Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KESEDIHAN ABAH DUL


__ADS_3

Di rumah Mahmud,


Suara azan duhur terdengar dari toa mushola yang tak jauh dari rumah Mahmud. Suaranya begitu keras masuk ke dalam ruang tengah membuat Abah Dul seketika tersentak dan terjaga dari tidurnya, rupanya Abah Dul sempat ketiduran sambil duduk bersandar di sebelah Mahmud. Spontan ia pandangi satu persatu tubuh Gus Harun, Basyari, Baharudin dan


terakhir pandangannya berhenti pada tubuh Mahmud.


“Ah, berapa lama saya ketiduran,” gumam Abah Dul menggosok- gosok matanya, lalu melihat jam dinding.


Jarum jam menunjukkan pukul 11. 53 wib, namun Abah Dul tidak bisa memperkirakan berapa lama dirinya tertidur. Sebab tanpa sadar dirinya terlelap begitu saja tanpa melihat jam sebelumnya.


“Mereka belum kembali, apakah Mahmud


belum juga ditemukan?” tanya Abah Dul dalam hati, kemudian bangkit dari duduknya berniat untuk melaksanakan sholat duhur.


Bersamaan dengan Abah Dul berdiri, tiba- tiba tubuh Gus Harun terlihat bergetar dan terhentak, disusul tubuh Baharudin lalu tubuh Basyari. Abah Dul cepat- cepat mengalihkan pandangannya pada tubuh Mahmud. Setelah beberapa saat di nanti- nantikan berharap tubuh


Mahmud juga bergetar dan terhentak, namun yang diharapkan tak kunjung terjadi. Tubuh


Mahmud tetap tak bergeming diam seperti patung dengan kedua mata tertutup rapat, posisinya masih sama seperti semula.


“Alhamdulillahirobbil alamiin…” ucap Gus Harun, Basyari dan Baharudin bersamaan.


“Assalamualaikum…” disusul  suara berat dan berwibawa yang tak lain adalah Kiyai Sapu Jagat yang melayang bersama Kosim, tuan Samanta dan tuan Gosin.


“Wa’ alaikum salam… Yai, Gus Har, Bas bagaimana dengan Mahmud?!” jawab Abah Dul dan langsung menanyakan Mahmud begitu


penasarannya dengan hasil pencarian mereka.


Gus Harun, Basyari dan Baharudin menggelengkan kepala bersamaan dengan lesu sebagai jawaban. Mereka tak sanggup


mengucapkan jawaban seakan- akan tak memiliki kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan Abah Dul.


“Sabar Dul, untuk saat ini Mahmud belum dapat ditemukan di alam siluman, kita sudah meminta bantuan Kalas Pati untuk mencarinya,” ucap Kiyai Sapu Jagat.


“Maksud Yai, Mahmud tidak berada di alam siluman?!” tanya Abah Dul gusar.


“Menurut Kalas Pati, semua mahluk yang berada di alamnya pasti akan dengan mudah dapat diketahui keberadaannya. Tetapi untuk Mahmud tidak dapat terdeteksi sama sekali,” terang Kiyai Sapu Jagat.

__ADS_1


Mendengar penjelasan tersebut seketika Abah Dul merasakan tubuhnya seperti diambil tulang- tulangnya, tubuh Abah Dul seketika terasa lemas. Pikirannya  semakin kalut dipenuhi praduga- praduga yang akan dihadapinya nanti, terutama bagaimana dirinya menjelaskan pada Dewi dan Arin. Pasti istri dan adik ipar Mahmud itu tak akan bisa menerimanya dan akan sangat sulit di cerna oleh akal pikiran mereka.


“Astagfirullahal aziim…” gumam Abah Dul lirih.


Abah Dul menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia terlihat sangat gusar. Di dalam hatinya sangat tidak ikhlas jika Mahmud harus meninggal dalam keadaan seperti saat ini,


meninggal dalam posisi duduk bersila. Posisi mati yang sangat tidak lazim yang pastinya akan menimbulkan beragam pertanyaan di kalangan warga masyarakat.


Seketika suasana menjadi hening, melihat


kesedihan yang teramat dalam pada diri Abah Dul, membuat Gus Harun, Basyari, Baharudin serta Kosim langsung tertunduk. Mereka menundukkan kepalannya dalam- dalam turut merasakan kegusaran dan kesedihan sahabatnya itu.


“Sabar Dul, sabar…. Masih ada waktu untuk mencari Mahmud. Selama tidak ada tanda- tanda kematian dari tubuhnya, Mahmud masih bisa kembali Dul,” ucap Kiyai Sapu Jagat menenangkan muridnya.


“Ini semua salah saya, maafkan saya Bah. Seandainya saya tidak menabrakkan diri pada tongkat emas itu mungkin kang Mahmud tidak hilang seperti ini,” ucap Kosim lirih penuh penyesalan.


“Tidak Sim, kamu sudah benar melakukan itu. Jika kamu tidak melakukannya justru Mahmud benar- benar sudah meninggal tertusuk oleh senjata Raja Kalas Pati,” sergah Abah Dul.


“Tapi Bah, saya ceroboh. Seharusnya saya


memikirkan ibasnya, andai saja saya memikirkan itu terlebih dulu, mungkin saya bisa


“Sudah, sudah anak- anakku… semua ini sudah terjadi, yang penting sekarang kita berdoa meminta petunjuk sama Gusti Allah agar Mahmud cepat di temukan atau bisa kembali ke raganya,” sela Kiyai Sapu Jagat menengah- nengahi.


“Njih Yai,” sahut Abah Dul merasa sedikit lega setelah mendengar nasihat dari gurunya yang diikuti anggukan kepala Kosim.


“sekarang mari kita sholat duhur dulu, setelah itu kita rencanakan lagi pencarian Mahmud. Mudah- mudahan setelah sholat mendapatkan petunjuk dari Gusti Allah,” ucap Kiyai Sapu Jagat.


“Amiin… amiin.. ya robbal alamiin…” sahut Abah Dul, Gus Harun Basyari, Baharudin bersamaan. Yang juga diamini oleh Kosim, tuan Samanta serta tuan Gosin.


......................


Alam Jin,


Mahmud dan tuan Denta telah sampai di pinggir hutan larangan. Tuan Denta segera mencari- cari sebuah tanda dengan menyibak- nyibakkan ilalang dan rumput liar. Tanda itu berupa sebuah patok kayu yang sengaja di tancapkan sebagai tanda yang menunjukkan sebuah pintu. Mahmud hanya memperhatikan saja apa yang dilakukan oleh tuan Denta tanpa bertanya.


“Nah, ketemu!” seru tuan Denta senang melihat sebuah patok kayu yang menancap kokoh berwarna hitam.

__ADS_1


“Itu apa tuan?!” tanya Mahmud tak mengerti dengan patok kayu berwarna hitam yang dipegang tuan Denta.


“Ini hanya tanda saja tuan. Yang sebenarnya


di tuju adalah ini,” jawab tuan Denta menunjukkan sebuah lempengan besi berbentuk persegi empat yang di tutupi rerumputan untuk menyamarkan keberadaannya.


Tuan Denta segera menyingkirkan rerumputan dan ilalang diatas lempengan besi persegi lalu menarik ujungnya yang terdapat gagang sebagai handle nya itu keatas. Setelah memberi penyangga pada ujungnya, nampaklah senuah lobang yang terlihat sangat gelap.


“Ayo tuan, kita masuk. Ini jalan menuju tempat tinggalku,” ajak tuan Denta lalu turun memasuki lubang tersebut.


Mahmud bergegas mengikuti tuan Denta


menuruni pintu lubang dengan hati- hati meraba- rabakan telapak kakinya. Tuan Denta


menjentikan jarinya, dan seketika itu juga nampak cahaya terang menyala di dalamnya. Mahmud tertegun sejenak, ia merasa kagum dengan kemampuan yang dimiliki tuan Denta. Sampai- sampai terlintas di benaknya ingin memiliki kemampuan seperti itu.


Melihat Mahmud sudah masuk, tuan Denta segera mengibaskan tangannya keatas. Besi penutup pintu pun seketika langsung tertutup kembali dan menimbulkan suara keras didalam lorong yang mengejutkan Mahmud.


“Astagfirullahal azim!” pekik Mahmud reflek.


“Maaf, maaf tuan Mahmud,” buru tuan Denta berucap karena mengagetkan Mahmud.


Mahmud hanya mengangguk sembari tersenyum canggung karena merasa malu. Tuan Denta pun langsung bergegas menuntun Mahmud menyusuri lorong selebar satu orang dewasa saja tetapi memiliki tinggi sekitar 2 meteran. Namun atap setinggi itu masih membuat tuan Denta menundukkan kepalanya saat berjalan menyusuri lorong tersebut.


Tak berapa lama, tuan Denta dan Mahmud yang berada di belakangnya telah sampai di ujung lorong. Perlahan- lahan dan hati- hati tuan Denta menggeser penutup lorong yang terbuat dari lempengan kayu agar tidak menimbulkan suara.


Setelah berhasil menggeser penutupnya, tuan Denta melongokkan kepalanya untuk mengintip situasi di luar. Sebab tuan Denta meyakini kalau rumahnya itu masih berada dalam penjagaan para prajurit kerajaan Jin yang memburunya.


“Mari naik tuan Mahmud,” bisik tuan Denta.


Setelah keluar dari dalam lubang Mahmud pun langsung bertanya melihat tuan Denta yang bersikap waspada dan hati- hati.


“Kenapa kita mengendap- endap tuan,” bisik Mahmud melihat gerak –gerik tuan Denta.


“Diluar pasti ada prajurit yang mengawasi kediamanku, tuan,” balas tuan Denta.


“Kenapa bisa begitu?!” tanya Mahmud penasaran.

__ADS_1


“Nanti aku ceritakan, sekarang tuan Mahmud tunggu disini dulu. Aku akan memeriksa keadaan,” bisik tuan Denta.* BERSAMBUNG


__ADS_2