
Hari ke-10 melawan perjanjian gaib. Kesadaran Kosim yang telah kembali pulih setelah dua hari koma di rumah sakit membuat sikap Arin berubah total pada Kosim.
Sebelum-sebelumnya Arin banyak menuntut pada Kosim agar mencari penghasilan yang lebih banyak lagi untuk memenuhi hasrat gengsinya. Hingga tak jarang kalimat-kalimat kasar pun terlontar dari mulutnya. Semua itu karena ia merasa iri hati dan malu dengan tetangga-tetangga di lingkungan rumahnya.
Setiap kali ke warung, telinganya seringkali panas mendengar gunjingan ibu-ibu yang begitu kejamnya mencampuri kehidupan rumah tangganya. Mereka dengan riangnya membicarakan bahkan menghina dirinya.
"Cantik-cantik kok mau ya nikah sama tukang cilok..."
"Eh, bu saya baru beli gelang baru nih. Bagus nggak, bagus nggak?"
"Saya mah baru kemarin dibelikan cincin nih sama misuwa,"
Celotehan-celotehan ibu-ibu di warung itu tak pelak membuat panas kedua kuping Arin. Keseringan mendapat sindiran-sindiran menyakitkan seperti itu lama-kelamaan mengendap didalam batinnya hingga membuat dirinya mudah marah.
Sasaran kemarahannya tentu saja pada Kosim, hal sepele pun bisa menimbulkan kemarahan yang luar biasa besar. Dan ujung-ujungnya selalu melontarkan kata-kata kasar pada suaminya itu.
"Sana cari saja uang yang banyak agar bisa membeli perhiasan, nggak ngutang terus di warung dan biar orang-orang hormat sama keluarga kita!"
Tanpa sadar Arin menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat rentetan kekasarannya itu. Ia sangat menyesali telah tega berbuat sedemikan kasarnya menyakiti hati suaminya.
Padahal selama ini dirinya dan Dede tak pernah kekurangan uang. Segala kebutuhan sehari-harinya selalu terpenuhi meskipun tidak seperti ibu-ibu lainnya yang lebih mewah dan mapan darinya.
Setelah melewati masa-masa puncak kecemasan manakala Kosim mati suri, kini sikap Arin berubah 180 drajat. Semenjak itu hatinya diliputi ketakutan yang teramat sangat membayangkan jika Kosim benar-benar meninggal dunia. Ia merasa sangat berdosa sekali karena sudah menjadi istri durhaka.
Selain itu ia merasa belum siap segalanya jikalau ditinggal Kosim dan menyandang status sebagai janda apalagi jika mengingat Dede, anaknya yang masih berusia 3 tahunan yang masih membutuhkan kasih sayang ayahnya.
Kini Arin merasa seperti terlahir kembali. Jauh direlung batinnya ia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih mensyukuri dan menikmati rezeki yang ada dan tidak lagi menghiraukan gunjingan orang. Kini beban dihatinya pun seolah lepas tak lagi dibelenggu rasa iri yang selama ini menguasai hatinya.
Mata hati Arin seakan-akan baru terbuka, ia tahu betul kalau Kosim sendiri sebenarnya bukanlah tipe suami yang pemalas. Justru sebaliknya Kosim adalah orang yang sangat bertanggung jawab, giat dan rajin, apapun iya kerjakan untuk memberikan nafkah pada dirinya dan Dede. Tak pernah Kosim menolak ajakan atau suruhan orang untuk mengerjakan sesuatu selagi halal.
Mungkin ada benarnya kalau kesabaran manusia ada batasnya. Saking seringnya Kosim mendapat omelan-omelan bahkan cacian dari Arin lama-kelamaan akan membatu didalam batinnya.
Pertahanan kesabaran Kosim pun pada akhirnya jebol juga setelah bertubi-tubi dan hampir setiap hari selalu menelan mentah-mentah perkataan-perkataan kasar Arin yang membuat hatinya terkoyak. Dan didalam ambang batas kekalutannya timbul dalam pikiran Kosim berinisiatif mencari kekayaan dengan jalan pintas. Semua itu ia lakukan hanya untuk membuat istrinya bahagia.(*baca episode 1)
"Rin, kok pagi-pagi udah melamun..." Tiba-tiba Dewi muncul menghampiri Arin.
Arin yang tanpa sadar sedari tadi diam mematung sambil memegang pisau, kontan gelagapan karena tiba-tiba kakaknya muncul.
__ADS_1
"Ah, Mbak ngagetin aja..." Gerutu Arin.
Rupanya dari tadi Dewi memperhatikan Arin yang berdiri terdiam cukup lama di dapur sembari tangan kanannya memegang pisau dan di tangan kirinya menggenggam tomat.
"Pagi-pagi melamun itu nggak baik, apa yang sedang kamu pikirin.." Ucap Dewi penuh kasih sayang.
"Iya Mbak, saya ini istri yang tak tahu diuntung. Istri yang nggak pernah bersyukur," ujar Arin dengan raut penyesalan.
"Maksudmu?" Tanya Dewi.
"Selama ini saya terlalu banyak menuntut pada Mas Kosim. Bahkan sering sekali saya melontarkan kata-kata kasar tanpa sebab yang jelas, padahal Mas Kosim nggak berbuat salah." Terang Arin.
"Sekarang saya benar-benar menyadarinya Mbak. Selama ini hati saya tak bisa melihat kebaikan-kebaikan dan ketulusan Mas Kosim. Ia nggak pernah marah bahkan saat diomeli pun Mas Kosim hanya diam tak pernah balas menjawab," sambungnya.
Dewi pun memeluk Arin dengan penuh kasih sayang. Matanya berkaca-kaca mendengar kejujuran adiknya.
"Arin, ingat nggak pesan bapak dan ibu waktu kita masih kecil-kecil. Kedua orang tua kita mengajarkan untuk berbuat baik, salah satunya dengan menjaga ucapan baik jangan sekali-kali berkata yang melukai hati orang." Ucap Dewi dengan lembut.
"Iya Mbak, saya telah menyadari semuanya. Belum terlambatkan, Mbak?
Dua kakak-beradik itu makin merekatkan pelukannya. Keduanya terhanyut dalam keharuan hingga tak kuasa lagi membendung air matanya yang sejak tadi ditahan-tahan.
"Sudah, sudah... Yuk lanjutin masaknya Rin, sini Mbak bantuin potong sayurannya." Ucap Dewi.
Dewi dan Arin pun meneruskan aktifitasnya memasak sayur sop kesukaan Abah Dul dengan wajah ceria.
Dewi melihat perubahan pada raut wajah Arin. Ia terlihat ceria tidak seperti hari-hari yang lalu, raut muka Arin selalu terlihat kusut, suram penuh dengan urat kekesalan.
Tapi pagi ini wajah Arin begitu ceria hingga aura kecantikannya pun terpancar.
"Kamu cantik loh Rin kalau sedang ceria gini," ujar Dewi.
"Ah, Mbak. Apaan sih, kan dari dulu Arin emang cantik kaya Mbak, hehehe..." Sahut Arin.
Sementara itu Mahmud, Kosim, Abah Dul dan Gus Harun berada di ruang tamu ngobrol santai sambil menikmati kopi dan gorengan pisang.
"Mang Ali kemana, biasanya pagi-pagi udah duduk di teras depan," kata Gus Harun.
__ADS_1
"Semalem sih bilangnya agak sorean kesininya, Gus," ujar Mahmud.
"Iya katanya mau ke sawah waktunya nebar pupuk," sela Abah Dul.
"Tahu nggak Mud, Mang Ali punya keris pusaka loh. Kemarin dia bawa dan bertarung melawan siluman monyet, wuiiihhhh... energi keris itu luar biasa besar, ya Gus," sambung Abah Dul sambil menoleh ke Gus Harun.
"Saya aja sempat kaget Gus, energinya terasa banget besarnya," ujar Abah Dul.
"Melihat dari wujudnya, kalau nggak salah keris itu namanya Keris Sekober. Cirinya berwarna hitam legam dan memiliki luk tujuh," terang Gus Harun.
"Kok Gus Harun bisa tau?" Tanya Abah Dul.
"Keris itu usianya sangat tua dan langka. Udah lama dicari-cari kalangan para supranatural, Dul. Ternyata ada pewarisnya, orang sendiri lagi." Jawab Gus Harun.
"Eh iya, Kang Kosim. Ngalami peristiwa apa pada waktu dirawat di rumah sakit, bagi-bagi cerita lah, hehehe.." Sambung Gus Harun.
"Ah, nggak ada Gus," kata Kosim berbohong.
"Ya sudah nggak apa-apa kalau sampean nggak mau cerita," balas Gus Harun yang tahu kalau Kosim berbohong.
"Anu Gus, saya malu nyeritainnya tapi intinya sih peristiwa yang saya alami selama mati suri itu sebagai teguran keras. Beruntung sekali saya diperlihatkan gambaran-gambaran itu, Gus.." Kata Kosim hati-hati.
"Ceritain aja sih Sim, saya penasaran pengen tau ceritanya juga.." Ujar Mahmud.
"Malu Kang Mahmud. Saya aja kalau ingat peristiwa itu suka nangis sendiri. Ya intinya peringatan keras atas perbuatan yang sudah saya lakukan," keluh Kosim menundukkan wajahnya.
"Sudah, sudah... Yang paling penting Kang Kosim sudah menyadari dan bertaubat, nanti saya ijazahkan wiridan buat Kang Kosim untuk membentengi diri dan keluarga, ya" sela Gus Harun.
"Terima kasih sangat Gus, insya Allah saya jalani." Kata Kosim.
"Harus Kang Kosim. Selain untuk pertahanan diri juga agar selalu taqwa tidak ninggalin sholat." Ucap Gus Harun.
"Injih Gus..." Ucap Kosim.
......................
__ADS_1