
Malam semakin larut waktu sudah mendekati jam 2.00 wib dinihari tetapi suara cicitan-cicitan serangga malam terdengar begitu riuh saling sahut-menyahut dari beŕbagai penjuru.
Warga kampung Sukadami nampaknya tidak merasa terusik, mereka tidur begitu nyenyaknya sampai-sampai tidak merasakan adanya getaran, guncangan dan dentuman-dentuman disekitar rumah Mahmud maupun rumah Mang Ali.
Dan seperti itulah kira-kira jika keributan yang ditimbulkan oleh mahluk halus, semua orang yang tidak terlibat didalamnya seolah-olah tidak pernah akan merasakan dampaknya apapun.
Mahmud, Kosim dan Mang Ali bergegas kembali bergabung dengan Gus Harun dan Abah Dul di rumah Mahmud setelah melewati pertempuran yang sempat membuat Mahmud dan Kosim bersedih menangis karena mengira Mang Ali tewas.
"Mang, bagaimana dengan Arin dan Mbak Dewi?!" Kosim bertanya dengan raut mencemaskannya.
"Iya Mang, apa siluman-siluman itu tidak menyerangnya?!" Timpal Mahmud yang juga dengan mimik khawatir.
"Tenang saja, tadi Gus Harun kan sudah memberikan doa-doanya." Tukas Mang Ali.
"Doa apa itu ya Mang?!" Sergah Kosim masih tidak yakin.
"Kalau saya rasakan, itu doa untuk menghilangkan pandangan dari penglihatan mahluk gaib?"
"Ooooo... pantas saja tadi minyet itu hanya menyerang kita ya," ujar Kosim polos.
Mereka bertiga terus berjalan dengan tergesa-gesa sambil membahas peristiwa barusan.
"Kira-kira Gus Harun dan Abah Dul sudah bertempur belum ya?" Kosim kembali bertanya dengqn polosnya.
"Ya nggak tau Sim, wong kita aja ada disini." Tukas Mang Ali terus melangkah tanpa menoleh ke Kosim.
"Lah, kamu sih nggak ada peringatan sama sekali dari yang ono noh, Sim?" Mang Ali gantian bertanya.
"Yang ono siapa Mang Ali?!" Kosim balik tanya dengan wajah bingung.
"Itu yang suka ngasih peringatan di kuping mu itu Sim," ujar Mang Ali.
"Iya nih Mang Ali, nggak ada. Kata Gus Harun tiga hari sebelumnya bakal muncul lagi setelah saya selesai memulai dari awal lagi. Tapi nggak muncul juga," Jawab Kosim sembari menggaruk-garuk kepalanya yang memang gatal.
"Tapi kalau menurut saya sih Sim, mungkin dalam situasi-situasi tertentu saja dia akan muncul," celetuk Mahmud.
"Maksudnya Mas?!" Tanya Kosim tidak paham.
"Ya, saya rasa kalau situasinya seperti sekarang ini misalnya, buat apa dikasih tau. Karena memang sedang terjadi dan mungkin juga karena sudah ada yang tahu.Terkecuali situasi-situasi seperti yang pernah kamu alami sebelumnya itu loh, kira-kira situasinya seperti itu." Terang Mahmud.
Tanpa terasa langkah Mahmud, Kosim dan Mang Ali tinggal satu belokan lagi akan sampai di rumah Mahmud. Mereka sengaja mengambil jalan pintas melalui gang-gang kecil agar cepat sampai.
Dan ketika Mahmud, Kosim serta Mang Ali baru saja satu langkah melewati belokan itu tiba-tiba deru angin terasa datang menerpa tubuh ketiganya. Besarnya kekuatan angin itu membuat tubuh ketiganya sampai tertahan diam ditempat.
Dari pandangan mereka rumah Mahmud sudah kelihatan dari jarak 25 meter dari tempatnya tertahan oleh hembusan angin yang cukup kuat itu. Dan saat ketiganya menatap ke halaman rumah Mahmud, sontak saja sepasang mata ketiganya terbelalak lebar.
Ketiganya tercekat melihat begitu nyata dan jelas sosok mahluk sangat besar dan tinggi sedang menatap tajam rumah Mahmud dengan seringainya. Taring-taring dari sudut bibir mahluk itu sangat jelas terlihat berkilatan tertimpa cahaya lampu neon teras rumah Mahmud.
Mahmud, Kosim dan Mang Ali tertegun memperhatikan dan menelisik tubuh mahluk itu. Sepasang mata ketiganya secara bersamaan menelusuri sosok mahluk tinggi besar itu.
Mula-mula pandangannya memperhatikan sepasang kaki besar seperti terbungkus kulit hitam yang tingginya sebatas pangkal lutut menyerupai sepatu.
Kemudian tatapan mereka naik diatas lutut, nampak jelas bulu-bulu lebat berwarna kelabu tersembul dibalik jubah berwarna kuning keemasan yang menjuntai hingga sebatas betis.
Bagian alat vitalnya tertutupi perisai yang menyatu membungkus tubuhnya hingga menutupi dada. Perisai itu juga berwarna emas terlihat berkilatan dan memantulkan bias cahaya dari lampu neon teras rumah Mahmud.
__ADS_1
Kedua tangannya terbungkus logam emas hingga pangkal siku, sedang dibawah pangkal kedua lengan melingkar logam kuning emas menyerupai gelang mengikat ketat bulu-bulu lebat hitamnya.
Mahmud, Kosim dan Mang Ali spontan bergidik ketika menatap mencermati mukanya yang dipenuhi bulu hitam lebat hingga menonjolkan kilatan cahaya dari keempat taring disudut bibirnya yang tebal. Mukanya terkesan sangat menyeramkan dengan orot mata memancarkan kebengisan. Sedangkan dikepalanya melingkar mahkota emas dengan ukiran aneh disertai tiga batu merah menempel membentuk segi tiga tepat sejajar diatas keningnya.
Sosok mahluk yang dilihat Mahmud, Kosim dan Mang Ali itu adalah Raja Kalas Pati! Akan tetapi ketiganya tidak mengenal sosok tinggi besar yang sedang diperhatikannya itu.
Jika didalam alamnya sendiri wujud Raja Kalas Pati akan jauh lebih besar dari wujudnya sekarang yang dapat dilihat oleh Mahmud, Kosim dan Mang Ali di dunia kasat mata. Besarnya pun dapat dibayangkan dari senjata tongkat logam emasnya saja yang besarnya sekira batang pohon kelapa.
Raja Kalas Pati menampakkan wujudnya yang besarnya dua kali lipat dari mahluk siluman yang tadi dihancurkan Mang Ali itu berdiri tegak memegang tongkat logam emas sebesar tiang listrik. Matanya liar menyorot tajam kearah dua manusia yang tak lain Gus Harun dan Abah Dul berdiri diatas teras.
Dihadapan Raja Kalas Pati hanya berjarak 10 meteran berdiri diatas teras rumah Gus Harun dan Abah Dul sepasang matanya menatap tegang. Ditangan masing-masing sudah tergenggam senjata-senjata pusaka gaib ditangan kanannya dan bersiap menyerang. Namun Mahmud l, Kosim dan Mang Ali tidak melihat adanya sukma Ustad Basyari dan Ustad Baharudin yang juga telah siap dengan senjatanya masing-masing.
"Mang Ali gimana ini Mang?!" Seru Mamud menekan suaranya takut terdengar oleh Raja Kalas Pati yang menyeramkan itu.
Mang Ali terdiam tidak dapat menjawabnya, dirinya pun bingung entah apa yang harus dilakukan. Kosim dan Mahmud menatap harap menunggu jawaban dari Mang Ali.
Baru kali ini Mang Ali melihat mahluk gaib dalam wujud nyata menampakkan diri yang sangat menyeramkan dari mahluk-mahluk gaib yang pernah dilihatnya selama ini.
Jika Mang Ali saja nyalinua menjadi ciut, apalagi Mahmud dan Kosim yang membayangkan dahsyatnya kekuatan mahluk bermahkota itu.
"Mang, Mang Ali! Gimana Mang?!" Mahmud kembali berseru setengah berbisik mengingatkan.
Mang Ali masih diam tertegun menatap mahluk besar itu. Ada keragu-raguan terpancar dari raut wajahnya. Dia tidak berani memutuskan apapun. Namun tiba-tiba saja Kosim melangkah setengah berlari meninggalkan Mang Ali dan Mahmud yang masih terpaku ditempatnya.
"Kita harus membantu Gus Harun dan Abah Dul!" Seru Kosim dengan suara bergetar sambil terus mempercepat langkahnya menuju rumah Mahmud.
Mahmud dan Mang Ali kontan saling berpandangan, ucapan Kosim seperti sebuah cambuk yang menghentak sekaligus melecut gengsinya. Lantas keduanya pun bergegas menyusul langkah Kosim yang sudah tertinggal 10 langkah didepan keduanya.
Keberanian Kosim muncul secara tiba-tiba melingkupi hati dan pikirannya seolah-olah menghilangkan rasa takut pada dirinya.
"Mahmud... Mang Ali..!" Abah Dul kembali berseru melihatnya muncul dibelakang Kosim.
Kosim berhenti di halaman sambil mendongak menatap wajah Raja Kalas Pasti yang tinggi besar. Meski dengan wajah heran melihat keberanian Kosim, secepatnya serentak Gus Harun dan Abah Dul serta dua sukma itu melompat turun dari teras bergabung dengan Kosim berdiri di halaman. Tak lama kemudian Mahmud dan Mang Ali pun sampai di halaman dan langsung mensejajarkan diri.
Untungnya halaman rumah Mahmud cukup luas sehingga cukup kiranya menjadi arena pertempuran yang jelas tidak berimbang apabila diukur dari besar dan kecilnya wujud mereka.
Belum hilang keheranan bercampur ketegangan melihat Kosim, tiba-tiba kaki kanan Raja Kalas Pati terangkat lalu dihentakkan dengan keras ke tanah.
"Buuuummmm...!!!"
Tanah amblas setengah meter melesak oleh hentakkan kaki Raja Kalas Pati. Tubuh Abah Dul, Gus Harun, Kosim serta Mahmud dan Mang Ali sontak mumbul lalu kembali berdiri dengan sedikit oleng oleh getarannya.
"Bah, siapa mahluk ini?!" Seru Mahmud dengan wajah menciut nyalinya.
"Ini Kalas Pati, Raja Siluman Monyet!" Seru Abah Dul.
Wajah Mahmud, Mang Ali dan Kosim terperangah. Mereka hanya tahu nama Raja Kalas Pati hanya dari cerita yang sering disebut-sebut Abah Dul yang pernah bertarung, namun wujudnya baru melihatnya sekarang.
"Hahahahahahaha... Hay manusia serahkan saja manusia bernama Kosim, kalian akan aku biarkan hidup..!!!"
Suara yang sember dan besar dari Raja Kalas Pati menggema menggidikkan Mahmud, Kosim dan Mang Ali. Namun tidak bagi Gus Harun, Abah Dul serta sukma Ustad Basyari dan Ustad Baharudin. Keempat orang itu sudah tidak asing bagi mereka.
Mereka tidak ingin berbuat kesalahan lagi akibat kelengahannya dan menganggap remeh, tubuh Gus Harun, Abah Dul serta sukma Ustad Basyari dan Ustad Baharudin nyaris saja tewas oleh kekuatan maha dahsyat tongkat Raja Kalas Pati.
Mengingat itu, Abah Dul langsung berteriak kepada Mahmud, Kosim dan Mang Ali.
__ADS_1
"Kalian mundur saja naik keatas teras!" Teriak Abah Dul.
Setidaknya di teras rumah Mahmud berada dalam lindungan perisai yang diciptakan oleh Gus Harun, jadi Mahmud, Kosim dan Mang Ali akan aman.
Tetapi sayangnya, teriakkan peringatan dari Abah Dul terlambat. Belum sempat ketiganya beranjak pergi ke teras, tiba-tiba suara bising menderu.
"WUUUUUUUSSSSSS....!!!"
Tongkat besar itu terayun dari sisi kanan mengarah tubuh Gus Harun, Abah Dul, sukma Ustad Basyari dan Ustad Baharudin serta Mahmud, Kosim dan Mang Ali.
Melihat datangnya maut, Gus Harun secepat kilat meloncat mundur bersama dua sukma. Sedangkan Abah Dul bergerak cepat menubruk dan mendorong tubuh Mahmud, Kosim dan Mang Ali hingga jatuh bergulingan di tanah bersamaan kiblatan tongkat logam kuning berkilatan cahaya lewat 10 jengkal diatas mereka.
Meski lolos dari hantaman tongkat Raja Kalas Pati namun hawa panas dari kekuatan tongkat logam emas itu tetap saja membuat Mahmud dan Mang Ali berteriak kesakitan.
"Aaaaaakkkhhhhh....!"
Tetapi tidak dengan Kosim dan Abah Dul, keduanya hanya merasakan hawa hangat saja tidak sepanas yang dirasakan Mahmud dan Mang Ali.
Untung saja Kosim sudah memiliki perisai pelindung diri yang sangat kuat pemberian dari Gus Harun. Bawah alam sadar Kosim kembali membangkitkan keberanian yang tidak terkira.
Kosim segera bangkit lebih dulu disusul Abah Dul. Sementara Mahmud dan Mang Ali masih terkapar mengerang memegang dadanya masing-masing.
Belum juga sempat mengambil nafas, kembali terdengar suara menderu sangat bising. Kilatan cahaya kuning emas berkiblat dari atas mengarah ke tubuh Kosim dan Abah Dul yang sudah berdiri tegak namun belum siap menerima serangan itu.
Mang Ali hanya tertegun pasrah melihat hujaman tongkat Raja Kalas Pati lalu cepat-cepat mencoba mengambil keri Skobernya yang terselip dipinggang.
Begitu pula sengan Mahmud, ia pun pasrah melihat jelas cahaya kuning emas itu meluncur deras dari atas yang sesaat lagi akan membuat tubuhnya hancur. Mahmud reflek menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"WUUUUUUSSSSSSHHHH...!!!"
Cahaya yang berkiblat dari tongkat logam emas Raja Kalas Pati meluncur deras. Pukulan tongkat itu sesaat lagi akan menghancurkan Abah Dul, Kosim, Mang Ali dan Mahmud.
Sementara Gus Harun dan Sukma Ustad Basyari dan sukma Ustad Baharudin melihat bahaya maut akan menghantam itu secara serentak melompat dan menyongsong bergerak membuat tangkisan dengan senjatanya masing-masing.
Tongkat Raja Kalas Pati menderu menghujam dengan kekuatan penuh, kini jaraknya kian dekat.
Lima meter....
Empat meter...
Tiga meter...
Dua meter lagi...
Satu meter lagi...
Setengah meter lagi...
Dalam keadaan tidak menguntungkan, terpancar dari raut wajah mereka dengan mata melotot lebar hanya menatap pasrah logam emas besar itu yang sesaat lagi menghantamnya.
Kosim menatap terbelalak dengan mulut ternganga, Abah Dul melindungi dirinya dan teman-temannya dengan melintangkan senjata Tombak Mata Kembarnya, Mang Ali sudah menelungkup pasrah dan Mahmud sudah menutup mukanya rapat-rapat dengan kedua tangan.................................................
......................
🔴Cuma minta LIKE aja kok,
__ADS_1