
Suasana canda tawa yang sempat tak terdengar lagi dalam beberapa hari terakhir itu kini mereka rasakan kembali. Seakan suasana pagi ini melenyapkan ketegangan, kepanikan, dan kecemasan yang sedang terjadi. Abah Dul dan Mahmud menyalami Gus Harun, Basyari, dan Baharudin secara bergantian sebelum duduk saling berhadapan di atas tikar. Mahmud meletakkan bungkusan kresek plastik berisi makanan di tengah-tengah mereka.
“Bagaimana dengan kondisi anaknya, Kang Kosim, Dul?” tanya Baharudin.
“Alhamdulillah semakin membaik, tapi belum sepenuhnya pulih,” jawab Abah Dul.
“O iya, sebaiknya kita sarapan dulu,” sela Mahmud sambil menunjukkan bungkusan kresek berisi makanan yang dibeli saat pulang dari rumah sakit.
“Waduh, kita sedang ditunggu Kang. Sepertinya nggak bisa sekarang, nanti saja makannya,” cegah Gus Harun.
“Maksudnya, Gus?” Tangan Mahmud tertahan saat hendak mengambil makanan di dalam kresek. Ia terlihat bingung dan tidak mengerti dengan yang dimaksud Gus Harun.
“Kedatangan Tuan Samanta dan Tuan Gosin ke sini untuk meminta kita kembali ke sana, membantu Tuan Denta dan Tuan Raja Kajiman, Kang,” jawab Gus Harun.
Suasana ceria yang sempat membuat mereka terlihat santai itu seketika kembali lenyap dan berganti dengan ketegangan. Mahmud terdiam seketika seolah lidahnya kelu dan tak bisa mengatakan apa-apa. Angan Mahmud langsung kembali muncul, terbayang dengan suasana mencekam alam siluman. Pengalaman tersebut bagi Mahmud merupakan hal yang sangat di luar imajinasinya. Mahmud tak pernah membayangkan sedikit pun akan terlibat dengan hal-hal dunia pergaiban, apalagi sampai mengalami pertarungan dengan mahluk-mahluk dari alam gaib.
“Kang Mahmud, disini saja menjaga Dede, biar kami yang akan ikut bersama Tuan Samanta dan Tuan Gosin kembali ke alam siluman,” kata Gus Harun yang melihat Mahmud menunjukkan ekspresi ngeri pada raut wajahnya.
“Kita harus cepat-cepat pergi ke sana sekarang!” sela Abah Dul, tersirat kecemasan di raut wajahnya.
“Kalau begitu, mari kita masuk, Gus,” ujar Mahmud mengajaknya ke ruang tengah.
“Tunggu-tunggu! Kang Kosim kemana?” tanya Gus Harun.
__ADS_1
Abah Dul dan Mahmud saling pandang seakan baru sadar bahwa Kosim tidak bersama mereka saat pulang dari rumah sakit.
“Tadi sewaktu di rumah sakit, dia sudah kita ajak pulang ke sini. Tapi tidak tahu kemana dia sekarang,” ujar Mahmud.
“Kosim sempat bilang kalau waktunya sudah hampir habis, Gus,” timpal Abah Dul.
“Ya sudah, berarti kita hanya berenam saja yang kembali ke sana. Saya, Abah Dul, Basyari, Baharudin, Tuan Samanta, dan Tuan Gosin,” kata Gus Harun mengingatkan.
Diawali oleh Gus Harun, mereka bangkit lalu masuk ke dalam rumah Mahmud menuju ruang tengah, diikuti Tuan Samanta dan Tuan Gosin dengan tubuh tinggi besar mereka menembus tembok-tembok rumah Mahmud.
Gus Harun, Abah Dul, Basyari, dan Baharudin duduk bersila membentuk lingkaran saling berhadapan. Kali ini, Mahmud tidak ikut dalam petualangan mereka ke alam siluman, namun Mahmud diberi tugas oleh Gus Harun untuk menjaga tubuh mereka selama jiwa mereka tidak berada di dalam tubuhnya.
“Kang Mahmud, tolong jaga tubuh kita ya, barangkali para prajurit siluman monyet itu datang menyerang ke sini,” ucap Gus Harun.
“Mari kita berangkat!” tegas Gus Harun.
Gus Harun, Abah Dul, Basyari, dan Baharudin segera membetulkan posisi duduknya sambil memejamkan mata, mulut mereka terlihat komat-kamit membaca sesuatu. Sesaat kemudian, tubuh mereka tidak nampak bergerak lagi. Tubuh keempat orang itu terduduk diam dengan posisi bersila, tak ada gerakan apapun pada anggota tubuh mereka.
Mereka berada di alam tak kasat mata. Empat cahaya membumbung ke atas diikuti dua cahaya putih dan merah lalu secepat kilat melesat ke arah selatan membelah pekatnya angkasa alam gaib.
Kurang dari 5 menit, Gus Harun dan yang lainnya sudah dapat melihat kilauan cahaya kuning keemasan yang berasal dari istana siluman monyet dalam jarak 500 meteran. Ke enam cahaya masih berada di angkasa sambil memperhatikan sekeliling istana siluman monyet yang seperti tak berujung luasnya.
“Lihat, para prajurit siluman monyet masih berkumpul di luar benteng istana!” seru Tuan Samanta.
__ADS_1
“Nampaknya mereka sedang berjaga-jaga, kita jalan memutar dari arah samping agar kedatangan kita tidak diketahui oleh prajurit-prajurit itu,” balas Gus Harun.
“Baik, Tuan. Mari!” sahut Tuan Gosin dan Tuan Samanta.
Lima cahaya putih dan satu cahaya merah melesat di balik gumpalan-gumpalan awan kelabu yang berkelompok menaungi di atas istana siluman monyet. Dalam jarak pandang yang semakin dekat, Gus Harun dan yang lainnya kini dapat melihat di pelataran halaman istana nampak kilatan-kilatan cahaya bergerak kesana kemari berasal dari tiga sosok yang tengah bertarung.
“Itu, tuan kami!” seru Samanta sambil menunjuk ke arah tiga cahaya.
Halaman istana siluman monyet tampak lengang, tak ada satu pun prajurit siluman monyet yang berada di sana. Yang ada hanya Raja Kalas Pati yang sedang bertarung melawan Tuan Denta dan Raja Kajiman.
Sejauh ini, Tuan Denta dan Raja Kajiman dapat bertahan dari gempuran serangan Raja Kalas Pati, merupakan suatu hal yang sangat luar biasa. Hal tersebut menunjukkan bahwa kekuatan yang dimiliki Tuan Denta dan Raja Kajiman dipastikan berada di atas kekuatan yang dimiliki oleh Gus Harun, Abah Dul, Basyari, dan Baharudin.
Tiba-tiba, satu kiblatan cahaya emas nampak berkilat meluncur dari sisi kanan datang membabat Tuan Denta dan Raja Kajiman yang berdiri berjajar yang sudah siap siaga. Melihat gelagat buruk itu akan menimpa Tuan Denta dan Raja Kajima, seketika Gus Harun memberi isyarat untuk berhenti. Dari atas istana mereka memperhatikan yang akan terjadi selanjutnya dengan penuh kekhawatiran.
Sebagai seorang penulis profesional yang mahir dalam bahasa Indonesia, saya akan mengedit teks berikut ini, memperbaiki kesalahan tata bahasa dan ejaan yang terdapat pada teks berikut. Berikut adalah teks yang telah diperbaiki:
Jika harus turun membantu Tuan Denta dan Raja Kajiman dalam situasi saat ini, dirasa sangat tidak mungkin. Tidak mungkin juga dapat menahan sapuan tongkat emas Raja Kalas Pati yang datang tiba-tiba. Gus Harun dan yang lainnya belum siap menghadapi serangan yang tiba-tiba tersebut.
Hawa panas seketika dirasakan oleh Gus Harun dan yang lainnya meskipun jaraknya cukup jauh dari area pertarungan. Begitu pula dengan yang dirasakan oleh Tuan Denta dan Raja Kajiman; hawa panas pun menjalar di tubuh Tuan Denta dan Raja Kajiman seperti terbakar meskipun tongkat emas Raja Kalas Pati masih berada jauh dari posisi mereka.
“Heyyyaaaahhh!!!” teriak Tuan Denta dan Raja Kajiman bersamaan sambil melesat ke atas menghindari sapuan tongkat emas Raja Kalas Pati. Tapi Tuan Denta dan Raja Kajiman terkesiap, keduanya terkejut bukan kepalang. Kilatan cahaya yang datang dari samping kirinya itu ternyata bukanlah sapuan tongkat emas Raja Kalas Pati. Melainkan hanyalah sebuah kilatan cahaya belaka, sebab tongkat emas yang sebenarnya kini menderu di atas kepala Tuan Denta dan Raja Kajiman.
“Semuanya bantu menangkis tongkat emas itu!” seru Gus Harun tiba-tiba saat melihat tipu muslihat Raja Kalas Pati. Seketika itu juga, Tuan Samanta, Tuan Gosin, Abah Dul, Basyari dan Baharudin mengeluarkan kekuatan spiritualnya masing-masing. Lima cahaya putih dan satu cahaya merah muncul di ujung tangan masing-masing yang mereka acungkan lurus ke atas.
__ADS_1
BERSAMBUNG