
Setelah pembicaraan berakhir Abah Dul pun menutup telpon selulernya dan menaruhnya diatas meja tidak lagi
dimasukkan ke dalam saku bajunya. Dan seketika itu juga suara gelak tawa membuncah memenuhi ruang tamu yang sebelumnya sudah di tahan- tahan Gus Harun, Mahmud, Basyari dan Baharudin. Secara bersamaan mereka melempari Abah Dul dengan bantal kursi karena geregetan melihat kejahilannya yang sudah kebangetan.
“Kejahilan ente nggak hilang- hilang ya Dul” seloroh Baharudin disela- sela tawanya.
“Kuwalat ente Dul!” timpal Basyari.
“Hahahaha… Hahahaha… hahahaha..” suara gelak tawa kembali membuncah susul menyusul.
Abah Dul langsung melindungi kepalanya dari lemparan bantal- bantal oleh ketiga sahabatnya sambil
cengengesan.
“Eh, ada apa nih kok pada ngakak…” tiba- tiba Dewi nongol sambil membawa 4 gelas kopi diatas nampan dan sepiring pisang goreng.
“Ya biasa Wi, Abah Dul,” ujar Mahmud.
“Kenapa Mas dengan Abah?” tanya Dewi penasaran.
“Jahilnya kumat lagi,” jawab Mahmud.
“Siapa yang dijahilin Mas?” tanya Dewi sambil menaruh nampan diatas meja tamu.
“Pak polisi Wi, tadi di telpon,” jawab Mahmud.
“Dasar si Abah jomblo!” sungut Dewi.
“Silahkan di makan kang,” sambungnya menunjuk hidangannya.
“Matur suwun mbak,” ucap Gus Harun disela ketawanya.
“Saya permisi istirahat ya mas, kang.” Ucap Dewi kemudian berlalu dari ruang tamu.
“Njih mbak,” sahut Gus Harun mewakili yang lainnya.
Tak terasa malam semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan angka 12 malam. Mahmud mengajak Abah Dul serta yang lainnya untuk pindah tempat ke ruang tengah untuk istirahat.
Di ruang tengah sudah disediakan gelaran tikar oleh Dewi lengkap dengan 4 bantalnya.
“Astagfirullah! Sampai lupa kita belum sholat isya!” ujar Gus Harun mengingatkan.
__ADS_1
Mendengar seruan Gus Harun membuat Mahmud, Abah Dul, Basyari dan Baharudin mengurungkan niatnya untuk merebahkan tubuh.
“Mari sholat dulu baru kita tidur,” sambung Gus Harun.
Sementara itu di dalam kamar, nampak Dede sudah tertidur pulas, sedangkan Arin dan Kosim berbaring disamping kanan dan kiri. Keduanya masih mendengar suara- suara Abah Dul dan yang lainnya yang berada di ruang tengah, namun 15 menit kemudian tak terdengar ada percakapan lagi, mungkin mereka sudah pulas tertidur.
“Kang Kosim…” ucap Arin lirih memecah keheningan.
“Ya…” sahut Kosim bergegas bangkit dari berbaringnya lalu beranjak turun dari atas kasur dan berjalan ke tempat
Arin berbaring.
Seketika dada Arin berdebar- debar saat Kosim mulai duduk di bibir tempat tidur dan punggungnya menempel pada
punggung Arin. Arin mulai merasakan ada getar- getar halus menyelubungi sekujur tubuhnya, ia pun membalikkan badannya menghadap Kosim duduk memandangnya.
Jantung Arin kian berdegub kencang ketika tanpa sengaja matanya beradu pandang dengan Kosim. Seketika itu juga tubuhnya berasa panas dingin, getar- getar kerinduan membuat Arin merasakan sensasi yang bermain- main dipikirannya.
“Kenapa Rin?” ucap Kosim menatap Arin yang terlihat gelisah.
“A, anu, itu ma.. maafin Arin ya kang…” sahut Arin tergagap.
“Maaf kenapa Rin?” tanya Kosim datar.
kang Kosim perlihatkan,” ucap Arin lirih penuh penyesalan.
Kosim mengangkat tangannya lalu mengusap- usap kening Arin penuh dengan rasa sayang. Kosim tersenyum pada Arin seraya berkata; “Arin nggak salah, dan tidak perlu Arin meminta maaf. Kakang sudah ikhlas menerima segalanya dan selalu memaafkan Arin tatkala Arin merasa kesal sama kakang.”
Perlahan- lahan Arin bangkit dari berbaringnya, lalu duduk disamping Kosim. Kedua mata Arin sudah mulai berkaca- kaca, dirinya semakin merasa bersalah dan sangat berdosa mendengar jawaban dari Kosim. Ingatannya tentang perlakuannya pada Kosim dahulu seketika muncul seperti menggelayut di dalam kepalanya.
“Maafkan Arin kang…” ucap Arin, suaranya bergetar lalu tangannya meraih pinggang Kosim dan menyandarkan
kepalanya di bahu Kosim.
“Iya Arin, sudah kakang maafin sejak dulu. Sekarang jangan lagi menjadi beban dibenak Arin yah,” balas Kosim
mengelus- elus pipi Arin.
Ucapan Kosim semakin membuat Arin tak dapat membendung tangisnya. Tubuhnya berguncang- guncang menangis tersedu- sedu di bahu Kosim sambil memeluk erat pinggangnya. Dirinya merasa kalau perlakuan
kasarnya dahulu tidak akan pernah bisa termaafkan, biarpun Kosim mengatakan sudah memaafkannya. Justru bayangan- bayangan kelakuannya kian jelas tergambar dalam ingatannya.
__ADS_1
“Arin… sudah, sudah jangan menangis ya. Semuanya sudah berlalu, tidak perlu diingat- ingat lagi,” ucap Kosim
menenangkan Arin.
Mendengar ucapan Kosim, tak membuat tangisan Arin mereda ataupun berhenti. Malah sebaliknya tubuhnya kian
berguncang keras disertai suara tangis tersedu- sedu. Arin begitu menyesalinya, dirinya benar- benar sangat terlambat menyadari kalau suaminya itu orang yang sangat baik.
“Kang bawa saja Arin bersamamu kang. Arin benar- benar ingin menebus dosa- dosa Arin atas perbuatan yang dilakukan Arin sama kang Kosim dahulu. Bawa Arin bersamamu kang…” suara Arin lirih dan bergetar menyiratkan penyesalan yang mendalam.
“Tidak Rin, jangan berkata seperti itu. Ingat sama anak kita, Dede masih membutuhkan kasih sayang orang tuanya
terutama sosok seorang ibu,” ucap Kosim.
“Tapi kang, Arin sudah tak kuat harus menanggung beban dosa sama kang Kosim. Arin ingin sekali menebus
kesalahan yang Arin buat dahulu,” sergah Arin disela- sela isak tangisnya.
“Jika Arin benar- benar ingin menebus kesalahan dahulu, cukup dengan membesarkan Dede. Insya allah semua
beban dosa yang Arin tanggung sekarang semuanya akan terbayarkan Rin,” tegas Kosim.
Mendengar ucapan Kosim itu perlahan- lahan tangis Arin mereda. Ia mengangkat kepalanya dari bahu Kosim lalu menatap wajah Kosim dengan tatapan sendu.
“Benarkah yang kang Kosim katakan itu?!” bibi Arin bergetar saat menanyakan itu.
“Iya, Rin. Kamu harus berjanji pada kakang, kalau kamu akan merawat dan membesarkan Dede penuh dengan kasih sayang. Ingat satu hal Rin, jangan pernah membentak Dede apalagi sampai memukul dan memarahinya!” jawab Kosim dengan lugas.
Arin tak langsung menjawab, ia tertunduk dalam- dalam dan berusaha mencerna kata demi kata yang Kosim ucapkan untuk diingatnya.
“Baiklah kang, Arin Janji tidak akan pernah melakukan kesalahan untuk kedua kali!” ucap Arin dengan tegas.
“Terima kasih rin, sepertinya kakang bisa pergi dengan tenang. Tak ada lagi yang kakang khawatirkan disini,” ucap
Kosim.
“Kang Kosim akan pergi sekarang?!” tanya Arin sedikit terkesiap kaget.
“Bu, bukan sekarang rin…” sergah Kosim menggantungkan ucapannya.
Seketika wajah Arin terlihat sumringah, Arin mengira keberadaan Kosim akan lama disini. Angannya sudah melambung tinggi dan jauh, Arin membayangkan akan melayani suaminya itu lebih baik lagi. dirinya sungguh- sungguh akan mengabdikan diri dengan segenap jiwa raga pada Kosim.
__ADS_1
“Kakang disini hingga matahari terbenam esok ini,” ucap Kosim pelan.
Meski ucapan Kosim pelan, namun bagi Arin ucapan itu tak lebih seperti dentuman petir di siang bolong. Seketika Arin shok, air matanya kembali berlinang- linang lalu luruh menetes dikedua pipinya. Suara tangisannya kembali membuncah, lalu dengan cepat memeluk Kosim erat- erat seolah- olah tidak ingin melepaskan Kosim untuk pergi dari sisinya.** BERSAMBUNG