Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KEHADIRAN KOSIM


__ADS_3

“Dede...” gumam Arin celingukan mencari anaknya.


“Dede sudah tidur, dipindah ke kamar Rin,” ujar Dewi.


“Saya kenapa mbak?” Tanya Arin masih bingung.


“Kamu tadi tidak sadarkan diri. Sekarang gimana keadaanmu Rin? Apa yang kamu rasakan?” Tanya Dewi lembut.


Arin terdiam tatapannya menerawang ke langit-langit ruang tengah. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang dirasakan sebelumnya. Namun dirinya tidak bisa mengingat dan merasakan kejadian apapun didalam ingatannya.


“Ya sudah sebaiknya Arin istirahat saja masuk ke kamar Wi,” ucap Abah Dul melihat Arin yang masih belum menyadari sepenuhnya apa yang menimpanya.


“Iya Bah, ayo Rin masuk ke kamar.” Ajak Dewi membimbing Arin bangun dari duduknya.


Arin merasakan tubuhnya begitu letih, namun dirinya tidak mengetahui sebabanya. Arin berjalan gontai dalam bimbingan kakaknya hingga memasuki kamar. Ketika kakak beradik itu masuk ke kamar, tiba-tiba Dewi merasakan bulu kuduknya meremang. Dewi hanya melirikan bola matanya kekanan dan kekiri dengan perasaan gamang.


Tanpa bisa dilihat oleh Arin dan Dewi, sesosok bayangan tubuh berdiri disisi kasur sebelahnya lagi menatap Dede yang sudah terlelap tidur. Lalu pandangan sosok tersebut beralih menatap Arin lekat-lekat yang sedang melangkah kesisi kasur lainnya. Arin meminta kakaknya untuk berhenti melangkah, lalu Arin menengok kesana kemari seperti mencari sesuatu. Pandangannya menyapu keseluruh sudut-sudut kamar.


“Ada apa Rin?” tanya Dewi takut-takut karena dirinya lebih dulu merasakan bulu kuduknya meremang.


“Aku merasakan kehadiran mas Kosim, Mba.” Ucap Arin pelan sambil terus celingukkan.


Deg! Jantung Dewi berdegub kencang. Lalu turut mengedarkan pandagannya menyapu seisi ruangan kamar, namun tidka melihat apa-apa.


“Ah, mungkin hanya perasaan kamu aja Rin. Sudah, sudah kamu istirahat ya,” ucap Dewi lembut.


Arin membalasnya dengan anggukkan kepala, kemudian naik keatas kasur membaringkan tubuhnya. Dewi pun pamit keluar setelah memastikan adiknya benar-benar akan beristirahat.


Beberapa saat setelah Dewi keluar dan pintu kamar ditutup, sosok yang sebelumnya berdiri disebelah Dede kemudian melangkah ke sisi satunya dimana Arin merebahkan tubuhnya. Sejenak sosok itu berdiri disisi Arin yang sudah berbaring menatapnya dengan sendu. Sorot matanya menyiratkan kasih sayang yang sangat besar. Lalu perlahan-lahan sosok itu mengangkat tangannya bergegar ke kepala Arin. sosok tak kasat mata itu kemudian mengusap-usap dahi Arin yang hendak memejamkan matanya.


“Mas Kosim...” pekik Arin tertahan membeliakkan matanya, kemudian ia langsung bangkit duduk.


Arin merasakan sentuhan yang tak asing di kepalanya. Dan sentuhan seperti itu memang kebiasaan Kosim semenjak menjadi suaminya. Mata Arin mencari-cari keberadaan Kosim tetapi tak melihatnya padahal sosok itu ada disebelahnya.


"Mas Kosim? Mas... mas... kamu ďimana?" ucap Arin lirih sambil celingukan kesana kemari.


Sosok tak kasat mata itu nampak hanya dim terpaku sambil terus menatap Arin dengan tatapan kuyu.

__ADS_1


......................


40 hari kematian Kosim,


Dirumah Mahmud baru saja menggelar acara tahlil 40 hari meninggalnya Kosim. Warga tetangga sekitar rumah Mahmud yang menghadiri acara tahlilan itu satu persatu mulai berpamitan meninggalkan rumah Mahmud dengan menenteng besek masing-masing ditangan mereka.


Tidak ada yang melihat kalau didepan teras rumah Mahmud ada sosok tak kasat mata berdiri sejak dimulainya tahlilan hingga bubaran. Wajahnya pucat pasi, tatapan matanya tanpa ekspresi memandang lalu lalang warga meninggalkan rumah Mahmud hingga rumah itu terlihat lenggang. Diteras kini hanya ada Mahmud dan Abah Dul duduk lesehan, Mahmud bersandar dibawah jendela dan Abah Dul duduk menyandar pada saka sebelah kiri.


Sosok tak kasat mata itu kemudian melayang bergerak mendekati Mahmud dan Abah Dul. Dia lantas duduk disebelah Mahmud, tempat yang biasa Kosim duduk semasa hidupnya.


Mahmud tersentak merasakan desiran halus menerpa wajahnya. Ia merasakan ada sesuatu yang lewat didepannya namun tidak mengetahuinya apa yang lewat itu. Disaat bersamaan Abah Dul langsung tertegun merasakan hal yang sama. Ia langsung membuka mata batinnya untuk melihat keadaan disekitarnya karena merasakan ada aura lain hadir ditempatnya.


“Astagfirullah!” ucap Abah Dul kaget setelah mata batinnya melihat sosok tak kasat mata duduk diantara Mahmud dan dirinya.


“Ada apa Bah?!” tanya Mahmud sedikit bergetar.


“Kosim duduk disebelah ente Mud,” ucap Abah Dul pelan.


Wajah Mahmud seketika berubah sedikit menegang. Ternyata desiran halus yang menerpa wajahnya tadi refleksi dari melintasnya sosok sebagai Kosim seperti yang dibilang Abah Dul.


“Dia diam saja Mud. Tapi kalau diperhatikan dari ekspresi wajahnya seperti ada sesuatu yang mengganjal dan ingin menyampaikannya,” ujar Abah Dul.


“Coba ditanya Bah, barangkali memang ada sesuatu yang hendak disampaikan Kosim,” kata Mahmud.


Kemudian Abah Dul langsung diam dan memejamkan matanya. Ia mengerahkan energi batin untuk membuka komunikasi ke dimensi lain agar dapat mendengar dan berbicara dengan sosok tak kasat mata menyerupai Kosim tersebut.


“Assalamualaikum, Sim...” ucap Abah Dul.


Sosok Kosim itu perlahan-lahan mendongakkan kepalanya menatap Abah Dul. Lalu bibir pucatnya terlihat bergerak-gerak dengan kaku.


“Batu... batu...” ucap sosok Kosim dengan suara lirih dan pelan sekali.


“Batu? Apa maksudnya dengan batu?” tanya Abah Dul tidak menegerti.


“Ambilkan... batu... itu...” ucap sosok Kosim datar sambil mengangkat tangan dan menunjuk kearah selatan.


“Batu apa? Dimana?” Abah Dul masih tidak memahami maksud sosok Kosim.

__ADS_1


“Batu.. itu... tergeletak... disana... tolong... ambilkan... dan... simpan...” ucap sosok Kosim.


Abah Dul terdiam berpikir keras, batu apa yang dimaksud itu. Ia masih belum mengerti tentang maksud ucapan sosok Kosim tersebut.


“Mud, Kosim bilang soal batu. Batu apa?” tanya Abah Dul.


“Hah, batu...? Kenapa memangnya Bah?” sergah Mahmud kemudian mengingat-ngingatnya.


“Dia minta untuk menyimpannya tapi katanya batu itu tergeletak disana,” ujar Abah Dul sambil menirukan menujuk arah selatan.


Setelah beberapa saat lamanya Mahmud mengingat-ingat apapun yang berkaitan dengan semasa hidup Kosim, akhirnya dia teringat dengan batu yang pernah diberikan oleh ibunya saat ketika berada di tegal.


“Saya ingat Bah, kemungkinan batu telur Naga Kencana itu!” seru Mahmud tiba-tiba.


“O ya ya ya... bisa jadi batu itu,” gumam Abah Dul kemudian kembali memasuki dimensi batin dan bertanya pada sosok Kosim lagi.


“Maksud ente, apakah batu Naga Kencana?” tanya Abah Dul pada sosok Kosim.


Sosok Kosim kemudian mengangguk pelan dengan bibir pucatnya tersenyum kaku.


“Dimana batu itu sekarang?” tanya Abah Dul lagi.


“Di... tempat... itu...” sosok Kosim hanya menunjuk kearah selatan.


Jawaban sosok Kosim sangat membingungkan Abah Dul. Dia hanya menunjuk saja tanpa menyebutkan nama tempat.


“Mud, benar batu itu. Tapi Kosim nggak ngasih tau dimana batu itu, dia hanya menunjuk kearah sana,” ungkap Abah Dul.


“Jangan, jangan batu itu masih tergeletak di tempat kecelakaan Kosim Bah,” sergah Mahmud.


“Iya juga ya Mud, katanya suruh mencari batu itu dan menyimpannya,” ujar Abah Dul.


“Kalau begitu besok kita kesana mencarinya Bah,” ucap Mahmud.


Ketika Abah Dul kembali masuk kedalam Dimensi lain hendak memastikan tempat batu itu berada, sosok Kosim sudah lenyap dari posiainya. Raut wajah Abah Dul nampak kecewa karena sosok Kosim tidak meninggalkan petunjuk yang jelas.


......................

__ADS_1


__ADS_2