
Tuan Denta terkesiap merasakan tebasan pedangnya seperti mengenai sebuah tameng yang keras hingga merasakan pedangnya sedikt membal, saat bersamaan matanya sempat melihat ada selarik cahaya yang menahan laju pedangnya ketika akan mengenai leher Ki Suta. Belum sirna keterkejutannya, mata tuan Denta menangkap selarik cahaya kuning keemasan yang melesat keatas menembus atap gubuk membawa serta tubuh Ki Suta menghilang dari gubuk kayu tersebut.
Tuan Denta tak tinggal diam, ia langsung melesat mengejar cahaya kuning keemasan tersebut dengan menampakkan cahaya merah yang mengekor di belakangnya. Cahaya kuning keemasan itu melesat cepat memasuki dimensi lain dengan alamnya berwarna kelabu diselimuti kabut pekat, tuan Denta terus mengejar cahaya itu hingga ikut masuk ke alam tersebut.
Kedua cahaya itu terus melesat menyeruak menyibak kabut-kabut tersebut dengan kilatan cahaya meninggalkan bekas garis lurus yang membelah kabut pekat febgan cepat. Hingga beberapa saat kemudian cahaya kuning keemasan itu terlihat memasuki sebuah gerbang istana yang juga berwarna emas yang bersinar berkilauan dari kejauhan.
Tuan Denta menghentikan pengejarannya, dia berdiri mematung di depan gerbang tinggi besar dan kokoh berwarna hitam legam itu. Wajahnya mengerut dalam-dalam menatap bangunan istana berwarna emas di hadapannya lalu memeperhatikan situasi di sekelilingnya, nampaknya tuan Denta sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Sepertinya aku pernah ke tempat ini.” Ucap tuan Denta mencoba mengingatnya.
Ingatannya timbul tenggelam menatap di sekitaran tempatnya berdiri. Sekilas ada gambar masa lalu yang muncul pada ingatannya dimana dirinya berdiri sambil menggenggam pedang yang sama, lalu bayangan itu kembali lenyap dari ingatannya yang membuat kepalannya merasa pusing.
Tuan Denta nampak ragu-ragu sambil menatap megahnya istana berwarna keemasan di depannya, dirinya bimbang antara melanjutkan pengejaran ataukah kembali ke tempat Gus Harun yang sedang menolong Abah Dul. Firasatnya mengatakan di dalam istana itu ada banyak ancaman yang yang sudah siap menyambutnya.
Tuan Denta pun memutuskan untuk tidak meneruskan pengejarannya dan segera kembali ke rumah Mahmud, tapi tiba-tiba Tuan Denta kembali berhenti saat hendak pergi dari tempat itu sambil memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar.
Sedetik kemudian di dalam ingatannya mendadak membentang sebuah rangkaian peristiwa pertempuran kolosal yang melibatkan dengan banyak prajurit dari pasukan yang sangat dia kenal melawan sekawanan prajurit berpostur monyet. Akan tetapi sesaat kemudian ingatan itu kembali menghilang dari kepalanya sehingga meninggalkan kepeningan di kepala tuan Denta. Dia berusaha keras untuk mengingat semua itu namun hanya mengakibatkan rasa sakit di kepalanya saja karena tak juga berhasil mengingatnya.
Akhirnya cepat-cepat tuan Denta melesat dari tempat tersebut untuk kembali menuju rumah Mahmud dimana Gus Harun sedang membantu Abah Dul.
......................
Malam semakin larut menghembuskan udara dinginnya melalui celah-celah kisi-kisi jendela. Wajah lelah Abah Dul terlihat kuyu dengan keringat masih bercucuran di dahinya. Mahmud mengulurkan segelas air putih pada Abah Dul lalu segera di sambut oleh Abah Dul dan langsung menenggaknya hingga tandas tak tersisa.
Abah Dul memejamkan matanya kemudian menoleh ke samping kanannya dan bergumam mengucapkan terima kasih. Ustad Arifin menolehkan kepalanya pada Mahmud memandang dengan sorot mata penuh tanda tanya, Mahmud mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Ente harus istirahat Dul, kondisi ente dalam keadaan tidak baik- baik saja. Lupakan dulu soal rencana besok malam membuat perhitungan dengan Raja Kalas Pati," ucap Gus Harun dalam tampilan tak kasat mata.
Abah Dul hanya menganggukkan kepalanya sambil mengatupkan bibirnya kelu tak membalas ucapan Gus Harun. Abah Dul menyandarkan punggungnya pada tembok karena merasakan sekujur tubuhnya sangat lemah dan letih.
Mahmud dan ustad Arifin bergerak serempak memegangi lengan Abah Dul berupaya membantunya menemukan posisi duduknya yang nyaman. Di saat itulah Mahmud dan ustad Arifin merasakan sebuah desiran angin melintas diatas kepalanya. Keduanya sempat mendongak kebatas namun tak menemukan apa- apa.
Namun keduanya melihat wajah Abah Dul seperti terkaget bersamaan dengan hembusan angin itu datang, lalu berusaha tersenyum meskipun terlihat kaku dalam kelemasannya dan mrngangguk.
Abah Dul melihat kedatangan tuan Denta lalu duduk di hadapannya diantara Mahmud dan ustad Arifin. Wajah tuan Denta terlihat cemas memandangi kondisi Abah Dul.
Gus Harun menoleh pada tuan Denta seraya bertanya; "Bagaimana tuan?! Berhasil mengejar orang yang menyerang Dul?!"
Tuan Denta menggelengkan kepala penuh penyesalan, kemudian dia menceritakan semua peristiwa pengejarannya. Dan saat menceritakan pengejarannya sampai pada istana, Gus Harun langsung menyela berseru; "Raja Kalas Pati!
Ingatan Tuan Denta langsung membentang luas membeberkan pada sebuah peristiwa pertempuran ratusan tahun yang silam. Kini dia benar-benar ingat semuanya terutama dengan istana bercahaya kuning keemasan sehingga membuatnya mengangguk-anggukkan kepala tanpa sadar.
Tuan Denta juga menceritakan tentang pertarungannya dengan seseorang manusia tua yang hampir berhasil membinasakannya sebelum di selamatkan cahaya kuning keemasan itu.
"Seorang manusia tua?!" ucap Gus Harun kemudian mengingat- ingat mencari tahu siapa manusia tua yang di maksud tuan Denta.
"Bukankah Mbah Utung sudah tewas?!" sela Abah Dul tiba-tiba.
"Siapa mbah Utung Dul?!" sergah Gus Harun.
Abah Dul mengira kalau Gus Harun tahu tentang Mbah Utung, tetapi perkuraannya salah. Abah Dul mencoba mengingat- ingat lagi pada saat bentrok dengan Mbah Utung sekitar 3 bulan yang lalu ketika berusaha membawa nyawa Kosim. Dan ia pun baru menyadari, pada saat mbah Utung mencekik Kosim itu tidak ada Gus Harun di rumah Mahmud. Dengan pelan-pelan dan singkat Abah Dul pun menceritakan tentang sosok mbah Utung pada Gus Harun dan tuan Denta.
__ADS_1
Melihat Abah Dul berbicara sendiri, membuat Mahmud dan ustad Arifin mengernyitkan kening sambil memandang satu sama lain penuh keheranan. Namun keduanya hanya diam saja memperhatikan Abah Dul tanpa menyela atau berniat mencegahnya.
Mahmud penasaran melihat gelagat Abah Dul yang berbicara sendiri, ia berpikir pasti Abah Dul sedang berbicara dengan mahluk tak kasat mata. Tanpa memberitahu ustad Arifin, lantas Mahmud pun mengucapkan, "Mata Batin!"
Sesaat kemudian wajah berubah Mahmud terkesima, di sekitarnya ia melihat sosok Gus Harun dan tuan Denta. Ustad Arifin sontak kian bingung melihat perubahan ekpresi Mahmud yang terkejut setelah mendengar mengucapkan 'mata batin'.
Instingnya langsung bekerja dan mengatakan kalau Mahmud sedang melihat mahuk tak kasat mata. Ia pun segera membaca amalan untuk dapat melihat mahluk tak kasat mata.
"Subhanallah!" seru ustad Arifin dengan wajah terkesiap kaget.
Gus Harun dan tuan Denta dengan santainya menoleh kearah Mahmud dan ustad Arifin sambil tersenyum. Gus Harun mengerutkan kening saat menoleh kearah ustad Arifin yang baru pertama kali melihatnya. Awalnya Gus Harun tidak terlalu memperhatikan ustad Arifin karena tidak melihat wujudnya saat ini.
Ustad Arifin yang menyadari ekpresi Gus Harun yang belum mengenalnya, seketika ustad Arifin mengulurkan jabat tangan mengenalkan dirinya.
"Assalamualaikum, saya Arifin..." ucap ustad Arifin.
Giliran Mahmud yang terkejut karena tiba-tiba ustad Arifin mengenalkan dirinya pada Gus Harun berarti ustad Arifin juga sedang mengerahkan mata batinnya. Mahmud pun buru-buru menyambungnya, "Oh iya Gus perkenalkan ini ustad Arifin, ustad ini Gus Harun dan tuan Denta," sergah Mahmud.
Gus Harun tersenyum menyambut uluran jabat tangan ustad Arifin lalu ustad Arifin beralih jabat tangan dengan tuan Denta dan tuan Denta pun menyambut uluran tangan ustad Arifin.
"Kang Mahmud sekarang sudah bisa melihat dengan mata batin?" tanya Gus Harun baru sadar.
Mahmud hanya senyum-senyum sambil mengangkat jempolnya lalu di tunjuk-tunjukkan pada tuan Denta. Sesaat Gus Harun mengerutkan dahinya belum mengerti maksud Mahmud tetapi sesaat kemudian dia tertawa mengerti setelah Abah Dul menjelaskannya. Beberapa saat suasana menjadi semarak karena derai tawa lalu kemudian mereka kembali serius untuk membahas sosok manusia tua yang di kejar tuan Denta.
......................
__ADS_1