Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
WAKTU KIAN DEKAT


__ADS_3

Desa Sukadami,


Suara- suara jangkrik dan serangga malam lain salin bersahutan membelah di keheningan tengah malam.


Didalam rumah, Mahmud duduk di kursi ruang tamu sendirian. Di atas meja tersaji segelas kopi dan sepiring gorengan pisang.


Pikirannya melayang membayangkan bagaimana mengerikannya peristiwa yang akan dihadapinya bersama Abah Dul, Gus Harun, ustad Basyari, ustad Baharudin serta dua mahkuk tak kasat mata yakni Kosim dan tuan Denta.


“Tinggal dua malam lagi batas waktunya. Moga saja Abah Dul besok sudah kembali dan membuahkan hasil,” batin Mahmud.


Mahmud sendiri sudah selesai mengerjakan semua ilmu kebatinan yang diberikan oleh tuan Denta. Perubahan besar dia rasakan pada dirinya hingga memunculkan rasa kepercayaan dirinya yang sangat tinggi.


Dari ilmu kebatinan yang diturunkan oleh tuan Denta bukanlah ilmu recehan. Bahkan setelah selesai melakukan syarat mendapatkan ilmu tersebut, Mahmud mendapatkan senjata gaib berupa tombak bermata kujang.


......................


Alam Kajiman,


Kosim masih berada di kediaman Raja mahluk Kajiman. Kosim mendapat gemblengan dari Raja Kajiman sebagai rasa terima kasihnya setelah turut menghalau serbuan siluman monyet menyerang alam Kajiman.


Kosim mendapatkan berbagai kekuatan maha dahsyat dari Raja Kajiman. Ia di gembleng 7 hari tanpa henti untuk mencapai kekuatan tingkatan tertinggi di kerajaan Kajiman.


Kosim juga diberikan sebuah senjata yang sangat istimewa oleh Raja Kajiman, berupa trisula emas.


Sebelumnya, usai pertempuran berakhir dan pasukan mahluk Kajiman berhasil memukul kabur sepasukan siluman monyet, Kosim pun dibawa ke kediam Raja Kajiman.


Awalnya Raja Kajiman geram dengan Kosim, karena dialah penyebab terjadinya penyerangan. Ya, sepasukan monyet itu mengetahui keberadaan Kosim yang telah menjadi makhluk golongan Kajiman.


Raja Kalas Pati, langsung memerintahkan pasukannya untuk menyerbu ke alam Kajiman.


Setelah Kosim diintrogasi oleh Raja Kajiman, Kosim pun menjawab apa adanya. Kosim menceritakan seluruhnya dari mulai awal ia melakukan ritual pesugihan hingga sampai dengan saat dirinya merasakan keluar dari jasadnya dalam kejadian kecelakaan.


Serta tak lupa pula Kosim menceritakan tentang putrinya yang diambil paksa dibawa oleh pasukan penjemput tumbal Siluman monyet.


Mendengar kisah hidup dan matinya Kosim, Raja Kajiman merasa bersimpati sehingga berniat untuk membantu Kosim dan teman- temannya menyerang Istana kerajaan siluman monyet.


"Kapan rencana penyerangannya?!" tanya Raja Kajiman, menyela ucapan Kosim.


"Kurang lebih 2 malam lagi tuan," jawab Kosim.


Raut wajah Raja Kajiman terkesiap sesaat, lalu berdiri memanggil bawahannya.


“Jendral Buko, kumpulkan semua pasukan terkuat yang ada di alam Kajiman. Kumpulkan sekarang juga dihalaman istana!” perintah Raja Kajiman yang pada Jenderal kerajaan.


......................

__ADS_1


Banten, kediaman Gus Harun...


Selepas sholat subuh, Gus Harun sudah sibuk mengemasi pakaian didalam kamarnya.


Beberapa potong pakaian seperti kain sarung, sajadah serta sorban satu persatu dimasukkan ke dalam tas ransel besar.


Gus Harun berdiri memperhatikan tas ransel mengingat- ingat lagi barang- barang yang hendak dibawanya lagi.


Beberapa saat kemudian setelah dirasa tidak ada lagi barang yang akan dibawa, Gus Harun keluar kamar untuk berpamitan pada ayahnya.


Bersamaan Gus Harun keluar dari kamarnya, terlihat dari kaca ruang tamu di luar nampak ayahnya sedang berjalan memasuki halaman rumah.


Ayahnya baru saja pulang dari masjid. Kalau biasanya Gus Harun selalu mendampingi ayahnya, tetapi pagi ini ia tak turut ayahnya melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Semalaman hingga terdengar azan subuh, Gus Harun baru saja menuntaskan tirakat melakukan zikir yang diajarkan ayahnya. Ia melakukannya di saung khusus yang berada di halaman depan rumah.


“Assalamualaikum...” ucap suara khas terdengar sangat berwibawa dari luar pintu.


“Wa’ alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh,” sahut Gus Harun, lalu lekas- lekas membukakan pintu.


Kreeeteeekkk..


“Sudah siap- siap berangkat nak?” tegur ayahnya.


“Njih ayah, kulo sekalian pamit. Mohon restumu ayah...” jawab Gus Harun, cepat- cepat menyambut tangan ayahnya untuk menciumnya.


“Njih ayah, akan ananda sampaikan. Matur nuwun atas bantuan ayahanda, ananda pamit sekarang,” balas Gus Harun.


Ayahnya lalu memeluk Gus Harun sambil menepuk- nepuk punggung putra semata wayangnya itu.


“Hati- hati disana ya nak,”


“Njih ayah,” balas Gus Harun.


......................


Suasana pagi hari di desa Sukadami terlihat sudah nampak geliat aktifitas warganya yang sebagian besar bercocok tanam. Ada yang menanam padi, ada juga berkebun menanam sayur mayur.


Mereka berjalan kaki sambil menenteng ceret dan di bahunya tergantung cangkul menuju ladangnya masing- masing.


“Assalamualaikum kang Mahmud,” ucap warga saat berpapasan.


“Wa alaikum salam, monggo...” balas Mahmud.


Mahmud berjalan kaki bersama- sama warga lainnya menuju ke ladang. Pagi ini ia hendak memberikan pupuk untuk tanaman cabainya yang sudah mulai berbuah.

__ADS_1


Posisi kebun cabai Mahmud tak begitu jauh, kebunnya berada di seberang jalan raya.


Tiba- tiba Mahmud menghentikan langkahnya. Ia merasakan sesuatu dibelakangnya, seperti ada yang mengikutinya mengikutinya namun tak terdengar ada suara langkah kaki.


Mahmud merasa kalau yang mengikutinya itu bukanlah manusia. Perlahan- lahan Mahmud memutar badannya melihat kebelakang.


Benar saja firasatnya, dibelakang Mahmud tak ada siapa- siapa. Mahmud segera berseru pelan;


“Mata Batin!” gumam Mahmud membuka mata batinnya untuk melihat.


“Astagfirullah!” pekik Mahmud.


Seketika Mahmud terkesiap kaget, lalu sedetik berikutnya ia dapat menguasai dirinya kembali setelah mengetahui sosok di hadapannya.


“Assalamualaikum, mas Mahmud,” ucap sosok mahluk tak kasat itu.


“Wa alaikum salam, Kosim?!” balas Mahmud.


Mahmud celingkukkan sejenak melihat diaekitarnya, khawatir ada orang yang melihat dirinya berbicara dengan sosok mahluk tak kasat mata.


Jika sampai ada warga yang melihatnya, mereka akan mengira Mahmud gila. Karena akan terlihat oleh warga seperti berbicara sendiri.


Setelah memastikan tak ada warga yang melihatnya, Mahmud pun buru- buru berbicara dengan Kosim.


“Mas Mahmud, nggak usah pergi ke kebun. Mau ada tamu yang datang,” ucap sosok tak kasat mata itu yang tak lain adalah Kosim.


“Tamu? Tamu siapa Sim?” tanya Mahmud keheranan.


“Iya mas, Abah Dul sebentar lagi datang. Nanti juga ada Gus Harun yang sedanv dalam perjalanan kesini.” Kata Kosim.


“Iya deh, kalau begitu saya balik lagi. Ayo Sim ikut ke rumah,” ucap Mahmud.


Mamhmud segera beranjak pergi kembali ke rumahnya diikuti Kosim berjalan melayang disampingnya.


Sepanjang jalan pulang sesekali Mahmud mengobrol dengan Kosim manakala disekitarnya tidak ada warga yang melintas atau pun yang melihatnya.


“Sim, kamu sudah siap besok lusa?” Tanya Mahmud.


“Saya aangat siap mas! Malahan rasanya sudah nggak sabar lagi pengen menghancurkan siluman- siluman itu!” tegas Kosim.


“Sebentar, tadi kamu bilang Abah Dul sebentar lagi sampai?!” Tanya Mahmud.


“Iya mas,” sahut Kosim.


Perbincangan keduanya kembali terhenti saat ada warga yang melintas.

__ADS_1


......................


__ADS_2