Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Petaka Malam ke-21


__ADS_3

Malam sudah merambah jam 20.13 wib Mang Ali, Kosim dan Mahmud masih ngobrol diteras depan rumah Mahmud. Namun Kosim terlihat gelisah seorang diri, hatinya merasakan sangat tidak tenang. Dia tidak mengerti dengan perasaannya saat ini, padahal dipikirannya tidak sedang memikirkan apapun apalagi mengingat peristiwa dirinya nyaris mati setelah sukmanya bethasil ditarik paksa oleh dua iblis suruhan Raja Siluman Monyet.


"Tumben-tumbenan sudah seminggu lewat nggak ada huru-hara. Apa mereka sudah capek ya," ucap Mang Ali memecah kegelisahaan Kosim.


"Lah, barusan sebelum magrib Kosim hampir tidak ketolong Mang Ali. Kosim hampir mati," timpal Mahmud.


"Hampir mati?! Beneran Sim?!" tanya Mang Ali penasaran.


"Iya Mang Ali. Kata Mas Mahmud sih hampir satu jam tubuh saya tak bergerak," jawab Kosim.


"Sim, terakhir kali waktu kamu masih sadar itu pas perjalanan lagi dimana?" susul tanya Mahmud.


"Seingat saya waku di jalan tol saya masih sempat melihat baca tulisan Cirebon Mas. Nah setelah itu, nggak tau antara sadar dan tidak tiba-tiba seperti ada yang menjambak menarik rambut dengan dihentak paksa," terang Kosim dengan mata menerawang mencoba mengingat-ingat lagi.


"Setelah itu gimana Sim, kamu dibawa kemana?" tanya Mang Ali.


"Saya nggak tau itu alam apa Mang. Itu alam suasananya redup pekat seperti tak bertepi, saya ditarik-tarik diseret oleh dua mahluk hitam besar-besar," terang Kosim.


"Seperti apa mahluk itu Sim? sela Mahmud.


"Yang jelas bukan bangsa siluman monyet Mas. Mukanya hampir tidak nampak seluruh wujudnya hitam pekat. Suaranya besar sember menyeramkan," sambung Kosim.


"Bisa sampai kamu kembali balik gimana ceritanya," timpal Mang Ali.


"Abah Dul Mang. Tiba-tiba saja saya melihat ada Abah Dul muncul menghadang, ya akhir bertarung disitu," ungkap Kosim.


"Oh saat kamu sadar terus kamu langsung mencium tangan Abah Dul dan ngucap terima kasih itu karena itu Sim?" sergah Mahmud.


"Hehehe.. iya Mas. Kalau saya langsung cerita nanti Arin dan Mbak Dewi jadi kepikiran dan bakal nanya-nanya terus," ujar Kosim.


"Ya iya juga sih," balas Mahmud.


"Semoga saja itu yang terakhir," timpal Mang Ali.


"Amiin, tadinya saya mengira mereka nggak lagi datang setelah pemusnahan masal di Tegal," ujar Mahmud.


"Disana kalian didatangi juga?" tanya Mang Ali heran sekaligus penasaran.


"Iya Mang Ali. Sepasukan menyerang, Abah Dul marah babat habis tuh tak tersisa," kata Mahmud.


"Seandainya kita tau ada batas akhirnya sih enak. Tapi kita kan nggak tau apakah ada batasnya atau nggak. Mending kalau ada batas waktu tenggat, kalau nggak ada? Kan bakal ronda terus, hikhik..." timpal Mahmud.


"Iya ya Mud. Kalau ada batasnya misalnya sudah kelewat urusannya selesai hangus, hehehe..." ujar Mang Ali.


"Maaaasss... Ayo sudah siap, sekalian Mang Ali juga," seru Mbak Dewi dari dalam.

__ADS_1


"Wah, makan malam Mang Ali. Ayo, Sim..." ajak Mahmud.


Ketiganya beranjak dari duduknya lalu masuk menuju ruang tengah. Nasi serta lauk pauknya sudah tertata rapih menggiurkan.


"Monggo, monggo Mang Ali," ucap Dewi.


"Dedeee, sini sama Ayah. Biar ibu makan dulu," Kosim memanggil anaknya yabg duduk diantara Arin dan Dewi.


Bocah 3 tahunan itu beranjak melewati punggung Arin lalu duduk dipangkuan Kosim dengan riangnya.


"Bu... makan yang banyak, gitu De.." ucap Kosim menirukan suara Dede.


Arin mengambilkan nasi dipiring buat Mang Ali, Mahmud dan Kosim.


"Lauknya pilih sendiri yaa.." ucap arin.


"Lah Abah Dul nggak kesini?" Arin baru sadar.


"Jangan-jangan ketiduran." sahut Mahmud.


"Iya kecapekan munhkin Mas," timpal Dewi.


......................


Malam terus merambah melewati jam 21.30 wib. Mahmud, Kosim dan Mang Ali sudah duduk kembali di teras depan usai makan.


Lama-lama Mahmud memperhatikan kegelisahaan Kosim yang duduknya tak bisa anteng.


"Kenapa Sim?" tanya Mahmud.


"Nggak tau mas. Perasaan saya sangat tidak tenang," jawab Kosim.


Mahmud memperhatikan raut Kosim dengan seksama. Wajah Kosim mengguratkan kecemasan bercampur bingung tetapi entah apa yang dicemaskan dan yang dibingungkannya, Kosim sendiri tidak tahu.


"Apa yang kamu rasakan Sim?" sela Mang Ali.


"Mendadak saya merasa takut Mang Ali. Ada perasaan cemas tapi bingung, ahh pokonya campur aduk dan..." ucapan Kosim tiba-tiba terhenti.


Kosim menutup telinga kanannya. Lalu terdengar suara bisikan yang begitu jelas. Wajah Kosim pun mendadak terbelalak setelah menerima bisikkan itu.


"Mas, punten telpon Abah Dul suruh kesini. Ini gawat Mas, Mang Ali, bener-bener gawat!' ucapan Kosim dengan nada penuh tekanan.


"Oke, oke. Sebentar ambil hape," kata Mahmud sambil bangkit berdiri.


Raut wajah Kosim makin menegang dan gelisah dalam duduknya. Hisapan rokoknya pun tak beraturan menandakan hatinya sangat gundah.

__ADS_1


"Apa mungkin monyet siluman itu bakal datang ya Sim," ujar Mang Ali.


"Filling saya sih begitu Mang Ali. Tapi sewaktu sukma saya dibawa yang melakukan sepertinya bukan golongan monyet, nggak tau mahluk apa tuh Mang Ali," ujar Kosim.


"Kok jadi tambah aneh aja," sambungnya.


Mahmud kembali duduk ditempatnya semula. Dia membuka hapenya, tak sulit mencari nomor kontak Abah Dul karena urutannya berada paling atas. Mahmud pun langsung menghubungi seluler menelpon Abah Dul.


Beberapa saat telpon tak kunjung diangkat hingga terdengar suara dari operator,


"Maaf telpon yang anda hubungi sedang tidak aktif atau diluar jangkauan silahkan menunggu beberapa saat."


"Waduh, nggak aktif lagi," gumam Mahmud.


"Waduh!" ucap Kosim spontan.


"Mang Ali bawa senjata nggak?" tanya Mahmud.


"Ini..." jawab Mang Ali sembari menunjukkan pinggangnya.


Mahmud kemudian mencoba lagi menghubungi telpon Abah Dul. Namun masih tetap dengan jawaban dari operator.


"Apa Abah Dul sedang tidur ya?" ucap Mahmud.


Pertanyaan menggantung Mahmud disambut deru angin kencang yang datang secara tiba-tiba menerpa sekitar teras depan. Suara menderu terasa besar menggoyangkan tubuh Mahmud, Kosim dan Mang Ali.


Suara-suara plantingan gelas-gelas roboh menambah keterkejutan ketiganya. Belum sempat mengetahui apa yang sedang terjadi muncul dihalaman depan teras sosok sangat tinggi dan besar wujud sangat menyeramkan.


Tingginya lima meteran tubuhnya besar dan berbulu hitam lebat. Kulit wajahnya hitam menyerupai wajah kera dengan mata merah menatap tajam kepada Kosim. Di kepalanya terikat melingkar mahkota biasa berwarna kuning keemasan. Kilauan cahaya berkilatan berasal dari perisai didadanya menyilaukan pandangan.


"Hahahahaha... Manusia bernama Kosim cepat ikut denganku!" seru mahluk itu.


Kosim, Mahmud dan Mang Ali terkesiap. Ketiganya gemetaran baru pertamanya ketiganya melihat wujud seseram ini.


Terutama Kosim, mendengar namanya disebut, sekujur badannya langsung gemetar keras. Sesaat otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih. Hanya kekalutan dan kepanikkan yang luar biasa dia rasakan.


Sesaat berikutnya setelah sedikit surut keterkejutannya, Mang Ali merogoh senjatanya dari punggungnya. Keris berwerangka hitam digenggamnya sembari merapalkan mantra. Segera Mang Ali mencabut Keris Sekober dari werangkanya.


Langsung tercium merebak bau yang sangat tidak enak. Bau bangkai bercampur darah keluar dari eluk 7 keris digenggaman Mang Ali. Keris Sekober sekonyong-konyong tahu bakal mendapatkan mangsa kematian.


Mahmud dan Kosim spontan menutup hidung. Kosim dalam kepanikkan diingatkan Mahmud untuk mengeluarkan amalan benteng pertahanan. Kemudian Mang Ali, Mahmud dan Kosim berdiri berjajar di mulut teras. Ditelapak tangan Mahmud dan Kosim tersalur tenaga dalam penuh untuk mengantisipasi kekuatan lawan yang tidak bisa diukur.


......................


Tahan nafas dulu,

__ADS_1


Tinggalin jejak Syayyyy....


Lanjut.....


__ADS_2