
Cahaya fajar menyeruak dari mulut goa hingga menerangi sebagian kecil di ruangan goa. karso dan Romlah sedang asyik menikmati sarapan pagi dengan memakan pisang. Sudah puluhan pisan masuk kedalam perut mereka.Pagi ini wajah Karso dan Romlah terlihat sumringah tidak seperti hari- hari sebelumnya yang nampak tegang penuh raut kecemasan.
“Pak sepulang dari sini kita langsung saja lihat- lihat rumah atau tanah untuk kita beli. Untuk membungkam ocehan semua tetangga dan orang- orang yang selalu memandang rendah kita,” ucap Romlah disela- sela makan
pisang.
“Sabar dulu bu, nanti mereka jadi curiga. Koq tiba- tiba kita punya banyak uang bisa beli ini itu,” sahut Karso.
“Hahhh, ibu sudah nggak sabar pak. Capek hidup miskin dan di hina terus!” sungut Romlah sembari melemparkan kulit pisang kesembarang arah.
“Iya, tapi kita juga harus ingat bu. Sebisa mungkin kita menghindari kecurigaan msyarakat. Mereka pasti curiga kalau kita tiba- tiba menjadi kaya,” ujar Karso mengingatkan.
Ditengah obrolan mereka, tiba- tiba terdengar suara monyet- monyet riuh bercicitan sambil melompat- lompat sekonyong- konyong sedang menyambut kedatangan seseorang. Tak lama kemudian terlihat sebuah bayangan dari sorot cahaya yang masuk dari mulut goa. Sepontan Karso dan Romlah pun menoleh
bersamaan kearah mulut goa.
Sosok bayangan berjalan memasuki goa berjalan terbungkuk. Di tangannya memegang sebilah tongkat kayu.
“Mbah!” gumam Karso dan Romlah serempak.
Karso dan Romlah seketika teringat dengan ucapan sosok monyet besar yang semalam menemui mereka, bahwa akan di jemput oleh Ki Sapto. Suami istri itu tak habis pikir, kok sang kuncen bisa tahu dan sesuai dengan yang dikatakan sosok monyet itu kalau pagi ini akan di jemput. Peristiwa itu rupanya jauh dari logika di pikiran Karso dan Romlah yang tak masuk akal.
“Selamat kalian sudah berhasil mendapat restu dari maha Raja,” ucap sang Kuncen berjalan mendekati Karso dan Romlah.
“Iya, mbah. matur nuwun,” balas Karso menganggukan kepala.
“Ayo sekarang kalian bawa kulit- kulit pisang itu seperti yang dipesankan Maha raja,” ucap sang kuncen mengingatkan.
“oh iy, iyya mbah. Hampir lupa. Ayo pak,” ujar Romlah buru- buru bangkit dari duduknya diikuti Karso.
Dengan sumringah dan raut muka penuh keserakahan Romlah berusaha mengambil semua kulit- kulit pisang yang berserakkan. Berbeda dengan Karso, ia nampak biasa- biasa saja tak begitu seantusias Romlah.
“Buat apa pulang suruh bawa kulit pisang?! Hahhh bilang saja minta dibersihkan, pake bilang bawa sebanyak- banyaknya segala,” gerutu Karso dalam hati.
Karso pun memunguti kulit pisang sekenanya saja karena tak ada wadah juga untuk membawanya. Ia hanya menaruh pisang di lengan tangannya yang ditempelkan dengan perutnya yang kurus. Karso menumpuk kulit- kulit pisang itu diperutnya hingga menggunung sampai ke dada.
__ADS_1
“Ambil yang banyak pak, kok Cuma segitu sih!” umpat Romlah.
Romlah sendiri menggunakan roknya sebagai wadah untuk membawa kulit- kulit pisang. Ia menyingsingkan roknya hingga ke lutut, untungnya Romlah memakai celana panjang sebagai rangkapan ********** sehingga
tidak begitu terlihat parno.
“Bagaimana bawanya bu, gada wadah juga,” sungut Karso kesal.
“Buka jaket mu itu pak buat membawanya,” ujar Romlah.
Dengan sedikit enggan Karso pun menuruti ucapan Romlah. Ia melepas jaketnya yang sudah usang tersebut lalu menumpuk kulit- kulit pisang ditengah- tengah bagian punggung jaketnya.
Sang Kuncen hanya geleng- geleng kepala melihat tingkah sepasang suami istri itu yang terlihat sudah sangat kerepotan menampung kulit- kulit pisang yang menumpuk.
“Kalau dirasa sudah cukup, segera kita keluar dari goa ini. Mbah sudah menyiapkan makan besar,” kata sang Kuncen.
Tak berapa lama kemudian, Karso dan Romlah sudah mengemas kulit- kulit pisang yang dibawa oleh masing- masing. Nampaknya kulit pisang yang dibawa Romlah sedikit lebih banyak dari yang dibawa Karso.
“Su, sudah mbah,” ujar Romlah masih melihat- lihat kulit pisang sekitarnya yang masih banyak berserakkan.
Tapi mau bagaimana lagi tidak ada lagi tempat untuk bisa membawanya karena roknya juga penuh dan tak bisa lagi menampungnya, begitu juga dengan semua kantong di pakaiannya sudah penuh dijejali kulit pisang.
Lain halnya dengan yang dipikirkan oleh Karso yang tidak mengerti dengan maksud membawa pulang kulit pisang, Romlah justru sudah memperkirakan kalau kulit- kulit pisang itu adalah harta kekayaan yang diberikan oleh pemilik pesugihan.
“kalau begitu, mari ke pondokkan,” ajak sang kuncen kemudian beranjak meninggalkan goa diikuti Karso dan Romlah dibelakangnya.
***
Beberapa lama kemudian sang kunceng, Karso dan Romlah sudah sampai didepan pondokkan sang kuncen. Tercium aroma panggangan ayam yang begitu menggugah selera Karso dan Romlah hingga membuatnya tiba- tiba merasa sangat lapar.
“Wah, mbah manggang ayam ya?” celetuk Karso tak bisa menahan penasarannya.
“Hehehe… iya, ayo masuk kita makan dulu sebelum kalian kembali ke rumah,” ucap sang kuncen terkekeh.
Kreooot…! Suara pintu pondokkan dibuka dari luar oleh sang kuncen.
__ADS_1
Di tengah ruangan yang tak begitu besar, nampak sudah tertata rapih hidangan yang menggiurkan bikin air liur menetes. Ada nasi tumpeng dan juga ada ayam panggang serta tiga piring yang terbuat dari seng. Panggangan
ayam itu nampak masih mengepulkan asap. Sepertinya baru selesai dibakar.
“Mari- mari kita makan,” ujar sang kuncen smabil mengambil duduk menghadap hidangan.
Karso dan Romlah pun langsung mengambil tempat duduk mengelilingi hidangan tersebut. Meski hanya nasi tumpeng dan bekakak ayam saja namun cukup membangkitkan nafsu makan keduanya padahal sewaktu di dalam goa mereka sudah begitu kenyang makan pisang.
“Ayo ambil ayamnya,” ujar sang kuncen langsung memuntir bagian kepala panggangan.
“Loh mbah, kok Cuma ngambil bagian kepala saja,” ujar Romlah keheranan.
“Hehehe… nggak apa- apa, mbah suka bagian kepala,” jawab sang kuncen terkekeh.
Romlah segera memotong bagian paha lalu menaruhnya pada piring yang dipegang Karso, kemudian ia sendiri memotong bagian sayap.
Karso dan Romlah terlihat makan dengan lahap seperti orang yang kelaparan. Sang kuncen sesekali melirik Karso dan Romlah lalu menyunggingkan senyuman puas.
“Ayo nambah, nambah lagi nasinya dan habiskan bekakak ayamnya jangan sampai ada yang tersisa,” ucap sang kuncen.
“Iy, iyya mbah,” ujar Romlah dan Karso sambil mengunyah makanan.
Seperti terhipnotis, sepasang suami istri itu kembali menambah satu centong nasi dan memotong panggangan ayam. Sangat lahap sekali keduanya makan hingga menghabiskan bekakak ayam yang terasa sangat menikmati
hidangan itu.
“piye enak toh panggangan ayamnya?” tanya sang kuncen.
“Wah, ueeenak sekali mbah. Malah sampe nambah, hehehe…” jawab Romlah yang diyakan Karso dengan menganggukkan kepala.
“Ya sudah sekarang kalian berkemas, masukkan semua kulit pisang itu kedalam karung yang sudah mbah sediakan di pojok itu,” kata sang kuncen menunjuk selembar karung teronggok di sudut ruangan.
"Kalian jangan sampai lupa untuk menyediakan anak ayam lagi setiap malam satu Syuro!" tegas sang kuncen.
**BERSAMBUNG….
__ADS_1