Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
FITNAH


__ADS_3

Saat Hariri dan pak Diman sampai di rumah, semua masih berkumpul di ruang tengah. Suasana kekeluargaan terasa makin kental antara Dewi, Arin, Dede dan keluarga pak Harjo.


Rasa canggung diantara mereka sudah tidak tampak lagi. Bahkan Dede asyik bermain dengan Hariri berlarian kejar- kejaran kesana kemari di dalam rumah.


"Hari sudah sore pak Harjo, bu Harjo kami harus pamit pulang," ucap Dewi ditengah- tengah keakraban yang telah terjalin.


Bu Harjo dan Pak Harjo seketika langsung menunjukkan gestur kecewa. Disaat keakraban sudah terjalin, disaat suasana mulai terasa bahagia dan menyenangkan tiba- tiba harus berakhir.


Hasan yang duduk di samping bapaknya langsung tertunduk lesu. Seketika itu juga hatinya berasa seperti ada yang hilang. Kebahagiaan yang sedang berbunga di hatinya tiba- tiba kembali layu, Hasan nampak sangat kecewa mendengar keputusan Dewi.


"Aduh mbak Dewi, apa tidak sebaiknya besok lagi saja pulangnya. Lihat tuh nak Dede masih asyik bermain dengan Hariri," sergah Bu Harjo.


"Iya mbak, besok saja pulangnya," bujuk Pak Harjo.


"Iya mbak besok saja ya, biar nanti saya sendiri yang antar," kata Hasan spontan, entah keberaniannya berbicara seperti itu muncul begitu saja dalam benaknya.


Mendengar ucapan Hasan, Dewi langsung senyum- senyum sambil melirik kearah Arin yang terpekur sedari tadi. Begitu pula denganPak Harjo dan Bu Harjo, keduanya langsung saling menoleh berpandangan lalu salinh tersenyum seolah- olah memahami ada maksud terselubung yang dikatakan oleh putranya tersebut.


Lantas tanpa ada yang mengomandoi, Pak Harjo, Bu Harjo, serta Dewi sama- sama menoleh kearah Arin yang masih menundukkan kepalanya dalam- dalam. Jari- jarinya terlihat memainkan kemasan gelas air mineral.


Beberapa saat lamanya Arin baru menyadari kalau semuanya sedang memperhatikan dirinya. Cepat- cepat Arin mengangkat wajahnya lalu menoleh kearah Dewi, kemudian berganti melihat kearah Pak Harjo dan Bu Harjo.


"A, eh kok pada lihatin saya semua, ada apa ya? Mbak? Pak, bu?" tanya Arin spontan.


Kedua pipi Arin tampak merah merona tak bisa disembunyikan diri dari gejolak perasaannya yang sedang berbunga- bunga. Diamnya Arin sejak dari kamar kecil pun sebenarnya telah menjadi pusat perhatian kakaknya serta Pak Harjo dan Bu Harjo, namun Arin tidak menyadarinya karena terus menundukan kepala terpekur.


"Hehehe... Gimana ya bu, pa... Kami merasa tidak enak, nanti bisa jadi gunjingan warga kalau kami menginap pak bu," kilah Dewi memberikan alasan yang sebenar- benarnya.


Perkataan Dewi yang tetap kekeh menolak untuk menginap, kembali membuat hati Hasan dan Arin bertambah kecewa. Tanpa sadar wajah Hasan dan Arin langsung berubah murung.


"Ya sudah kalau mbak Dewi tetap tidak bisa sih nggak apa- apa bisa lain waktu. Nak Dede... Sini sebentar nak," kata Bu Harjo lalu memanggil Dede yang masih bermain dengan Hariri di ruang tamu.

__ADS_1


Nampaknya upaya untuk mencegah Dewi dan Arin pulang tidak bisa lagi dilakukan Bu Harjo dan Pak Harjo. Ada gurat kekecewaan bercampur dengan kesedihan di raut wajah Bu Harjo dan Pak Harjo serta Hasan.


"Dek, itu dipanggil nenek. Ayo kita balapan ke nenek, kalau Dede duluan sampai ke nenek kakak akan ngajak Dede jajan. Siap dek?" kata Hariri.


"Ayo kak, pasti Dede yang menang!" seru Dede girang bukan main.


"Ayo tunggu kakak hitung ya, satu... Dua... ti," belum juga Hariri selesai menghitung Dede sudah langsung melesat lari kearah Bu Harjo sambil tertawa riang.


"Hikhik... hikhik... Horeeeee Dede menaaaang... Dede menaaaang...!" seru Dede langsung loncat keatas pangkuan Bu Harjo begitu sampai.


Hariri hanya tertawa- tawa melihat tingkah lucu Dede. Awalnya Hariri memang sudah berniat sengaja mengalah agar Dede merasa senang, tetapi ternyata Dede lebih dulu mencuranginya.


"Nak Dede, itu bundanya mau pulang katanya," kata Bu Harjo dengan dibumbui nada provokasi agar Dede tidak mau pulang.


"Dede nggak mau pulang ah bundaaa....!" teriak Dede lalu berlari lagi kearah Hariri yang masih berjalan ke ruang tengah.


"Tuh mbak Dewi, mbak Arin Dedenya betah disini tuh," ujar Bu Harjo merasa senang.


Dewi melirik Arin sekilas, ia sangat tahu perubahan pada ekspresi adiknya itu. Dewi sedari tadi diam- diam telah memperhatikan sikap Arin yang semula terlihat muram kini langsung kembali sumringah.


"Tapi bu, pak apakah nantinya tidak kenapa- napa kami menginap disini?" tanya Dewi akhirnya melunak.


"Ya, nggak apa- apa toh mbak Dewi. Nanti ibu siapin dulu kamarnya ya, wah ibu sangat senang sekali loh mbak Dewi," timpal Bu Harjo gembira, lalu pemitan pergi ke kamar yang berada si seberang ruang tamu.


"Mari saya bantu bu," sergah Arin tiba- tiba saat melihat Bu Harjo beranjak pergi. Naluri sebagai wanitanya lah yang membuatnya tergerak untuk membantu.


"Wahhh, matur nuwun loh mbak Arin ibu sangat senang sekali," ucap Bu Harjo lalu menggandeng tangan


Arin.


Hasan menyunggingkan senyum saat memperhatikan keakraban Arin dan ibunya, hatinya merasa sangat senang melihatnya. Angannya melambung tinggi jauh membayangkan masa depannya yang seolah- olah Arin adalah jodohnya.

__ADS_1


Tanpa disadari, Hasan menghela nafas panjang lantas terlihat senyum-


senyum sendiri sembari menengadahkan wajahnya melihat langit- langit rumah dengan tatapan kosong.


Wajah Arin yang merona merah masih terbayang- bayang dalam ingatannya saat dirinya dan Arin saling bertubrukkan. Debaran- debaran halus


didadanya mengalir deras membangkitkan gairah semangatnya ingin selalu dekat dengan Arin. Rasa itu muncul dalam dirinya begitu saja, ada rasa suka yang tak dapat dipungkiri sejak pandangan pertama saat memperkenalkan diri.


Perbedaan usia Arin dan Hasan tak terlalu jauh, mungkin hanya terpaut 2 tahunan diatas usia Arin. Wajah Arin yang masih terlihat cantik, kulitnya putih, kedua matanya bulat dengan bulu lentik semakin menambah kesan manis berbaur didalam wajah cantiknya. Tinggi tubuhnya lumayan proporsional untuk ukuran seorang perempuan yakni sekitar 165 cm, meski sudah memiliki seorang anak namun bentuk tubuhnya tak kalah dengan gadis- gadis perawan di desa Palu


Wesi, berisi dan terlihat sintal.


“San…” panggil pak Harjo, namun Hasan masih asyik senyum- senyum sendiri menatap langit- langit rumah tak mendengar panggilan bapaknya.


“Hasan…” suara pak Harjo lebih keras sedikit memanggil Hasan. Tetapi Hasan masih cuek dengan tingkah yang sama.


Melihat itu Dewi tertawa kecil, instingnya sebagai wanita tidak salah menebak kalau Hasan sebenarnya memiliki perasaan dengan adiknya


jika dilihat dari gerak- geriknya. Jauh di lubuk hatinya, Dewi hanya bisa berharap kalau Hasan dapat menggantikan posisi Kosim bagi adiknya dan keponakannya tersebut. Meski baru mengenal dan melihat Hasan, Dewi punya keyakinan kalau


Hasan orangnya baik dan sudah mapan lagi.


“San! Hasan!” seru pak Harjo yang merasa kesal di cuekin oleh putranya.


“Eh, iy, iya pak. Kenapa pak?!” tanya Hasan tersentak kaget.


“Itu bantuin ibu dan Arin sana, malah bengong,” ujar bapaknya.


Hasan langsung bangkit dari duduknya mendengar nama Arin disebut dan segera beranjak pergi ke kamar tamu dimana ibu dan Arin sedang beres- beres disana. Dewi semakin tertawa geli melihat gelagat tanda- tanda


orang yang sedang kasmaran seperti yang diperlihatkan Hasan.* BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2