Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MISTERI GADIS SERAGAM SMA


__ADS_3

Langit senja di atas desa Palu Wesi begitu indah dihiasi semburat cahaya jingga kemerahan dari ufuk barat. Sinarnya membias membentuk garis- garis gradasi yang cantik berpadu dengan backround langit yang sebagian masih berwarna biru. Semilir angin sore hari itu cukup membuat warga yang sedang duduk- duduk terlena dan hanyut terkantuk- kantuk.


Begitu pun dengan sosok remaja bebadan kurus kering nampak sedang duduk santai depan rumah pak Harjo menikmati indahnya suasana sore hari.  Remaja berbadan kurus kering itu tak lain adalah Hariri, dia duduk di kursi taman di halaman depan yang tak terlalu luas itu sepertinya sangat menikmati menanti pergantian hari dari siang menuju malam


hari.


Walau badannya terlihat kurus kering, namun penampilannya sekarang sudah berubah tidak seperti sewaktu tadi pagi dan pada saat masih sakit. Rambutnya yang sebelumnya sedikit gondrong tak beraturan sekarang sudah


di cukur pendek, cambang dan kumis yang sebelumnya tumbuh menghiasi wajahnya sekarang sudah hilang di cukur habis. Wajah Hariri yang tergolong tampan itu sekarang jadi terlihat lebih fresh, lebih segar.


Lalu lalang beberapa warga masyarakat yang sedang mempersiapkan area untuk acara sukuran tak membuat Hariri terganggu. Sesekali orang- orang yang melintas dan melihat Hariri duduk mereka mengangguk


menyapanya. Hariri pun membalas dengan mengangguk pula sambil tersenyum ramah lalu kembali hanyut dalam alam pikirannya sendiri.


“Siapa anak kecil itu? Dia begitu lucu dan menggemaskan dan juga menakutkan,” gumam Hariri dalam benaknya.


Wajah Hariri mendongak sedikit memandang langit senja yang sudah nampak kemerahan. Matanya menerawang melempar pandangannya jauh- jauh menatap kosong.


“Setiap ucapan anak kecil itu membuat batinku bergetar. Siapa dia sebenarnya? Kenapa anak itu tiba- tiba datang dalam mimpiku? Dan… dan anak itu datang bersama Fina pula,” batin Hariri seketika bergidik mengingat gadis


teman satu kelasnya yang sudah meninggal itu.


Saat itu juga tiba- tiba Hariri kembali hanyut kedalam kisah mimpinya semalam. Dalam mimpi itu dirinya masih ingat seberapa hebat rasa sakit yang dirasakan pada kedua kakinya. Dan pada titik puncak kesakitannya yang


sudah tidak sanggup dirasakannya lagi, sekuat tenaga Hariri berupaya bangun dari posisinya berbaring ingin melihat seperti apa yang menyebabkan kedua kakinya sakit.


Perasaan kesal, marah dan sangat geram bercampur dengan rasa sakit yang tak terkira mendorongnya mampu duduk lalu melihat kearah kedua kakinya. Dan saat itu juga kedua mata Hariri terbelalak lebar melihat ada sosok


gadis mengenakan baju seragam sekolah tengah membungkuk diantara kedua kakinya. Rambutnya yang panjang menutupi seperempat bagian wajahnya yang putih pucat pasi.


Hariri melihat kedua tangan gadis berseragam SMA itu saling terangkat satu jengkal keatas secara bergantian, lalu mengayunkannya kearah betis kaki kanan dan kiri Hariri. Kuku- kuku hitam panjang dan runcing seketika menghujam kedua kaki Hariri hingga menembus kulit dan dagingnya. Setelah kuku- kuku hitam panjang dan runcing itu terbenam didalam daging betis kemudian dia menariknya perlahan- lahan.


“Aaaaaakkkhhhh…!”  Hariri menjerit sekeras- kerasnya, saat itu juga rasa sakit langsung menjalar


kesekujur tubuhnya.

__ADS_1


Sosok gadis berseragam sekolah itu tak menghiraukan jeritan dan teriak kesakitan Hariri, ia terus saja melakukannya berulang- ulang. Jerita kesakitan dari mulut Hariri pun kian kencang saking ngerinya melihat kuku- kuku panjang dan hitam itu menembus betis kakinya lalu menariknya perlahan- lahan dengan mudahnya seperti membenamkan jari- jari pada bubur saja.


“Ampuuunnn! Ampuuun Fin… saya salah! Saya salah!” teriak Hariri kelojotan menghentakkan tubuhnya jatuh kembali kedalam posisi terlentang.


Fina gadis berseragam SMA yang disebut- sebut namanya oleh Hariri itu seperti tak mendengar teriakan dan pernyataan Hariri, dia terus saja mengorek- ngorek betis Hariri dengan kuku- kukunya.


Ditengah- tengah rasa sakitnya yang sudah mencapai titik puncak kesakitannya, tiba- tiba saja Hariri merasakan sekujur tubuhnya terasa dingin dan sejuk. Rasa panas seperti membakar tubuh sebelumnya seketika lenyap


berganti dengan rasa dingin namun sejuk menyegarkan.


Hariri sponyan kembali mencoba bangkit dari terlentangnya, ia penasaran ingin melihat apa yang terjadi disekelilingnya. Saat itulah pandangannya membentur sosok anak kecil berdiri di samping tempat tidurnya dengan


telapak tangan kanan menempel pada lutut Hariri, sedangkan tangan kirinya memegangi tangan gadis berseragam sekolah yang sebelumnya menggaruk- garuk kedua kaki Hariri.


“Sudah hentikan kak,” ucap anak kecil sambil menatap tajam ke wajah Fina.


Fina, gadis berseragam SMA itu terlihat menundukkan kepalanya dalam- dalam sehingga membuat rambut panjangnya semakin menutupi wajah pucatnya. Lalu sedetik kemudian kedua bahu Fina terlihat berguncang-


guncang, disusul samar- samar terdengar suara tangisan yang sangat memilukan.


“Pergilah ke alam dimana ayahku tinggal. Kakak akan merasa damai disana, kakak akan lebih bisa menerima takdirnya disana seperti ayahku,” kata anak kecil tersebut sambil mengusap- usap punggung tangan Fina penuh


dengan rasa kasih sayang.


“Maafkan saya Fin, saya berjanji tidak akan lagi melakukan ini pada gadis- gadis lain. Apa yang kamu inginkan untuk saya mempertanggung jawabkan perbuatan saya Fin? Katakanlah…” ucap Hariri memelas.


Fina tak bergeming, kedua bahunya masih terlihat berguncang- guncang tampaknya Fina menangis tersedu- sedu. Suara tangisannya terdengar kian meratap lirih dan melengking membuat Hariri bergidik ngeri mendengarnya.


"Tolong doakan saya diacara syukuranmu itu Har, sempurnakan kematianku agar tidak menjadi arwah gentayangan," ucap Fina lirih namun sangat jelas didengar di telinga Hariri.


“Sekarang kakak pergilah, temui ayahku disana,” ucap anak kecil namun terdengar sangat berwibawa dan dewasa. Setiap suara yang keluar dari mulut anak itu begitu menggetarkan hati Hariri.


"Ijinkan saya disini dulu sampai saya mendengar langsung saat di doakan," pinta Fina.


“Nak Har… nak Har…!” tiba- tiba terdengar suara memanggil Hariri dan seketika itu juga membuyarkan lamunannya akan mimpi yang di alami semalam. Cepat- cepat Hariri menoleh celingukkan mencari orang yang memanggilnya.

__ADS_1


“Nak Har… sini bantu bapak!” panggil suara itu yang ternyata pak Diman yang sedang memasang terpal sebagai atap tempat memasak besok.


“Njih, njih pak!” sahut Hariri


kemudian bergegas berlari kecil menuju tempat pak Diman yang berada di halaman


samping rumah.


Tak berapa lama Hariri pun sudah sampai di tempat pak Diman memasang terpal. Hariri mendongak kearah pak Diman yang berada diatas tangga sedang mengikat ujung terpal.


“Apa yang bisa saya bantu pak?!” seru Hariri dari bawah.


“Itu nak Hariri, tolong bentangkan ujung satunya ke pojok sana!” sahut pak Diman.


“Njih pak,” Hariri segera menarik ujung terpal sesuai yang diarahkan pak Diman.


Tak berapa lama pak Diman turun lalu mengangkat tangga memindahkannya ke tempat Hariri memegang sudut terpal satunya.


“Makasih ya nak Hariri, sudah merepotkan. Tadinya sama mang Tohir, tapi tadi pak Harjo memanggilnya ke dalam,”


kata pak Diman begitu sampai di tempat Hariri berdiri.


“Sini pak biar saya saja yang naik,” ujar Hariri.


“Ah, jangan nak Hariri. Nggak usah biar bapak saja, nak Hariri tunggu saja di bawah,” balas pak Diman lalu mengambil ujung terpal ditangan Hariri kemudian segera naik meniti tangga yang disandarkan pada dinding rumah.


“Awas hati- hati pak Diman,” kata Hariri memperingatkan.


“Njih nak Hariri,” sahut pak Diman.


Suasana rumah pak Harjo tampak ramai oleh warga masyarakat setempat yang turut bergotong royong membantu


mempersiapkan acara syukuran besok lusa. Ibu- ibu juru masak terlihat sibuk menata tempat dan pekakas alat- alat memasaknya seperti panci- panci besar, wajan besar serta lain- lainnya.


Sementara disudut halaman belakang, beberapa warga sedang memberi pakan pada sapi- sapi yang sudah dipersiapkan untuk disembelih nanti malam. Jumlahnya ada 10 ekor sapi untuk di makan oleh warga desa Palu Wesi. Jumlah sapi sebanyak itu sudah diperhitungkan oleh pak Harjo untuk memberi makan warga masyarakat desa Palu Wesi yang hanya berjumlah sekitar 500 kepala keluarga.

__ADS_1


Tak tanggung- tanggung pak Harjo mengeluarkan biaya hingga ratusan juta rupiah untuk memenuhi nazarnya. Pak Harjo pernah berucap seandainya putranya dapat sembuh dari penyakit anehnya, dirinya akan memberi makan kepada seluruh warga desa Palu Wesi. Tidak disangka dan tidak di duga nazar yang diucapkannya 4 bulan yang lalu itu akhirnya kini dapat diwujudkannya. Dan dengan senang hati serta ikhlas pak Harjo memenuhi nazarnya.* BERSAMBUNG


__ADS_2