
7 hari setelah kematian Dede, suasana kehidupan keluarga Mahmud perlahan- lahan nampak sudah mulai kembali normal. Seperti biasa sebelum jam 7.00 wib Mahmud pergi bertani menggarap kebun cabainya dan istrinya, Dewi berangkat kerja pada sebuah dealer sepeda motor yang berada di tepi jalan raya yang masih berlokasi di desanya. Sedangkan Arin melakukan rutinitas mengurus rumah Mahmud.
Seperginya Mahmud dan Dewi pergi, Arin menyapu halaman rumah yang nampak kotor oleh banyak berserakan daun- daun dan putik Jambu air dan juga daun mangga.
“Parabooot... parabooot... parabooot....” teriak seorang penjual keliling.
Arin menghentikan kegiatan menyapunya dan berdiri, ia celingukkan mencari sumber suara tukang parabot. Ia teringat dengan penggorengan di rumah kakaknya sudah usang dan bermaksud untuk membelinya.
“Parabooot... parabooot...” terdenfar teriak penjual perabotan rumah tangga lagi.
Arin celingukkan mencari namun tak kunjung menemukan penjual itu. Tapi tak lama kemudian muncul seorang lelaki dari gangg samping rumah dengan memikul aneka macam alat- alat rumah tangga.
“Kang... sini kang!” seru Arin memanggil.
Pria pedagang perabotan rumah tangga itu sejenak menoleh lalu tersenyum sumringah melihat ada yang memanggilnya, ia berjalan cepat ke tempat Arin berdiri.
Perhatian Arin tertuju pada barang- barang yang berada di kedua keranjang yang dipikul pria tersebut tanpa mempedulikan pedagangnya. Setelah sampai di tempat Arin, pedagang itu menurunkan keranjang yang di pikulnya. Ia mengusap wajahnya dengan handuk kecil yang tersampir di lehernya.
“Nyari apa bu..?” tanya pedagang itu ramah dengan logat Sundanya yang kental.
“Kang ada penggorengan nggak?” tanya Arin sambil mengaduk- aduk beraneka macam perabotan.
“Penggorengan? Wah kebetulan hari ini saya nggak bawa bu,” kata pedagang itu.
“Yaaaahhh...” gumam Arin kecewa sambil menoleh melihat pedagangnya.
Seketika jantung Arin berdegub kencang, dadanya berdebar- debar saat melihat wajah pedagang perabotan rumah tangga itu. Matanya tak berkedip, bibirnya ternganga melihat lelaki pedagang di hadapannya.
“Mas Kosim...” gumam Arin tanpa sadar.
Gumaman Arin rupanya di dengar oleh pria pedagang itu yang nampak sedang membenahi tumpukkan barang- barang dagangannya di keranjang satunya. Namun tak begitu jelas terdengar.
“Kenapa bu?” tanya pria pedagang.
Arin terkesiap melihat wajah pedagang itu yang mirip sekali dengan mendiang suaminya. Usianya pun nampaknya sama, sekitar 30-an tahun. Hanya saja yang membedakannya pada warna kulitnya. Kalau Kosim kulitnya berwarna coklat sawo matang tapi pria pedagang ini berkulit kuning langsat.
“Bu... ibu kenapa?! Kok bengong?!” ucap pedagang lagi.
__ADS_1
“Eh, anu... nggak, nggak apa- apa,” jawab Arin tergagap kemudian mengalihkan pendangannya pada barang- barang di dalam kerajang lagi.
“Besok lagi aja ya bu, saya bawain,” ujar pedagang.
“Oh, i, iya kang. Ya udah saya beli yang ini aja kang,” kata Arin menunjuk sebuah tempat nasi.
“Mangga, mangga... yang itu seminggunya lima ribu ya bu, jadi delapan minggu,” kata pedagang.
“Oh, kredit kang?” Arin sedikit kaget.
“Muhun,” jawabnya singkat.
“Kalau kontannya berapa?” Tanya Arin.
“Oh, bayar kontan, tiga puluh ribu bu, hehehe...” jawab pedagang tertawa simpul
“Ya udah, sebentar ya kang saya ambil uangnya dulu. Duduk dulu kang,” ujar Arin kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
Pemuda pedagang kelontongan itu duduk di bibir teras depan rumah sambil mengipas- ngipaskan topi ke wajahnya yang sedikit berkeringat.
“Cantik juga si ibu ini, hikhik...” gumamnya dalam hati menyunggingkan senyum di bibirnya.
Tak lama kemudian Arin kembali berjalan keluar dari teras samping tanpa di sadari oleh pemuda pedagang perabotan yang sedang melamunkan dirinya.
“Ini kang...” ucap Arin.
Namun pemuda itu tak meresponnya, ia tetap mengipas-ngipaskan topinya sambil mendongak melihat keatas pohon jambu air.
“Kang...!” ucap Arin sedikit mengeraskan suaranya.
“Eh, i, iya bu...” pedagang itu tergagap kaget melihat Arin sudah di sampingnya.
Arin mengulurkan lembaran uang 50 ribuan dengan sedikit gerogi. Pemuda pedagang itu pun menerimanya dengan canggung. Tangannya nampak gemetaran saat menerima uang tersebut.
“Kèmbali dua puluh ribu ya bu,” gumam pemuda itu berusaha menutupi kegugupannya.
Debaran- debaran halus di dalam dadanya kian besar saat berdekatan dengan Arin. Perasaan itu tiba- tiba saja datang dengan sendirinya mengalir begitu saja tanpa bisa membendung perasaan sukanya. Tetapi pemuda itu berusaha menekan perasaannya saat mengingat ibu muda di depannya itu yang diperkirakannya sudah bersuami.
__ADS_1
Pemuda itu mengulurkan uang kertas 20 ribuan kepada Arin dengan tangan gemetar lembut, “I, ini kembaliannya bu,” ucapnya gerogi.
“I, iy, iya kang,” Arin pun sama sikapnya menjadi canggung dan kaku menerima uang kembalian itu.
"Rumahnya sepi bu, suaminya udah berangkat kerja ya," ucap pemuda itu mengorek keterangan.
"Saya sudah nggak punya suami kang," jawab Arin sedikit menyembunyikan kematian Kosim.
Mata pemuda pedagang perabotan itu sedikit berbinar mendengar jawaban Arin. Insting kelelakiannya mengatakan kalau ibu muda itu mnampaknya memberikan lampu merah.
"Oh, ya sudah saya keliling lagi bu..." ucap pemuda itu kemudian pergi.
Namun Arin tidak meresponnya, nampaknya Arin sedang tenggelam dalam alam pikirannya sendiri sehingga tidak mendengar ucapan pemuda itu.
Beberapa saat lamanya Arin terbengong, lalu tersentak kaget oleh suara kokok ayam jago disekitarnya sekaligus menyadarkan lamunannya. Arin cepat- cepat menoleh ke tempat pedagang perabotan tadi, namun sudah tidak ada di tempatnya. Arin celingukkan mencarinya dan ternyata pemuda pedagang yang wajahnya mirip dengan Kosim itu sudah berjalan jauh.
Arin pun kembali melanjutkan pekerjaan menyapunya. Namun pikirannya dipenuhi oleh bayangan wajah pedagang perabotan itu yang terus bermain- main di pelupuk matanya. Tanpa di sadarinya wajah Arin pun berubah berseri- seri sambil terus menyapu halaman.
......................
Usai melaksanakan sholat Isya berjamaah, Arin lekas- lekas beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk kakak dan kakak iparnya yang masih berdoa.
Beberapa lama kemudian, Mahmud dan Dewi keluar dari ruangan tempat sholat dan muncul di ruang tengah dengan sedikit mengernyitkan dahi. Keduanya saling berpandangan lalu mengangkat bahu keheranan.
"Trararara.... makan malam sudah siap," seru Arin sumringah.
"Kamu kelihatan berbeda malam ini Rin," ujar Dewi.
"Beda apanya sih mbak?" ucap Arin dengan bibir menyungging senyum.
"Iya, Rin, kamu nampak ceria. Tapi mas seneng deh ngeliatnya. Nggak kaya kemarin- kemarin, melamuuuun aja," timpal Mahmud.
Arin mengambilkan nasi di piring buat Mahmud dan Dewi dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.
"Ayo, makan... makan..." ucap Arin sambil mengambil lauk ikan gurami goreng.
Mahmud dan Dewi melongo terbengong- bengong melihat tingkah Arin yang berbeda 180 drajat dari biasanya. Kemudian suami istri itu pun mengambil lauk penuh tanda tanya di hatinya masing- masing.
__ADS_1
......................