
Selepas sholat Duhur, Mahmud dan Abah Dul meluncur menuju lokasi kecelakaan yang menewaskan Kosim. Lokasi tersebut berada di jalan tol masuk wilayah Tegal. Dengan menaiki mobil Avanza yang dipinjamnya dari pak Kuwu, Mahmud dan Abah Dul berangkat untuk mencari batu mustika Telur Naga Kencana seperti permintaan arwah Kosim yang mendatanginya.
Saat ini mobil yang dikendarai Mahmud sudah berada di jalan tol Cipali.
“Bah, apakah bangsa siluman monyet itu tau kalau Kosim sudah meninggal, ya?” Tanya Amhmud sambil terus fokus melihat jalan didepannya.
“Kalau melihat situasinya misalnya munculnya arwah Kosim beberapa kali ke rumah ente, menurut saya arwah Kosim masih bebas yang artinya bisa jadi tidak diketahui oleh bangsa siluman kalau Kosim sudah meninggal,” ujar Abah Dul.
“Tapi kenapa sudah sebulan lebih setelah terakhir raja siluman monyet itu muncul tidak lagi ada teror-teror lagi ya?” Tanya Mahmud sambil mengoper perseneling.
“Saya nggak tau persis Mud, ya bisa jadi sudah melepaskan Kosim atau bisa mungkin mereka akan kembali datang,” ujar Abah Dul.
Arus lalu lintas jalan tol di hari Kamis ini tidak terlalu ramai. Mahmud melajukan kendaraannya tidak terlalu kencang, kecepatannya berkisar 80 hingga 90 km/jam saja. Jarak yang tidak terlalu jauh hanya dua jam waktu tempuh diperkirakan sampai di lokasi dimana Kosim kecelakaan.
“Jangan terlalu kencang jalannya Mud, nanti kalau terlewat tempatnya bakal susah lagi mesti putar balik dari awal lagi,” ujar Abah Dul.
“Iya juga ya Bah,” sahut Mahmud kemudian mengurangi kecepatannya dan mengambil jalur lambat.
“Mana lokasinya juga kurang begitu tau Bah,” ucap Mahmud lagi.
“Waduh iya ya Mud, tidak ada petunjuk yang menjadi patokkannya lagi,” timpal Abah Dul.
Mobil sudah melewati wilayah Cirebon dan kini sudah memasuki wilayah Tegal. Tiba-tiba Mahmud dan Abah Dul dikejutkan oleh suara yang terdengar dari jok belakang.
“Sebentar lagi Mas...”
“Astagfirullah!!!” pekik Mahmud dan Abah Dul bersamaan.
Suara deritan rem terdengar bersamaan dengan mobil yang dikemudikan Mahmud oleng saking kagetnya, namun secepatnya dapat dikendalikan lagi oleh Mahmud. Abah Dul dan Mahmud kaget bukan main sebab didalam mobil hanya ada mereka berdua lalu tiba-tiba ada suara lain ikut berbi ara.
“Kosim?!” seru Abah Dul spontan menengok kearah jok belakang.
Di jok tengah sosok Kosim terlihat jelas namun wujudnya tidak seutuhnya nampak selayaknya wujud kasar seperti Mahmud dan Abah Dul. Wujud Kosim terlihat seperti sebuah gambar proyektor yang transparan tembus pandang. Akan tetapi kini wujudnya dapat dikihat oleh Mahmud dan Abah Dul dengan mata biasa bukan lagi dalam wujud tak kasat mata.
“Maaf mengagetkan kalian...” ucap Kosim dengan nada datar.
Beberapa saat lamanya Abah Dul dan Mahmud nampak shock berat. Keduanya berusaha untuk kembali tenang dan bisa menguasai keadaan kembali, namun rasa shocknya masih belum hilang total.
“Sim, bagaimana kabar ente?” tanya Abah Dul spontan.
__ADS_1
“Saya punya waktu 41 hari untuk menyelesaikan persoalan yang masih mengganjal Bah,” jawab Kosim tanpa ekspresi sama-sekali.
“Bukankah kamu sudah aman berada di alam mu Sim?” sela Mahmud yang turut menoleh penasaran ingin melihat sosok Kosim.
“Iya Mas, tapi bangsa siluman monyet itu akan mengambil nyawa anak saya Mas...” ucap Kosim dingin.
“Hah?!” pekik Mahmud.
“Darimana ente tau Sim?!” tanya Abah Dul.
“Saya bisa melihat beberapa kali mahluk siluman monyet datang ke rumah Mas Mahmud, mereka merencanakan penjemputan anak saya,” ucap Kosim.
“Ente tau nggak kapan waktunya itu Sim?” tanya Abah Dul lagi.
“Saya mendengar dari perkataan mahluk-mahluk siluman monyet itu mereka akan bergerak pada malam Jumat Kliwon tepat malam purnama,” ucap Kosim.
“Ini hari apa Mud?” tanya Abah Dul menoleh pada Mahmud.
"Mm.. hari Kamis Bah," jawab Mahmud.
"Oh, astagfirullah Bah malam ini malam numat kliwon." sambung Mahmud terkejut setelah mengingatnya.
"Waduh, saya kurang begitu hafal tanggalan jawa Bah," sabut Mahmud.
"Kalian harus cepat-cepat, sepertinya di rumah keadaannya sedang tidak baik," ucap Kosim menyela pembicaraan.
"Ini lokasinya dimana Sim?" tanya Mahmud.
"Sebentar lagi Mas, habis kilo meter sepuluh," ucap Kosim.
"Apakah batu itu tidak diambil orang Sim?" tanya Abah Dul.
"Batu itu tidak ditemukan oleh siapapun. Pada saat mobil tabrakkan itu saya terlempar keluar mobil dan batu itu terpental dari dalam tas yang saya pegang. Saya sempat melihat batu itu terlempar di semak-semak sekitar dua puluh meter dàri jasad saya tergeletak saat itu," ucap Kosim.
"Stop! Stop mas! seru Kosim.
"Disini Sim?" tanya Mahmud sambil menyalakan sen kiri dan memelankan laju mobil.
"Itu tempat saya kecelakaan," Kosim menunjuk kedepan.
__ADS_1
Mahmud menepikan mobilnya di garis jalan darurat. Didepan dari tempat mobilnya berhenti sekitar 5 meteran nampak masih ada garis polisi yang sudah sedikit rusak dan sudah tidak pada posisinya. Di aspal jalan tol juga masih ada bekas olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang ditandai dengan cat putih yang sedikit memudar.
Mahmud dan Abah Dul turun dari mobil. Kosim yang berwujud siluet melayang didepan keduanya.
"Ikuti saya..." ucap Kosim.
Mahmud dan Abh Dul bergerak melangkah mengikuti Kosim yang melayang didepannga. Kosim langsung melayang menuju semak-semak 20 meter dari lokasi utama. Lalu Kosim melayang-layang diatas sekumpulan semak-semak yang rimbun.
"Cepat ambil, disini...." ucap Kosim sambil menunjuk-nunjuk.
Mahmud dan Abah Dul mempercepat langkahnya menuju semak-semak yang diatasnya ada Kosim melayang-layang. Mahmud langsung menyibak-nyibak semak belukar tersebut dan matanya melihat cahaya kuning keemasan bersinar dibawah semak belukar. Mahmud pun langsung memungut batu mustika itu lalu sejenak diusap-usapnya dengan ujung baju kemudian digenggamnya. Keduanya langsung bergegas kembali ke mobil.
Kosim kini menjadi Arwah gentayangan. Biasanya dalam teori konspirasi ditengah-tengah masyarakat, arwah yang gentayangan akan dikaitkan sebagai roh penasaran dari orang yang telah meninggal dunia dalam kondisi tertentu. Masyarakat umum sering menyebut penyebab timbulnya arwah gentayangan karena pada saat meninggalnya itu dalam keadaan tak wajar, seperti akibat dibunuh, kecelakaan atau kemungkinan orang tersebut masih memiliki urusan dunia yang belum diselesaikannya.
Biasanya, arwah gentayangan masih banyak dipercaya oleh masyarakat adalah orang meninggal tak wjar akibat tabrakan atau kecelakaan, pembunuhan, atau meninggal dunia secara tidak wajar.
Namun menurut Islam, orang yang memercayai arwah gentayangan atau roh penasaran disebut hammah.
dalam kitab al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, hammah adalah kepercayaan orang terdahulu yang menganggap roh orang yang meninggal akan berubah menjadi binatang kecil. Bahkan, dia akan meminta minum, dan jika dia telah menunaikan balas dendamnya kepada si pembunuh maka dia akan terbang.
......................
Desa Sukadami,
Semburat merah kekuning-kuningan diufuk barat menggurat kontras dengan langit diatas desa Sukadami yang dilingkupi gumpalan-gumpalan awan hitam yang bergerak perlahan. Namun semburat cahaya senja itu tak berlangsung lama terlihat karena tertutup oleh gulungan-gulungan awan hitam.
“Mbak, mendungnya tebal banget. Mas Mahmud kapan pulangnya ya mbak?” Tanya Arin yang sedang menutupi jendela di ruang tamu.
“Mbak kurang tau Rin, tapi katanya sih sebentar,” jawab Dewi.
“Perasaan saya kok nggak enak ya Mbak, kayak nggak nyaman berdebar-debar terus,” ucap Arin.
"Ya mungkin hanya perasaanmu saja Rin, karena memang diluar cuacanya mendung dan gelap.
Tak lama kemudian terdengar kumandang azan Magrib terdengar bersahutan di kejauhan dari pengeras suara mushola-mushola dan masjid. Suara azan berbaur dengan bunyi geludug diatas langit seolah-olah menolak suara azan.
Di rumah Mahmud hanya ada Arin, Dewi dan Dede bocah berusia 3 tahunan. Kedua kakak beradik itu kemudian berwudlu untuk melaksanakan sholat Magrib.
......................
__ADS_1
......................