Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PETUAH BOCAH AJAIB


__ADS_3

“Nak, tolong bapak nak…” ucap pak Harjo spontan bersamaan melihat kemunculan seorang bocah berusia 3 tahunan.


“Iya nak, tolonglah…” susul pak Diman memohon.


Mahmud semakin melongo mendengar ucapan pak Harjo dan pak Diman lalu melihat tingkah Dede yang seakan- akan memperingatkannya layaknya orang yang sudah sepuh saja.


Dede langsung loncat keatas pangkuan Mahmud dengan manja lalu duduk menghadap keempat tamu dengan tingkah bocahnya. Bocah kecil itu menatap keempat orang dihadapannya satu persatu dengan tatapan tajam tak ubahnya seperti sedang menyelidik.


“Ahaaaahhh! Ibu sudah lama sakit pada kaki kanannya ya?” ucap Dede dengan suara jenaka.


“Be, beb, bebbenar nak, benar sekali!” sahut ibu Diman spontan dengan wajah sumringah bercapur takjub anak itu mengetahui sakitnya dengan tepat.


Pak Harjo, pak Diman dan Mahmud terkesiap melongo memandang ibu Diman seolah tak percaya dengan ketepatan ucapan Dede.


“Ibu benar begitu?!” tanya Mahmud spontan.


“Benar kang Mahmud, apa yang diucapkan anak itu sangat tepat!” jawab ibu Diman antusias.


“Tuh benerkan kata Dede?” celetuk Dede, tingkahnya tak pernah diam. Dia terus saja bergerak aktif  memantul- mantulkan tubuhnya di pangkuan Mahmud.


“Benar kata orang- orang, anak ini memang ajaib!” sela pak Haro.


“Tidak salah lagi pak Harjo!” timpal pak Diman.


Mahmud masih terbengong- bengong mendengar tanggapan pak Harjo dan pak Diman. Anak ajaib? Hati Mahmud terus bertanya- tanya tak percaya dengan semua yang didengarnya. Apakah ucapan Gus Harun itu benar- benar nyata? Dede memiliki kemampuan supranatural alami?


“Anak bapak itu sakitnya akibat perbuatannya sendiri!” kata Dede menatap jenaka kearah pak Harjo.


Pak Harjo terkesiap mendengar ucapan spontan Dede, keningnya berkerut dalam- dalam berusaha mengingat awal mula anaknya sakit. Tampaknya pak Harjo tak sependapat dengan yang diucapkan Dede, ia merasa selama ini putranya itu berlaku baik dan tak pernah macam- macam.

__ADS_1


Pak  Harjo menggeleng- gelengkan kepala tak mengerti maksud ucapan Dede, menurutnya yang ia tahu putranya itu sangat baik pada siapapun.


“Yang bapak tahu selama ini putra bapak tidak pernah berbuat yang tidak- tidak nak,” sanggah pak Harjo.


“Iya kalau kakak itu yang paling besar sih pak, dia orangnya baik sering sekali menolong teman- temannya, tapi kakak yang masih sekolah itu pak suka nyakitin teman- temannya, hikhikhik..” ujar Dede tertawa jenaka.


Seketika pak Harjo teringat putra pertamanya yang sudah bekerja. Namanya Hamdan, dia memang anaknya baik dan taat beribadah tak pernah lalai menunaikan sholat. Kemudian pak Harjo mengingat anaknya yang kedua yang sedang sakit bernama Hariri, yang dirinya perhatikan prilaku anaknya hanya di rumah, namun dirinya memang mengakui tidak mengetahui terlalu banyak prilaku anaknya di luar rumah maupun di sekolah.


“Setahu bapak Hariri juga baik kalau di rumah,” sanggah pak Harjo.


“Yaaah, bapak tidak tahu sih,” celetuk Dede acuh tak acuh.


Pak Harjo dibuat semakin bingung sekaligus penasaran dengan ucapan Dede. Dia kembali berusaha mengingat- ingat lagi keseharian putranya, dari mulai berangkat sekolah, pulang sekolah, saat di rumah, saat pamitan main keluar rumah bersama teman- temannya. Dan saat pulang dari mainnya pun dirinya tidak menemukan kejanggalan pada kondisi Hariri secara fisik dan prilakunya.


“Udah banyak teman sekolah yang kecewa hingga frustasi karena kakak itu,” ujar Dede masih dengan sikap cuek layaknya tingkah anak kecil.


“Apakah Hariri suka mabuk- mabukan nak? Atau suka berkelahi di sekolahnya?” tanya pak Harjo penasaran.


Mendengar keterangan Dede, mambuat pak Harjo, bu Harjo, pak diman dan istrinya serta Mahmud seketika terkesiap kaget. Penuturan anak kecil itu begitu polos namun lugas dan terkesan seperti ucapan seorang yang sudah dewasa.


“Ja, jadi anak saya suka main perempuan sesama teman- teman sekolahnya?!” kata ibu Harjo membelalakan kedua matanya.


“Hikhik… hikhikhik.. hikhik..” Dede tak menjawab pertanyaan ibu Harjo, melainkan hanya cekikikan sambil menyembunyikan wajahnya di dada Mahmud.


“Tidak! Tidak mungkin Hariri begitu!” pekik ibu Hariri tiba- tiba histeris.


Sementara itu di ruang tengah, Abah Dul, Gus Harun, Basyari, Baharudin, Dewi dan Arin terkejut mendengar teriakkan ibu Harjo dari ruang tamu. Dengan spontan mereka bergegas berbondong- bondong menuju ruang tamu.


“Ada apa Mud?!” tanya Abah Dul pada Mahmud, lalu pandangannya diarahkan pada keempat tamu tersebut satu persatu.

__ADS_1


“I, ini bah. Tamu –tamu ini datang dari jauh meminta diobati sama Dede. Tiba- tiba Dede menerangkan kondisi anaknya ibu ini dengan gamblang. Saya sendiri juga tidak tahu Dede bisa berbicara seperti mengetahui kondisi mereka Bah,” jawab Mahmud dengan wajah bingung.


Abah Dul, Gus Harun, Arin, Dewi, Basyari dan Baharudin pun hanya terbengong- bengong mendengar penjelasan dari Mahmud.


“Mm, maaf punten bapak- bapak ibu- ibu, apakah ada ucapan anak saya ini yang salah? Jika memang ucapannya salah dan menyinggung bapak- bapak dan ibu- ibu mohon dengan sangat dimaafkan,” sela Arin memecah kebengongan mereka.


“Ahhh, tidak, tidak mbak. Justru saya berterima kasih sekali, anak ini telah memberitahukan hal yang kami sendiri tidak tahu. Saya sangat mempercayai ucapannya mbak, untuk itu saya ingin meminta bantuan untuk kesembuhan anak saya,” sergah pak Harjo yang diangguki istrinya.


“I, iya mbak. Saya sebagai ibunya spontan merasa terpukul sekali mendengar keterangan anak mbak. Akan tetapi benar apa yang suami saya katakan tadi, kami sangat berharap bantuannya menyembuhkan sakit anak saya,” timpal ibu Harjo.


“Gampang Bunda Ayin, hikhik.. hikhik…” sela Dede cekikikan dengan cueknya.


“Dede… memangnya Dede tahu?” tanya Arin lembut berjongkok menghadap Dede yang duduk dipangkuan Mahmud.


“Dede tahu Bunda, nanti Dede suruh pergi orang yang membuat sakit kakak,” ujar Dede pada ibunya dengan manja.


“Gimana coba, cara Dede mengusirnya? Memangnya siapa orang yang membuat si kakak itu sakit De?” tanya Arin lembut namun penuh selidik karena dirinya juga merasa penasaran.


“Hikhik… hikhik… nanti juga pergi bunda Ayin, saat bapak sama ibu ini pulang,” sahut Dede kembali bergelayut di dada Mahmud.


Mendengar ucapan Dede, semua orang yang ada di ruang tamu itu merasa takjub dan juga sekaligus menimbulkan antara rasa percaya dan tidak didalam hatinya.


“Subhanallah… Maha suci Engkau ya Allah…” ucap Gus Harun dalam hati sembari menggeleng- gelengkan kepalanya.


Tanpa sepengetahuan semua orang yang ada di tempat itu, sukma Gus Harun keluar dari raganya menuju kediaman pak Harjo. Dengan kemampuan yang dimilikinya, hanya dengan menyebut nama tujuannya yang dimaksud, seketika dalam hitungan detik sukma Gus Harun langsung melesat ke rumah pak Harjo.


Sukma Gus Harun melayang diatas genting salah satu rumah di desa Paluwesi. Rumah tersebut berwarna cat cream dengan paduan warna coklat pada semua kusen- kusen, pintu serta jendelanya. Segera sukma Gus Harun masuk kedalam salah satu kamar di rumah tersebut yang posisinya berada di depan bersebelahan dengan ruang tamu.


Disana terlihat seorang remaja sedang tergolek diatas kasur. Kedua matanya kadang terbuka kadang tertutup dibarengi tubuhnya meronta- ronta menahan kesakitan. Kondisi tubuhnya kurus kering mungkin hanya tulang yang terbalut kulit tanpa daging.

__ADS_1


“Astagfirullah!” ucap sukma Gus Harun tiba- tiba saat pandangannya jatuh ke ujung kaki remaja tersebut.


Seketika Gus Harun terkesiap kaget luar biasa melihat pada ujung kaki anak remaja itu ada sesosok perempuan sedang mencakar- cakar kaki bagian betisnya. Kuku- kuku berwarna hitam pada kesepuluh jari- jari sosok perempuan itu tampak berlumuran darah.* BERSAMBUNG


__ADS_2