
Melihat kondisi Mahmud yang membaik akhirnya Abah Dul tidak jadi membawanya ke rumah sakit. Abah Dul menyesali dirinya lengah hingga luka dalam di dada Mahmud mengendap tanpa diketahuinya. Dirinya mengira bulatan hitam bekas pukulan dikulit luar punggung Mahmud hanya itu satu-satunya luka yang dialami Mahmud sehingga Abah Dul merasa tidak perlu memeriksa seluruh tubuhnya lagi.
Mahmud dibiarkan istirahat dan tidur di kamarnya. Abah Dul dan Kosim beranjak keluar dari kamar Mahmud menuju ruang tamu. Tak lama kemudian Arin datang membawakan segelas kopi untuk Abah Dul.
"Mas, kopinya mau nambah?" tanya Arin sambil meletakkan kopi buat Abah Dul.
"Nggak Rin, masih cukup," jawab Kosim.
Arin pun berlalu dari ruang tamu meninggalkan Kosim dan Abah Dul ngobrol di ruang tamu.
"Bah, ini semakin membahayakan semuanya. Saya merasa sangat bersalah melihat mas Mahmud seperti itu," ucap Kosim.
"Iya Sim, tapi saya juga bingung gimana caranya mengakhiri semua ini," ujar Abah Dul.
"Kita hanya bisa waspada, kita hanya bisa menunggu. Entah besok peristiwa apalagi yang akan datang," sambung Abah Dul menghela nafas.
Otaknya terus berputar-putar memikirkan jalan keluar namun selalu saja mentok dan ujung-ujungnya hanya pasrah membiarkan pikirannya mengira-ngira peristiwa berikutnya yang akan datang.
Siap tidak siap memang harus siap menghadapinya. Satu keyakinannya jikapun nyawa Kosim dan anaknya bahkan istrinya sampai saat ini masih ada itu semua karena takdir Allah SWT. Kalau takdirnya meninggal tentulah sudah sejak awal Kosim dan keluarganya tidak dapat ditolong, begitu pikir Abah Dul.
"Bah saya tinggal dulu ya, berangkat ke proyek," kata Kosim membuyarkan lamunan Abah Dul.
"Ente masuk kerja, kondisi ente gimana?" tanya Abah Dul heran karena semalam Kosim juga terkapar.
"Sudah baikan Bah. Saya merasa nggak ada masalah dengan kondisi badan saya," ujar Kosim.
"Oh, ya sudah hati-hati di jalan jangan banyak ngelamun," timpal Abah Dul.
Setelah mengemasi perlengkapan kerjanya Kosim pamitan kepada Arin dan juga Mbak Dewi serta Mahmud sekalian ijin membawa sepeda motornya.
......................
Kosim melajukan sepeda motornya santai. Jalan raya pantura pagi hari memang selalu padat ramai oleh angkot-angkot yang saling salip mendahului memburu penumpang. Sesekali Kosim mengerem mendadak akibat angkot didepannya menepi dan berhenti secara tiba-tiba dan nyaris saja Kosim menabraknya.
Sepeda motor berhenti di trafic light karena lampu menyala merah. Baru saja Kosim berhenti telinganya berdengung, reflek Kosim menutup telinganya namun dia lupa sedang memakai helm. Dia pun hanya menunduk fokus mendengarkan suara tanpa rupa dengan senyum menertawakan dirinya yang menutup telinganya padahal memakai helm.
__ADS_1
"Hati-hati ada perempuan bukan manusia"
Kosim tertegun sejenak. Ada perempuan bukan manusia? Becanda nih, pikir Kosim meremehkan sekaligus mengabaikan pesan suara tanpa rupa tersebut. Kosim langsung melajukan sepeda motornya kembali setelah lampu hijau menyala.
Hingga memaski jalan yang menuju proyek tempatnya bekerja jadi kuli bangunan, jarak 10 meteran nampak dipinggir jalan Kosim melihat seorang perempuan berdiri. Perempuan itu memakai rok panjang bermotif bunga-bunga yang didominasi warna merah. Dibahu kanan wanita tergantung tas berwarna cokelat.
Dalam jarak pandang diatas sepeda motor, Kosim terpana tak percaya melihat perempuan itu melambaikan tangan menyetop kendaraannya. Kosim ragu-ragu apakah menyetop sepeda motornya atau menyetop kendaraan lain dibelakangnya. Kosim menoleh kebelakang namun tidak ada kendaraan satupun, berarti memang dirinya yang diberhentikan perempuan tersebut, pikir Kosim.
Dengan perasaan ragu sepeda motor Kosim berhenti satu meter didepan perempuan itu.
"Mbak menyetop saya?" tanya Kosim polos.
"Iya mas, boleh saya numpang dari tadi nggak ada kendaraan lewat," ucap perempuan itu sembari menatap mata Kosim.
Ditatap seperti itu Kosim merasa jengah dan canggung. Tak ingin berlama-lama dalam situasi canggung itu Kosim pun segera mempersilahkan perempuan itu naik di boncengannya. Dia pun segera melajukan sepeda motornya kembali.
"Aduh kenapa tadi nggak nanya dulu kemana tujuannya. Kenapa tadi saya nggak nanya, ya" gumam Kosim dalam hati menyesali.
Perempuan diboncengan motor Kosim seperti mendengar batin Kosim bicara, "Anter saya ke ujung jalan ini mas," seru perempuan itu sedikit mengeraskan suaranya di telinga Kosim.
Jalan menuju proyeknya sudah terlewati tetapi Kosim terus saja melaju. Harusnya Kosim belok kanan ke tempat kerjanya akan tetapi tanpa disadari Kosim seolah tidak melihat jalan itu. Dia justru menuruti petunjuk perempuan di belakangnya dan dia lupa dengan tujuannya sendiri.
Sekitar 20 menitan perempuan di boncengan Kosim menepuk pundaknya. Kosim menepi dan memelankan sepeda motornya, "Disini..?!" tanya Kosim sambil menoleh ke samping.
"Jalan depan itu belok kiri rumah paling ujung mas," kata perempuan di boncengan.
Kosim manut saja tanpa bisa menolak. Sepeda motornya kembali melaju lalu belok kiri sesuai yang diarahkan perempuan itu.
Tak berselang lama, "Stop, stop! Mas," seru perempuan di boncengan.
Kosim berhenti didepan sebuah rumah besar bangunan kuno dikelilingi pagar besi. Halamannya cukup lapang dengan hamparan hijau rumput jepang. Pohon-pohon hiasan sepinggang orang dewasa berjarak satu dengan yang lainnya berdiri dipinggir halaman. Terlihat asri sekali namun sepi senyap seperti tidak ada aktifitas didalamnya.
"Ayo masuk mas," ucap perempuan itu dengan senyum manis.
Pandangan Kosim pada halaman dan rumah langsung beralih. Matanya tiba-tiba terfokus melihat senyum perempuan itu, seketika hatinya terasa bergetar melihatnya.
__ADS_1
Tak banyak tanya Kosim menurut saja turun dari sepeda motornya berjalan sambil menuntun motornya mengikuti perempuan itu masuk melewati pintu besi gerbang rumah.
Harusnya Kosim cepat-cepat kembali menuju tempat kerjanya yang terlewati. Namun dipikirannya tidak lagi ingat kalau dirinya hendak ke proyek. Kosim terus mengikuti langkah perempuan bergaun merah bermotif kembang-kembang itu hingga sampai didepan pintu rumah. Kosim menyetandarkan motornya dibawah pohon Kamboja yang dipenuhi bunganya berwarna putih dan berbias kuning dirongga putiknya.
"Duduk dulu mas, saya ambilkan kopi ya," ucap perempuan itu seolah tahu kesukaan Kosim.
Saat pintu dibuka desiaran angin dingin langsung menyeruak hingga menerpa tubuh Kosim. Bahkan desiran angin yang keluar dari dalam rumah itu membuat gaun merah bermotif bunga tersingkap-singkap. Kosim tanpa sengaja melihatnya lalu cepat-cepat membuang mukanya melihat ke sisi lain.
Kosim menurut tanpa memikirkan tujuan dirinya ke tempat kerjanya lagi. Dia duduk di kursi berwarna putih disudut teras sebelah kanan. Matanya sibuk berkeliling memandangi sekitarnya. Banyak tanaman bunga-bunga beraneka ragam di pot yang tergantung disepanjang bawah atap rumah.
Tak lama kemudian perempuan itu kembali muncul dengan membawa nampan berisi segelas kopi dan kue didalam toples.
"Silahkan mas, o ya nama saya Kumala," perempuan itu mengulurkan tangan dengan senyum menggoda.
"Kosim," jawabnya singkat menerima jabat tangan Kumala.
Ada desiran halus merayap melalui telapak tangannya saat menjabat tangan Kumala. Kosim tertegun terpesona melihat kecantikan gadis dihadapannya. Seketika Kosim menjadi lupa diri, sudah tidak ingat lagi dengan tujuan dan status dirinya. Yang dia rasakan hanyalah rasa bahagia yang tiba-tiba menguasai hatinya.
"Mas nanti makan siang bareng aku disini ya," kata Komala.
Kata 'makan siang' membuat Kosim terkejut dia tersadar hendak ke proyek. Buru-buru dia berpamitan, "Ya sudah saya pergi dulu ya mbak," ujar Kosim.
"Loh kok manggilnya mbak, sih. Kuuummm maaala," ujar Kumala genit.
"Eh, i, iya, iya Komala," ucap Kosim mengulang.
"Bukan Komala tapi Kumala mas," timpal Kumala sembari mengerlingkan matanya diiringi derai tawanya.
Meski sudah bilang berpamitan namun Kosim tak juga kunjung melangkah pergi. Kakinya seakan-akan berat untuk melangkah. Kosim pun kembali terduduk. Kosim terlihat bingung kadang kesadarannya timbul tetapi sesaat kemudian kembali tidak ingat dengan tujuan dirinya lagi.
Kosim tidak menyadari kalau dirinya sedang berada didalam dimensi alam lain dimana ruang dan waktunya tidak sama dengan di alam dunia.
......................
Tinggalkan jejak, kunjungi episode berikutnya, ya sayang....
__ADS_1