Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KOMITMEN


__ADS_3

Suasana di komplek pemakaman Syehk Maulana nampak ramai oleh para peziarah. Di tempat itu tak pernah sepi dari para peziarah yang mencari berkah datang dari berbagai daerah, mulai dari rombongan peziarah dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur bahkan banyak pula yang datang dari luar pulau Jawa. Mereka percaya kalau makam Waliullah memberikan karomahnya berharap dapat membantu melalui doanya untuk di mudahkan tujuannya.


Empat sinar putih tak kasat mata langsung memasuki area dalam makam Syehk Maulana. Jika para peziarah hanya duduk di luar batas area makam, ke empat cahaya yang tak lain sukma Gus Harun, sukma Abah Dul, arwah Kosim dan mahluk jin yang di panggil tuan Denta tersebut langsung masuk di area dalam.


Ke empat mahluk dari alam yang berbeda- beda itu duduk berjejer menghadap sebuah makam panjang. Bunga-bunga beraneka warna bertaburan di atasnya, aroma wangi kembang berbaur dengan wewangian minyak misik memenuhi ruangan dalam makam Syeh Maulana tersebut.


Tuan Denta duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk dengan raut wajah mengguratkan kesedihan yang teramat dalam. Ia teringat semua peristiwa saat-saat masih sering bertatap muka, saat dimana Syeh Maulana memberikan pelajaran tentang agama Islam, tentang rukun Islam, tentang baik dan buruknya perbuatan, tentang yang halal dan haram dan dengan semua ajaran yang diberikan Syeh Maulana kepadanya.


Keikhlasan yang di tunjukkan Syeh Maulana mengaharinya membuat tuan Denta semakin kagum dan mencintainya. Namun yang di sesalkan tuan Denta adalah saat- saat terakhir kali masa hidupnya, dirinya tidak pernah datang lagi mengunjungi kediaman Syeh Maulana karena di sibukkan pekerjaannya di kerajaan Azazil.


Beberapa saat kemudian sukma Gus Harun memimpin tawassul atau mendoakan Syeh Maulana yang diakhiri dengan bacaan Al Fatihah. Setelah terpekur menundukkan wajahnya cukup lama, lalu tuan Denta mengangkat wajahnya menoleh pada sukma Gus Harun.


"Tuan Guas Harun, ijinkan aku tinggal di sini. Menjaga di tempat ini agar aku dapat membalas budi atas jasa beliau sampai akhir jaman. Aku akan mengabdikan diri di tempat ini," ucap tuan Denta.


Sukma Gus Harun tertegun mendengar penuturan tuan Denta tersebut, namun ia tak dapat memberikan jawaban apapun selain mengijinkannya.


"Baiklah jika itu yang tuan Denta inginkan," jawab sukma Gus Harun.


"Tuan benda ini bagaimana?!" sela Kosim.


"Sebaiknya benda itu berikan pada tuan Abah Dul. Mungkin akan lebih berguna dan lebih aman dari perburuan prajurit Raja Azazil." kata tuan Denta.


"Tuan bisakah anda membantu saya membebaskan arwah putra saya yang di penjara oleh siluman monyet?" sela Kosim penuh harap.


"Berarti putra anda berada di istana Kalas Pati?!" tanya tuan Denta.


"Benar tuan, saya dan Abah Dul kala itu gagal menyelematkannya ketika putra saya di bawa paksa oleh para prajurit siluman itu," ungkap Kosim, wajahnya berubah muram.


"Baiklah, kapan pun kalian membutuhkan bantuanku panggil saja namaku tiga kali. Aku akan datang," kata tuan Denta.


"Terima kasih tuan Denta," ucap Kosim sembari menangkupkan tangannya di depan dada.


"Terima kasih tuan, kalau begitu kami pamitan kembali," sela sukma Abah Dul.


"Aku juga ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada tuan Dul sudah mengantarkan sekalian mempertemukan aku dengan keturunan Syeh Maulana," ucap tuan Denta kemudian menoleh pada sukma Gus Harun.

__ADS_1


Sukma Gus Harun tersenyum dan mengangguk pelan, lalu berkata; "Kalau begitu kita pamit sekarang tuan. Pesanku, beri teguran pada orang-orang yang berziarah yang berlaku tidak sopan dan mengumbar ucapan-ucapan yang tidak baik."


"Baik tuan Gus Harun, akan ku jalankan pesan tuan," jawab tuan Denta menangkupkan tangannya di depan dada.


Kemudian sukma Gus Harun, sukma Abah Dul dan arwah Kosim berpamitan dan satu persatu memeluk tuan Denta bergantian.


"Gus ke kediamanku dulu kan?" tanya sukma Gus Harun.


"Tentu Gus," jawab sukma Abah Dul.


"Ya sudah, kami pamit tuan semoga tuan kerasan menetap disini. Assalamualaikum..." ucap sukma Gus Harun.


"Assalamualaikum..." timpal Kosim dan sukma Abah Dul bersamaan.


"Wa'alaikum salam..." jawab tuan Denta.


......................


Tubuh Gus Harun yang semula tak bergeming duduk bersila di dalam saung seketika tersentak saat sukmanya kembali memasuki raganya, lalu meraupkan tangannya sambil berucap “Al hamdulillah.” Di hadapan Gus Harun terlihat sukma Abah Dul dan arwah Kosim duduk bersila.


“Benar Gus, saya juga meminta kesediaan Gus Harun dan Abah Dul sekiranya dapat membantunya,” jawab Kosim.


Gus Harun menoleh pada sukma Abah Dul meminta persetujuannya. Kemudian nampak sukma Abah Dul menganggukkan kepalanya.


“Kapan kira-kira rencana kita menyambangi istana Kalas Pati?” tanya Gus Harun.


“Gimana menurut Abah Dul?” tanya Kosim.


“Bagaimana kalau hari Jumat lusa?” jawab sukma Abah Dul meminta pendapat Gus Harun.


“Baiklah, nanti saya sampaikan rencana ini pada tuan Denta.


“Ya sudah kalau begitu ane sama Kosim pamit Gus. Assalamualaikum...” ucap sukma Abah Dul.


“Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh...” sahut Gus Harun.

__ADS_1


Setelah itu sukma Abah Dul dan arwah Kosim melesat meninggalkan kediaman Gus Harun menuju rumah Mahmud kembali.


Hanya sekejapan mata saja sukma Abah Dul dan arwah Kosim sudah kembali ke rumah Mahmud dan sukma Abah Dul langsung masuk ke raganya.


Sementara Mahmud yang sedari tadi menjaga tubuh Abah Dul selama meloloskan sukma, seketika terkejut. Bukan karena tubuh Abah Dul sudah kembali bergerak, melainkan karena Mahmud melihat sebuah kotak hitam tiba-tiba muncul di pangkuan Abah Dul.


"Alhamdulillah..." ucap Abah Dul meraupkan tangan ke wajahnya.


"Kotak apa itu bah?!" tanya Mahmud penasaran campur heran.


Abah Dul yang masih meraupkan tangan di wajahnya segera membuka tangannya untuk melihat kotak yang fikatakan Mahmud.


"Subhanallah!" gumam Abah Dul.


Awalnya Abah Dul terkaget-kaget mendapati kotak hitam penuh ukiran di semua sisinya itu berada di pangkuannya. Namun sesaat berikutnya ia kembali bersikap biasa saja setelah mengingat semuanya.


"Ini benda mustika Raja jin Mud," ungkap Abah Dul.


"Mustika raja jin?! dari mana ente mendapatkan itu Bah?!" tanya Mahmud penasaran.


Abah Dul pun akhirnya menceritakan kisah perjalanannya saat berada di alam jin bersama Kosim secara garis besarnya saja dan langsung pada cerita pada saat mengambil kotak mustika raja jin tersebut.


......................


Pegunungan Ng,


Di waktu yang sama di dalam pondokkan, Ki Suta hanya bisa mengutuki orang yang bernama Abah Dul. Setelah mengetahui dengan jelas sosok yang disebut-sebut Abah Dul itu, seketika ledakkan dendam membara di dalam hatinya kian berkobar-kobar.


Ki Suta langsung mengukur kekuatan Abah Dul setelah melihatnya langsung dengan mata kepalanya sendiri yang menurutnya kekuatan Abah Dul masih berada di bawahnya.


"Harus secepatnya membalaskan kematian kakang Utung!" ucap Ki Suta dengan gigi gemeretakan penuh amarah.


......................


🙏SELEMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA🙏

__ADS_1


__ADS_2