Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
HASIL AKHIR


__ADS_3

Di alam tak kasat mata,


Sukma Gus Harun, sukma Abah Dul dan Kosim terkesiap melihat pemandangan yang menggidikkan di depannya. Pasukan monyet yang berhasil di musnahkan memang banyak, akan tetapi itu hanya monyet-monyet yang berada di barisan terdepan. Sedangkan di hadapannya, kini terlihat sepasukan monyet yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dari sepasukkan yang telah di hancurkan sebelumnya.


Mau tidak mau Sukma Gus Harun, sukma Abah Dul dan Kosim harus menghadapinya untuk dapat menembus masuk kedalam istana siluman monyet.


Tanpa ada yang mengkomandoi tiba-tiba pasukkan besar monyet itu berlompatan merangsak menerjang Sukma Gus Harun, sukma Abah Dul dan Kosim dengan senjata yang siap di hujamkan.


Melihat serangan datang, Kosim kembali melemparkan batu mustika telur naga Kencananya yang sudah kembali digenggamannya. Batu itu berputar-putar sekonyong-konyong mencari sasarannya sendiri. Suara-suara teriakkan menyayat lalu menghilang terdengar susul menyusul ketika terhantam batu mustika itu.


Sementara itu sukma Gus Harun dan sukma Abah Dul langsung bergerak mengambil jarak kesamping lalu membuat gerakkan memutar-mutarkan Cambuk Amal Rosuli dan Tombak Mata Kembar. Sesaat kemudian terdengar suara deru angin yang sangat kencang disertai gelombang kejut dengan kekuatan besar.


Gerakkan itu untuk membentuk benteng pertahanan dari hujaman serbuan pasukkan monyet yang sedang mengarah ke tempatnya berdiri. Dalam radius 5 meteran dari benteng pertahanan yang di buat kedua Sukma itu seketika monyet-monyet yang mendekat langsung terbakar dan berpelantingan kesegala arah.


Meskipun mampu menghalau serbuan serangan, namun semua itu hanya beberapa saat di awal-awalnya saja. Kekuatan Sukma Gus Harun dan sukma Abah Dul semakin lama semakin melambat dan berkurang akibat tenaganya yang terkuras habis dengan mengerahkan sepenuhnya tenaga dalam. Sedangkan pasukkan monyet seperti tak habis-habisnya terus merangsak menyerangnya.


Dalam keadaan mulai terdesak, tiba-tiba sebuah tirai hitam muncul dari atas langit dan menutup jarak antara pasukan monyet dan sukma Abah Dul, sukma Gus Harun dan Kosim. Deru angin berkekuatan besar yang keluar dari senjata-senjata Gus Harum dan Abah Dul seketika berbalik memantul dan menghantam Gus Harun, Abah Dul dan Kosim.


Ketiganya terkesiap kaget bukan main dan secepat mungkin mundur menjauh sambil membungkukkan badan menghindari hantaman kekuatannya sendiri.


Setelah deru kekuatan dari senjata-senjata yang berbalik kearah dua sukma dan satu sosok kabut itu hilang, pasukan dan istana di depan mereka pun tidak lagi nampak. Kini di hadapan Abah Dul, Gus Harun dan Kosim hanya terlihat warna hitam pekat seperti sebuah dinding pembatas yang memisahkan dua dimensi, sehingga mereka tidak lagi melihat adanya istana kerajaan Siluman Monyet.


"Tidaaaaaaakkkk...!!!" jeritan Kosim keras melengking menggema di seantero langit.


Sukma Abah Dul langsung jatuh berlutut lemas, wajahnya tertunduk dalam-dalam. Ia memukul-mukul tempatnya berpijak dengan putus asa. Sementara sukma Gus Harun terpaku menatap nanar dinding hitam pekat yang memisahkan ruang dimensinya dengan dimenai alam siluman.


......................


Sementara itu di waktu bersamaan di ruangan ICU, suara khas detak jantung yang keluar dari layar monitor Bedside tiba-tiba terdengar semakin tak beraturan.


Wajah Arin yang basah oleh air mata langsung mendongak memperhatikan layar Bedside dengan gundah. Dadanya kian berdebar keras bersamaan menatap tak lepas dari monitor Bedside alat deteksi jantung tersebut. Sesekali Arin kembali melihat tubuh mungil Dede yang masih tergolek tak bergerak dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


Grafik di monitor Bedside terlihat turun naik tak beraturan. Kadang grafik itu terlihat hanya berada di garis tengah, lalu sesekali turun dari batas garis berwarna merah namun sesaat kemudian kembali garisnya menanjak.


Melihat itu Arin semakin keras menangis sembari menatap nanar dengan linangan air mata melihat kondisi putranya.


“Mbak... Dede Mbak....” ucap Arin lirih, tangannya terus menggenggam telapak tangan Dede yang terkulai.


“Sabar Rin, perbanyak lagi berdoa...” ujar Dewi menenangkan adik satu-satunya itu yang berdiri dari sisi sebelahnya.


Suasana kembali senyap, hanya suara monitor Bedside alat deteksi jantung itu yang dominan terdengar memenuhi ruangan.


Tiiit...


Tiiiit...


Tiiit...


Tiiiit...


Tiba-tiba kesenyapan pecah saat terdengar suara dering panggilan dari hape Dewi. Suaranya terdengar keras memecah kesenyapan ruang ICU membuat Dewi dan Arin tersentak kaget.


“Hallo, ya Mas!” ucap Dewi dengan perasaan penuh tanda tanya.


“Apakah ibu istrinya bapak Mahmud?” sahut suara seorang laki-laki di seberang telpon.


“Iya betul, ini siapa? Mana Mas Mahmudnya?” berondong Dewi mulai panik.


Dewi merasakan ada yang janggal dan ada sesuatu yang tidak beres. Dadanya langsung debar-debar keras, rasa cemasnya tiba-tiba memenuhi pikirannya.


“Maaf sebelumnya bu, kami dari kepolisian mengabarkan kalau pak Mahmud mengalami kecelakaan. Sekarang sudah ada di RSUD, kami harap ibu segera datang kesini.” Sahut suara dari seberang telpon.


Seketika tangan kanannya yang memegang hape langsung terkulai hingga hape itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas lantai. Tubuh Dewi menggelosoh ambruk dibawah ranjang tempat Dede terbaring.

__ADS_1


Arin yang berada di sisi sebelahnya melihat kakaknya jatuh terkulai kian bertambah panik, ia langsung menyongsong berlari ke tempat Dewi terpuruk di bawah.


“Mbak... kenapa mbak...” pekik Arin panik.


“Dokteeeer! Dokteeeer...! Susteeeer...! Jerit Arin sambil meraih kepala Dewi ke pangkuannya.


Arin menangis kian keras melihat Dewi menutup matanya tak sadarkan diri diatas pangkuannya.


“Mbaaak... mbak Dewiiiii...!” pekik Arin menangis sejadi-jadinya.


Jekrekkk!


Suara pintu terbuka dari luar, lalu muncul seorang suster tergopoh-gopoh menghampiri Arin yanh sedang menangisi kakaknya yang pinsan.


Baru saja suster itu hendak berjongkok menolong Dewi, suster itu sempat melirik layar monitor Bedside. Bersamaan itu dari suara monitor terdengar flat panjang berbaur dengan suara tangisan Arin yang menangisi kakaknya.


Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttt...


“Innalillahi wainnailaihi rojiuuun...” ucap Suster menatap layar monitor.


Arin tersentak kaget mendengar suster mengucapkan itu. Kontan Arin menengokkan kepalanya kearah monitor.


“Ya Allah! Dedeeeeee...!” teriak Arin keras.


Grafik di monitor badside nampak menunjukkan garis lurus di bawah dengan iringan suara yang menandakan detak jantung sudah tidak ada lagi.


Arin menangis histeris dengan keras. Lalu ia meletakkan kepala kakaknya keatas lantai kemudian bergegas berdiri menubruk putranya diatas kasur. Arin memeluknya dengan erat dengan suara tangis yang meledak-ledak.


“Dedeeee... jangan tinggalin mamah.... Dedeee.... bangun sayang.... ayo banguuun....”


Sementara Suster itu tertegun melihat pemandangan mengharukan ibu dan anak. Beberapa saat lamanya terpaku, Suster itu melangkah mendekati Dewi lalu meraih kepalannya dan di letakkan pangkuannya menggantikan posisi Arin. Suara Arin yang terus memanggil-manggil Dede bercampur tangisan begitu menggiriskan hati.

__ADS_1


“Dedeeee... bangun nak... ayo banguuuun... jangan tinggalin mamah sendirian...”


......................


__ADS_2