Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
ABAH DUL


__ADS_3

Selepas menunaikan sholat Magrib, Abah Dul masih belum beranjak dari ruang sholat di rumahnya. Entah kenapa suara dalam mimpi Subuh tadi di rumah Kosim masih terngiang-ngiang bermain di pikirannya.


"Tunggu saat Purnama!!!"


"Tunggu saat Purnama!!!"


"Tunggu saat Purnama!!!"


Berulangkali Abah Dul terus mengulang-ulang ucapan suara didalam mimpi itu yang masih melekat diingatannya.


"Ini bukan mimpi biasa," gumam Abah Dul dalam hati.


"Apa mungkin malam Purnama itu merupakan ancaman terhadap Kosim dan keluarganya?! Seandainya dugaan ini benar, berarti mimpi itu benar-benar sebuah peringatan langsung dari Kalas Pati," Ucapnya dalam hati.


Sekian lamanya Abah Dul termenung, dia tak bisa membayangkan bagaimana kengerian yang akan terjadi apabila ancaman malam Purnama itu benar-benar terjadi. Dan itu dilakukan oleh Kalas Pati langsung.


"Mmmh...!"


Abah Dul menghempaskan nafasnya kuat-kuat, tergurat di wajahnya ada kecemasan. Dia teringat bagaimana kekuatan maha dahsyat Kalas Pati yang membuat dirinya serta tiga sahabatanya (Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin) terkapar nyaris tewas.


"Saya harus bicarakan ini dengan Gus Harun," Abah Dul membatin.


Sesaat kemudian Abah Dul langsung memposisikan duduknya dengan bersila. Tangannya diletakkan diatas kedua lututnya, perlahan matanya terpejam lalu mulutnya bergerak-gerak membaca amalan 'Melepas Sukma.'


Siluet yang membentuk sosok Abah Dul keluar dari raganya. Melayang sesaat diatas raga Abah Dul lalu melesat kearah Timur membentuk sekelebat cahaya menembus ruang tempat sholat.


......................


KEDIAMAN GUS HARUN-BANTEN.


Suasana didalam masjid Nurul Qolbi ramai oleh lantunan-lantunan ayat-ayat suci Al Quran yang dilantunkan oleh santri-santri Pondok Pesantren 'Nurul Qolbi'. Santriwan-santriwati duduk setengah melingkar menghadap seorang ustad dan ustazah secara berkelompok.


Santriwan-santriwan terlihat terbagi empat kelompok, masing-masing didampingi seorang ustad. Demikian juga dengan santriwati yang terpisah berada dibalik kain putih yang membentang sebagai pembatas jamaah laki-laki dan perempuan.


Gus Harun nampak duduk bersila persis di shaf pertama lurus dengan tempat pengimaman. Tangan kanannya terus meniti biji tasbih batu hitam dengan mata terpejam. Dia masih mengerjakan zikir usai melaksanakan sholat Magrib.


Gus Harun tiba-tiba menghentikan zikirnya. Sempat terkejut namun langsung berganti senyuman setelah melihat sukma Abah Dul duduk disebelah kanannya.


"Assalamualikum Gus..." ucap sukma Abah Dul.


"Waalaikumsalam Dul," balas Gus Harun memelankan suaranya.


Gus Harun menyadari posisinya tidak bisa berekspresi bebas karena didalam masjid banyak santrinya sedang mengaji. Apabila sampai terdengar suaranya, pasti akan membuat yang ada didalam masjid keheranan dan akan mengundang tanda tanya.

__ADS_1


"Sepertinya ada hal penting Dul, sampai-sampai masih Magrib sudah berkunjung, hehehe.." seloroh Gus Harun.


Sukma Abah Dul sejenak tersenyum dengan selorohan sahabatnya sembari menepuk pundaknya. Tapi dia kaget, tepukkan tangannya menembus pundak Gus Harun sehingga membuat Gus Harun kembali tertawa.


"Hahahaha... ente lupa?" Ucap Gus Harun.


"Hahahaha... iya Gus," Abah Dul pun tergelak.


Abah Dul lupa kalau ketemuannya dengan Gus Harun dalam wujud sukma bukan dalan wujud tubuh kasarnya.


Beberapa saat lamanya kedua sahabat yang sama-sama alumni di Pesantren Madura itu tertawa. Untungnya suara tawa Gus Harun tenggelam oleh riuhnya suara ngaji santri-santrinya.


"Ada hal apa Dul pasti ini penting sekali," ucap Gus Harun disisa-sisa ketawanya.


"Soal Kalas Pati Gus. Ente masih ingat Kalas Pati kan?" Ujar sukma Abah Dul.


"Iya Dul, kenapa dengan Kalas Pati?" Gus Harun balik tanya.


"Gini Gus, saya dan Kosim mimpi. Pertamanya Kosim, dia mimpi katanya didatangi sosok mahluk tinggi besar. Mahluk itu mengatakan, "Purnama" suaranya sember dan besar. Nah, subuh tadi saya juga bermimpi tapi hanya terdengar suaranya saja yang juga mengatakan soal Purnama, suaranya pun mirip seperti dalam mimpi Kosim," terang Abah Dul.


Gus Harun terdiam. Pikirannya langsung menganalisa penjelasan Abah Dul. Dia mengira-ngira dan menerka-nerka arti pesan yang disampaikan didalam mimpi tersebut.


"Ini nampaknya sebuah pesan peringatan Dul. Dan ini jangan diabaikan," ucap Gus Harun.


"Insya Allah saya besok kesana Dul ke rumah Kang Mahmud. Kosim ada disana kan?" Kata Gus Harun.


"Iya Gus. Syukurlah kalau ente bersedia dan bisa kesana Gus, matur suwun pisan ini Gus. Saya bisa lebih tenang, hehehe..." ujar suka Abah Dul.


"Ah, ente masih takut aja sama hal-hal begitu," seloroh Gus Harun.


"Bukan takut Gus, kan tau sendiri kekuatan Kalas Pati," balas sukma Abah Dul.


"Hehehe... iya sih Dul. Kita hampir semaput, hahahaha..." timpal Gus Harun.


"Hahahahaha..."


"Hahahahaha..."


Dua sahabat yang sama-sama memiliki ilmu kebatinan tinggi dan sama-sama murid utama dari Kiyai Sapu Jagat bersama dua sahabat lainnya, Basyari dari Surabaya dan Baharudin dari Kutai-Kalimantan Timur itu tertawa tergelak.


"Ya sudah Gus, ane pamit ya.. Assalamualaikum," ucap sukma Abah Dul lalu melesat menghilang dari samping Gus Harun.


"Waalaikumsalam..." Gus Harun mengangkat tangannya.

__ADS_1


Sukma Abah Dul langsung melesat meninggalkan Gus Harun kembali pulang ke raganya.


Bersamaan dengan tubuh Abah Dul bergerak dan mengucapkan 'Alhamdulillah' sambil meraupkan telapak tangan ke mukanya, terdengar suara azan Isya berkumandang. Abah Dul pun kemudian langsung berdiri untuk melanjutkan sholat Isya.


......................


Pukul 20.00 wib, di ruang tengah rumah Mahmud baru saja selesai bersantap malam. Kosim menyalakan sebatang rokoknya sebelum menyampaikan kabar yang diterimanya tadi pagi dari temannya bernama Udin.


"Rin, Mbak Dewi, Mas Mahmud, tadi pagi teman saya datang kesini untuk mengajak kerja Seismik di Wonosobo. Gimana menurut kamu Rin, Mbak dan Mas Mahmud, apakah saya terima saja?" Kata Kosim ditengah-tengah suasana santai.


Arin tiba-tiba terdiam, wajahnya sedikit menunjukkan keterkejutannya. Begitu pula dengan dua kakak iparnya.


"Berarti Mas bakal lama meninggalkan saya dan Dede ya Mas?" Ucap Arin dengan nada sedikit tidak setuju.


"Cuma dua bulan Rin. Bayarannya lumayan besar loh Rin, lima juta bersih," ujar Kosim antusias dengan wajah sumringah.


Arin hanya melenguh pelan luput dari perhatian Kosim. Wajahnya nampak keberatan dan menyiratkan tidak menyetujui jika suaminya harus bekerja jauh.


Andaikan dulu sebelum Arin sadar dengan sikapnya yang kasar karena terpengaruh gunjang-ganjing sindiran-sindiran tetangganya, mungkin dia akan langsung mendorongnya mengambil pekerjaan ini. Apalagi melihat bayarannya jutaan dengan waktu hanya dua bulan.


Tetapi Arin yang sekarang jauh lebih baik setelah dia menyadarinya. Kini dia lebih menyayangi, lebih perhatian dan sangat mengkhawatirkan Kosim.


Dewi melihat ekspresi Arin dan memahami apa yang sedang dirasakan adiknya itu.


"Sim, sebaiknya dipikir-pikir aja dulu. Dua bulan itu sangat lama bagi seorang istri yang selalu dalam penantian. Kamu nggak kasihan sama Dede juga? Dia pasti akan sangat merasa kehilangan Sim," kata Dewi mengingatkan.


Kosim tertegun mendengar ucapan kakak iparnya. Dihatinya berkecamuk hebat, pergulatan antara perasaan ingin menerima pekerjaan itu dengan mempertimbangkan perasaan Arin dan Dede.


"Sim, apa kamu sudah meng-iyakan menerima tawaran teman kamu itu?" Sela Mahmud.


"Belum sih Mas. Saya bilang nanti keputusannya besok, saya bicarakan dulu dengan keluarga," jawab Kosim.


"Kapan waktu berangkatnya?" Tanya Mahmud lagi.


"Katanya tanggal empat belas ini Mas," jawab Kosim.


"Hah! Tanggal empat belas, Sim?!" Mahmud sontak terkejut.


"Sim, tanggal empat belas itu Purnama loh. Apa kamu nggak ingat dengan mimpi kamu dan Abah Dul?!" Ujar Mahmud menekankan suaranya.


Arin dan Dewi sontak terkejut sekaligus mengguratkan tanda tanya dengan ucapan Mahmud. Keduanya tidak mengetahui soal Purnama namun ucapan Mahmud cukup menggambarkan kekhawatiran besar.


Tetapi Kosim terlihat biasa saja, dia tidak sedikit pun terkejut dengan ucapan Mahmud. Karena sebelum Mahmud mengingatkannya, Kosim sendiri sudah memikirkan itu dan dirinya menganggap mimpi-mimpi itu hanyalah bunga tidur.

__ADS_1


......................


__ADS_2