
HARI KE-5 MENJELANG PURNAMA,
"Mas, di medsos lagi viral pelaku Babi ngepet ketangkep," kata Dewi pada Mahmud.
"Hehehehe... Ya semalam berkat Abah Dul dan Mang Ali tuh Wi semuanya terungkap," jawab Mahmud tersenyum.
"O, jadi semalam nggak ada orang di rumah ini Mas?!" Dewi sedikit terkejut.
"Iya pada kesana semua, nangkep si Babi itu..." terang Mahmud.
"Siapa pelakunga Mas?!" Sela Arin tiba-tiba muncul di pintu.
"Bu Parni Rin," ujar Mahmud.
"Hmm.. kurang ajar tuh emak-emak! Dia tuh yang nyebarin gosip di warung tuh Mas!" Sungut Arin.
"Ya ya ya, sebagian warga juga sudah minta maaf sama Kosim Rin. Mereka juga mengaku kalau yang menghasut dan menyebar memfitnah Kosim itu bu Parni," terang Mahmud.
"Terus gimana kelanjutannya Mas?" Sergah Dewi.
"Suaminya mati diamuk warga sedangkan bu Parni kayaknya menjadi gila. Terakhir saya liat tingkahnya seperti orang gila melihat suaminya dianiaya didepan matanya," jelas Mahmud.
"Syukurin!" Tukas Arin.
"Husss! Nggak boleh begitu Rin," sergah Dewi.
"Habisnya Mbak, dia udah bikin malu. Dia mencoreng nama baik Mas Kosim dan keluarga Bapak Haji Samsuri, sih!" Sungut Arin.
"Loh, kok bawa-bawa bapak segala." Ujar Dewi.
"Mereka duluan yang mulai Mbak. Katanya menantunya Haji Samsuri ngelakuin pesugihan, itukan sudah bawa-bawa bapak." Ujar Arin.
"Sudah, sudah... Arin ikhlaskan kejadian yang sudah lalu, mereka sudah kena karmanya." Kata Mahmud.
"Wi, udah jam tujuh tuh, mau berangkat kerja nggak?" Mahmud mengingatkan.
"Iya Mas. Ya sudah saya berangkat Mas. O ya, Kosim udah berangkat kerja, Rin?" Kata Dewi.
"Barusan tidur Mbak," ujar Arin.
"Iya nih, saya juga mulai berat kepalanya. Ngantuk," sela Mahmud.
"Ya udah deh, saya berangkat dulu ya Mas, Rin.." kata Dewi sambil mencium tangan suaminya dan menyalami Arin, adiknya.
Dewi pun bergegas pergi berangkat kerja, sementara Arin meneruskan kerjaannya di dapur dan Mahmud melangkah masuk ke kamarnya untuk tidur.
Kejadian di rumah Kosim subuh tadi sengaja tidak diceritakan Mahmud agar tidak membuat Dewi khususnya Arin cemas dan khawatir.
Sepulang dari rumah Kosim sekitar pukul 5.30 wib, Abah Dul dan Mang Ali langsung pulang ke rumahnya masing-masing. Mungkin mereka juga sama dengan Mahmud dan Kosim, tidur.
Sementara itu di kampung tempat tinggalnya Kosim, masyarakat ramai membicarakan peristiwa penangkapan pelaku babi ngepet semalam. Kampunya menjadi sorotan publik dan viral setelah ada yang mengunggahnya di media soaial.
__ADS_1
Hampir semuanya memuji Abah Dul, Mang Ali, Mahmud dan Kosim, masyarakat hanya mendengar berkat keempat orang itu pelaku babi ngepet terungkap.
Seperti di warungnya bi Sumi, beberapa ibu-ibu yang kemarin-kemarin dengan riangnya bersama ibu Parni mencibir Arin terlihat sikapnya malu-malu saat berbelanja dan buru-buru pergi setelah selesai membayar saat mendengarkan ibu-ibu lainnya membicarakan Parni.
"Kasihan ya Kosim dan Arin kemarin sempat di geruduk rumahnya," kata bu Tirah.
"Kosim malah sempat dipukuli tuh bu," ujar bu Sani.
"Hallahh' kamu juga ikut-ikutan teriak toh bu," celetuk bu Fadil.
"Hehehe... iya bu, saya nggak tau sih. Saya disuruh Bu Parni," ujar bu Sani.
"Nggak nyangka ya, bu Parni sebusuk itu." Sambungnya.
"Kebaikannya hanya untuk menutupi perbuatan jahatnya ya bu," sela bu Tirah.
"Iya,"
"Ho-oh,"
"Sekarang kena karmanya, bu Parni jadi gila dan suaminya meninggal dipukuli warga." Ucap bu Sani.
"Eeee, nggak baik ngomongin orang, ayo belanja apalagi," sergah bu Sumi.
Ibu-ibu itu kontan cekikikan menertawakan diri mereka sendiri.
......................
"Halo assalamualaikum... iya... iya Pak.... Maaf Pak banyak masalah di rumah Pak... tapi Pak.... beri saya kesempatan sekali lagi Pak, saya mohon..."
"Klik"
Sambungan telpon ditutup dari seberang, Kosim duduk termenung diatas tempat tidurnya. Raut wajahnya tergambar jelas sangat kecewa dan menyesali.
"Ya Allah, cobaan apalagi ini?" Gumam Kosim sembari beranjak melangkah lesu keluar kamar.
Kosim berjalan menuju kamar mandi melewati Arin yang sedang nonton televisi di ruang tengah.
"Kenapa Mas, kok murung gitu?" Tanya Arin.
"Mas dipecat Rin," ucap Kosim pasrah.
Baru saja Arin membuka mulutnya hendak bertanya lagi tapi urung dilanjutkan melihat Kosim langsung ngeloyor pergi ke kamar mandi.
Azan Duhur terdengar bersamaan Mahmud keluar dari kamarnya. Dan langsung mendapat berita dari Arin.
"Mas, Kosim dipecat katanya," ujar Arin.
Mahmud menghentikan langkahnya, "Dipecat?" Kata Mahmud.
"Iya Mas, tadi kata Mas Kosim." Ujar Arin.
__ADS_1
Mahmud meneruskan langkahnya menuju dapur untuk minum dan sekalian bikin kopi.
"Sim katanya kamu dipecat?" Tanya Mahmud begitu melihat Kosim keluar dari kamar mandi.
"Iya Mas," jawab Kosim tak semangat.
"Kenapa?" Tanya Mahmud lagi.
"Katanya saya sering nggak masuk," ujar Kosim.
"Biar saya aja sekalian yang bikin kopinya Mas," cegah Kosim melihat Mahmud hendak bikin kopi.
"Oke deh, di ruang tamu ya Sim," ujar Mahmud.
"Enaknya Duhur aja dulu Mas," kata Kosim mengingatkan.
"Iya, ya. Iya deh," balas Mahmud.
Tanpa disadari buntut akibat dari 'Perjanjian Gaib' yang dilakukan Kosim membuat rutinitas dirinya dan orang-orang disekitarnya menjadi terganggu. Bagi Abah Dul tidak begitu berpengaruh karena memang aktifitasnya banyak dilakukan berkaitan dengan hal-hal supranatural. Tapi bagi Mang Ali dan Mahmud yang seharusnya pagi-pagi sudah berada di kebun dan di sawah, kadang mereka masih tertidur karena hampir setiap malam begadang.
Kosim sendiri seringkali alpa ditempat kerjanya yang saat ini bekerja pada proyek pembangunan perumahan di kota. Kalau tidak sakit, Kosim terpaksa alpa karena kondisinya belum tidur semalaman. Dan Kosim pun terkena imbasnya, kini dia dipecat dari proyeknya.
Kosim dan Mahmud duduk di ruang tamu usai melaksanakan sholat Duhur berjamaah. Diatas meja sudah ada dua gelas kopi hitam dan kue kering.
"Sudah, nggak usah pusing mikiri kerjaan Sim. Untuk sementara kamu bisa ikut panen cabai aja dulu mungkin besok lusa," kata Mahmud membuka obrolan.
"Iya Mas," ujar Kosim.
"Mungkin saya akan kembali jualan cilok Mas, sementara belum ada kerjaan yang bayarannya gede sih," lanjutnya.
"Oh, ya bagus deh kalau begitu sih. Insya Allah Arin juga akan menerima Sim, berapapun penghasilannya," kata Mahmud.
"Saya merasa trauma jualan cilok Mas. Seperti dulu Arin selalu marah menerima hasil jualan yang sedikit. Saya jadi takut," ujar Kosim.
"Insya Allah sekarang Arin nggak seperti itu lagi. Dia sudah mengakui semua perlakuannya sama kamu Sim, dia cerita sama Mbak Dewi. Jadi sekarang, kamu hilangin semua kesan buruk yang pernah dilakukan Arin. Kamu fokus niatkan menjari nafkah halal untuk anak istrimu. Insya Allah, Allah akan memberikan rezeki lebih," terang Mahmud.
Raut wajah Kosim langsung berubah sumringah tak lagi murung. Ucapan kakak iparnya benar-benar melecut semangatnya untuk kembali merintis dagangan ciloknya.
"Amiiin, amiiin... Sebenarnya kalau saya nggak hilap Mas, saya sudah punya rencana sewa kios di pinggir jalan untuk jualan baso dan cilok. Tapi semuanya buyar karena emosi, hehehe..." Ujar Kosim menertawakan dirinya sendiri.
"Mas ayo pada makan dulu," seru Arin dari ruang tengah.
"Iyaa.." sahut Kosim.
Keduanya beranjak dari kursinya dan melangkah ke ruang tengah. Arin sudah menyiapkan makan siang hasil masakannya.
"Assalamualaikum..." terdengar salam dari luar.
"Waalaikum salam, wah kebetulan Dewi pulang. O iya pas jam istirahat." Ujar Mahmud.
Tak lama kemudian Dewi pun muncul di ruang tengah dan langsung bergabung menyantap makan siang bersama.
__ADS_1
......................