Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
CARI PENGGANTI


__ADS_3

DESA BOJONG SIRIH,


Sebuah rumah berwarna hijau muda berpadu dengan warna abu- abu tua pada kusen- kusen dan beberapa sisi dinding tampak paling megah dan besar berdiri dengan kokoh diantara rumah- rumah lainnya yang berada di


sekitarnya atau mungkin paling besar dan megah di desa Bojong Sirih. Tembok tinggi memutari rumah tersebut dengan pintu gerbang terbuat dari besi semakin mempertegas sebuah keangkuhan bagi pemiliknya.


Di dalam ruang tamu yang begitu luas dengan perabotan- perabotannya yang tampak mahal, terlihat pak Bekel dan ketiga temannya tengah duduk berhadapan dengan pak Sumar dan bu Suryani. Pak Bekel dan ketiga temannya


menekuri lantai ruang tamu tampak takut- takut hanya sekedar untuk melihat- lihat dekorasi ruangan, apalagi untuk menatap langsung pak Sumar dan istrinya.


“Kalian harus cepat- cepat cari pengganti putrinya mang Yono! Jika tidak kalian sendiri yang akan kena akibatnya!” tegas pak Sumar.


“Ta, tapi juragan di desa saya sepertinya tidak ada lagi yang seusia putrinya mang Yono,” sahut pak Bekel sambul menekuri lantai.


“Ya cari di desa lain! Jika sampai besok malam kalian tidak menemukan seorang pun anak perempuan, maka kalian yang akan saya kirim ke liang lahat!” sentak pak Sumar.


“Ba, baik juragan. Tapi bagaimana dengan anak ajaib dari desa Sukadami itu juragan?!” tanya pak Bekel.


“Biar itu si Goro yang akan mengurusnya!” jawab pak Sumar.


“Goro??? Siapa Goro itu juragan?” tanya pak Bekel merasa heran sebab baru pertama kalinya ia mendengar nama itu disebut pak Sumar.


”Dia siluman Babi yang bertugas mengambil tumbal. Dipastikan nanti malam anak itu akan binasa!” jawab pak Sumar acuh sambil menyunggingkan senyum.


“Hah??!” pekik pak Bekel terkejut luar biasa, badannya bergidik mendengar jawaban pak Sumar.


“Bu cepat berikan!” perintah pak Sumar kepada istrinya tanpa memperdulikan kengerian yang dirasakan pak Bekel dan ketiga temannya.


Bu Suryani langsung merogoh tas yang ada diatas pangkuannya, tak lama kemudian di tangannya sudah tergenggam empat tumpuk uang bernominal seratusan ribu yang diikat dengan karet gelang menjadi empat bagian.


“Ini pak,” ujar bu Suryani menyerahkan uang tersebut kepada suaminya.


“Nih pak Bekel upahnya saya bayar lunas di muka. Bagikan pada yang ketiga anak buahmu,” kata pak Sumar menyodorkan tumpukan uang diatas meja.

__ADS_1


Empat pasang mata pak Bekel dan tiga temannya langsung melotot lebar melihat tumpukkan uang diatas meja. Mulutnya ternganga tanpa disadari air liur pak Bekel hendak menetes jatuh saking merasa suprize-nya akan


mengantongi tumpukkan uang yang sudah ada di depan matanya. Dengan cepat segera pak Bekel meraih tumpukkan uang diatas meja tersebut tetapi gerakkannya langsung ditahan pak Sumar.


“Tapi ingat, jangan sampai gagal lagi mendapatkan anak perempuannya!” tegas pak Sumar, lalu melepaskan tangannya dari atas punggung tangan pak Bekel.


“Oh, kalau itu pasti juragan! Pasti berhasil, saya akan cari di desa sekitar, ya kan Rul, War, Jat?!” sahut pak Bekel meminta 3 temannya meyakinkan sembari mengambil tumpukkan uang diatas meja.


“Pasti juragan, pasti!” sahut Erul yang di angguki oleh dua temannya.


“Baiklah, sekarang juga kalian segera cari mangsanya! Ingat besok kalian harus sudah dapat!” tegas pak Sumar.


“Siap juragan!” sahut pak Bekel dan ketiga temannya dengan serempak.


**


Kurang lebih satu jam mobil yang dikendarai Hasan sudah sampai di desa Sukadami. Hasan memarkirkan mobilnya di tepi jalan desa karena jalan gang menuju rumah Dewi tidak muat untuk dilewati mobil. Dewi lebih dulu turun dari mobil untuk membukakan pintu buat Arin sebab Dede tertidur dalam pangkuannya sehingga Arin kesulitan untuk membuka pintu mobil.


Hasan segera bergegas membuka bagasi belakang mobil untuk mengambil barang- barang  belanjaan sebagai oleh- oleh untuk Dewi, Arin dan Dede yang di belinya di pasar sebelumnya.


Hasan pun meletakkan barang- barangnya di bawah lebih dulu untuk menutup kembali pintu bagasi mobilnya.


“Yang di kardus itu biar saya yang bawa saja mbak, sedikit berat,” ujar Hasan melihat Dewi kerepotan tangannya sudah penuh dengan barang- barang.


“Iya mas. Mari mas Hasan,” ajak Dewi yang diangguki Arin dengan senyum manis.


“Njih mbak,” sahut Hasan lalu mengikuti langkah Dewi dan Arin menuju rumahnya.


Terik matahari lumayan terasa panasnya karena posisinya sedang berada dipuncak titik kulminasinya. Buru- buru Dewi dan Arin mempercepat langkah kakinya diikuti Hasan berjalan dibelakang mereka.


“Waaah, darimana saja mbak Dewi. Pantesan rumahnya gelap gulita tadi malam, orangnya pergi toh,” sapa bu Marta yang sedang duduk santai di teras rumahnya, matanya melirik sebentar kearah Hasan sembari mengerutkan


dahinya.

__ADS_1


“Oh iya bu Marta, habis ngadiri acara syukuran saudara di luar kota. Mari bu…” kata Dewi ramah, Arin dan Hasan turut mengangguk santun.


“Njih, monggo mbak Dewi, mbak Arin, mas…” balas bu Marta.


Tak berapa lama ketiganya pun sampai di rumah Dewi. Halaman depan rumah tampak sangat kotor, banyak daun- daun kering yang berserakkan dimana- mana.


“Nah, ini rumahnya mbak mas Hasan. Maaf rumahnya kecil dan tidak sebagus dan sebesar rumahnya mas Hasan,” ucap Dewi begitu sampai di depan rumah.


“Waduh mbak, ditinggal sehari saja sudah kotornya begini,” ujar Arin berdiri mengamati sekitarnya.


“Iya ya, mari mas Hasan taruh saja dulu barangnya di teras,” ujar Dewi lalu cepat- cepat membuka kunci pintu rumahnya.


“Rin, Dedenya kamu tidurin saja dulu di kamar. Sekalian mas Hasannya bawa kedalam, o iya mas Hasan mau minum apa? Kopi? Es teh manis atau ai dingin? ” ucap Dewi membalikkan badan.


“Wah, lengkap banget nawarinnya mbak, kaya di restoran saja hehehe… Mmm, enaknya panas- panas gini es teh manis saja mbak,” jawab Hasan lalu duduk di pinggir teras.


“Loh, mas jangan duduk disitu kotor. Mari masuk di dalam saja duduknya,” cegah Arin melihat Hasan tampak kecapekan.


“Iya Rin, nggak apa- apa,” sahut Hasan kemudian bangkit mengikuti Arin masuk kedalam rumah.


“Silahkan duduk istirahat dulu mas, sebentar saya tidurin Dede di kamar dulu ya mas,” ucap Arin kemudian berlalu meninggalkan Hasan di ruang tamu setelah Hasan menganggukkan kepala.


‘Rumah mbak Dewi enak juga, terasa adem, nyaman dan  bikin tambah ngantuk saja,” kata Hasan dalam


hati sembari melihat- lihat ruang tamu.


Tak lama kemudian Dewi sudah muncul kembali sambil membawa nampan yang diatasnya terdapat segelas es teh manis dan dua toples berisi kue kering.


“Mm, mbak kalau mas Mahmud kapan pulangnya?” tanya Hasan.


“Mas Mahmud tidak ngasih tahu kapan pastinya mas Hasan, mungkin diperkirakan satu mingguan lah. Silahkan diminum mas,” jawab Dewi lalu duduk di kursi seberang Hasan.


“Njih mbak, makasih ini sudah ngerpotin,” ucap Hasan kemudian meraih gelas yang sudah di tata diatas meja tamu oleh Dewi.

__ADS_1


5 menit kemudian Arin juga muncul di ruang tamu. Hasan langsung mengangkat kedua alisnya saat melihat Arin yang terlihat semakin cantik di matanya. Hasan terpana beberapa detik dan tanpa sadar matanya terus


memperhatikan Arin yang berjalan menuju kursi disebelah Dewi.  * BERSAMBUNG


__ADS_2