Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
WUJUD KOSIM


__ADS_3

Meski kata- kata yang diucapkan Arin pelan, namun Dewi masih dapat mendengarkan semua ucapannya. Seketika Dewi tak dapat membendung lagi tangisnya, air matanya tumpah membasahi kedua pipinya sambil memeluk Dede yang hendak turun dari ranjang menyusul ibunya.


“Bunda Dewi, Dede pengen di gendong ayah!” seru Dede berusaha melepaskan pelukan Dewi.


“I, iyya De… sini bunda Dewi gendong,” kata Dewi terisak- isak.


Dewi tak kuasa lagi menahan tangisnya melihat keharuan pada Arin dan Kosim. Dewi melihat Kosim begitu nyata memeluk Arin, sehingga menghilangkan kesadarannya jika adik iparnya itu sebenarnya sudah meninggal. Wujud Kosim


benar- benar terlihat selayaknya melihat Kosim pada saat masih hidupnya.


Penampilan Kosim yang  sederhana serta wajah Kosim yang lugu menandakan kejujuran sifatnya, semuanya terlihat jelas dan nyata oleh Dewi. Dewi bergegas menggendong tubuh mungil Dede kedalam pelukannya, lalu berjalan mendekati Arin dan Kosim yang masih berpelukkan menumpahkan kerinduannya.


“Ayaaaahhh…!” teriak Dede tangannya menggapai- gapai ke arah Kosim.


Suara tangis seketika membuncah memenuhi ruangan kamar rawat Dede saat Dewi menyodorkan Dede kepada Kosim yang masih memeluk Arin dengan erat. Kosim langsung menepuk- nepuk punggung Arin dan perlahan- lahan merenggangkan pelukkannya untuk meraih Dede yang menggapai- gapaikan tangannya.


“Dedee…” panggil Kosim dengan suara lirih dan bergetar.


Arin pun melepaskan pelukkannya lalu menoleh kebelakang saat Kosim menerima tubuh Dede dari tangan Dewi. Dede langsung memeluk Kosim dengan erat, Kosim membalas pelukkan Dede dengan erat pula. Disusul Arin yang langsung memeluk keduanya dan seketika suara tangisan pun lebih keras membuncah memnuhi


ruangan.


Dewi perlahan- lahan maju lalu memeluk ketiganya sambil menangis tersedu- sedu. Dirinya turut larut ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Arin serta Dede yang baru pertama kalinya bertemu dengan Kosim semenjak Kosim meninggal dunia 47 bulan yang lalu.


Dewi, Arin dan Dede tidak sadar sama sekali dengan kenyataan yang sedang meraka alami saat ini bahwa Kosim sebenarnya sudah meninggal. Sebab mereka melihat wujud Kosim beginyu nyata bahkan dapat menyentuhnya pula. Mereka bertiga hanyut dalam keharuan seakan- akan tak ingin melepaskan pelukannya masing- masing.


“Kita pulang ya kang, begitu kang Mahmud datang jemput kita disini,” ucap Arin lirih ditengah- tengah pelukkannya.


Kosim tak menjawab, namun Arin dan Dewi dapat merasakan kalau Kosim menjawabnya mengangguk pelan.


“Iya ayah, Dede ingin cepat- cepat pulang. Dede ingin bermain perang- perangan lagi dengan gambar- gambar yang ayah belikan,” celetuk


Dede.


Mendengar celoteh anak kecil itu suara tangisan terdengar kian santer keluar dari Arin dan Dewi. Dan mereka pun semakin mengencangkan


pelukkannya. Beberapa saat lamanya keharuan membaluti suasana di dalam ruangan tersebut hingga terdengar suara ketukkan dari luar pintu.

__ADS_1


Tok… tok… tok…


“Assalamualaikum…” ucap suara dari luar pintu.


Kontan saja suara tangisan Arin dan Dewi terhenti, mereka seakan- akan baru tersadar telah larut kedalam keharuan. Buru- buru mereka melepaskan pelukkannya satu persatu sembari mengikuti langkah Dewi yang berjalan kearah pintu yang berada dibelakang Kosim untuk membukakannya.


 Tok… tok… tok…


“Assalamualaikum…” kembali suara ucapan salam dan ketukan pintu dari luar terdengar.


“Wa alaikum salam,” balas Dewi seraya membuka pintu.


Kreeeeooootttt….


Setelah pintu terbuka, Dewi melihat di depan pintu sudah berdiri Mahmud, Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin buru- buru ia


mengusap air matanya yang masih nampak membasahi kedua pipinya.


“Kenapa Wi?!” tanya Mahmud cemas.


“Ada apa Wi, kenapa kamu menangis?!” susul Abah Dul panik yang langsung menduga- duga telah terjadi sesuatu pada Dede.


“Kamu habis menangis Wi? Ada apa?!” serga Mahmud kian penasaran.


Tanpa menjawab terlebih dahulu, pelan- pelan Dewi melebarkan pintu yang baru dibuka setengahnya, seraya baerkata; “Mas, Bah, Gus Harun, ustad, mari- mari masuk. Lihat ada siapa didalam mas?”


Dengan diliputi perasaan penuh penasaran, Mahmud segera melongokkan kepalanya melewati pundak Dewi yang masih berdiri persis


dihadapannya.


“Kosim…?!” ucap Mahmud terkesiap kaget.


Mendengar Mahmud menyebut nama Kosim membuat Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin seketika terkesiap kaget. Berarti Dewi atau juga Arin dapat melihat wujud Kosim? Begitu kata didalam benak mereka yang sama-


sama merasa mustahil kalau Dewi dapat melihat Kosim.


Dewi segera menggeser posisinya memepet hingga menempel ke daun pintu tatkala Mahmud bergegas masuk disusul Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin.

__ADS_1


Seketika pandangan Mahmud, Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin terbelalak melihat sosok lelaki muda sedang menggendong anak kecil dan seorang wanita muda berdiri disampingnya sedang memegang erat lengan lelaki muda tersebut.


“Sim, kamu hidup kembali?!” tanya Mahmud spontan sambil meraih pipi Kosim dan memegangnya.


Namun disisi lain, pertanyaan Mahmud tersebut seketika membuat Dewi dan Arin langsung tersadar sepenuhnya kalau Kosim sebenarnya sudah meninggal dunia. Dewi mendekap mulutnya sendiri sambil membelalakkan matanya menelisik memandangi Kosim. Wujud Kosim memang benar- benar nyata adanya, tidak seperti orang yang sudah meninggal. Namun hati kecilnya terus bergejolak antara


percaya dan tidak melihat sosok Kosim.


Begitu pula dengan Abah Dul, dia langsung mendekati Kosim dan berdiri disampingnya sembari memperhatikan wujud Kosim dari kepala hingga ujung kaki. Sementara Gus Harun, Basyari dan Baharudin juga terkejut melihat


wujud Kosim secara nyata. Bagi Basyari dan Baharudin, memang baru sekali ini melihat wujud Kosim yang sesungguhnya, karena keduanya hanya melihat Kosim dalam wujud arwah saja.


“Sim, apakah kamu hidup kembali?!” Abah Dul mengulang pertanyaan yang dilontarkan Mahmud.


Semua mata tertuju kearah Kosim, pandangan mereka sama- sama menantikan jawaban dari Kosim. Dan didalam benak mereka sangat berharap jawaban dari Kosim tersebut akan mengiyakan pertanyaan Mahmud dan abah Dul. Yang artinya Kosim benar- benar masih hidup di dunia ini.


Kosim yang menggendong putranya, langsung tersenyum simpul. Tidak mengiyakan namun juga tidak membantahnya. Dirinya tidak sampai hati untuk menjawabnya sekarang. Karena jawabannya pasti akan membuat semua orang- orang yang disayanginya, orang- orang yang punya empati dengan dirinya akan kecewa


mendengarnya.


Melihat kosim menjawab hanya dengan senyuman membuat Arin, Dewi serta semuanya dibuat semakin penasaran. Sebelum Mahmud dan Abah Dul kembali meminta jawaban dari Kosim, Kosim langsung mengalihkan topik pertanyaan tersebut.


“katanya mau jemput Dede pulang kang Mahmud,” ujar Kosim.


“Iya ayah Mamud, ayo pulang. Dede pengen tidur di kamar Dede,” timpal Dede merajuk.


“Dede sudah sehat?” tanya Abah Dul menggoda Dede.


“Dede nggak sakit kok pakde,” jawab Dede dengan suara menggemaskan.


Abah Dul dan Mahmud seketika mengerutkan dahinya, mereka melihat ada perubahan yang mencolok pada anak tersebut. Sekarang anak itu lebih aktif dan lebih lancar bicaranya seperti selayaknya bocah berusia jauh diatasnya.


“Cepat ayah Mamud, Dede pengen pulang!” seru Dede merajuk.


“Iy, iya De. Ayo kita pulang sekarang,” balas Mahmud.


Mahmud dan Abah Dul serta yang lainnya pun serta merta teralihkan fokusnya tak lagi menunggu jawaban kepastian dari Kosim. Mahmud, Abah Dul dan Gus Harun terkesima melihat perubahan pada anak tersebut. Sedangkan Basyari dan Baharudin nampak biasa saja karena mereka baru pertama kali melihat

__ADS_1


Dede.** BERSAMBUNG


__ADS_2