
Hari ke-11 melawan perjanjian gaib, pagi-pagi sekali Kosim sudah meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan Arin, Dewi dan Mahmud.
Dua kakak iparnya masih terlelap didalam kamarnya begitupun dengan Arin masih memeluk Dede saat dirinya mengendap-endap keluar kamar.
Perban dikepala Kosim sudah dilepas karena luka-luka dan bekas jahitannya sudah mengering. Ia sengaja tidak memakai sepeda motor kakak iparnya dan memilih berjalan kaki menuju jalan raya dan naik angkutan umum.
Sekitar 10 menitan Kosim sudah berdiri dipinggir jalan raya menunggu angkot nomor 19 yang akan membawanya melintasi Desa Paningkir. Tak berapa lama angkot yang dinanti pun berhenti setelah Kosim melambaikan tangannya.
Angkot terlihat agak penuh ada sekitar 7 orang penumpang didalam angkot. Dua orang ibu-ibu paruh baya dan lima orang laki-laki, yang empat bapak-bapak 50 tahunan dan satunya pemuda berusia belasan tahun.
Kosim pun memilih mengambil duduk didekat pintu menghadap kedepan itupun setelah ibu-ibu disebelahnya bergeser duduknya dengan penuh pengertian.
Tak berapa lama setelah Kosim naik, angkot pun berjalan kembali. Kosim melemparkan pandangannya keluar angkot melalui pintu yang tak ditutup, ia tak begitu memperhatikan para penumpang yang lain. Pikirannya melayang ke tempat temannya yang akan ia dikujungi.
"Mau nggak ya Kasno membantu saya tanpa bayaran?" Kata Kosim dalam hati.
Sepuluh menit berjalan angkot lalu berbelok kekiri memasuki jalan yang di kanan kirinya hanya terdapat hamparan sawah.
"Ah coba aja deh, kalau uang rokok sih saya kasih lah tapi kalau minta ratusan ribu atau jutaan mendingan nggak usah aja," Kosim berbicara pada hatinya sendiri.
Saat sedang memikirkan temannya, telinga Kosim tiba-tiba berdengung lalu terdengar suara seperti ada yang membisiki. Suara itu begitu jelas terdengar ditelinganya.
"Hati-hati dengan orang yang dibelakang sopir!" Begitu kata suara ditelinga Kosim.
Kosim nampak celingukkan mencari sumber suara itu. Dia menoleh ke penumpang disebelah kanannya terlihat sedang mengantuk, "Ah nggak mungkin," kata Kosim dalam hati.
Kosim melirik ke penumpang yang duduk diurutan kedua disebelah pemuda dibelakang kursi sopir.
"Nggak mungkin juga," kata hatinya.
Tatapan Kosim beralih kesebelahnya lagi yakni seorang pemuda yang duduk diurutan pertama dibelakang kursi sopir seperti yang diperingatkan suara tanpa rupa itu.
Pemuda itu kira-kira berusia 19 belas tahunan, memakai jaket kulit hitam yang sudah memudar, wajahnya sangar dengan anting-anting yang membolongi telinganya serta memiliki tato disepanjang tangan kanannya.
"Kenapa dengan pemuda itu?" Tanyanya dalam hati.
Kosim masih tak mengerti dengan suara yang memperingatinya, "Pemuda itu nampak baik-baik aja. Ya, emang sih tampangnya berandalan tapi kenapa mesti hati-hati," gumam Kosim dalam hati.
Disaat Kosim masih bertanya-tanya kebingungan, tiba-tiba pemuda berandalan itu mengeluarkan sebilah golok dari belakang jaketnya.
"Keluarkan dompet kalian, cepat!" Bentak pemuda itu sembari menyorongkan golok kepada para penumpang.
Semua penumpang terperangah langsung ketakutan, termasuk Kosim. Namun takutnya Kosim hanya spontan, setelah itu Kosim merasakan timbul keberanian secara tiba-tiba. Kosim lantas menatap pemuda perampok itu tanpa gentar dan merasa tak ada rasa takut sedikit pun didirinya.
Sementara itu mengetahui dirinya ditatap oleh Kosim, lantas pemuda itu langsung mengarahkan goloknya ke leher Kosim.
"Cepaaat atau saya gorok!" Hardik pemuda itu kepada Kosim.
Melihat golok menempel di leher Kosim semua penumpang ketakutan dan panik. Empat bapak-bapak langsung merogoh saku belakang celanaya dan melemparkannya ke pangkuan pemuda itu. Disusul dua ibu-ibu yang duduk disebelah Kosim dengan tangan gemetar juga melemparkan dompetnya.
Tiba-tiba Kosim berteriak, "Jangan berikan!"
Suara Kosim terdengar sangat menggetarkan jantung semua orang yang ada di angkot. Sampai-sampai sopir menginjak rem mendadak dengan reflek sehingga semua penumpangnya terdorong kedepan berhimpitan.
Begitu pun dengan pemuda berandalan yang sedang menodongkan goloknya di leher Kosim. Ia terdesak memepet ke jok sopir. Tangannya yang menggengam golok mendadak gemetar, Kosim dengan gerakan cepat mencengkeram pergelangan tangannya.
"Ampuuun... ampuuun..." Seru pemuda itu kesakitan.
__ADS_1
Kosim merasa aneh pada dirinya. Ia merasa cengkramannya biasa saja tidak mengeluarkan tenaga besar akan tetapi pemuda itu seperti kesakitan yang amat sangat.
"Ampuuun... panas, panas...!" Seru pemuda itu sambil meringis menahan sakit di tangannya.
"Panas?" Kata Kosim dalam hati.
Akal sehat Kosim langsung bekerja memanfaatkan situasi tersebut.
"Masih berani merampok?!" Hardik Kosim sekonyong-konyong mendadak merasa berani.
"Iya, iya. Ini pa, bu..." Kata pemuda itu sambil mengulurkan satu-satu dompet yang bertumpuk dipangkuannya dengan tangan kirinya.
Sedangkan tangan kanan yang menggenggam golok mendadak lemas hingga goloknya terjatuh mengenai kaki Kosim yang hanya memakai sandal.
Lagi-lagi Kosim merasa aneh, harusnya kakinya terluka oleh ujung golok yang menghujam kepunggung telapak kakinya. Tetapi ia tidak merasakan apa-apa, ujung golok itu seperti tidak menyentuh kulitnya. Bahkan golok itu terpelanting kesisi kaki Kosim seperti membal.
"Kantor polisi dimana pak sopir? Masih jauh?" Seru Kosim kepada sopir angkot.
"Ada didepan Mas, nggak jauh setelah lewat persawahan ini." Jawab sopir angkot.
Pemuda berandalan itu nampak tak berdaya dan lemas dalam dicengkeram tangan Kosim. Sedangkan keempat penumpang bapak-bapak terlihat gemas hendak menghajarnya.
"Jangan pak, jangan main hakim sendiri. Biar polisi yang menanganinya." Seru Kosim yang melihat gelagat tersebut.
"Iya, iya Mas maaf... Terima kasih banyak Mas," kata bapak-bapak yang duduk disebelah pemuda berandalan.
"Makasih ya Mas. Aduh, untung ada Mas kalau tidak, saya nggak bisa belanja dagangan lagi." Sela ibu-ibu disebelah Kosim.
"Iya makasih banyak ya Mas, untung selamat. Uang didompet ini pas-pasan buat beli obat untuk istri saya." Ujar bapak berkaca mata.
"Makasih ya Mas.." Kata bapak yang duduk paling pojok belakang.
Tak berapa lama kemudian angkot berbelok kekiri masuk kedalam kantor polisi lalu berhenti didepan pintu masuk.
"Pak sopir ikut turun juga ya sama penumpang semuanya untuk membuat laporan korban sekaligus saksi perampokkan." Kata Kosim lalu bergegas turun dari angkot diikuti keenam penumpang.
Kosim, sopir angkot dan para penumpanya kemudian masuk ke kantor Polsek untuk membuat laporan.
Lumayan lama membuat laporan sebab semua yang ada di angkot harus didata identitasnya dan memberikan keterangannya satu persatu baik pelaku maupun korban yang sekaligus menjadi saksi.
Sekitar satu jam lebih pelaporan pun selesai, Kosim dan para penumpang diperbolehkan melanjutkan perjalanan kembali kecuali si pemuda berandalan ditinggal mendekam di balik jeruji besi Polsek untuk diproses.
......................
Kosim turun dari angkot nomor 19 tepat didepan kantor Balai Desa Paningkir lalu membayar ongkos sebesar 7 ribu rupiah dengan uang pas. Tak sekali ini Kosim mengunjungi temannya yang berprofesi sebagai Paranormal.
Kosim berjalan memasuki gang kecil disebelah kantor Balai Desa. Hanya 5 menitan Kosim sudah sampai pada rumah yang dituju, sebuah rumah sederhana bercat hijau.
"Tok... Tok... Tok.." Kosim mengetuk pintu.
Tak lama kemudian pintu dibuka dari dalam, lalu muncul seorang lelaki berkumis dan berjambang memakai ikat kepala hitam. Usianya tak terlalu tua sekitar 35-an.
"Eh, Kosim. Masuk, masuk Sim,"
Baru saja satu kakinya melangkah masuk, tiba-tiba telinganya mendengung lalu terdengar suara yang sama dengan di angkot tadi.
"Hati-hati, temanmu ini hendak memerasmu" Kata suara tanpa rupa itu terdengar jelas ditelinga Kosim.
__ADS_1
Langkah Kosim terhenti ditengah pintu mendengar peringatan itu. Ia reflek menoleh kebelakang tapi tak ada siapapun begitu pula menengok ke kanan kirinya juga tak melihat ada orang lain.
Ia pun melanjutkan langkahnya lalu duduk di atas tikar pandan. Dihadapannya, temannya bernama Kasno duduk dibelakang meja berlapis taplak kain berwarna hitam. Diatasnya ada sebuah dupa dan beraneka ragam bunga terhampar disekitarnya.
Sedangkan diitembok belakangnya terbentang kain hitam dengan gambar rajah tulisan arab tak beraksara.
"Tumben nggak ada pasien, No." Kata Kosim basa-basi.
"Tadi pagi baru ada satu Sim. Akhir-akhir ini lagi sepi, hehehe.." ujar Kasno.
"Ada apa nih tiba-tiba datang, apa yang bisa saya bantu?" Tanya Kasno.
Kosim tak langsung menjawab, ia teringat suara tanpa rupa yang memperingatinya. Terlintas didalam pikirannya untuk membuktikan kebenaran ucapan tersebut.
"Gini No, beberapa hari lalu saya hampir kecelakaan karena ada mahluk yang berkelebat nyeberang. Kira-kira mahluk apa ya No?" Tanya Kosim.
"Hmmmm, sebentar Sim saya terawang dulu," kata Kasno.
Kosim memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan temannya. Tampak Kasno memejamkan mata sambil komat-kamit lalu menaburkan kemenyan didalam dupa.
Bau khas kemenyan pun langsung terasa di hidung Kosim seiring kebulan asap tipis keluar dari dalam dupa.
Sesaat kemudian Kasno membuka matanya dan kembali duduk santai sambil menyalakan rokoknya.
"Gini Sim, menurut penerawangan saya mahluk yang hampir mencelakaimu itu penghuni pohon besar yang ada disitu." Kata Kasno.
"Hmmm.. lalu gimana No, apa mengikuti saya sampai rumah?" Kata Kosim menyelidik.
"Iya, Sim. Kalau mau hilang biar nanti saya bantu. Tapi maharnya lumayan karena harus menyediakan minyak khusus dan kemenyan khusus." Ujar Kasno.
Kosim tahu kalau yang dikatakan temannya itu bohong. Tapi ia merasa belum puas untuk membuktikan kebenaran peringatan dari suara tanpa rupa itu.
"Kira-kira berapa maharnya No?" Tanya Kosim.
"Ya buat teman sendiri sih murah aja Sim. Satu juta aja sama kamu sih," Jawab Kasno.
Jawaban Kasno kali ini membuat hatinya yakin dan percaya dengan peringatan dari suara tanpa rupa. Niat awalnya Kosim benar-benar mau meminta bantuan untuk melindunginya dari kejaran siluman monyet.
Kosim berpikir setelah Gus Harun pulang dirinya perlu mencari penggantinya tanpa sepengetahuan Abah Dul dan Mahmud. Namun hatinya menjadi gamang dan mengurungkan niatnya setelah mendapat peringatan dari suara tanpa rupa.
"Waduh, satu juta No?" Tanya Kosim pura-pura kaget.
"Murah Sim segitu sih dibandingkan resiko gangguan dari mahluk itu," kata Kasno dengan nada menakut-nakuti Kosim.
"Saya nggak bawa uang No, bawa uang juga pas-pasan buat ongkos," kata Kosim.
Raut muka Kasno pun mendadak berubah dengan ekspresi tak senang.
"Ya sudah, gampang lah nanti saya kesini lagi No. Ini saya kasih buat beli rokok aja ya No," sambung Kosim.
Dengan berat hati dan kecewa Kasno pun terpaksa menerima juga uang 20 ribu yang diulurkan Kosim.
Kosim pun lalu bangkit dari duduknya dan menyalami Kasno berpamitan pulang. Wajah Kasno datar tak sesumringah saat pertama kali menyambut Kosim. Bahkan Kosim pun dibiarkan keluar rumah tanpa diantarkannya hingga ke pintu.
Ada apa dengan Kosim? Siapa pemilik suara tanpa rupa itu?
Yuk Lanjut❗
__ADS_1
......................