakang. Pak Harjo mengira kedua putranya itu berada dekat dibelakangnya, tapi ternyata Hasan dan Hariri jauh tertinggal.
“Njih, njih pak. Ayo Har…” ajak Hasan lalu keduanya buru- buru menyusul bapaknya yang sudah lebih dulu sampai
__ADS_1
di teras depan.
“Apa lagi yang belum pak?” tanya Hasan begitu sampai di samping bapaknya berjajar bersama Hariri.
“Mmmm… apalagi ya?” gumam pak Harjo berpikir sembari mengusap- usap dahinya.
“Kalau undangan untuk warga apakah sudah di sebar pak?” sela Hariri.
“Kalau itu sudah bapak sampaikan ke pengurus- pengurus masjid dan mushola yang ada di Palu Wesi. jadi undangannya diumumkan setiap selesai sholat melalui pengeras suara, biar semua warga Palu Wesi bisa mengetahuinya,” terang pak Harjo.
“Kalau untuk makanan yang dipersiapkan nanti apakah kira- kira mencukupi pak?” tanya Hasan sedikit khawatir kekurangan karena yang diundang adalah seluruh warga desa Palu Wesi.
“Kalau itu insya allah cukup San, bahkan nanti siang ada tambahan kambing sepuluh ekor. Lebih baik lebih daripada kurang, ya kan?” ujar pak Harjo.
“Kalau bapak rela dan ikhlas mengeluarkan biaya untuk pengobatan Hariri berapa pun besarnya, kenapa tidak dengan memberi makan pada orang- orang? Betul tidak?” sambung pak Harjo.
Hasan tertegun dengan penyataan bapaknya sekaligus merasa bangga memiliki seorang figur bapak yang berpikiran legowo, ikhlas dan memiliki jiwa peduli yang besar serta jiwa sosial yang tinggi. Dengan sendirinya timbul kesan yang menakjubkan terhadap bapaknya dan ditanamkan didalam hati sanubarinya agar dirinya pun bisa seperti bapaknya.
Sementara Hariri mendengar ucapan bapaknya seketika batinnya merasa terenyuh, dirinya merasakan kalau bapaknya begitu teramat sangat menyayanginya. Hariri baru menyadari ternyata selama berbulan- bulan itu Bapaknya telah rela mengorbankan hartanya hanya untuk membuat dirinya bisa sembuh. Dan bahkan bapaknya sampai membuat ‘Nazar’ atas kesembuhannya yang tak tanggung- tanggung dengan memberi makan pada orang satu kampung.
"Ya allah... ampuni saya, saya sungguh- sungguh bertobat!" ucap Hariri dalam hati.
Nazar syukuran secara umum merupakan salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam rangka merayakan dan mengucap syukur atas suatu keberhasilan atau rezeki yang diterima. Tradisi ini memiliki makna dan filosofi yang dalam, serta merupakan bagian dari budaya dan adat istiadat yang turun temurun sejak dahulu kala.
Nazar syukuran sebenarnya berasal dari kata "nazar" yang berarti janji atau sumpah, sedangkan
"syukuran" yang berarti rasa syukur atau ucapan terima kasih. Konon, tradisi ini dipercaya berasal dari budaya Jawa, namun sekarang dalam perkembangannya telah menjadi bagian dari berbagai suku dan daerah di
Indonesia.
Dalam tradisi ini, seseorang yang ingin mengucapkan rasa syukur membuat janji atau sumpah untuk melakukan sesuatu sebagai bentuk balasan atas nikmat atau keberhasilan yang diterimanya. Janji tersebut dapat berupa pembangunan atau perbaikan sebuah tempat ibadah, seperti masjid atau musholla, sumbangan untuk lembaga sosial, atau pengabdian kepada masyarakat.
Makna yang terkandung dibalik “Nazar syukuran” tersebut memiliki makna yang sangat dalam dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Tradisi ini didalamnya mengajarkan pentingnya bersyukur dan berbagi rezeki kepada sesama. Dalam budaya Indonesia, keberhasilan atau rezeki yang diterima tidak hanya menjadi milik individu, tetapi juga menjadi tanggung jawab untuk berbagi kepada orang lain.
Melalui nazar syukuran, seseorang diingatkan untuk tidak melupakan asal-usul dan bantuan yang telah diterimanya.
Dengan memenuhi janji atau sumpah yang telah dibuat, seseorang menunjukkan rasa syukur yang dalam dan tanggung jawab sosialnya sebagai bagian dari masyarakat.
__ADS_1
Akan tetapi apabila Nazar tersebut diingkari, maka akan berakibat musibah yang menimpa orang tersebut dan besarnya berkali- kali lipat dari Nazar yang telah di ucapkannya.* BERSAMBUNG