
π΄Terima kasih π Masih mengikuti kisahnya, ternyata banyak yang kangen dengan kemunculan suara tanpa rupa dan bertanya-tanya, "Kok tidak muncul-muncul?"
Dikisah ini bukan hanya menggambarkan kejujuran dalam menulis namun juga berusaha jujur dengan alur kisahnya. Berusaha untuk tidak memaksakan suara tanpa rupa itu muncul sehingga alurnya akan mudah ditebak dan terasa dibuat-buat.
**Sekarang saatnya kita ungkap sosok suara tanpa rupa itu ya sayang...
Yuk siapkan kopinya, makanan ringannya dan cari posisi duduk yang nyaman. Jangan lupa senyum manisnya, ya**... πππ
Kalau jempolnya nggak cantengan jangan lupa LIKE, KOMEN, FAVORIT, HADIAH πππ
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
.............. Kosim sudah berusaha mencari-cari Arin disekitar rumah, bertanya kepada tetangga-tetangganya namun mereka semua menjawab tidak melihatnya.
"Ah paling juga ada di rumah Mbak Dewi," gumam Kosim menenangkan hatinya.
Kosim terduduk lemas di undakan teras rumahnya. Pikirannya melayang jauh membayangkan hal-hal rumit yang akan dihadapinya. Mbak Dewi pun pasti marah setelah mendengar pengaduan Arin.
Rahasia soal ritual pesugihan sebelumnya sudah disepakati bersama Mahmud dan Abah Dul untuk tidak diberitahukan dulu kepada Arin dan Dewi agar tidak membuat panik atau juga menimbulkan kemarahan Arin. Selain Mahmud dan Abah Dul, Mang Ali juga sudah diwanti-wanti untuk tidak menceritakannya.
Batin Kosim terus memikirkan pertengkaran pagi tadi. Dia meratapi sekaligus menyesali orang yang usil membicarakannya padahal tidak tahu kejadian yang sebenarnya dan ironisnya gunjingan itu ditelan mentah-mentah oleh Arin hingga menimbulkan kesalah pahaman meski tidak seratus persen benar.
Dirinya tidak menyalahkan Arin sepenuhnya hingga membuat Arin bertanya dan marah pergi meninggalkan rumah. Selama ini sudah berusaha keras menutup-nutupi agar Arin jangan dulu mengetahui soal ritual pesugihan namun diluar dugaan akhirnya Arin mengetahuinya lebih awal meskipun masih dalam tanda tanya besar.
"Saya harus cepat-cepat ke rumah Mas Mahmud," gumam Kosim.
Kosim segera beranjak dari duduknya masuk kedalam rumah berkemas-kemas lalu memeriksa dapur dan mengunci seΔΊuruh pintu dan jendela.
Suasana masih pagi sekitar pukul 8.00 wib rumah Mahmud nampak sepi. Kosim memarkirkan sepeda motornya di halaman depan teras lalu cepat-cepat mengetuk pintu.
"Tok... tok... tok..."
"Assalamualaikum, Mas... Mbak..."
Tidak ada sahutan dari dalam rumah, Kosim pun kembali mengetuk dan mengucapkan salam dan memanggil-manggil Dewi dan Mahmud.
Tok... tok... tok..."
__ADS_1
"Assalamualaikum, Mas... Mbak..."
"Riiiin...." seru Kosim mengira Arin sembunyi didalam rumah.
Kosim mencoba membuka pintu menekan handel pintu, "Terkunci," gumamnya.
Kosim melangkah ke samping mencoba melalui dapur barangkali Mbak Dewi ada disana sehingga tidak mendengar suaranya. Kosim melongokkan kepalanya melalui kaca jendela dapur namun tidak ada sesorang pun disana. Handel pintu dicobanya dibuka tetapi terkunci.
"Mbak Dewi dan Mas Mahmud kayaknya nggak ada di rumah, apa Arin ikut mereka ya?"
Kosim masih terpaku didepan pintu dapur. Sesaat kemudian Kosim melangkah kembali ke teras depan dan duduk bersandar pada tiang saka rumah. Dirogohnya saku celana mengambil bungkus rokok lalu dilolosnya sebatang rokok dan disulutnya.
Dihisapnya rokok dalam-dalam lalu dhempaskan asapnya kuat-kuat seolah melepaskan kerumitan pikirannya. Kosim menghela nafas dalam kebingungan memikirkan apa yang harus dikatakan pada Arin dan Mbak Dewi jika ditanya nanti.
"Sim..."
Kosim terlonjak kaget tiba-tiba ada yang memanggil namanya dari samping. Spontan dia menoleh, muncul bi Lastri tetangga sebelah Mahmud.
"Kaget saya bi," ujar Kosim.
"Oh, kalau Mbak Dewi bi?" Tanya Kosim.
"Mbak Dewi kan berangkat kerja Sim," jawab Bi Lastri.
"Nyusul ke kebun aja," sambungnya.
"Iya bi, matur nuwun bi," ujar Kosim.
"Ya sudah saya mau ke warung dulu Sim." Kata Bi Lastri sambil berlalu melewati Kosim yang duduk di undakan teras.
Sepeninggal bi Lastri Kosim termenung, "Kalau Mbak Dewi dan Mas Mahmud nggak ada di rumah, terus rumah juga di kunci berarti Arin dan Dede juga nggak ada disini," pikir Kosim mulai kalut.
Seketika perasaannya mulai gundah, hatinya semakin mencemaskan keberadaan Arin dan Dede. Kosim merebahkan tubuhnya di lantai teras dengan kaki terjuntai di undakkan dan kedua tangan direntangkan kesamping.
Matanya menerawang kosong menatap langit-langit serambi rumah Mahmud. Kalut, bingung, khawatir, cemas dan takut bergumul jadi satu didalam pikirannya.
Disaat kalut seperti itu pikiran Kosim melayang mencari-cari sosok yang bisa diminta bantuan. Sangat manusiawi yang dipikirkan Kosim dalam kondisi seperti ini, siapapun akan mengingat-ingat dan mencari-cari nama yang sekiranya bisa membantunya.
__ADS_1
Hingga terpaut pada satu sosok. Kosim baru teringat dengan sosok suara tanpa rupa. Namun dirinya sangsi belum memahami sepenuhnya kapan dan disituasi seperti apa saja dia muncul.
"Kemana suara tanpa rupa itu? kenapa tidak pernah muncul lagi?"
Sama dengan para pembaca setia novel Melawan Perjanjian Gaib yang sangsi dengan suara tanpa rupa. Kemana suara tanpa rupa yang tidak muncul-muncul?
Kosim merasakan beban pikiran yang berat menghimpitnya. Beberapa lama kemudian tanpa disadari matanya perlahan-lahan terpejam. Kosim pun tertidur dengan rokok masih menyelip diantara jarinya yang merentang lurus disampingnya.
Kepalanya tergolek kesamping kiri, Kosim terlelap dengan wajah tampak kuyu dan suram mengguratkan kerumitan perasaannya yang sedang dilanda keresahan.
"Sikapmu sudah mulai sombong! Kamu sudah mengabaikan dan tidak lagi percaya dengan peringatan-peringatan yang menjagamu. Dan kamu tidak layak saya ikuti!"
Kosim terjaga dari tidurnya yang hanya sesaat, dia langsung duduk tertegun dengan wajah terpana mengingat ucapan yang barusan dialaminya. Entah mimpi atau bukan tetapi suara itu sangat jelas terdengar dan tidak asing lagi di telinganya.
Kosim merenungi mencoba mengingat-ingat lagi apa yang sudah diperbuatnya sehingga membuat pemilik suara tanpa rupa itu sepertinya sangat marah dan kecewa dengan dirinya.
Kosim ingat terakhir kali suara tanpa rupa itu muncul membisikinya pada saat sebelum dirinya terjebak kedalam tipu muslihat siluman monyet hingga menyeretnya kedalam dunia tak kasat mata yang nyaris membuat nyawanya dibawa. Kosim mengakui dirinya saat itu memang tidak mempercayai peringatan dari suara tanpa rupa bahkan menertawakan pesannya.
"Astagfirullah.. maafkan saya," Kosim berucap sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kosim benar-benar menyesalinya, batin Kosim semakin tertekan kini dia benar-benar merasakan sendirian. Semuanya seolah-olah pergi meninggalkannya.
Meskipun Kosim belum mengetahui pemilik suara tanpa rupa itu siapa dan mahluk apa tetapi dirinya mengakui kehadirannya sangat membantunya. Beberapa kali dirinya ditolong dan diperingati oleh suara tanpa rupa.
Kosim ingat betul suara tanpa rupa itu mulai muncul di telinganya setelah mengalami mati suri dan bersamaan dirinya mengerjakan amalan zikir yang diberikan oleh Gus Harun.
Masih menjadi misteri apakah pemilik suara tanpa rupa itu Khodam dari zikirnya ataukah mahluk dari alam gaib yang mendampinginya setelah mati suri.
Kini Kosim baru teringat kalau dirinya sudah beberapa malam tidak lagi menjalankan zikir tersebut. Penyesalan yang tak kalah besarnya yakni sikapnya yang seolah-olah mempermainkan sosok suara tanpa rupa dan juga sudah menganggap amanatnya sebagai candaan. Sepele namun sangat fatal akibatnya padahal hampir merenggut nyawanya.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam.." jawab Kosim reflek terkejut.
Lamunan Kosim buyar seketika, dia begitu terhanyut larut kedalam lamunannya sampai-sampai kedatangan Mahmud dan Mang Karyo tidak dirasakannya.
......................
__ADS_1