Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PEMBANTAIAN


__ADS_3

Di luar istana, para prajurit siluman monyet sampai pula pada posisi titik target yang sudah ditentukan dimana pasukan jin, pasukan Kajiman berada pada mengepung dari sisi kanan, sisi kiri dan depan. Tuan Denta segera memberikan aba- aba untuk menghentikan aksi membunyikan pedang para prajuritnya saat melihat musuh sudah berada dalam jarak 50 meteran di titik yang ditentukan.


Tuan Denta segera mengangkat tangannya, kemudian setengah berseru memerintahkan pasukannya untuk gertiarap.


Di sisi bagian kanan dimana pasukan dari mahluk Kajiman yang dipimpin Kosim yang bersembunyi juga sudah bersiap menunggu aba- aba untuk bergerak melakukan penyerangan secara bersamaan. Begitu pula dengan pasukan Kajiman di sisi Kiri yang dipimpin oleh Raja Kajiman menatap lekat- lekat kearah depan tempat para


prajurit siluman monyet berkumpul.


Suara dentingan pedang beradu tiba- tiba lenyap, beberapa saat suasana pun seketika hening. Para pasukan jin dan pasukan Kajiman melihat dengan jelas dimana posisi prajurit siluman monyet yang menghentikan pergerakannya bersamaan hilangnya suara dentungan pedang beradu berjat bias cahaya petir yang tak henti- hentinya menjilat- jilat dari atas langit hitam.


“Nyiiittt… nyyiiit… nyiiit…”


“Nyiiittt… nyyiiit… nyiiit…”


“Nyiiittt… nyyiiit… nyiiit…”


“Nyiiittt… nyyiiit… nyiiit…”


Teriakkan- teriakan suara dari para prajuri monyet siluman saling bersahutan sembari menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang, ke depan memperhatikan keadaan sekelilingnya. Namun pandangan di sekeliling mereka sejauh mata memandang, para prajurit siluman monyet  hanya melihat hamparan gelap pekat meskipun sesekali pancaran cahaya petir meneranginya.


Semua prajurit siluman monyet terlihat sangat kebingungan sambil terus mengedarkan pandangannya melihat di sekeliling mereka dengan mata nanar akibat sedang mabuk berat.

__ADS_1


“Seraaaaang….!” Teriak tuan Denta dengan keras.


“Seraaaaang….!” Susul suara Kosim dari sisi kanan.


“Seraaaaang….!” Susul suara Raja Kajiman dari sisi kiri.


Di dahului oleh tuan Denta, ia melesat kedepan sambil mengacungkan pedang besar di tangan kanannya. Disusul dibelakangnya, seratusan ribu prajurit golongan jin juga melesat merangsak menyebar mencari sasaran lawannya masing- masing.


Dari sisi kanan, Kosim juga melesat cepat merangsak dengan pedang berwarna hitam pemberian raja Kajiman yang diacungkan lurus bersama para pasukannya berjumlah 50 ribu mahluk Kajiman yang menggenggam beraneka ragam senjata tajam di tangannya yang juga diacungkan tinggi. Sorot mata Kosim dan pasukan Kajiman dipenuhi dengan amarah dendam membara.


Begitu pula pasukan Kajiman yang dipimpin Raja Kajiman dari sisi kiri pun merangsak menuju berkumpulnya pasukan prajurit siluman monyet yang terlihat sangat kebingungan. Para prajurit siluman itu celingukkan kesana kemari sambil memutar- mutarkan badannya melihat arah dari sumber suara yang terdengar dari tiga sudut yang berbeda.


Beberapa saat kemudian mulai terdengar suara- suara siuran senjata dari berbagai arah tiga sudut yang berbeda. Suara- suara dentingan dan tebasan- tebasan senjata nyaring mengangkasa di gelapnya langit alam gaib yang beradu. Beragam senjata- senjata yang di tebaskan dengan kekuatan besar menimbulkan uara siuran dan desingan yang beradu maupun yang mengoyak baju zirah yang dikenakan para prajurit siluman monyet kian santer menggema.


Tuan Denta mengibaskan pedang besarnya dengan dialiri kekuatan besar kearah barisan depan prajurit siluman monyet yang masih terkejut mendapati keadaan yang tak terduga. Diawali suara desingan angin dari laju pedang besar yang diayunkan tuan Denta, seketika selarik cahaya putih yang membentuk pedang besar yang sama persis dengan pedang yang berada di genggamannya melesat secepat kilat menyasar barisan prajurit siluman monyet yang berada di barisan depan.


“Aaaakkkkh!”


“Aaaakkkkh!”


“Aaaakkkkh!”

__ADS_1


“Aaaakkkkh!”


“Aaaakkkkh!”


Suara  jeritan saling susul menyusul terdengar dari para prajurit siluman monyet akibat badan maupun kepalanya terkoyak dan terpenggal oleh cahaya putih berbentuk bedang besar yang di lancarkan tuan Denta. Seketika itu juga sosok prajurit -prajurit siluman monyet yang terkena lintasan cahaya pedang besar tuan Denta langsung musnah meninggalkan asap kelabu yang menebarkan bau rambut dan daging terbakar.


Tak berbeda jauh dengan yang dilakukan oleh tuan Denta, semua pasukan jin pun tak kalah ganasnya menghajar lawan- lawan yang berada di depannya dengan membabi buta. Jeritan- jeritan kesakitan dan ketakutan dari pasukan siluman monyet saling bersahutan saat terkena sabetan- sabetan senjata tajam para pasukan jin. Lalu setelahnya tubuh prajurit- prajurit siluman monyet bertumbangan jatuh kebawah dengan tubuh sudah tidak utuh lagi.


Ada yang tubuhnya tanpa kepala, ada yang kakinya buntung, ada pula yang tangannya kutung akibat tebasan brutal pasukan jin. Bahkan ada juga yang tubuhnya terpotong menjadi dua bagian dengan kondisi berbeda- beda, ada yang terpisah dari perut ke bawah dan ada pula yang terbelah dari kepala hingga ke bagian dada lalu musnah.


Kondisi prajurit- prajurit siluman monyet yang sedang dalam keadaan mabuk berat, membuat perlawanan mereka tidak ada artinya. Para prajurit silaman monyet itu dengan mudah di bantai dan hanya menjadi bulan- bulanan pasukan jin.


Sementara Kosim beserta pasukan kajimannya yang sudah dirasuki dendam membara sejak lama, dengan cepat dan brutal mengayunkan senjata mereka menerjang prajurit siluman monyet yang berada di dekatnya sambil terus merangsak maju. Kosim yang kini memiliki kekuatan besar setelah mendapatkan kesaktian dari raja Kajiman tiba- tiba meloncat dan melayang diatas sekumpulan prajurit siluman monyet di depannya. Pedang ditangannya menghilang seketika dan langsung merubah posisi tangannya yang semula menggenggam gagang pedang, sekarang berganti dengan mengembangkan telapak tangannya lebar- lebar.


“Allaaaaahu akbar!” teriak Kosim dengan keras seperti sedang melepas amarah.


Bersamaan tubuhnya melenting dan melayang diatas sekumpulan prajurit siluman monyet, iba- tiba seberkas sinar perak muncul menyelimuti telapak tangan Kosim hungga pergelangan tangan. Sinarnya sangat menyilaukan dan mampu menerangi medan pertempuran. Akibat cahaya yang muncul secara tiba- tiba tersebut membuat pertempuran berhenti sejenak. Semua pandangan para pasukan yang bertempur mendongakkan kepalanya keatas melihat kearah sinar perak.


Pertempuran yang terjeda karena terkejut sekaligus terpana itu tak berlangsung lama. Karena seketika itu juga Kosim mengayunkan telapak tangannya yang terbungkus cahaya perak itu kearah sekumpulan prajurit siluman monyet seperti melempar sebuah batu bercahaya.


Booom…!

__ADS_1


Suara dentuman terdengar saat cahaya perak yang dilemparkan Kosim menghantam sekumpulan prajurit siluman monyet. Kontan saja ratusan tubuh dari para prajurit siluman monyet berterbangan kesegala arah dengan kondisi tubuh tercerai berai tak utuh lagi. Melihat serangan dahsyat yang menghancurkan siluman monyet, seluruh pasukan dari golongan jin danKajiman pun kembali meneruskan aksi pembantaiannya sambil meneriakkan kalimat tak jelas dari bahasa mereka.


Namun teriakkan- teriakkan itu mampu menyulut semangat disertai amarah yang lebih besar lagi untuk memusnahkan para prajurit siluman monyet.** BERSAMBUNG


__ADS_2