
Waktu sudah memasuki diputaran jam 8 pagi. Sesekali terdengar gemuruh dari atas langit diselingi suara petir yang menggelegar dibarengi kilatan- kilatan berpendaran di langit. Bahkan suaranya sampai dapat menggetarkan jendela dan prabotan yang ada di rumah Mahmud. Cuaca diluar tampak redup dipayungi mendung tebal semenjak subuh hari.
Diantara ketiga orang yang sedang duduk di ruang tamu rumah Mahmud, Abah Dul, Gus Harun dan Mahmud, nampak hanya wajah Abah Dul sendiri yang kelihatannya sangat cemas. Berkali- kali Abah Dul menekan nomor kontak di hapenya, akan tetapi nomor yang di hubunginya selalu saja terdengar sahutan
dari operator selulernya.
“Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang
berada di luar jangkauan. Silahkan menunggu beberapa saat lagi.”
Setiap kali dapat sambutan dari suara merdu sang operator seluler, saat itu juga Abah Dul menghela nafas lalu dihembuskannya dengan berat. Sedikit kesal bercampur cemas mengingat waktu yang semakin mepet.
“Kenapa Dul? Masih belum tersambung juga?” tanya Gus Harun mengernyitkan dahinya.
“Iya nih Gus, ada apa dengan mereka ya?” sahut Abah Dul.
“Dua- duanya sama tidak tersambung Dul?” tanya Gus Harun turut
penasaran.
“Njih Gus,” jawab Abah Dul.
Sudah sedari usai sholat subuh, Abah Dul mencoba menghubungi Basyari maupun Baharudin melalui sambungan telpon, namun tak satu pun dari kedua orang itu yang tersambung.
“Gimana nih Gus, sudah semakin siang,” keluh Abah Dul sambil menoleh melihat jam dinding diatas kepala Mahmud yang duduk di hadapannya.
Gus Harun langsung terdiam, rautnya tampak berpikir keras hingga keningnya jelas terlihat berkerut dalam- dalam. Begitu pula dengan Abah Dul yang langsung larut dalam segala pemikirannya. Sedangkan Mahmud tak turut memberikan komentar atau pun bertanya, ia hanya memperhatikan keadaan saja.
Suasana menjadi hening, semuanya terhanyut masuk kedalam pikirannya masing- masing. Abah Dul sendiri membayangkan apa jadinya apabila sampai malam nanti tidak kunjung ada kabar dari kedua sahabatnya, Basyari dan Baharudin. Rasanya tak akan mampu seandainya tetap menjalankan rencana penyerangan untuk
mengambil arwah putranya Kosim itu hanya dengan mereka bertiga plus arwah
Kosim.
Meskipun mendapat bantuan dari mahluk golongan Kaziman yang dibawa Kosim, belum tentu dapat menumpas prajurit- prajurit Kalas Pati yang jumlahnya ribuan. Jelas saja akan tidak sebanding dengan jumlah pasukan Kaziman yang jumlahnya tidak sampai setengahnya dari jumlah prajurit siluman monyet.
Begitu pula dengan Abah Dul maupun Gus harun sendiri, meskipun sudah menambah kekuatan ilmunya dan membekali diri dengan senjata pusaka masing- masing, rasanya tetap saja akan sangat sulit untuk dapat mengalahkan raja Kalas Pati. Bahkan kemungkinan terburuknya sebelum mereka sampai bertemu
menghadapi raja Kalas Pati, belum tentu lolos dari hadangan ribuan prajurit
__ADS_1
siluman monyet.
Lain halnya jika Basyari dan Baharudin turut serta bergabung, Abah Dul merasa masih memiliki peluang dan merasa optimis dapat menjalankan rencana dengan berhasil. Sebab taktik dan strategi yang sudah di bahas sebelumnya melibatkan peran serta kedua sahabatnya itu. Jika Baharudin dan Basyari tidak
jadi ikut, alhasil rencana yang sudah matang itu tak akan bisa berjalan sebagaimana mestinya. Dan hanya akan menimbulkan pertarungan yang sia- sia tanpa ada hasil.
Membayangkan itu semua membuat wajah Abah Dul semakin terlihat muram. Rautnya wajahnya menyiratkan kecemasan, ketegangan, khawatir dan marah. Dirinya merasa marah dengan keadaan yang saat ini tidak sesuai dengan rencananya. Kedua sahabatnya tidak ada kabarnya sama sekali.
“Punten, mas Mahmud sarapannya sudah siap,” tiba- tiba suasana hening pecah seketika oleh suara Dewi yang muncul di ruang tamu membuat ketiga orang itu tersentak kaget. Meski pun suaranya setengah berbisik kepada Mahmud, namun tetap saja terdengar jelas karena saking heningnya.
“I, iya Wi,” sahut Mahmud masih belum hilang rasa kagetnya.
“Kita sarapan dulu Gus, Bah,” sambung Mahmud kepada Abah Dul dan
Gus Harun.
“Njih, kang,” sahut Gus Harun.
“Monggo Gus,” timpal Abah Dul.
Didahului Mahmud, ketiganya beranjak menuju ruang tengah yang hanya bersebelahan dengan ruang tamu sedikit kebelakang.
kesukaan Gus Harun serta ikan mujaer goreng. Sungguh sangat menggoda selera napsu makan.
“Wah, karena saya mbak Dewi dan mbak Arin jadi direpotin yah,” ucap Gus Harun.
“Ah. Nggak kok Gus, kami malah sangat senang Gus Harun masih mau silahtirahmi kesini lagi,” ujar Dewi yang di anggukkan oleh Arin.
“Masih ingat saja mbak kalau saya suka lalapan petai, hehehe…” seloroh Gus Harun.
“Tentu dong Gus, kebetulan semua ini dari kebun dan empang sendiri Gus,” balas Dewi.
“Monggo, monggo Gus, Bah silahkan,” sambung Dewi mempersilahkan mereka menyantap hidangan.
Untuk sementara kecemasan yang sempat terpikirkan oleh Gus Harun dan Abah Dul dapat tersisihkan. Ketiganya menikmati hidangan di pagi hari itu dengan suasana penuh kekeluargaan. Sayangnya Kosim sudah pamit lebih dulu
setelah memberikan kabar tentang situasi di kerajaan siluman monyet serta memastikan kesiapan pasukannya.
Disela- sela menyantap makanannya, Gus Harun merasa ada yang mengganjal dihatinya seperti ada sesuatu yang hilang dari suasana makan bersama tersebut.
__ADS_1
“Seperti ada yang kurang, apa ya?” ucap Gus Harun.
Seketika mereka saling berpandangan satu sama lain, seakan- akan mengatakan kalau perasaan mereka pun sama seperti apa yang Gus Harun ucapkan. Ya, rupanya didalam hati masing- masing sudah menebak apa yang dimaksud dari ucapan Gus Harun itu. Mereka semuanya teringat dengan suasana saat Kosim masih hidup.
Terlebih Arin, ucapan Gus Harun itu mempertegas perasaannya yang sedang mengingat Kosim saat- saat terakhir kali makan bersama dengan mereka ditempat yang sama, tempat yang mereka duduki saat ini. Wajah Arin seketika
berubah menunjukkan kesedihan yang mendalam.
“Mm, maaf mbak Arin bukan maksud saya mengingatkan kembali pada suamimu,” buru –buru Gus Harun mengklarifikasi ucapannya.
Gus Harun menyadari kalau ucapannya itu ternyata mengingatkan kembali kenangan terhadap Kosim di tempat ini. Padahal sebenarnya secara kebetulan Arin sendiri sedang terkenang- kenang dengan Kosim disaat makan
bersama seperti ini.
“Nggak apa- apa Gus. Kebetulan saya memang sedang terbayang mengingat kang Kosim karena situasi makan bersama seperti ini,” sahut Arin tersenyum getir.
Mereka pun kembali tenggelam dalam suasana menikmati sarapan bersama. Meskipun waktunya mungkin tidak tepat karena saat ini sudah pukul 8.45 wib.
Beberapa saat acara sarapan bersama pun selesai, didahului Gus harun kemudian Abah Dul serta Mahmud.
“Loh, kok nggak ada yang nambah sih makannya,” seloroh Dewi.
“Sudah cukup kenyang mbak Dewi,” ujar Gus Harun.
“O iya, mbak Dewi nggak berangkat kerja? Apa karena kedatangan saya ya jadi mengganggu aktifitas mbak Dewi,” sambung Gus Harun.
“Ah, nggak kok Gus. Kebetulan saya ijin absen sampai hari sabtu Gus,” jawab Dewi.
Tiba- tiba obrolan itu terputus oleh suara seseorang dari luar mengucapkan salam dengan nada panik.
“Assalamualaikum… Assalamualikum… Kang Mahmud! Kang…!”
“Seperti suara pak RT,” timpal Mahmud.
“Wa’ alaikum salam…” sahut Mahmud lalu segera beranjak menuju
depan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1