
Sepasang mata menyorot merah menatap kearah rumah Mahmud dari atas pohon jambu air. Namun wajah yang dipenuhi bulu kelabu itu terlihat mengerut penuh dengan keheranan melihat banyak orang yang berkumpul di rumah itu. Sudah tujuh malam sosok mahluk berbulu kelabu itu mendapati pemandangan yang sama pada rumah Mahmud.
"Aneh, kenapa rumah itu setiap malam selalu banyak orang?" gumam sosok mahluk diatas pohon jambu air sambil garuk-garuk kepala.
"Lalu dimana manusia bernama Kosim, aku tidak melihatnya bahkan tidak mencium aroma keberdaannya. Hebat juga manusia itu baru kali ini ada pemuja bisa bersembunyi dan tidak dapat diketahui keberadaannya," gumamnya lagi.
Tak berapa lama kemudian mahluk berbulu kelabu itu melesat keudara lalu lenyap kearah selatan. Dahan dan dedaunan seketika bergoyang-goyang terlihat seperti dihempaskan oleh angin. Setelah mahluk itu lenyap dan orang-orang yang mengikuti acara tahlilan juga telah selesai lalu bersamaan meninggalkan rumah Mahmud. Tidak ada yang melihatnya kalau didepan rumah Mahmud berjarak 10 meter ada satu sosok berdiri melayang-layang menatap rumah itu dengan tatapan sayu. Wajahnya pias dan sorot matanya dingin dengan pakaian robek-robek berlumuran darah. Lalu sosok itu bergerak melayang keatas genteng rumah Mahmud kemudian turun menembus genteng masuk kedalam salah satu kamar.
"Ayaaaaah... ayah... ayahhhh...!" seru bocah berusia 3 tahunan yang mendadak terbangun dari tidurnya.
Arin dan Dewi yang sedang duduk diruang tengah terperanjat kaget mendengar teriakkan Dede. Kedua kakak beradik itu langsung bergegas beranjak menuju kamar Arin. Saat pintu kamar dibuka, dilihatnya Dede sedang menggapai-gapai kearah samping tempat tidurnya sambil terus memanggil-manggil dengan kata, "AYAH". Arin dan Dewi terkesiap melihatnya, kontan pandangannya mengikuti arah tangan Dede yang sedang mrnggapai-gapai. Akan tetapi tidak ada siapapun di kamar itu. Arin langsung merengkuh tubuh Dede, sedangkan Dewi masih penasaran terus memgedarkan pandangannya kesemua sudut kamar namun pandangannya tidak menemukan apapun.
"Sayang... sayang..." ucap Arin menenangkan Dede.
"Ayah.. bu... Ayah..." ucap Dede tangannya masih terus menggapai-gapai ketempat kosong.
Sosok bayangan yang melayang disamping tempat tidur itu hanya menatap dingin dibelakang Arin yang memunggunginya. Tangannya diulurkan menyambut tangan Dede yang terus menggapai-gapainya, namun saat tangannya hendak menggenggam tangan Dede hanya menggenggam udara. Tangannya menembus telapak tangan Dede.
"Ayaaaah... ayaaaaah...!" Dede terus berteriak-teriak kian histeris bersamaan memudarnya sosok berpakaian compang-camping yang berlumuran darah itu.
Tiba-tiba muncul Mahmud di pintu kamar dan melihat keponakannya sedang meracau memanggil-manggil ayahnya. Mahmud pun mengedarkan pandangannya memperhatikan setiap sudut kamar namun tidak menemukan sosok yang di panggil ayah oleh Dede. Mahmud terenyuh melihat Dede yang histeris memanggil-manggil ayahnya. Mahmud hanya berpikir kalau Dede mengalami mimpi bertemu ayahnya karena saking rindunya terhadap ayahnya.
......................
Pagi hari pukul 7.10 wib seperti biasa Arin terduduk ditengah-tengah pintu dapur. Kepalanya disandarkan pada kayu pintu disampingnya, matanya memandang jauh ke halaman depan dengan pandangan hampa. Hatinya masih belum menerima kepergian Kosim, dirinya berkeyakinan kalau suaminya itu masih hidup bahkan pikirannya merangkai cerita sendiri kalau Kosim selamat dari kecelakaan itu sedangkan jasad yang ditemukan dan dinyatakan oleh pihak kepolisian itu salah bukanlah jasad Kosim.
"Mas... kamu belum mati kan mas?" Gumamnya lirih.
Sementara itu Dewi baru keluar dari kamar mandi langsung menghentikan langkahnya melihat Arin duduk terdiam ditempat yang sama. Lalu Dewi melangkah mendekati adiknya seraya berkata, "Rin... nggak baik pagi-pagi sudah melamun. Ayo mandi dulu sana, biar fresh."
"Mbak, mas Kosim masih hidup kan mbak?" Tanya Arin tanpa menoleh tetap memandang lurus ke halaman.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu Dewi tidak kuasa membendung air matanya. Dia bingung tak tahu harus mengatakan apa untuk menjawab pertanyaan adiknya itu. Air matanya meleleh bercampur dengan tetesan air bekas mandi dari rambutnya. Lalu Dewi berjongkok dibelakang punggung Arin sambil memegang pundaknya.
"Rin, kamu harus menerima kenyataan ini, kamu harus ikhlas. Mbak yakin kamu tabah dan kuat," ucap Dewi lirih kemudian mengusap-usap rambut adiknya.
"Seandainya mas Kosim benar meninggal, aku juga rela ikut bersamanya mbak. Aku banyak salah pada mas Kosim, selama ini aku egois aku tidak melihat ketulusannya dan kegigihannya untuk memenuhi semua keinginanku mbak. Aku sering memarahinya hampir setiap hari tetapi mas Kosim tak pernah membalas sepatah kata pun, dia hanya menunduk. Kalau seandainya mas Kosim suami yang jahat mungkin dia akan melakukan kekerasan padaku mbak. Aku benar-benar tidak menyadari itu semua..." ucap Arin lirih bercampur dengan isakkan tangis penyesalannya.
Air mata Dewi semakin deras tumpah meleleh dikedua pipinya. Dewi terisak-isak mendengar ucapan Arin yang penuh penyesalan lalu mendekap Arin dari belakang dengan erat.
"Rin, dengan kamu menyesalinya saja mbak yakin Kosim sedang tersenyum mendengarnya. Mbak juga yakin dia suami yang baik sebab suami yang baik itu tidak pernah memperlihatkan kesedihannya dan kesusahannya di mata istrinya. Sebab dia tak ingin membebani persoalan dirinya kepada kamu. Dan satu lagi dia tidak ingin melihat istri dan anaknya kekurangan dan dia tidak pernah mengeluh sekalipun kamu sering mengasarinya tapi dia tidak pernah menceritakannya pada mbak apalagi pada teman-temannya," ucap Dewi pelan dengan deraian air matanya yang terus mengalir.
Arin tertegun mendengar ucapan kakanya. Tangisnya membucah seketika. Semua yang diucapkan kakaknya itu tidak ada yang salah dan memang seperti itulah kenyataannya. Rasa penyesalannya kian membesar, Arin sangat menyesali atas perlakuannya terhadap Kosim dahulu. Namun kini sudah terlambat Kosim sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya disaat dirinya belum cukup memperbaiki kesalahannya dan belum meminta maaf secara langsung diucapkan dihadapan Kosim. Meskipun dirinya yakin Kosim tidak mengharapkan itu semua.
......................
"Assalamualaikum..."
"Muuud... Mahmuuud..."
"Sepi Mud, pada kemana?" tanya Mang Ali kemudian menghempaskan pantatnya diatas kursi tamu.
"Arin dan Dewi sama Dede lagi pada ke pasar Mang," jawab Mahmud.
"Mang Ali mau minum apa? Kopi atau teh tubruk nih?" sambung Mahmud.
"Matur suwun Mud, nggak usah repot-repot saya kesini mau pamitan Mud..." ucap Mang Ali
"Pamitan? Ah jangan bercanda Mang Ali," sela Mahmud mengerutkan dahinya.
"Beneran Mud, saya serius mau pamitan. Saya dan keluarga mau pindah untuk sementara waktu di Semarang Mud. Adik istri saya memintanya untuk menempati rumah yang ditinggalkannya," ucap Mang Ali serius.
"Oooh, berapa lama mang Ali?" tanya Mahmud masih tak percaya karena Mang Ali seringkali betcanda.
__ADS_1
"Katanya selama adik istri saya selesai kontraknya di Taiwan," jawab Mang Ali.
"Loh suami atau anaknya?" tanya Mahmud heran.
"Suaminya sudah meninggal dan belum memiliki anak, dia sebatang kara disana dan hanya istri saya kakak satu-satunya Mud," terang Mang Ali.
Mahmud tertunduk diam, hatinya tiba-tiba merasakan kehilangan sosok sahabat sekaligus menganggapnya orang tua yang sangat besar solideritasnya. Meskipun Mang Ali memiliki ilmu kebatinan yang tinggi namun dia tidak menonjolkannya sama sekali, dia sangat rendah hati. Apalagi dalam sebulan terakhir ini sudah banyak dilaluinya bersama saat membantu Kosim melawan perjanjian gaib. Berbagai peristiwa penting menyangkut nyawanya akan selalu diingatnya tertanam didalam hatinya.
"Saya pamit sekarang Mud, sudah ditunggu akan berangkat," ucap Mang Ali kemudian bangkit dari duduknya memeluk Mahmud.
"Hati-hati disana Mang Ali, jangan sungkan kabari saya kalau Mang Ali membutuhkan bantuan," ucap Mahmud berbisik dipundak Mang Ali.
"Past Mud," sahut Mang Ali kemudian melepaskan pelukkannya.
Wajah Mang Ali nampak sedih merasa berat melangkah meninggalkan rumah Mahmud. Banyak kenangan yang terjadi di rumah ini, canda tawa, kesakitan, ketegangan semuanya akan dikenangnya.
"Sebentar mang Ali," sergah Mahmud kemudian berbalik masuk kedalam kamarnya.
Mang Ali menghentikan langkahnya yang baru selangkah meninggalkan rumah Mahmud. Tak lama kemudian Mahmud sudah kembali lagi sambil membawa sebuah amplop berwarna cokelat.
"Saya hanya bisa memberikan ini, ya sekedar buat jajan anak-anak Mang Ali," Mahmud menyodorkan amplop cokelat terlihat cukup tebal.
"Mud..." ucapan Mang Ali tertahan menerima amplop cokelat itu kemudian melihat isinya.
"Sudah diterima ya Mang Ali," sergah Mahmud.
"Mud ini banyak sekali, saya...."
"Hati-hati di jalan Mang Ali, kabari kalau sudah sampai ya," potong Mahmud.
Mang Ali tak bisa berkata-kata lagi, ia mengucapkan terima kasih lalu melangkah meninggalkan rumah Mahmud.
__ADS_1
......................