Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
BABAK BARU


__ADS_3

Asslamualaikum para pembaca Noveltoon khususnya novel yang berjudul Melawan Perjanjian Gaib (MPG), author akan melanjutkan kembali kisahnya dalam Melawan Perjanjian Gaib 2. Mengingat dan menimbang banyaknya masukkan untuk segera merilis MPG 2 maka author berinisiatif untuk melanjutkannya tetapi dengan tidak membuat judul baru melainkan tetap melanjutkannya dalam satu kontrak. Semoga para readers kembali dapat menemukan fiil dan momennya.


÷÷÷÷÷÷÷SELAMAT MENIKMATI÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷



Tiga hari setelah kematian Kosim suasana kedukaan masih menyelimuti keluarga Mahmud terutama Arin sebagai istrinya yang sangat terpukul dengan kepergian suaminya yang mendadak.


Kosim pergi meninggalkan misteri yang belum diketahui oleh Arin dan juga kakaknya bernama Dewi. Hingga ajalnya menjemput dalam tragedi kecelakaan maut Kosim belum menceritakan kepada Arin tentang ritual pesugihan yang dilakukannya sehingga menimbulkan teror-teror mengerikan yang mengamcam nyawa keluarganya.


Sudah tiga hari ini Arin selalu duduk ditengah pintu dapur menghadap halaman rumah. Jiwanya masih shok dan masih belum bisa menerima kenyataan kalau Kosim, suaminya itu sudah meninggal. Dewi, sebagai kakak terenyuh setiap kali melihat Arin selalu duduk termangu ditengah pintu dapur itu.


"Arin, kamu harus kuat yah..." ucap Dewi kemudian duduk disebelahnya.


Arin hanya menoleh sesaat lalu kembali pandangannya dilempar keluar dengan tatapan kosong. Kepalanya disandarkan pada kusen-kusen pintu dapur, Dewi menatap nanar sekuat tenaga menahan air matanya melihat adiknya yang terlihat masih sangat shok.


"Arin, mbak yakin Gusti Allah mempunyai tujuan dibalik meninggalnya Kosim. Kamu harus bisa menerima takdir ini," ucap Dewi lagi sambil mengusap-usap pundak Arin.


Arin masih tetap diam dengan pandangan kosongnya menatap pepohonan dihalaman. Setiap hari Arin selalu duduk dipintu dapur seperti sedang menanti Kosim pulang. Alam bawah sadarnya mengajaknya untuk menunggu kepulangan Kosim sehingga hari-harinya Arin selalu duduk ditempat yang sama.


"Mas Kosim belum mati Mbak, dia sudah janji akan pulang bawa uang jutaan..." ucap Arin lirih.


Dewi langsung memeluk Arin dan air matanya yang sedari tadi ditahan-tahannya pun akhirnya tumpah tidak bisa ditahan lagi.


Semenjak hari pertama kematian Kosim, di rumah Mahmud tidak lagi terjadi teror-teror dari mahluk gaib Siluman Monyet hingga dimalam ketiga ini. Abah Dul dan Mang Ali masih tetap berinisiatif melekan setiap malam di rumah Mahmud sekedar untuk berjaga-jaga. Sementara itu Gus Harus sudah berpamitan kembali ke Banten usai acara pemakaman Kosim tiga hari yang lalu.


Malam keempat usai menggelar tahlilan, seperti biasa Abah Dul dan Mang Ali tidak turut bubar pulang ke rumah. Mereka duduk santai bersama Mahmud di teras depan dengan suguhan aneka ragam kue kering dan juga beberapa macam merk kopi dan termos air panas.


"Bah, apakah siluman monyet itu masih akan menuntut atau selesai setelah Kosim nggak ada? Tanya Mahmud duduk santai dengan selonjoran.


"Saya belum bisa memastikan Mud. Kita kan nggak tau apakah Kosim meninggal itu rohnya dibawa ke alam mereka atau memang Kosim meninggal wajar dan rohnya benar-benar berada dialam kubur," ucap Abah Dul kemudian mennghembuskan nafanya berat.


"Apa nggak bisa diketahui Bah, apakah roh Kosim ada dimana?" Tanya Mahmud lagi.


"Saya belum sampai kesana ilmunya Mud, tapi nanti saya coba tanyakan ke Gus Harun," ujar Abah Dul.

__ADS_1


Alam kubur atau alam Barzah dapat dikatakan sebagai pintu gerbangnya menuju alam akhirat atau disebut pula sebagai batas antara alam dunia dan alam akhirat. Hal itu kalau diartikan secara bahasa, kata barzah mengandung arti sekat.


Alam Kubur akan menjadi tempat tinggal bagi manusia yang telah meninggal dunia lebih dahulu sebagai tempat penantian menunghu datangnya hari kiamat kelak. Bahkan manusia-manusia yang berada dialam kubur konon sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Meskipun hanya sebagai tempat persinggahan, namun perhitungan waktu di alam kubur atau alam barzah ini disebut lebih lama dan panjang dibandingkan di alam dunia.


“Kosim sudah tenang dialamnya ya Bah, tidak seperti saat dia masih hidup. Siluman monyet itu terus mengejarnya,” kata Mang Ali kemudian menuangkan air panas dari termos kedalam gelas yang terisi bubuk kopi kemasan.


“Ya semoga Kosim tenang dialamnya Mang Ali,” timpal Mahmud.


Tanpa ada yang menyadari kalau obrolan Mang Ali, Mahmud dan Abah Dul diteras itu ada yang mempethatikan. Berjarak 10 meter didepan teras sedang berdiri sesosok bayangan yang terus melihat kearah mereka, tatapannya dingin tanpa ekspresi sama sekali. Kaos oblong yang melekat pada tubuhnya sobek dibeberapa bagian dan banyak noda-noda merah mengotorinya.


Beberapa saat kemudian samar-samar sesosok itu bergerak melayang menuju samping rumah Mahmud. Abah Dul yang kebetulan posisinya menghadap kesamping itu terlonjak kaget, ia melihat sekelabatan bayangan menuju samping rumah.


“Astagfirullah!” pekik Abah Dul dengan mata terbelalak.


“Ada apa Bah?!” Tanya Mahmud kemudian matanya mengikuti pandangan Abah Dul kearah samping rumah.


Mang Ali pun sama kepalanya langsung ikut menoleh kebelakang karena posisinya menghadap Abah Dul. Mahmud dan Mang Ali kebingungan karena tidak menemukan apapun disana.


Kemudian Abah Dul bangkit berdiri lalu bergegas melangkah kesamping rumah, diikuti Mahmud dan Mang Ali yang masih kebingungan dengan dikap Abah Dul.


Mahmud langsung balik badan namun Mang Ali tetap meneruskan langkahnya dibelakang Abah Dul.


Kemudian Abah Dul berhenti tepat dipojok samping rumah lalu memperhatikan lorong sisi samping rumah Mahmud yang bersebelahan dengan bagian belakakang rumah tetangganya.


“Nggak ada apa-apa Mang Ali,” ujar Abah Dul menoleh kebelakang.


“Emangnya ada apa Bah?!” tanya Mang Ali masih bingung tak mengerti.


“Tadi saya lihat dengan jelas ada sekelebatan bayangan menuju kesini,” terang Abah Dul.


Sementara itu Mahmud yang masuk kedalam rumah langsung membuka kamar yang sebelumnya ditempati Kosim. Diatas kasur tergolek sosok mungil bocah berusia 3 tahunan sedang terlelap tidur.


Sejenak pandangannya diedarkan melihat kesegala sudut kamar namun tidak ada apapun. Mahmud pun kembali menutup pintu kamar lalu melangkah menuju dapur.


“Kalian nggak apa-apa?” tanya Mahmud pada Arin dan Dewi yang sedang mencuci gelas dan piring bekas tahlilan tadi.

__ADS_1


Arin dan Dewi saling bertatapan sejenak wajah kedua kakak beradik itu kebingungan tak mengerti dengan pertanyaan Mahmud yang bertanya seperti itu.


"Memangnya kenapa mas?" Tanya Arin dan Dewi berbarengan.


"Oh, nggak ada apa-apa, hehehe..." ujar Mahmud kemudian cepat-cepat berlalu sebelum lebih banyak lagi diberondong pertanyaan oleh Dewi dan Arin.


......................


DI ALAM TAK KASAT MATA, ISTANA RAJA SILUMAN MONYET.


Raja Kalas Pati duduk diatas kursi besar singgasananya. Wajahnya menyiratkan kemarahan yang teramat sangat, kedua matanya menyala merah menyorot tajam kepada sosok siluman monyet yang berdiri 20 meter didepannya sedang memberikan laporan.


Kemudian pandangannya menyapu ribuan anak buahnya yang tertunduk memenuhi ruang utama istana yang sangat luas itu.


"Ampun Paduka Raja Siluman Monyet junjungan kami, kami sudah mengerahkan para prajurit-prajurit untuk mencari keberadaan manusia bernama Kosim.


Akan tetapi tifak satupun ada yang melaporkan menemukannya. Manusia itu tidak dapat dideteksi keberadaanya." Lapor Pimpinan pasukan siluman monyet.


"Grrrrrrrraaaaakkkkkhhhhh...!" Raja Kalas Pati menggeram marah mendengar laporan yang tidak memuaskan itu.


"Bagaimana dengan rumah tempat manusia ingkar itu berlindung?!" Suara Kalas Pati menggema keseantero ruangan.


"Ampun Junjungan Kami, di rumah itu kami tidak mencium hawa adanya manusia bernama Kosim. Tetapi ada yang aneh Paduka, setelah Paduka turun langsung dan menggempurnya itu sekarang setiap awal malam selalu ramai banyak manusia di rumah itu." Jawab Pimpinan pasukan siluman monyet.


"Grrrrrrraaaakkkkhhhh...!" Suara sember dan berat kembali menggema membuat bergidik para prajurit siluman monyet yang menekuk kepalanya dalam-dalam.


"Kalau begitu ambil darah dagingnya!!!" Seru Raja Kalas Pati, kemudian terdengar suara petir menggelegar diatas istana Raja Siliman Monyet itu.


"Huuuu...! Huuuu...! Huuu...!"


"Huuuu...! Huuuu...! Huuu...!"


"Huuuu...! Huuuu...! Huuu...!"


"Huuuu...! Huuuu...! Huuu...!"

__ADS_1


......................


__ADS_2