Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KABAR RAHASIA


__ADS_3

Hariri merasa kalau peristiwa di dalam mimpinya itu bukan untuk diceritakan kepada orang lain apalagi sengaja disebar- sebarkan. Mimpinya tersebut murni merupakan sebuah pengajaran ahlak untuk dirinya sendiri agar tidak lagi mengulangi kesalahan dan perbuatan yang sama. Karena itulah Hariri sekarang berubah drastis menjadi seorang Hariri seperti Hariri sewaktu kecil dahulu, Hariri yang gemar pergi ke mushola bukan Hariri yang gemar pergi ke tongkrongan. Hariri yang dulu tak pernah tinggal sholat, Hariri yang santun kepada siapa pun, bukan Hariri yang songong dan berandalan.


Mimpi yang Hariri alami itu baginya sangat sangat mengerikan sekaligus merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Dzat yang memberinya mimpi tersebut. Namun yang masih menjadi misteri didalam benak Hariri adalah


siapa anak kecil yang hadir dalam mimpinya itu? Tangannya terasa begitu sejuk saat menyentuh keningnya, tangannya begitu sejuk saat menyentuh telapak kakinya.


Dan dari dua sentuhan –sentuhan tersebut Hariri merasakan ada energi segar yang tiba- tiba menguatkan fisiknya dari dalam tubuhnya yang muncul begitu saja. Hariri pun dapat melihat sangat jelas wajah sosok anak kecil tersebut, dia nampak lucu dan menggemaskan. Kulitnya kuning langsat, rambutnya lurus dan tebal, Hariri memperkirakan anak yang hadir di mimpinya itu berusia kira- kira 3 atau 4 tahunan.


Ada perasaan hutang budi yang timbul didalam batin Hariri, ingin rasanya dia dapat bertemu langsung dengan anak kecil itu. Sampai- sampai dia berjanji jika dirinya bertemu dengan anak tersebut di dalam kehidupan nyata, anak itu akan dijadikannya sebagai adik angkatnya.


“Kenapa nak Hariri? Ada apa, kok melamun?” tiba- tiba suara pak Diman terdengar sekaligus menyadarkan Hariri dari lamunannya.


“Oh, Ng.. anu pak, nggak apa ada apa- apa, hehehe…” jawab Hariri tersipu- sipu.


“Kalau nak Hasan sudah dikabari belum pak Harjo tentang kesembuhan nak Hariri ini?” tanya pak Diman mengalihkan pandangannya dari Hariri.


“Astagfirullah… saya belum sempat memberi tahukan kepada Hasan pak Diman. Untung saja pak Diman mengingatkan. Kalau begitu saya langsung telpon sekarang aja, nanti kelupaan lagi, hehehe…” ujar pak Harjo lalu bangkit dari duduknya untuk mengambil hape yang tergeletak di atas meja makan.


Selang beberapa saat pak Harjo sudah muncul kembali di ruang tamu sambil memegang hape yang ditempelkan di telinganya.


Tuuuuttt… tuuuutttt…. Tuuuuttt…


Suara panggilan masuk dari hape pak Harjo samar- samar terdengar. Beberapa detik setelah pak Harjo menunggu panggilan itu di diangkat putra sulungnya yang bernama Hasan, akhirnya terdengar juga suara seseorang yang


menyahut sekaligus menyapa panggilan telponnya.


“Halo, assalamualaikum pak…” suara dari telpon pak Harjo yang sengaja di load speaker itu terdengar jelas oleh semua yang ada di ruang tamu.


‘Wa alaikum salam, gimana kabar Hasan disana? Sehat?” balas pak Harjo.

__ADS_1


“Alhamdulillah keadaan Hasan sehat dan baik- baik saja. Hasan berencana siang- siangan mau telpon bapak, tapi eyalah malah bapak yang telpon duluan hehehe… Hasan mau ngabarin kalau besok lusa Hasan berniat pulang


menjenguk de Hariri dan juga nengok bapak sama ibu,” sahut Hasan dari seberang telpon.


“Kalau begitu kebetulan sekali San kalau kamu mau pulang besok lusa sih. Bapak telpon kamu ini tadinya mau minta kamu pulang dulu ke Palu Wesi,” balas pak Harjo sumringah.


“Kebetulan? Kebetulan kenapa pak?” tanya Hasan penasaran.


“Nanti saja bapak ceritakan kalau Hasan pulang nanti ya, eh tapi San kamu pulangnya jangan sore atau malam sampai sininya ya. Kalau bisa pagi- pagi kamu udah sampai rumah, bapak butuh tenagamu,” kata pak Harjo.


“Hah? Butuh tenaga Hasan? Hasan jadi penasaran dan juga bingung nih pak, apakah bapak lagi renovasi rumah? Atau sedang membangun rumah?” tanya Hasan mengira- ngira.


“Hehehehe… pokoknya kamu sampai rumah pagi ya San, nanti juga kamu tahu sendiri, hehehe…” jawab pak Harjo tertawa kecil.


“Ya udah deh insya allah Hasan usahain selesai sholat subuh Hasan berangkat pak. O iya pak gimana dengan de Hariri, apakah kondisinya ada perubahan?” tanya Hasan lagi teringat adiknya.


“Alhamdulillah San, nanti bapak ingin memberikan kejutan buat kamu saat pulang nanti deh, hehehe…” balas pak Harjo semakin membuat Hasan penasaran.


“Alhamdulillah, ibumu sehat wal afiat San. Ya sudah kalau begitu kamu lanjutin kerjanya, maaf bapak sudah mengganggu waktu kerjamu San,” kata pak Harjo.


“Ah, bapak ya nggak apa- apa toh pak. Kapan pun bapak telpon insya allah Hasan akan angkat pak. Kalau begitu Hasan lanjut kerja lagi ya pak,” sahut Hasan.


“Iya San, sudah ya assalamualaikum…” ucap pak Harjo mengakhiri telponnya.


“Wa alaikum salam,” sahut Hasan, lalu pak Harjo langsung menutup telponnya dan menaruhnya diatas meja tamu.


“Ada- ada saja pak Harjo ini, hehehe…” ujar pak Diman usai mendengar obrolan antara pak Harjo dengan putra sulungnya itu.


“Iya nih bapak sama anak kok main rahasia- rahasiaan segala pak, pak…” timpal istrinya pak Harjo.

__ADS_1


Hariri hanya senyum- senyum saja mendengar rencana bapak pada kakaknya. “Ah, sudah sangat lama saya tidak melihat kak Hasan,” ucapnya dalam hati.


Hariri sendiri tidak tahu, kalau sebenarnya kakaknya itu selalu menyempatkan pulang ke rumah dua minggu sekali hanya untuk menengoknya melihat perkembangan sakitnya Hariri. Mungkin saja saat kakaknya pulang dan


menjenguknya, kondisi Hariri sudah diluar batas kesadarannya akibat merasakan sakit yang menyiksanya. Sehingga Hariri tidak mengetahui saat- saat diaman kakaknya menengoknya.


“Biar dia pulang cepat- cepat pak Diman, hehehe….” Ujar pak Harjo membuyarkan lamunan Hariri.


“Oh ya pak Harjo, apa tidak sebaiknya pak Harjo undang juga kang Mahmud dan keluarganya pak?” kata pak Diman setengah bertanya.


“Oh iya ya pak Diman. Saya harus mengundangnya juga pak, inikan nazar saya sendiri,” ujar pak Harjo menyetujui usulan pak Diman.


“Kalau begitu besok biar saya saja yang kesana menyampaikan undangannya pak,” usul pak Diman.


“Apa nggak merepotkan pak Diman?” tanya pak Harjo merasa tak enak hati.


“Ah pak Harjo ini kayak sama siapa aja,” balas pak Diman.


“Kalau begitu pak Diman nanti bawa mobil saya aja kesananya,” kata pak Harjo.


“Apa Mobilnya nggak di pakai pak Harjo?” tanya pak Diman.


“Tenang saja pak Diman, masih ada sepeda motor, hehehe…” jawab pak Harjo.


“Ya sudah kalau begitu besok sekitar jam enam- an saya kesini ya pak,” kata pak Diman.


“Njih, monggo… monggo,” jawab pak Harjo.


“Mm, punten pak, bu untuk masak- masaknya apakah sudah disiapkan semuanya?” tanya ibu Diman tiba- tiba.

__ADS_1


“Belum bu, rencananya siang ini mau ke rumah bi Sarwi, bi Romlah, bi Suri dan lain- lainnya termasuk juga ibu Diman sendiri untuk membantu masak- masak. Karena kebetulan ibu kesini jadi sekalian saja saya minta tolongnya sekarang ya bu, hehehe…” jawab bu Harjo.** BERSAMBUNG


__ADS_2