
Malam semakin larut kini sudah mendekati pukul 24.00 wib, kini di rumah Mahmud tinggal ada Abah Dul dan Mahmud, sedangkan ustad Arifin sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Keduanya masih duduk ngobrol di teras depan.
"Beneran Bah, Kosim ada disini?" Tanya Mahmud penasaran.
"Iya, Mud. Selain Kosim ada mahluk Jin bernama Tuan Denta disini," ungkap Abah Dul.
"Hah? Mahluk Jin?! Kok bisa?!" timpal Mahmud terkejut kemudian spontan menutup mulutnya.
Mahmud sadar kalau pertanyaannya itu pasti di dengar oleh Kosim dan Tuan Denta. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran kalau -kalau telah menyinggung mahluk jin tersebut.
"Panjang ceritanya Mud, nanti deh saya ceritain selengkapnya ya tapi jangan sekarang. Saya masih ada janji dengan tuan Denta," kata Abah Dul.
"Sayang sekali saya nggak bisa melihat Kosim dan tuan Denta kaya ente Bah," sungut Mahmud.
Mahmud menundukkan kepalanya sambil menatap jari yang sedang memainkan rokok disela -sela jari tengah dan telunjuknya. Sementara Abah Dul tiba-tiba terdiam, tapi bukan karena ucapan Mahmud melainkan karena ada suara yang terdengar di telinga kanannya.
"Tuan Dul, apakah sahabat anda itu ingin bisa melihatku dan tuan Kosim?" tanya tuan Denta.
Wajah Abah Dul terkesiap setelah mendengar suara bisikan di telinganya. Kemudian Abah Dul langsung menyampaikan tawaran dari tuan Denta itu pada Mahmud yang langsung di iyakan oleh Mahmud.
"Wah, mau banget bah!" seru Mahmud antusias.
Abah Dul kembali diam mendengarkan bisikkan tuan Denta di telinganya lalu menganggukkan kepala memahami apa yang diucapkan tuan Denta.
"Mud sekarang ente pejamin mata," ucap Abah Dul meneruskan ucapan tuan Denta.
"Cuma memejamkan mata saja bah?!" tanya Mahmud meyakinkan.
"Iya," sahut Abah Dul.
Mahmud pun mulai memejamkan matanya dengan perasaan berdebar-debar di dalam dadanya sambil menanti -nanti dan mencoba merasakan apa yang akan di lakukan terhadapnya.
Tuan Denta kemudian bergerak duduk di depan Mahmud. Ia mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka menghadap ke wajah Mahmud. Sesaat kemudian nampak selarik sinar putih keluar dari telapak tangan tuan Denta mengarah tepat pada bagian tengah antara kedua alis Mahmud.
Bersamaan masuknya sinar putih itu ke dahi Mahmud, seketika terlihat tubuh Mahmud bergetar sesaat lalu kembali tak diam seperti semula. Mahmud merasakan seperti ada hawa hangat yang tiba-tiba merasuki kepalanya lalu menjalar ke sekujur tubuhnya. Mahmud masih memejamkan matanya menunggu perintah Abah Dul, meski pun tuan Denta selesai menyalurkan kekuatannya yang di bagikan kepada Mahmud dan sudah kembali pada posisinya di belakang Abah Dul bersama Kosim.
"Sudah Mud, sekarang buka matanya," kata Abah Dul sambil menepuk punggung tangan Mahmud.
__ADS_1
Perlahan-lahan Mahmud membuka matanya dengan perasaan berdebar-debar, di dalam bayangannya begitu matanya terbuka dirinya akan melihat Kosim dan mahluk jin tersebut. Mahmud mengerjapkan matanya beberapa kali, ia celingukkan melihat sekitarnya mencari-cari Kosim dan tuan Denta namun ia tidak dapat menemukannya.
"Bah, Kosim sama tuan Denta mana? Kok nggak kelihatan?" tanya Mahmud sedikit kecewa.
"Hehehehe... sabar Mud, mesti ada passwordnya," jawab Abah Dul diiringi tertawa kecil.
"Password? kaya hape aja," sungut Mahmud mengerutkan keningnya.
"Kata tuan Denta, jika hendak menggunakan mata batin ente tinggal mengucapkan, 'mata batin' barulah ente akan melihat mahluk-mahluk gaib termasuk Kosim dan tuan Denta," terang Abah Dul.
“Cuma itu?!” Tanya Mahmud penasaran.
“Kata tuan Denta sih cuma begitu, sekarang ente coba aja,” kata Abah Dul.
Penuh dengan penasaran dan dada berdebar-debar, Mahmud segera mencoba mempraktekkannya seraya berucap; “Mata Batin!”
Mahmud tersentak kaget, ia beringsut mundur dari duduknya. Ia melihat dengan jelas ada dua sosok yaitu Kosim dan yang satunya tidak ia kenali sedang duduk di belakang Abah Dul.
“I.. ittt... itttu, Kkkkosss... Kosim!” Pekik Mahmud gemetar dengan mata melotot menatap kearah dua sosok gaib itu.
Mahmud masih nampak shok belum dapat menguasai keadaan dirinya, tubuhnya gemetaran karena baru pertama kalinya melihat mahluk gaib itu. Abah Dul segera menenangkan Mahmud agar tidak terlalu larut dalam perasaan shoknya.
Mahmud melihat tuan Denta tersenyum kepadanya lalu menganggukkan kepala menatap Mahmud. Mahmud masih terlihat shok bercampur rasa tidak percaya kalau dirinya bisa melihat Kosim dan mahluk Jin.
“Sudah, sudah Mud, istigfar, istigfar...” kata Abah Dul menepuk-nepuk punggung tangan Mahmud.
“Astagfirullahal’azim!” ucap Mahmud spontan.
Seketika Kosim dan tuan Denta hilang dari pandangan Mahmud. Akan tetapi menghilangnya dua mahluk gaib itu justru membuat Mahmud kembali dibuat shok.
“Bah, Kosim dan tuan Denta hilang!” pekik Mahmud.
“Tenang... tenang Mud, ente harus membiasakan diri jangan panik seperti tadi,” Abah Dul mencoba menenangkan Mahmud.
Mahmud menangkupkan telapak tangan menutup mukanya. Dirinya benar-benar tercengang dan tidak menyangka dapat melihat Kosim dan tuan Denta yang ia sadari sepenuhnya kalau Kosim sudah meninggal sedangkan tuan Denta adalah mahluk dari golongan jin.
“Sudah, sudah Mud tenangin diri ente. Saya ada tugas nganterin tuan Denta, kita pindah aja ke dalam Mud duduknya.” Kata Abah Dul.
__ADS_1
......................
Di waktu yang sama di kediaman Gus Harun di Banten, saat itu Gus Harun sedang kusyuk berzikir di saung khusus tempat biasanya berkholwat yang berada di halaman samping rumahnya. Cahaya temaran terpancar dari lampu rumah membias menyinari saung yang hanya tertutup sebatas pinggang orang dewsa pada bagian bawahnya.
Di tengah suasana yang sepi senyap itu tiba-tiba Gus Harun merasakan kehadiran tiga sosok datang di hadapannya.
"Assalamualaikum..." ucap salah satu dari tiga mahluk itu.
"Wa'alaikum salam, Dul? Kang Kosim? sama...." jawaban Gus Harun terhenti, ia tidak mengenali salah satu mahluk itu.
"Perkenalkan Gus, ini saudara kita naman tuan Denta. Ia berasal dari alam Jin," sergah sukma Abah Dul buru- buru menjawab keheranan Gus Harun.
Setelah di jelaskan sukma Abah Dul, Gus Harun langsung menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya memberikan hormat pada tuan Denta. Tuan Denta tersenyum dan mengangguk kecil.
"Subhanallah, selamat datang di kediamanku tuan Denta," ucap Gus Harun.
"Terima kasih atas diperkenankannya tuan," balas tuan Denta.
"Dul apakah ente baik- baik saja? Berarti ente sudah kembali dari alam Jin?" berondong Gus Harun dengan wajah cemas.
"Alhamdulillah Gus, ane baik- baik saja. Iya, ane sempat masuk ke alam jin di bawa Kosim," ujar sukma Abah Dul.
"Lalu tuan Denta?" tanya Gus Harun heran.
Sukma Abah Dul pun menceritakan semua yang dialaminya selama berada di alam jin. Dari awal mula pertemuannya dengan tuan Denta hingga menceritakan petualangannya di buru prajurit kerajaan juga saat mengambil benda mustika di dalam hutan terlarang.
"Dan tuan Denta meminta bantuan ane, katanya ingin melihat tempat di makamkannya Syehk Maulana. Tuan Denta ini salah satu muridnya Gus," terang sukma Abah Dul memgakhiri ceritanya.
"Subhanallah!" ucap Gus Harun takjub dengan semua kisah yang diceritakan Abah Dul dan kisah tentang tuan Denta.
"Tuan Gus Harun, ijinkan aku mengunjungi tempat di makamkannya Syehk Maulana, aku mohon..." kata tuan Denta membungkukkan badannya memohon.
"Isya Alah, insya Allah tuan. Dengan senang hati saya akan mengantarkan tuan." ucap Gus Harun.
Wajah tuan Denta terlihat sumringah, ia segera hendak bersujud di depan Gus Harun tetapi buru-buru di cegah oleh Gus Harun. Gus Harun menahan kedua pundak tuan Denta, seraya berkata; "Tuan, tuan, jangan melakukan itu. Sudah, sudah tuan... Ayo kita betangkat sekarang."
......................
__ADS_1
......................