Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
ISENG


__ADS_3

Hanya hitungan detik saja hari ke-5 menjelang Purnama akan berakhir dan berganti memasuki hari ke-4 atau malam ke-3 menjelang Purnama.


Diruang tamu masih berkumpul Mahmud, Gus Harun, Abah Dul, Mang Ali dan Kosim. Disela-sela obrolan Kosim berpamitan beranjak meninggalkan ruang tamu.


"Punten semuanya saya pamit dulu, sudah jam 12 waktunya ya Gus," sela Kosim.


"Monggo, monggo.." kata Gus Harun.


"Iya Sim..." ujar Abah Dul.


Mahmud dan Mang Ali hanya mengangguk. Semuanya memahami maksud Kosim yang hendak menjalankan kembali zikir amalan yang diberikan Gus Harun.


"Kang Mahmud, disekitar rumah ente nih sepertinya banyak sekali mustika atau gaman." Ucap Gus Harun.


"Masa Gus?!" Timpal Mahmud.


Mahmud dan Mang Ali sedikit terkejut, keduanya penasaran dan sangat tertarik ingin mengetahui lebih lanjut. Sementara Abah Dul hanya tersenyum saja. Bagi Abah Dul tidak aneh kalau tiba-tiba Gus Harun mengatakan itu. Biasanya kalau Gus Harun sudah memberitahukan seperti itu berarti ada mustika atau gaman yang meminta ditariknya.


"Kang punten minta kopi hitamnya diseduh ya," pinta Gus Harun kepada Mahmud.


"Njih Gus," sahut Mahmud lalu beranjak dari duduknya.


"Kira-kira kalau gaman apa bentuknya Gus?" Tanya Mang Ali penasaran.


Mang Ali sangat menggemari benda-benda bertuah. Koleksi di rumahnya pun banyak, dari mulai batu ali-ali hingga bermacam-macam benda gaman seperti aneka ragam keris, pedang, kuningan berbentuk semar, hingga taring macan pun dia punya. Semua itu memiliki kekutan gaibnya masing-masing.


Tidak beberapa lama Mahmud sudah kembali menenteng secangkir gelas berisi kopi sesuai yang diminta Gus Harun.


"Ini Gus," ucap Mahmud memberikan gelas kopi kepada Gus Harun.


"Keluar Yuk," ajak Gus Harun.


Semuanya beranjak dari duduknya melangkah keluar sambil membawa gelas kopinya masing-masing.


"Tunggu di teras ya. Kang ada tanaman melati nggak atau tanaman bunga apa saja deh," tanya Gus Harun.


"Sebentar Gus, kayanya ada juga melati disamping." Ujar Mahmud.


Mahmud pun langsung menuju ke samping rumahnya sebelum terlanjur duduk mengikuti Abah Dul dan Mang Ali. Dan benar saja terlihat ada sekitar 7 hingga 8 bunga melati yang sudah mekar. Mahmud segera memetik bunga melati semuanya.


"Ini Gus, cukup?" Mahmud memasukan bunga melati ditangannya kedalam gelas.


"Cukup Kang," ujar Gus Harun.


Sementara Mang Ali dan Abah Dul sudah mengambil posisi duduknya masing-masing. Abah Dul duduk bersandar pada saka rumah sebelah kiri, Mang Ali duduk bersandar di saka sebelah kanan dan Mahmud duduk bersandar pada tembok dibawah jendela dekat pintu.


Sementar Gus Harun meneruskan langkahnya keluar halaman rumah Mahmud. Sejenak berhenti seperti mendeteksi sekelilingnya lalu melangkah kesamping rumah. Dibawah pohon mangga dengan batang yang cukup besar, Gus Harun berhenti.


Sejenak Gus Harun berdiri mematung dengan menundukkan kepalanya. Lalu berjongkok meletakkan gelas kopi dibawah pohon Mangga diantara akar-akarnya yang menonjol.


Mulutnya bergerak-gerak membaca doa, kemudian tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi diatas kepalanya dengan membuka telapak tangannya lebar-lebar.

__ADS_1


Sesaat kemudian tangan yang diangkat Gus Harun terlihat bergetar, Gus Harun membuat gerakkan seperti menarik dari atas ke bawah diarahkan kedalam gelas kopi didepannya.


Gus Harun kembali terdiam, hanya mulutnya yang terlihat komat-kamit kembali membaca doa. Setelah itu Gus Harun melangkah meninggalkan gelas kopi yang diletakkannya disela-sela akar dibawah pohon Mangga.


Kemudian Gus Harun bergabung bersama Mahmud, Mang Ali dan Abah Dul duduk di teras.


"Gimana Gus?!" Tanya Mahmud penasaran.


"Nanti tunggu saja sekitar dua atau tiga menitan Kang," ujar Gua Harun.


Gus Harun pun menyalakan sebatang rokok lalu menghisap dan menghenbuskannya perlahan sambil menyeruput kopinya.


Selang sekitar dua menit kemudian Gus Harun terlihat sedang konsentrasi sepertinya sedang mengontrol gelas kopi dibawah pohon Mangga melihat dengan mata batinnya. Lalu kembali menyeruput kopinya disusul hisapan rokoknya.


"Sudah Gus?!" Gantian Mang Ali penasaran.


"Belum Mang Ali," jawab Gus Harun.


"Sabar Mang Ali, hikhikhik..." seloroh Abah Dul menggoda Mang Ali.


Abah Dul sering melihat Gus Harun melakukan penarikkan benda-benda gaib semenjak masih di pesantren dulu. Ini salah satu kemampuan Gus Harun yang tidak dimiliki oleh Abah Dul maupun dua sahabatnya, Basyari dan Baharudin.


Sayangnya Abah Dul sendiri kurang begitu berminat untuk mengoleksi benda-benda bertuah seperti Mang Ali. Andaikan dia menyukainya mungkin sudah banyak benda-benda gaib yang dikoleksinya.


Suasana hening setelah Mang Ali bertanya, tiba-tiba terdengar dari atas genteng rumah Mahmud seperti sebuah benda jatuh.


"Klotak... Klotak.."


Sesaat kemudian Gus Harun kembali ke teras dengan menenteng gelas kopi ditangannya.


"Monggo tumpahkan airnya di tanah Mang Ali," kata Gus Harun sembari mengulurkan gelas kopi kepada Mang Ali.


Mang Ali segera menerimanya dan beranjak dari duduknya lalu melangkah ke halaman. Sambil berjongkok Mang Ali menumpahkan gelas yang sebelumnya berisi kopi dan bunga melati.


Mahmud mendekat penuh dengan penasaran untuk melihat apa yang ada didalam gelas kopi itu.


Mata Mang Ali dan Mahmud pun kontan melotot takjub. Diantara air dan ampas kopi serta bunga-bunga melati terlihat cahaya menyala merah. Mang Ali mengorek-ngoreknya namun pada saat Mang Ali hendak mengambilnya Gus Harun berseru melarang.


"Batu Gus!" Seru Mang Ali takjub.


"Jangan disentuh dulu Mang Ali!" Cegah Gus Harun.


"Aduh!" Pekik Mang Ali.


Akan tetapi seruan Gus Harun telat. Mang Ali sudah lebih dulu memegangnya namun sontak langsung dilepasnya kembali. Bukan karena seruan Gus Harun melainkan karena merasa panas ketika jarinya menyentuh batu itu.


"Hehehehe... Panas Mang Ali," celetuk Abah Dul.


"Maaf lupa ngasih taunya Mang Ali," ujar Gus Harun.


Mang Ali mengibas-ngibaskan tangannya sambil meringis kepanasan. Kemudian Gus Harun mengambil segelas air putih kemasan yang tergeletak di teras.

__ADS_1


Gus Harun menumpahkan air putih keatas batu yang menyala merah itu sembari membaca doa. Sesaat kemudian ia pun mempersilahkan Mang Ali untuk kembali memungutnya.


Mang Ali segera memungutnya lalu sejenak digenggamnya. Ia merasakan masih hangat tetapi tidak sepanas waktu pertama menyentuhnya. Kemudian membawanya ke teras dan meletakkannya di atas ubin.


"Seperti batu merah Delima!" celetuk Mahmud.


"Iya betul Mud, kayanya Batu Merah Delima." Timpal Mang Ali.


"Tuh, tanya sama Abah Dul," ujar Gus Harun.


"Batu Apa Bah?!" sergah Mahmud penasaran.


"Coba liat, sini punten Mang Ali," kata Abah Dul.


Mang Ali pun memberikan batu yang masih menyala merah itu kepada Abah Dul. Kemudian Abah Dul mengambil air putih kemasan gelas didepannya. Sejenak disobeknya sedikit tutup gelas kemasan itu dengan ujung sedotan.


Setelah tutup gelas kemasan berlubang dirasa cukup, lalu Abah Dul memasukkan batu itu kedalam gelas kemasan yang masih penuh berisi air putih.


Beberpa saat kemudian batu merah itu terlihat melayang turun didalam gelas kemasan hingga ke dasarnya. Seketika kedua mata Mahmud dan Mang Ali semakin terbelalak takjub. Air putih itu langsung berubah warna menjadi merah seperti merah darah.


"Merah Delima," ujar Abah Dul.


"Buat siapa ini Gus?" Tanya Mang Ali.


"Silahkan terserah Kang Mahmud atau Mang Ali saja," jawab Gus Harun.


Mang Ali dan Mahmud nampaknya sama-sama tertarik ingin memilikinya. Tapi karena saling merasa tidak enak hati keduanya tidak berani mendahului memintanya.


Gus Harun tahu melihat Mahmud dan Mang Ali sama-sama berminat.


"Begini saja, suit saja ya Kang Mahmud, Mang Ali. Siapapun yang menangnya, yang kalah harus ikhlas ya ..." kata Gus Harun menengahi.


"Njih Gus..." sahut Mang Ali dan Mahmud bersamaan.


"Saya hitung ya... Satu... Dua... Tiga!" ucap Gus Harun.


Secara bersamaan Mang Ali dan Mahmud saling menunjukkan jarinya disaksikan Gus Harun dan Abah Dul.


"Alhamdulillaaaah..." seru Mahmud kegirangan.


Mahmud menunjukkan jari manisnya sedangkan Mang Ali menunjukkan jari jempolnya.


"Ikhlas Mang Ali ya, hehehe.. Gampang besok malam lagi buat Mang Ali," kata Gus Harun.


"Njih, njih Gus. Saya ikhlaaaassss.." ujar Mang Ali masih terlihat kecewa.


Abah Dul tertawa melihat ekspresi Mang Ali, sementara Gus Harun senyum-senyum melihat ekspresi kekecewaan Mang Ali.


......................


🔴Ayo DIABSEN DULU KOMEN & JEMPOLNYA❗

__ADS_1


🔴SEMOGA YANG ABSEN REJEKINYA LANCAR DAN BANYAK...🤲🤲🤲


__ADS_2