
Kabar adanya acara syukuran yang diadakan pak Harjo di desa Palu Wesi yang akan di gelas esok hari langsung tersebar luas. Padahal pak Harjo belum meluncurkan undangan resminya yang rencananya baru akan di umumkan mulai nanti sore atau bersamaan dengan waktu ashar. Melalui imam atau pengurus masjid dan mushola pak Harjo meminta untuk mengumumkannya usai sholat berjamaah di setiap waktu sholat melalui pengeras suara masjid dan mushola- mushola yang ada di desa Palu Wesi.
Pagi ini sehari menjelang acara syukuran masal, segala persiapannya sudah dilakukan. Tenda- tenda sudah berdiri rapat memenuhi halaman rumah pak Harjo, asap- asap dari pawon tradisional dengan menggunakan kayu bakar nampak mengepul menyebar kemana- mana. Lalu lalang orang- orang dengan kesibukan tugasnya masing- masing nampak sangat antusias dan bersemangat membantu menyiapkan acara syukuran tersebut. Suasananya hampir mirip dengan orang yang hendak menggelar suatu pesta hajatan.
Di teras depan rumah, berjejer kursi- kursi yang sengaja dikeluarkan dari ruang tamu untuk menyambut tamu- tamu khusus yang diundang pak Harjo, seperti kepala Desa, petugas kepolisian serta pejabat- pejabat dari kantor kecamatan yang dikenalnya tak terkecuali keluarga Mahmud.
Pak Harjo, pak Diman serta beberapa orang memakai pakaian seragam pamong desa sedang duduk ngobrol santai di kursi tersebut sambil membicarakan tentang persiapan acaranya. Diatas meja tersaji berbagai makanan dan kue- kue tradisional hasil buatan para ibu- ibu semalam suntuk, seperti kue nagasari, koci, lemper, kue cikak, kue putri ayu dan entah ada beberapa macam lagi. Kue -kue tradisional tersebut seperti menu wajib di setiap acara yang ada di desa. Beragam merk kopi juga tersedia dalam kardus beserta termos berisi air panas.
“O iya Pak Diman saya lupa belum sempat menanyakan tentang undangan ke keluarga kang Mahmud. Apakah mereka bisa datang?” tanya pak Harjo.
“Pas saya kesana kang Mahmud baru saja malamnya itu berangkat pergi ke Surabaya katanya nganter teman- temannya pulang pak Harjo. Jadi saya hanya bertemu dengan istrinya dan mbak Arin saja,” jawab pak Diman.
“Waduh sayang sekali ya pak Diman kang Mahmud tidak bisa datang,” ucap pak Harjo sedikit kecewa.
“Tapi insya allah istri kang Mahmud dan mbak Arin serta anaknya bisa hadir disini pak Harjo,” ujar pak Diman.
“Alhamdulillah! Syukur lah kalau begitu, berarti pak Diman jadi jemput keluarganya Mahmud nanti?” tanya pak Harjo.
“Njih pak Harjo, saya sudah menyampaikannya demikian,” sahut pak Diman.
“Jam berapa jemputnya pak?” tanya pak Harjo lagi.
“Ya sekitar jam enam-an dari sini pak,” jawab pak Diman.
“Ya, ya ya.. kunci mobil dipegang saja sama pak Diman ya, biar nanti nggak susah- susah lagi ngambil kuncinya. Eh, sekalian saja mobilnya dibawa pak Diman saja, biar pak Diman dari rumah langsung berangkat ke Sukadami ya,” kata pak Harjo lalu merogoh saku bajunya.
“Njih, njih pak Harjo,” balas pak Diman mengangguk.
“Dan ini uang bensinnya sama bekalnya pak Diman,” kata pak Harjo memberikan beberapa lembar uang kertas 100 ribuan.
“Kebanyakan ini pak,” sergah pak Diman saat menerima lembaran uang tersebut.
“Udah nggak apa- apa,” balas pak Harjo.
__ADS_1
“O iya, sebentar pak Diman saya ambilkan dulu,” sambung pak Harjo lalu buru- buru masuk kedalam rumah. Dan tak sampai satu menit pak Harjo sudah kembali ke tempat duduknya sambil menggenggam sebuah amplop besar.
“Nah, sekalian titip ini buat keluarganya kang Mahmud,” kata pak Harjo mengulurkan amplop yang terlihat tebal.
“Njih, njih pak Harjo,” jawab pak Diman menerima amplop tersebut lalu memasukkannya kedalam saku baju kemejanya.
“Jangan di simpan disitu pak Diman, nggak enak dilihat orang hehehe… simpan di kantong celana saja,” cegah pak Harjo melihat amplop yang menyembul di saku baju pak Diman.
“Ohhh… njih, njih pak Harjo, hehehe…” sahut pak Diman.
“Ehemmm, punten apa perlu saya temani pak Diman?” sela salah satu pamong desa tiba- tiba berbicara.
Pak Diman tidak langsung menjawab, ia melirik sejenak kearah pak Harjo seolah- olah minta persetejuannya. Beberapa saat kemudian pak Harjo terlihat menganggukkan kepalanya, menyetujui usulan pamong desa tersebut. Pak Harjo pikir dengan ikutnya pamong desa tersebut perjalanan pak Diman yang membawa keluarga Mahmud akan lebih aman.
“Baiklah kalau pak Bekel tidak keberatan sih, ya kan pak Harjo?” tanya pak Diman meyakinkan pak Harjo lagi.
“Iya pak Diman, saya rasa tidak ada salahnya pak Bekel ikut. Ya itung- itung menjaga keluarga kang Mahmud selama dala perjalanan,” kata pak Harjo.
“Siap pak Harjo, saya akan kawal pak Diman selamat sampai tujuan, hehehe…” sahut pak Bekel.
“Tapi ngomong- ngomong, siapa yang akan di jemput pak Diman ya pak?” tanya pak Bekel pada pak Harjo dengan wajah bingung.
Mendengar pertanyaan itu kontan saja pak Harjo dan pak Diman dibuat tertawa. Karena ketegasan yang diperlihatkan pak Bekel sebelumnya ternyata sesungguhnya pak Bekel tidak tahu siapa yang akan di jemput dan kemana akan menjemput tapi langsung bilang “siap” saja.
Ditengah suara tawa pak Diman dan pak Harjo dan belum sempat menjawab pertanyaan pak Bekel, tiba- tiba terdengar suara seseorang mengucap salam. Sehingga membuat tawa keduanya perlahan berhenti dan semuanya langsung menoleh kearah suara salam tadi.
“Wa alaikum salam, San… alhamdulillah, sampai rumah juga,” balas pak Harjo.
“Nak Hasan, naik apa pulangnya?” susul pak Diman.
Hasan tak langsung menjawabnya, ia langsung menyalami dan mencium tangan bapaknya, lalu bergantian mencium tangan pak Diman lalu dilanjutkan menyalami dua orang pamong desa.
“Alhamdulillah sampai rumah juga, saya bawa mobil sendiri pak. Sengaja nggak bawa sopir karena saya ambil cuti agar bisa pulang sekarang,” jawab Hasan sambil duduk disebelah pak Harjo.
__ADS_1
“Calonnya nggak dibawa sekalian mas Hasan,” celetuk pak Bekel.
“Waduh, pak Bekel nih ada- ada saja, hehehe…” sungut Hasan.
“Loh, kok ada- ada saja, ya mestinya ada toh mas. Iya kan pak Harjo?” kata pak Bekel meminta dukungan pak Harjo.
“hehehehehe…” pak Harjo menjawabnya dengan tertawa.
“Ibu mana pak?” tanya Hasan tiba- tiba.
“O iya katanya bapak mau kasih kejutan, mana kejutannya pak?” sambung Hasan tak sabar.
“O iya ya, bapak hampir lupa San. Ayo ikut bapak sekalian bertemu ibumu,” kata pak Harjo lalu berdiri dari kursi.
“Sebentar ya pak Diman, pak Bekel, pak Kusen saya mau nganter Hasan dulu ketemu ibunya,” sambung pak Harjo pamitan.
“Njih, monggo, monggo…” balas pak Diman serta dua orang pamong Desa bersahutan mengiringi Pak Harjo dan Hasan yang bergegas masuk kedalam rumah.
Sementara itu, di halaman belakang tampak bu Harjo sedang berbaur dengan ibu- ibu yang lainnya yang sedang mengolah tumpukkan- tumpukkan daging sapi yang sudah di potong semalam suntuk.
“Assalamualaikum…” ucap Hasan tiba- tiba membuat semua ibu- ibu spontan menoleh kearah Hasan yang datang bersama pak Harjo.
“Nak Hasan? Ya allah, pangling sekali nak. Tambah ganteng saja sekarang,” celetuk salah seorang ibu- ibu.
“Iya ya, itu cambangnya sudah seperti Ridho Rhoma saja, ih bikin gemes kamu San,” goda ibu Hani yang sudah lama menjada.
Celetukan dan godaan dari para ibu- ibu hanya di balas dengan anggukan dan senyuman oleh Hasan. Dia langsung menuju ke tempat ibunya yang langsung berdiri dari kursi kecil yang di dudukinya.
“Alhamdulillah… sama siapa pulangnya San,” tanya ibu Harjo dan langsung memeluk putra sulungnya tersebut.
“Sendirian bu, gimana keadaan Har…” ucapan Hasan terhenti karena tiba- tiba pak Harjo sengaja memotongnya.
“Ayo San, katanya mau lihat kejutan dari bapak!” sergah pak Harjo.
__ADS_1
Seketika Hasan dan ibunya saling berpandangan, seakan- akan saling bertanya kejutan apa yang di maksud bapak?” *BERSAMBUNG