Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PETUAH DAN KARMA


__ADS_3

"Kenapa ini Pak Harjo?!" tanya pak Purnama keheranan sambil berjalan kearah tempat Pak Harjo dan keluarganya berdiri masih tertegun.


"Mereka orang- orang jahat!" teriak Dede menanggapi pertanyaan pak Purnama.


"Orang jahat?! orang jahat gimana nak?!" tanya pak Purnama.


"Sudah, sudah De... Tidak baik bicara seperti itu," ucap Arin mendekap Dede.


Kelima perempuan itu terlihat sangat ketakutan, matanya bergerak- gerak membelalak memancarkan rasa takut yang teramat sangat.


Begitu pula dengan pak Bekel, seluruh tubuhnya gemetaran namun tidak bisa digerakkan sama sekali. Kedua matanya pun membelalak menunjukkan kerakutan yang teramat sangat.


Tidak ada yang mengetahui kondisi pak Bekel, semuanya hanya terpokus pada kelima perempuan saja.


"Saya mendapat laporan dari ketua RT dan pamong saya, kalau bu Nengsih dan bu Komar dikutuk. Apa benar begitu pak?" tanya pak Purnama.


Beberapa detik Pak Harjo masih termangu tidak langsung menjawab pertanyaan pak Purnama. Sampai kemudian Pak Harjo tersadar dengan sendirinya dan menjawab pertanyaan pak Purnama.


"Ssa, saya tidak tahu dikutuk atau tidak pak Pur, tapi yang jelas bu Komar, bu Nengsih dan ibu- ibu itu telah menuduh Harun melakukan zina dengan nak Arin," ungkap Pak Harjo.


"Astagfirullah!" ucap pak Purnama spontan.


"Tidak kapok- kapok bu Nengsih dan bu Komar ini menuduh orang sembarangan!" bentak pak Purnama melotot kearah kelima perempuan itu.


Kelima perempuan sontak terlihat matanya melotot jelqlatan kesana kemari. Mungkin mereka sedang mengatakan sesuatu berusaha membera diri.


"Pak Bekel, bawa mereka ke kantor desa. Buat surat perjanjian diatas materai agar tidak mengulangi perbuatannnya yang selalu bikin gaduh warga!" perintah pak Purnama tanpa melihat kearah pak Bekel.


Pak Bekel kian memelototkan matanya, mungkin sedang berbicara namun lidahnya seperti kelu dan mulutnya terkunci rapat- rapat tak bisa digerakkan.


"Pak bekel!!!" seru pak Purnama setelah beberapa saat tidak ada respon dari pak Bekel.


Kontan semuanya menoleh melihat kearah pak Bekel berdiri kaku dengan mata melotot melirik kesana kemari. Seketika itu juga mereka semua terkejut mendapati pak Bekel dalam kondisi kaku seperti ke lima perempuan itu.

__ADS_1


"Kenapa pak Bekel sama dengan bu Nengsih dan yang lainnya?!" tanya pak Purnama heran.


Semua terdiam tak ada yang bersuara memberikan penjelasan pada pak Purnama. Dengan rasa penasaran yang besar, pak Purnama mendekati pak Bekel yang berdiri mematung dengan tangan kanan terangkat. Rupanya pak Bekel hendak mengatakan sesuatu saat Dede mengucapkan petuahnya.


Pak Purnama mencoba menggerakkan tangan kanan pak Bekel yang terangkat, tetapi seketika wajah pak Purnama tercengang. Tangan itu seperti sebatang besi yang di las, tangan itu kaku dan keras tak dapat digerakkan.


"Berarti pak Bekel juga terlibat dan telah bersekongkol dengan bu Nengsih dan yang lainnya?" gumam Pak Purnama menduga- duga teringat ucapan Dede tadi.


Dugaan yang sama timbul didalam benak Pak Harjo dan yang lainnya. Sesuai dengan petuah Dede sebelumnya bahwa yang memfitnah ibunya akan menjadi patung. Raut wajah mereka seketika tercengang ngeri.


"Bagaimana ini Pak Harjo?! Bagaimana cara mengembalikannya?!" tanya pak Purnama.


Pak Harjo harja tampak bingung menjawab pertanyaan dari pak Purnama, dia lantas menggeleng- gelengkan kepalanya pelan.


"Saya tidak tahu pak Pur," ucap Pak Harjo pelan.


Saat semuanya terdiam begelut dengan gejolak pikirannya masing- masing melihat peristiwa aneh yang tengah terjadi, tiba- tiba Dewi bergerak melangkah ke tempat Arin dan Dede yang masih berpelukkan.


Dewi berjongkok lalu merangkul pundak Arin yang tengah memeluk Dede sambil menangis terisak- isak. Semua pandangan langsung tertuju mengikuti Dewi bergerak.


Perlahan- lahan Arin menghentikan isak tangisnya. Kedua matanya sembab menatap nanar kakaknya, namun dibalik tatapan matanya yang basah oleh air mata tersirat rasa marah yang amat besar.


"Saya sakit hati mbak..." ucap Arin bernada dingin


"Arin, nggak boleh begitu. Orang tua kita tidak pernah mengajarkan kita mendendam. Maafkan mereka Rin..." pinta Dewi dengan halus.


Mendengar ucapan kakaknya yang melibatkan pesan kedua orang tuanya membuat amarah Arin perlahan- lahan mulai mereda. Tatapan matanya yang semula menyiratkan kebencian, kini perlahan- lahan nampak terlihat kuyu oleh sembabnya air mata.


"De, kembalikan mereka seperti semula ya. Bunda sudah memafkan mereka," ucap Arin berbisik di telinga Dede.


Dede pun mengangguk patuh, lalu Arin melepaskan pelukannya memberikan Dede ruang untuk bergerak. Tanpa ada ucapan apapun, Dede menggerakkan tangannya lurus keatas kepalanya seperti membuat gerakan seperti mengibas sebanyak dua kali.


Semua mata memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Dede. Berbagai macam pikiran memenuhi isi kepala mereka, ada rasa ngeri dan juga sekaligus takjub.

__ADS_1


Tiba- tiba terdengar suara- suara 'gedebug' secara bersusulan sebanyak enam kali. Seketika pandangan semua orang langsung dialihkan terhadap kelima perempuan di depan mereka dan juga terhadap pak Bekel.


Suara gedebug tersebut berasal dari 5 orang perempuan dan pak Bekel. Ke enam orang tersebut berjatuhan ambruk tersungkur sesaat setelah Dede mengibaskan tangannya.


Bu Nengsih dan bu Komar serta 3 perempuan lainnya langsung bersujud menangis tersedu- sedu. Begitu pun dengan pak Bekel, ia merengek meminta ampun.


Pak Purnama, pak Harjo dan bu Harjo pun memeperhatikan penuh keheranan melihat mereka menangis dan meminta ampun. Semua tak ada yang mengerti mengapa bu Nengsih serta 4 perempuan dan juga pak Bekel mendadak bertingkah seperti itu.


“Pak Bekel ada apa ini sebenarnya?!” tanya Pak Purnama penasaran.


“A, amm, ampun pak… saya yang telah menghasut bu Nengsih. Saya bilang padanya kalau Hasan sedang di goda- goda oleh janda yang menginap di rumahnya,” ungkap pak Bekel.


“Astagfirullahal aziiim! Kenapa kamu melakukan itu?!” tanya pak Purnama geram.


“Ssa, saya melakukan itu karena saya sudah berjanji menjodohkan Hasan dengan Susanti. Sebelumnya bu Komar melaporkan pada saya kalau suaminya melihat Hasan sedang berduaan disini,” terang pak Bekel malu- malu.


“Lalu kenapa kamu sampai melibatkan bu Nengsih?!” tanya pak Purnama.


“Se, sebab ssa, saya telah membuat kesepakatan dengan bu, bu Nengsih untuk membantunya menjodohkan Hasan dengan anaknya yang bernama Susanti itu pak,” terang pak Bekel.


“Masya allah pak Bekel, kamu tahu akibat hasutanmu itu hampir saja menyulut kemarahan warga terhadap keluarga pak Harjo! Sekarang juga kamu saya pecat! Bikin malu saja!” bentak pak Purnama.


Lalu pak Purnama melangkah kehadapan bu Nengsih dan 4 perempuan lainnya yang kini duduk bersimpuh menangis. Nampak sekali wajah bu Nengsih dan yang lainnya sangat ketakutan dan merasa ngeri, bukan karena


kemarahan Kepala Desa mereka. Akan tetapi ketakutan dan merasa ngeri itu karena  kejadian yang mereka alami barusan.


“Bu Nengsih, bu Komar kalian seringkali membuat resah warga masyarakat disini. Apabila sekali lagi berbuat seperti ini, akan saya serahkan kepada pihak kepolisian!” kata pak Purnama dengan nada penuh penekanan karena gemas dengan kelakuan dua perempuan itu.


“A, am, ampun pak Kades saya tidak akan berbuat ini lagi,” ucap bu Komar.


“Sa, saya juga minta maaf pak Kades,” timpal bu Nengsih.


“Kalian harus meminta maaf pada keluarga pak Harjo, terutama pada mbak Arin karena kalian telah berbuat fitnah! Untung saja mbak Arin mau berbaik hati membuat kalian kembali seperti semula. Jika tidak kalian akan berdiri disini selamanya sama satu lagi tuh Bekel yang jadi patung disana!” kata pak Purnama menunjuk pak Bekel.

__ADS_1


Seketika itu juga bu Nengsih, bu Komar serta 3 perempuan lainnya langsung menangis dan merengek ketakutan meminta ampun dihadapan pak Purnama. Pak Harjo dan keluarganya hanya mengucap istigfar sambil menggeleng- gelengkan kepala melihat kelakuan kelima ibu- ibu dan seorang oknum perangkat Desa.*


BERSAMBUNG


__ADS_2