Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Siasat Tak Sengaja


__ADS_3

Hari ke-12 melawan perjanjian gaib, usai sholat Ashar Kosim duduk gelisah di kursi ruang tamu. Otaknya berputar mencari-cari cara untuk mengakhiri semuanya agar bangsa siluman monyet itu tidak lagi mengejarnya.


Dia kembali mengingat-ingat semua runtutan peristiwa yang dilakukannya pada saat melakukan ritual pesugihan. Memorinya terus menggali lebih dalam lagi mulai dari saat pertama datang hingga gagal ditengah jalan.


Semua ucapan-ucapan Mbah Utung Si Kuncen pesugihan Gunung Ng pun dicermatinya dengan seksama kalimat demi kalimat yang sangat masih diingatnya ketika pertama kali dirinya menyampaikan niatnya.


"Cung, jalan ini tidak baik, dosa besar!" Ujar Si Mbah mengingatkan Kosim pada saat itu.


"Ini resikonya sangat besar dan menyakitkan, Cung. Kamu bakal sengsara seumur hidupmu. Anakmu akan ditumbalkan untuk kesenanganmu yang hanya sesaat, setelahnya kamu akan menjadi budak mahluk gaib yang memberimu kekayaan semu bersama anakmu..." kata Mbah.


Namun ucapan Mbah Utung itu dipikirnya tak ada celah untuk dijadikan alasan untuk menolak tuntutan siluman monyet. Kosim membenarkan sepenuhnya nasihat tersebut ia pun menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa menahan hasrat dan tekadnya ingin mendapat harta berlimpah dengan singkat.


Dihisapnya rokoknya dalam-dalam kemudian dihembuskannya kuat-kuat seolah melepaskan beban batinnya saat ini. Lalu diseruputnya kopi yang tinggal setengah, ingatannya kembali melayang pada ucapan terakhir Mbah Utung,


"Kamu telah gagal! Tetapi kontrak perjanjianmu tetap berlaku..!" Tegas Kuncen dengan rahang gemeretak.


Ucapan ini yang terus-menerus menghantui perasaannya. Kosim merasa kalimat terakhir itu terasa ada yang janggal.


"Kok bisa perjanjiannya tetap berlaku?!" Gumam Kosim.


"Harusnya perjanjian itu ada timbal balik. Saya tidak mendapatkan hasilnya tetapi mengapa harus memberikan tumbal?" Ucapnya dalam hati.


"Mengapa harus memberikan tumbal?


"Mengapa harus memberikan tumbal?


"Mengapa harus memberikan tumbal?


Kalimat terakhir itu terus ia ucapkan. Dihati Kosim mendadak timbul rasa geram, raut mukanya mengguratkan kemarahan yang membesi.


"Ini tidak adil! Saya seperti dijerumuskan dan dipaksa untuk menyerahkan nyawa saya atau anak saya untuk sesuatu yang tidak pernah saya dapatkan!"


Tanpa sadar tangannya menggebrak meja hingga kacanya pecah berantakan sekaligus membuat gelas kopinya ikut jatuh dan pecah.


Suara gebrakkan meja membuat kaget seisi rumah. Dewi, Arin dan Mahmud langsung berdatangan ke ruang tamu.


"Kenapa Mas?!" Seru Arin.


"Kenapa Sim?!" Mahmud lari menyongsong dari halaman samping.


Disusul muncul Dewi dan Arin sambil menggendong Dede seketika terperanjat melihat meja tamu sudah hancur berantakkan.


"Aduh, maaf... maaf... Mas, Mbak nggak sengaja gelasnya jatuh menimpa meja," ujar Kosim masih tertegun.


Kosim sendiri serasa baru tersadar kalau tindakkannya sudah menghancurkan meja tamu. Gerakan menggebrak meja reflek dilakukannya karena spontan merasa sangat geram mengingat perjanjian gaib.


"Nanti saya ganti Mas, Mbak." Kata Kosim merasa bersalah.


"Sudah Sim, nggak usah nggak apa-apa." Timpal Dewi.

__ADS_1


Mahmud menangkap ekspresi Kosim yang mencoba menutupi perasaannya. Rautnya masih terlihat menyiratkan amarah tapi ia pendam saja dihatinya.


"Apa yang membuat Kosim marah seperti itu?" Tanya Mahmud dalam hati.


"Kalau saya tanya sekarang pasti Kosim mengelak. Biar nunggu waktu yang tepat saja." Sambung Mahmud dalam hati.


Kosim bergegas mengumpulkan pecahan-pecahan kaca yang berserakan hingga ke kolong-kolong kursi. Mahmud pun segera membantu Kosim ikut membereskannya.


Sementara Arin melangkah keluar mengambil serokan dan sapu untuk mengumpulkan serpihan-serpihan kaca setelah menitipkan Dede ke gendongan Dewi.


"Sssttt! Mas saya ada cara mengakhiri kejaran monyet, siluman itu."


Kosim tiba-tiba berbisik-bisik kepada Mahmud sembari tangannya terus mengumpukan pecahan kaca.


Mahmud berhenti memunguti pecahan kaca, ia lantas menatap wajah Kosim sejenak. Ia melihat ekspresi wajah Kosim menunjukkan keseriusan dari ucapannya.


"Serius Sim?" Tanya Mahmud tak percaya balas berbisik.


"Serius Mas. Ini bisa menjadi pemutus tuntutan siluman monyet," bisik Kosim lagi.


"Nanti diobrolin sama Abah Dul, Sim." Balas Mahmud.


"Iya Mas." Bisik Kosim seraya beranjak untuk membuang beling.


......................


Hari ke-12 sudah memasuki waktu Magrib. Mahmud, Kosim, Dewi dan Arin bersama Dede baru saja selesai menunaikan sholat Magrib berjamaah. Mahmud dan Kosim masih duduk-duduk diatas sajadahnya, sementara Arin dan Dewi langsung ke dapur untuk menyiapkan makan malam begitu selesai sholat.


"Waalaikum salam," sahut Mahmud dan Kosim bersamaan.


"Sim, kayaknya itu suaranya Mang Ali," kata Mahmud sambil menoleh ke Kosim yang duduk dibelakangnya.


Kosim pun segera beranjak untuk membukakan pintu sambil membopong Dede. Dan benar saja begitu pintu dibuka ternyata Mang Ali.


"Masuk Mang Ali," ucap Kosim begitu membuka pintu.


"Disini aja Sim, adem. Abah Dul belum kesini?" Balas Mang Ali yang sudah duduk selonjoran di teras sambil bersandar di saka rumah.


"Belum, Mang Ali mau minum apa nih?" Tawar Kosim.


"Biasa Sim, kopi hitam tidak pake diaduk ya," jawab Mang Ali.


"Siap Mang Mali, sebentar saya tinggal ya." Ujar Kosim.


Kosim kembali masuk melangkah ke dapur menemui Arin.


"Rin, tolong bikinin kopi dua ya, yang satu nggak usah diaduk." Kata Kosim kepada Arin.


"Ada tamu siapa Sim?" Sela Dewi.

__ADS_1


"Mang Ali Mbak." Jawab Kosim sambil balik badan kembali kedepan.


"Bikin tiga deh, sama Mas Mahmud," Ujar Kosim balik badan lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Saat Kosim kembali kedepan, sudah ada Mahmud sedang mengobrol dengan Mang Ali. Sambil menggendong Dede, Kosim duduk didekat pintu beriringan dengan Mahmud.


"Sim, gimana dengan suara tanpa rupanya? Saya penasaran mendengar ceritanya dari Abah Dul," tanya Mang Ali.


"Iya Mang Ali, saya juga belum memahami sepenuhnya. Munculnya tidak diduga, tiba-tiba gitu Mang..." jawab Kosim.


"Pernah dicoba dipanggil nggak?" Tanya Mang Ali penasaran.


"Saya pernah mencoba sih nggak muncul," balas Kosim.


"Berarti sosok suara tanpa rupa itu mengikuti kamu Sim. Artinya dia seperti pengawal bahkan kamu bisa saja jadi dukun Sim, hehehe..." Kata Mang Ali.


"Ah, kalau untuk jadi dukun sih kayanya nggak ada bakat Mang Ali, hikhikhik.." Ujar Kosim tertawa.


"Iya loh Sim, dukun-dukun itu kebanyakan memiliki sosok mahluk halus atau jin sebagai perantara untuk membantunya. Ya kaya sosok suara tanpa rupa seperti kamu ini," terang Mang Ali.


"Tuh, Sim. Buka praktek aja," celetuk Mahmud sambil terkekeh.


"Waduh, Mas, Mas. hahaha.." Kosim tergelak oleh candaan Mahmud.


"Kalau sosok suara tanpa rupa itu kan nggak bisa dipanggil atau juga ditanya. Kalau misal ada pasien bertanya, iya kalau suara tanpa rupa itu muncul bantu memberikan jawaban. Gimana kalau nggak muncul-muncul? Hìkhikhik.." Seloroh Kosim.


Ketiganya lantas tertawa mendengar ucapan Kosim. Beberapa saat ditengah keseruan obrolan itu datang Abah Dul.


"Assalamualaikum," ucap Abah Dul.


"Kelihatannya asyik banget sampe ketawa-ketawa gitu," sambung Abah Dul sembari menyalami satu-satu.


"Mang Ali sama Mas Mahmud tuh Bah, ada-ada aja. Masa gara-gara suara tanpa rupa saya suruh jadi dukun," ujar Mahmud.


"Hahahaha... Ya setuju tuh Sim," Abah Dul menimpali sambil tergelak disusul ketawa yang lainnya.


"Waduh, ya sidah saya ambil minum dulu buat Abah Dul. Minum apa Bah? Sela Kosim.


"Kopi aja Sim," balas Abah Dul.


Kosim segera beranjak masuk, "Yuk De, ke ibu..." Kosim mengajak bicara anaknya digendongan.


"Bah, Kosim punya solusi untuk memutus teror siluman monyet katanya," kata Mahmud teringat obrolan tadi pagi dengan Kosim.


Abah Dul mendadak menghentikan menyulut rokoknya mendengar ucapan Mahmud. Sementara Mang Ali langsung mendongak kearah Mahmud.


"Solusi?" Tanya Abah Dul penasaran.


"Seperti apa Mud solusinya?" Sambungnya.

__ADS_1


"Kosim belum sempat mengatakannya. Nanti sama Kosim langsung Bah." Kata Mahmud.


......................


__ADS_2