Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KABAR BERANTAI


__ADS_3

Semua ibu- ibu yang sedang belanja di warung itu nampak penasaran ingin mendengar jawaban dari bu Harjo. Mereka menghentikan aktifitasnya memilih- milih dan mencari bahan masakan yang dibutuhkan.


Semuanya menatap penuh harap kearah bu Harjo yang masih tersenyum ceria sesuai perasaannya saat ini.


"Alhamdulillah Bi Jum, Hariri sudah sembuh sekarang," jawab Bu Harjo riang.


Mendengar jawaban tersebut seketika semua ibu- ibu nampak terkejut, mereka tidak mengira jawab yang keluar dari Bu Harjo diluar tebakan yang ada di pikiran semua ibu- ibu.


Sebab selama ini yang mereka dengar dari mulut ke mulut bahwa sakitnya putra pak Harjo itu akibat guna- guna dan tidak mungkin bisa disembuhkan. Bahkan rata- rata sudah memperkirakan putra pak Harjo itu akan meninggal hanya menunggu waktu saja.


"Hah?! Yang benar Bu Harjo?!" hampir semua ibu- ibu melontarkan kalimat terkejutnya.


"Insya allah, kami akan mengadakan syukuran dengan sembuhnya anak kami itu bu. Oh kalau begitu sekalian saja saya sampaikan ini sebagai undangan ya ibu- ibu. Jangan lupa kasih tahu bapak- bapaknya juga ya," kata Bu Harjo.


"Oh iya, iya Bu Harjo," sahut beberapa ibu- ibu serempak.


"Iya Bu Harjo pasti akan saya kabari bapak," sahut salah satu ibu- ibu.


"Saya permisi ah, duluan ya ibu- ibu..." sambung ibu tersebut lalu melangkah meninggalkan warung bi Jum.


"Eh Bu Harjo, berobat dimana nak Hariri itu?" tanya bi Jum penasaran.


"Di desa Sukadami ** Jum, wah pkkoknya bener- bener manjur deh," jawab Bu Harjo.


Bu Harjo pun tanpa sengaja nyerocos saja bercerita panjang lebar tanpa hambatan seperti jalan tol. Ia seperti terbawa suasana hatinya yang bahagia sehingga dengan merasa senang hati menceritakan semuanya tentang "Si Bocah Ajaib.


Berkali- kali Bu Harjo menyebut Dede itu dengan sebutan bocah ajaib sehingga membuat mereka sangat penasaran dengan si bocah ajaib tersebut.


Secara naluriah didalam otak para ibu- ibu itu berputar -putar mencari sanak saudaranya yang sakit sampai- sampai memikirkan mencari tetangganya yang sedang sakit.


Dan saat ibu- ibu itu teringat ada sanak saudara bahkan tetangganya yang sedang sakit, seketika itu juga di dalam benak mereka bertekad akan mengabarkannya pada keluarga yang sakit tersebut untuk pergi berobat pada si anak ajaib di desa Sukadami.


"Eh bu Harjo berobat kesitu tuh berapa bayarnya?" tanya ibu- ibu yang kelihatannya sangat antusias.


"Kalau saya seiklasnya saja soalnya tidak ada ketentuan biayanya bu," jawab Bu Harjo.


"Desa apa tadi namanya bu, saya ada saudara yang sedang sakit lumpuh sudah bertahun- tahun," kata ibu- ibu itu lagi.

__ADS_1


"Desa Sukadami bu Saroh," jawab Bu Harjo.


"Desa Sukadami, desa Sukadami, itu kalau nggak salah di kabupaten Sanggah kan bu?" tanya ibu Saroh memastikan.


"Betul bu," balas Bu Harjo.


"Mm, lumayan jauh juga ya, terima kasih informasinya Bu Harjo, saya permisi duluan ya. Mari semuanya.." ujar ibu Saroh bersamaan menerima kembalian belanjaannya, kemudian buru- buru berlalu meninggalkan warung bi Jum.


"Sudah bi Jum, berapa semuanya?" kata Bu Harjo.


"Cukup itu saja Bu Harjo?" tanya bi Jum.


"Njih bi Jum, jadi berapa?" sahut Bu Harjo.


"Jadi semuanya dua puluh ribu," kata bi Jum, lalu menerima uang pas yang diulurkan oleh Bu Harjo.


"Saya permisi duluan ya, mari ibu- ibu semuanya," kata Bu Harjo kemudian berlalu meninggalkan warung bi Jum.


Tanpa perlu memakai jasa iklan atau media promosi sana sini, cukup dari sebuah warung saja kabar tentang adanya 'Bocah Ajaib' sudah dipastikan akan langsung menyebar kemana- mana.


Dua jam kemudian,


Di rumah pak Harjo, di meja makan Hariri terlihat begitu lahap menyantap makanan yang di masak oleh ibunya. Bahkan Hariri sampai menambah makannya dua kali, tak ubahnya seperti orang yang kelaparan yang tidak makan selama berhari- hari.


Pak Harjo dan Bu Harjo dibuat melongo melihat putranya makan begitu lahap. Kedua orang tua Hariri itu kemudian menggeleng- gelengkan kepala pelan sembari tersenyum memperhatikan putranya makan dengan sangat lahap.


"Nambah lagi Har?" Bu Harjo bersiap mengambilkan secentong nasi.


"Sudah, sudah bu. Kenyang banget," balas Hariri kemudian meneguk segelas air teh hangat.


"Ahhhh... Alhamdulillah, rasanya nikmaaat sekali," ucap Hariri selesai menghabiskan segelas air minum.


Pak Harjo dan Bu Harjo tak berhenti melihat kearah Hariri yang badannya sangat kurus. Namun sekarang kondisi badannya sudah terlihat sangat segar.


"Har, bapak penasaran pengen nanya soal kesembuhanmu yang datang tiba- tiba ini. Apa yang kamu kamu alami semalam Har?" tanya Pak Harjo.


Mendengar pertanyaan bapaknya, Hariri terdiam sejenak seperti sedang mengingat- ingatnya.

__ADS_1


"Hariri tidak tahu pastinya pak, Hariri rasa semalam tidak ada kejadian apa - apa. Tiba- tiba Hariri mendengar suara azan lalu reflek saja Hariri beranjak turun dari tempat tidur berniat berwudlu untuk melaksanakan sholat subuh," jawab Hariri.


"Kamu tidak merasakan sakit di badanmu terutama di kakimu Har?" tanya ibunya.


"Hariri sendiri saat itu sama sekali belum menyadari bu kalau Hariri sedang sakit. Saat selesai wudlu itulah Hariri baru menyadari dan sangat keget setengah mati sekaligus heran, kok bisa berjalan dan tidak merasakan sakit lagi," ungkap Hariri.


"Subhanallah..." gumam Pak Harjo dan istrinya bersamaan.


Ingatannya saat itu juga melayang teringat dengan ucapan putranya Kosim bahwa besok akan sembuh.


"Benar- benar ajaib..." gumam Pak Harjo tanpa sadar.


"Ajaib? Apanya yang ajaib pak?" tanya Hariri saat mendengar gumaman bapaknya.


"Ah, eh anu mmm, ya ajaib kamu tiba- tiba langsung sembuh begini Har," kilah Pak Harjo.


"Har nanti kamu cepat potong rambutmu ya, udah gondrong begitu," kata ibunya sambil mengusap- usap rambut Hariri.


"Iya bu, nanti jam 10 an," sahut Hariri.


Tok... Tok... Tok...


"Assalamualaikum..."


Tiba- tiba terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam dari pintu depan. Sesaat Pak Harjo, Bu Harjo dan Hariri saling berpandangan bertanya- tanya.


"Oh, bapak lupa, pasti itu pak Diman," kata Pak Harjo kemudian bangkit dari kursi dan bergegas menuju pintu depan.


Hariri pun kemudian membantu ibunya membereskan piring- piring bekas sarapan tadi lalu membawanya ke tempat cuci piring yang berada di ruangan dapur.


"Biar ibu saja Har, kamu baru saja sembuh," cegah ibunya khawatir.


"Nggak apa- apa bu. Hariri sudah sehat kok, beneran!" tegas Hariri sambil menunjukkan tangannya yang sengaja dikepalkan keras -keras kepada ibunya.


Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah Hariri yang kocak sekaligus benaknya merasa heran dengan perubahan yang ada pada putranya itu.


Ya, 180 drajat Hariri sudah berubah total dengan sikapnya sekarang. Bu Harjo melihat putranya yang sekarang seperti melihat putranya di masa- masa masih kecil saat Hariri masih duduk di bangku SD. Hariri begitu santun, rajin membantu kedua orang tuanya dan tak pernah meninggalkan sholatnya.* BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2