Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MENJEMPUT TUMBAL


__ADS_3

Kilatan-kilatan cahaya petir berkedip-kedip tak ubahnya seperti lampu blitz kamera disertai dengan suara gemuruh guntur. Kilatan-kilatan petir membelah pekatnya malam sesekali terlihat dari dalam rumah Mahmud, membuat Arin dan Dewi merasa was-was. Meskipun suara guntur bergemuruh bersahutan dan pendaran petir berkilatan namun tidak ada rintik-rintik tanda hujan akan turun.


“Mbak telpon mas Mahmud sudah sampai mana? Pulang belum?” Pinta Arin dengan wajah cemas.


“Takut pakai hapenya Rin, banyak petir. Takut nyambar ah,” ujar Dewi memangku Dede.


Arin, Dewi dan Dede sedang duduk berkumpul didepan televisi yang di matikan karena mereka takut tvnya tersambar petir. Kakak beradik itu hanya berharap Mahmud cepat-cepat pulang.


......................


Dialam tak kasat mata,


Dibalik gumpalan-gumpalan awan pekat yang memayungi langit desa Sukadami, nampak sepasukkan mahluk gaib siluman monyet bersiap-siap menunggu aba-aba. Satu sosok monyet bertubuh besar dengan ikat kepala berwarna kuning emas berdiri didepan sekelompok pasukan yang mendjadi pimpinannya.


“Hahahaha... Kelihatannya penjemputan ini akan mudah. Ayo kita jemput calon penghuni baru!” teriak pimpinan monyet.


“huhk...”


“huhk...”


“huhk...”


“huhk...”


Teriakkan riuh menyahut dari sekelompok pasukkan monyet sembari mengangkat senjata ditangannya masing-masing. Sepasukan itu jumlahnya sekitar 100 monyet siluman. Mereka kelompok penjemput tumbal yang diperintahlan Raja Kalas Pati.


Pemimpin pasukan monyet siluman mengangkat tangannya memberi kode kepada pasukkannya. 10 monyet siluman langsung melesat menukik dengan menyorongkan pedang besar didepannya. Mereka mengarahkan mata pedang besarnya secara bersamaan menuju rumah Mahmud.


Wuuusshhhh....


Duar! Duar! Duar! Duar! Duar!


Suara dentuman terdengar menggema diangkasa. Disusul 10 lesatan cahaya berpencar kesegala arah diiringi suara pekikan menyayat saling bersahutan lalu hilang dikejauhan.


“Aaaaaaaakkkkhhh....!


“Aaaaaaaakkkkhhh....!


“Aaaaaaaakkkkhhh....!


Didalam rumah Mahmud, nampak Dewi dan Arin saling mendekap ketakutan setelah mendengar ledakkan diatas rumah dibarengi dengan goncangan keras pada lantainya.


“Apa itu mbak...!” pekik Arin mendekap kakaknya dari samping.

__ADS_1


“Mbak nggak tau Rin...” sahut Dewi lirih.


Dewi mendekap Dede dan Arin mendekap samping tubuh Dewi dengan rasa ketakutan yang teramat sangat. Wajah keduanya memucat menatap langit-langit rumah mencari tahu apa yang sedang menimpa rumahnya.


Duarrrr!


Duaarrr!


Duarrtt!


“Mbak...!” pekik Arin.


Suara dentuman kembali menggetarkan seosi rumah Mahmud. Arin semakin erat memeluk tubuh Dewi dan menyungsepkan wajahnya dipunggung Dewi.


Tiba-tiba Dewi merasakan tubuh Dede yang berada didekapannya kejang-kejang, tubuh anak kecil itu meronta seperti memiliki tenaga orang dewasa. Tangannya berontak mendorong tubuh Dewi hingga membuat Dewi terjengkang. Arin yang mendekap tubuh Dewi pun ikut terjengkang tertindih tubuh Dewi.


“Aduh..!” pekik Arin dan Dewi bersamaan.


Dede menggelat-geliat liar diatas matras terlepas dari dekapan Dewi. Kedua matanya terbelalak lebar sedangkan kakinya terus menjejak-jejak membuat bantal yang ada disekitarnya berhamburan terpental.


“Aaaaakkkkh...!!!”


“Aaaaaaaakhhh...!!!”


“Rin, mbak harus cari bantuan. Mbak pergi ke rumah ustad Arifin,” ujar Dewi.


“Mbak Dewi jangan pergi, Arin takut mbak!” sergah Arin kembali mendekap Dewi erat.


“Kasihan Dede Rin! Lihat itu Dede..!” sentak Dewi panik.


“Tapi mbak...” timpal Arin terhenti.


“Sudah, Mbak pergi ke rumah ustad Arifin. Deket di sebelah rumah bi Sum, Rin!” potong Dewi, kemudian bangkit berdiri tapi tertahan.


Arin memegang erat tangan Dewi yang hendak berdiri sehingga Dewi tersentak kembali terduduk.


“Jangan tinggalin Arin dan Dede mbak...” kata Arin lirih menahan tangisnya.


“Ari, kasihan Dede. Kalau tidak cepat-cepat ditolong Dede bisa... bisa..” kalimat Dewi terhenti, ia tak kuasa melanjutkan kata-katanya.


Tangis Arin pecah melepaskan cekalan tangannya pada lengam Dewi. Dewi bergegas meninggalkan Arin dan Dede yang terlihat seperti sedang sekarat.


“Mbaaaaakkk...!” teriak Arin sambil menangis menatap Dewi melangkah keluar rumah.

__ADS_1


Arin pasrah, kini tatapan Arin kini tertuju pada anaknya yang sedang meronta-ronta dengan liar. Matanya kian membelalak besar sambil berteriak-teriak dengan kencang. Arin berusaha mendekapnya tetapi tangan Dede seketika mendorongnya kuat-kuat. Tubuh Arin terdorong keras hingga terjengkang kelakang dan nyaris kepalanya menghantam tembok.


Tiba-tiba suara aneh terdengar melengking bersamaan dengan munculnya kilatan cahaya putih memercik dari tubuh Dede. Seketika Arin tersentak kaget, pandangannya kembali tertuju pada Dede. Arin membelalak lebar melihat sebuah benda bulat bersinar kuning melayang diatas tubuh Dede.


Tak lama kemudian tubuh Dede perlahan-lahan melemas. Matanya mulai meredup tak lagi membelalak. Tangan dan kakinya pun sudah tak lagi bergerak-gerak liar serta tubuhnya pun tak lagi kaku mengejang.


Arin langsung meraih tubuh mungil anaknya lalu mendekapnya dengan erat. Tubuh Dede benar-benar terkulai dipangkuan Arin. Sesaat kemudian Arin baru tersadar mendapati tubuh Dede lemas, ia pun segera mendekatkan telinganya di dada anaknya.


Arin menghempaskan nafasnya kuat-kuat seolah-olah melepaskan puncak ketegangan yang baru saja dia lewati. Arin tidak menyadari berjarak dua langkah disampingnya sosok bayangan samar-samar terlihat sedang menatapnya dingin tanpa ekspresi.


Sementara batu berbentuk seperti telur berwarna kuning keemasan itu nampak melayang mata Arin namun tidak terlalu dihiraukannya. Batu itu sebenarnya sedang dalam genggaman sosok bayangan yang berdiri dua langkah disebelah Arin sehingga terlihat seperti melayang.


“Assalamualaikum,” tiba-tiba terdengar suara Dewi dipintu depan bersamaan suara pintu dibuka.


“Waalaikum salam,” sahut Arin lirih.


“Arin, kenapa Dede?!” tanya Dewi panik begitu melihat Dede terkulai didekapan Arin yang berlinang air mata.


"Astagfirullah!" gumam ustad itu.


Gumaman ustad tersebut bukan karena melihat kondisi Dede melainkan melihat sosok yang berdiri didepan Arin sambil memegang batu bercahaya kuning keemasan. Namun Arin dan Dede mengira gumaman ustad itu karena melihat kondisi Dede.


“Dede... bangun sayang...” ucap Dewi lirih.


Dewi yang datang bersama seorang pria setengah baya berusia sekitar 50 tahunan itu langsung dipenuhi prasangka buruk tentang Dede. Pikiran Dewi sudah menyangka kalau keponakannya itu tidak dapat tertolong melihat kondisinya terkulai lemas. Tangis Dewi pun membuncah sambil memegang kedua pipi mungil Dede. Ustad itu awalnya mencurigai sosok bayangan yang memegang batu itu sebagai biangbkeroknya akan tetapi setelah merasakan auranya ia pun merasa lega. Aura yangbterpancar dari sosok bayangan itu tidak memiliki aura jahat sama sekali.


"Pak Ustad, tolong Dede pak Ustad, cepat tolong Dede..." pinta Dewi berlinang air mata.


Ustad yang datang bersama Dewi tak lain adalah Ustad Arifin. Beliau merupakan seorang ulama yang di tuakan, meski belum mencapai tingkatan gelar Kiyai namun ilmu agamanya dapat dikatakan paling tinggi di desa Sukadami. Dan tentu saja beliau memiliki ilmu kebatinan tinggi dan menjadi tempat meminta tolong masyarakat setempat baik urusan mahluk gaib maupun urusan duniawi.


Ustad Arifin mendekat dihadapan Arin yang sedang mendekap Dede di pangkuannya.


"Punten Rin, baringkan dulu anak itu..." ucap ustad Arifin.


"Wi, ambilkan segelas air putih ya," sambungnya pada Dewi.


Saat Dewi beranjak hendak mengambil air, tiba-tiba terdengar suara detuman kembali sebanyak tiga kali. Seisi rumah pun bergetar keras.


"Astagfirullah!" seru Ustad Arifin spontan melihat kearah sosok bayangan yang berdiri sedang menatapnya yang juga dengan ekspresi cemas.


Ustad Arifin menatap tajam sosok bayangan itu, beliau mengira dentuman itu berasal dari ulah sosok bayangan. Namun ternyata dugaannya salah!


......................

__ADS_1


__ADS_2