
Dua malam sebelum Purnama,
Setelah cukup lama tertegun dengan kejadian munculnya ular siluman yang sangat besar, Gus Harun mencolek Abah Dul dan Mang Ali yang masih terbengong-bengong dengan mulut ternganga.
"Ayo, masuk... masuk...!"
Abah Dul dan Mang Ali terkesiap, tersadar dari tertegunnya. Meski keduanya sudah cukup lama bergelut dengan hal-hal gaib dan mistik namun melihat penampakkan siluman ular yang sangat besar dalam wujud kasat mata, benar-benar baru kali ini dialaminya.
Jika dalam penglihatan melalui mata batin maupun penglihatan dalam wujud sukma, Abah Dul memang sering sekali melihat beragam wujud mahluk halus. Dan terakhir kali yang diligatnya adalah Raja Kalas Pati, raja siluman monyet bahkan sempat merasakan kekuatannya hingga sempat terkapar dan terluka parah setelah bertarung.
"Sim, ini olesi dengan minyak kayu putih," kata Dewi dengan wajah cemas melihat Arin masih belum juga sadar dari pinsannya.
Kosim menerima minyak kayu putih yang diulurkan Dewi lalu menumpahkannya ke telapak tangan dan membalurkannya ke leher Arin.
"Di deketin ke hidungnya Sim," ujar Dewi.
Sementara Mahmud tak henti-hentinya memijat-mijat kedua jempol kaki Arin.
"Arin kenapa?!" Seru Abah Dul muncul disusul Mang Ali dan Gus Harun dibelakangnya.
"Pinsan Bah. Dia sempat melihat mahluk diluar itu," ujar Dewi.
Arin masih terlihat terkulai belum sadarkan diri meski sudah dibaluri dan dibaui minyak kayu putih oleh Kosim.
Abah Dul kemudian duduk disamping kepala Arin yang berbantalkan paha Kosim. Abah Dul terdiam menundukkan kepala, mulutnya terlihat membaca doa-doa.
Sesaat kemudian Abah Dul menggosok-gosokkan telapak tangannya sebentar lalu meniupkannya pada telapak tangannya yang terbuka. Sedetik berikutnya, telapak tangan kanannya ditempelkan pada kening Arin. Sedangkan telapak tangan kirinya ditangkupkan pada bagian ubun-ubun.
Tidak berapa lama mata Arin pelahan-lahan terbuka. Mula-mula yang dilihatnya wajah Abah Dul, kemudian mendongak dilihatnya wajah Kosim.
"Ular... ular... besar Bah!" Seru Arin dengan suara lirih.
"Sudah nggak ada Rin. Dia nggak ganggu kok, sudah jangan takut lagi ya," ujar Abah Dul.
"Ini Sim, minumkan..." Gus Harun menyodorkan segelas air putih kemasan yang diambilnya dari ruang tamu.
Perlahan-lahan kesadaran Arin mulai pulih tetapi kondisi tubuhnya masih terlihat lemah. Kosim membantunya duduk dan disandarkan pada tembok ruang tengah. Arin kembali teringat dengan ular raksasa itu namun tidak sehisteris sebelumnya.
"Kemana ular itu Bah?" Tanya Arin.
m000
__ADS_1
"Dia sudah pergi Rin. Sudah jangan diingat-ingat terus, dia juga nggak jahat kok," ujar Abah Dul.
"Istitahat aja ya Rin. Sim bawa Arinnya masuk," kata Abah Dul.
Kosim pun segera beranjak menuntun Arin yang masih lemah menuju kamarnya. Sementara Dewi membawa Dede tidur bersamanya. Kini diruangan tengah rumah Mahmud tinggal berempat, Mahmud, Gus Harun, Abah Dul dan Mang Ali.
Tanpa terasa malam sudah merambah pukul 23.21 wib. Gerimis masih menghujani desa Sukadami, meski tidak lebat namun gemuruh dan kilatan-kilatan petir sesekali menggelegar.
"Sebentar saya bikin kopi dulu," ujar Mahmud beranjak dari duduknya.
"Kang punten saya mah jangan kopi ya. Teh tubruk aja," sahut Gus Harun.
"Saya juga Mud, hehehe..." celetuk Mang Ali.
"Siap Mang Ali," timpal Mahmud sambil berlalu dari ruang tengah.
Gus Harun tiba-tiba saja terkejut. Dia langsung menundukkan kepalanya sembari memejamkan mata. Abah Dul dan Mang Ali melihat perubahan sikap Gus Harun pun hanya memperhatikan penuh tanda tanya.
"Dul di rumah ini saya merasakan ada kekuatan besar. Apa ya Dul?" Tanya Gus Harun.
"Positif atau negatif Gus?" Abah Dul balik tanya.
"Sepertinya positif. Sinarnya memancar dari kamar Kosim dan Mahmud, berwarna kuning keemasan, Dul." ujar Gus Harun.
"Perasaan Mahmud nggak punya benda-benda begituan Gus," ujar Abah Dul.
"Energinya besar sekali Dul, sepertinya ada dua benda yang sama. Sinarnya memancar kuat dari kamar ini sama kamar itu," terang Gus Harun sembari menunjuk kamar Kosim dan kamar Mahmud.
"Benda yang sama?" Dahi Abah Dul mengerut, mencoba kembali mengingat-ingat.
Sementara Mang Ali ikut penasaran dengan yang dikatakan Gus Harun dan Abah Dul. Namun ia hanya mendengarkan saja sambil menghisap rokoknya.
"Oooooo... yayaya, punten Gus coba sama nggak dengan yang di rumah saya." ujar Abah Dul.
Gus Harun sejenak mengatur nafasnya lalu kembali konstrasi. Mata batinnya melihat langsung ke rumah Abah Dul.
"Loh, pancaran kuning keemasan dengan energi yang juga tinggi. Sama Dul, apa itu?" Tanya Gus Harun lalu membuka matanya.
"Berarti benar. Itu batu mustika pemberian ibunya Mahmud Gus. Saya, Mahmud dan Kosim yang kebetulan mendapat amanat dari almarhum bapaknya Mahmud melalui mimpi ibunya," jelas Abah Dul.
Bersamaan Gus Harun bertanya itu, Mahmud muncul membawa nampan yang diatasnya ada empat gelas.
__ADS_1
"Mud, ambil batu kembarnya. Gus Harun pengen lihat," kata Abah Dul.
"Kok tau Gus?!" Tanya Mahmud keheranan.
"Energinya kuat sekali Kang," jawab Gus Harun.
Setelah meletakkan gelas-gelas dihadapan Mang Ali, Gus Harun dan Abah Dul, lalu Mahmud pun kembali beranjak berdiri dan melangkah masuk ke kamarnya.
Tidak berapa lama Mahmud sudah kembali, kedua tangannya membopong sebuah kotak berukir berwarna hitam dan sedikit usang.
"Benar Dul, ini nih bendanya. Kuat sekali energinya," ujar Gus Harun.
Mahmud membuka kotak berisi batu kembar Mustika Naga Kencana. Secara kasat mata begitu kotak itu dibuka, semburat cahaya kuning keemasan langsung memancar.
Mang Ali terkejut kagum, matanya tak berkedip memandangi batu sebesar telor ayam itu. Mang Ali juga dapat merasakan besarnya kekuatan mustika Naga Kencanan sembari diingat-ingat koleksi benda-benda bertuah yang sebagian besar diperoleh dari warisan kakek dan buyutnya, tidak ada yang energinya sekuat itu.
"Sudah, sudah Kang Mahmud, simpan kembali." sergah Gus Harun.
"Dul, batu mustika itu sepertinya dapat digunakan untuk malam Purnama nanti. Kalau disatukan dan dipegang oleh masing-masing orang yang ditunjuk menerima mustika itu kekuatannya menjadi sangat dahsyat," terang Gus Harun.
"Betul Gus. Ibunya Mahmud juga mengatakan sama persis seperti itu." ujar Abah Dul.
Jika diingat-ingat semakin mendekati malam Purnama hingga malam ini, semakin bermunculan benda-benda yang memiliki daya magisnya sendiri-sendiri.
Secara tidak langsung seolah-olah Tuhan pun mengirimkan perbekalan untuk melindungi Kosim dengan memberikan benda-benda yang memiliki kekuatan besar melalui perantara mahluknya.
Kosim sendiri kini sudah dibekali amalan dahsyat dan langka untuk membentengi diri didapat dari pemberian dari Gus Harun. Selain itu dia juga diberi sebuah batu kembar mustika Naga Kencana oleh ibunya Mahmud saat di Tegal.
Batu kembar mustika Naga Kencana itu semuanya ada tiga batu sebesar telor ayam. Masing-masing diberikan satu kepada Mahmud, Abah Dul dan Kosim.
Tanpa disadari alam pun sekonyong-konyong mendukung mereka untuk perlawanan Perjanjian Gaib dengan diberikannya segala bentuk benda sebagai persenjataan.
Apakah kekuatan Raja Kalas Pati bisa dikalahkan?
Kita tunggu saja Malam Purnama, lalu kapankah Raja Kalas Pati itu muncul, apakah di tangga 13 malam 14 ataukah besok malamnya?
Tetapi masalahnya bukan kapan Raja Kalas Pati itu datang. Namun seperti apa nasibnya Kosim.
Jangan sampai ketinggalan lihat episode-episode berikutnya.... TEKAN FAVORIT-nya ya...
......................
__ADS_1
🔴NEXT🔴
•••••••••••••