Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Kepergian Gus Harun


__ADS_3

Hari ke-10 melawan perjanjian gaib, pukul 8.12 wib. Mahmud, Dewi, Arin, Kosim, Abah Dul dan Mang Ali berkumpul di ruang tengah usai sarapan bersama sekaligus syukuran atas kesembuhan Kosim.


Perban di kepalanya sudah dilepas, luka-luka dan bekas jahitannya sudah mengering.


"Kang Kosim, gimana keadaannya sekarang?" Tanya Gus Harun.


"Alhamdulillah sudah lebih segar, Gus. Kepengennya sih hari ini mau ke proyek lagi tapi dilarang sama Arin. Jangan dulu kerja katanya, sampai benar-benar sehat." Jawab Kosim.


"Kang Kosim, kang Kosim... Masih sakit aja masih mikir berangkat kerja. Apa nggak kapok kang, hehehe..." Gus Harun tertawa kecil disusul tawa yang lainnya.


"Oiya, saya baru ingat Gus. Sebelum pinsan yang kata Juned tertimpa atap bangunan mess itu, awalnya saat saya mau ambil helm yang tergantung di dinding tiba-tiba ada sosok hitam berkelebat cepat menyambar tangan saya lalu menabrak dinding mess. Setelah itu saya mendengar mess berderak lalu sesuatu menimpa kepala saya," terang Kosim. (*baca episode Firasat)


"Sosok hitam?" Tanya Gus Harun penasaran.


"Injih Gus, bahkan sebelumnya saya hampir kecelakaan saat dijalan menuju proyek. Juga karena sosok hitam yang tiba-tiba berkelebat nyeberang," sambung Kosim.


Arin dan Dewi mengerutkan keningnya, antara percaya dan tidak mendengar cerita Kosim. Namun ada rasa ngeri terpancar dari ekspresi wajah keduanya.


"Dul, benarkan firasat saya waktu itu?" Kata Gus Harun menoleh ke Abah Dul.


"Iya ya Gus. Berarti kejadian yang menimpa Kosim akibat ulah mereka." Ujar Abah Dul.


"Ulah mereka. Mereka siapa Bah?!" Tanya Arin terkejut.


"Anu, itu mahluk gaib Rin.." Jawab Abah Dul sekenanya.


Abah Dul keceplosan dia lupa kalau Arin dan Dewi belum mengetahui kejadian yang sedang menimpa Kosim. Bahkan Arin dan Dewi pun tidak mengetahui sama sekali kalau Kosim pernah melakukan ritual pesugihan hingga imbasnya bertubi-tubi diteror siluman monyet.


Selama ini Arin dan Dewi memang belum mengetahui penyebab teror dan gangguan-gangguan yang menimpa keluarganya hingga nyaris merenggut nyawa Dede dan Kosim.


Sebelumnya sudah sepakat antara Abah Dul, Mahmud dan Kosim sengaja untuk tidak menceritakannya dulu pada Dewi terutama Arin. Karena situasi dan kondisi saat itu dirasa tidak tepat dan hanya akan membuat Arin marah besar dan akan menambah kekacauan dalam rumah tangga Kosim.


"Apa masih ada hubungannya dengan peristiwa Dede waktu di rumah saya Bah?" Tanya Arin makin penasaran.


"Iya Rin. Mahluk gaib itu menyukai Dede," jawab Abah Dul berbohong.

__ADS_1


"Terus gimana sekarang? Tanya Arin lagi.


"Alhamdulilah sudah nggak ada gangguan-gangguan mahluk gaib lagi. Makanya saya meminta bantuan sahabat saya ini," jawab Abah Dul sambil meboleh ke Gus Harun.


Sementara itu Kosim hanya terdiam menundukkan kepala, raut wajahnya menyiratkan ketakutan dan khawatir rahasianya terbongkar di mata Arin.


"Syukur lah, terima kasih banyak Gus bantuannya." Ujar Arin.


Gus Harun hanya mengangguk-anggukan kepalanya sesekali melirik Kosim yang tertunduk. Ia memahami perasaan Kosim sehingga tak banyak bicara khawatir situasinya memanas.


Untungnya obrolan terputus sebab disaat bersamaan tiba-tiba terdengar suara dering telpon dari saku baju Gus Harun. Ia pun segera mengangkat telponnya.


"Assalamualaikum, njih.. injih... sekarang? Baik Romo, waalaikum salam.." Gus Harun menutup telponnya.


"Ada apa dengan Romo Gus?" Sela Abah Dul.


"Romo meminta saya pulang Dul. Ada sesuatu yqng penting berkaitan dengan pesantren." Jawab Gus Harun.


"Apa nggak bisa ditunda sampai besok atau lusa Gus?" Tanya Mahmud keberatan.


"Saya rasa kondisi disini pun sudah membaik," sambung Gus Harun.


Semuanya terdiam, raut wajah mereka nampak keberatan jika Gus Harun pulang. Terutama ekspresi dari Kosim yang nampak berat dan cemas.


Semenjak Kosim pulang dari rumah sakit dua hari lalu keadaan di rumah Mahmud tampak baik-baik saja, tak ada teror-teror kemunculan siluman monyet lagi.


Sementara bagi Gus Harun ini adalah hari kelimanya tinggal di rumah Mahmud untuk membantu Kosim atas permintaan Abah Dul, sahabatnya semasa sama-sama di pesantren dahulu.


Semalam Gus Harun memang sempat mengutarakan niatnya untuk pulang mengingat situasi dan kondisinya terlihat sudah normal kembali. Selain itu dirasa karena tak ada lagi gangguan-gangguan siluman monyet lagi.


"Kang Mahmud, Kang Kosim, Mbak Dewi dan Mbak Arin, terima kasih banyak atas semuanya. Dan mohon maaf selama saya disini sudah merepotkan kalian," Ucap Gus Harun memecah keheningan.


"Kami yang seharusnya berterima kasih Gus. Gus Harun sudah mau membantu kami," sergah Mahmud.


"Khususnya saya dan Arin sangat berterima kasih atas bantuan Gus Harun. Andaikan tidak ada bantuan dari Gus Harun, Abah Dul, Mang Ali dan saudar-saudara yang lainnya mungkin salah satu dari keluarga saya sudah nggak ada lagi." Sela Kosim. dengan wajah murung.

__ADS_1


Usai Kosim mengucapkan itu Arin mengrenyitkan dahinya. Ia nampak kian menambah bingung maksud ucapan suaminya.


"Salah satu keluarganya akan meninggal?" Tanya Arin dalam hati.


Meskipun tidak memahami maksud ucapan Kosim, Arin tak serta merta langsung menanyakannya. Ia pendam saja didalam hati dengan berjuta tanda tanya yang menggantung.


"Sebetulnya kami berharap Gus Harun masih mau tetap tinggal disini beberapa hari lagi memastikan situasinya benar-benar aman, Gus." Kata Mahmud lagi.


"Saya juga niatnya begitu Kang. Kebetulan dua hari ini surah nggak ada lagi gangguan-gangguan, ya semoga saja benar-benar sudah nggak ada lagi. Gampang lah lain waktu saya bisa kesini lagi apabila situasi disini genting dan membutuhkan saya. Sementara ini insya Allah, Dul bisa mengatasinya," kata Gus Harun sembari menepuk punggung tangan sabahatnya.


Gus Harun segera berdiri sembari merangkapkan telapak tangannya di dada ia menganggukan kepala kepada Arin dan Dewi. Kemudian menyalami Mahmud, Kosim, Mang Ali dan terakhir memeluk Abah Dul.


"Dul, jangan lengah. Kalau ada apa-apa kabari saya," ucap Gus Harun sembari menepuk-nepuk bahu Abah Dul.


"Insya Allah Gus." Jawab Abah Dul.


Kemudian Gus Harun melangkah mengambil ranselnya yang ada di ruang tamu lalu berjalan keluar rumah diiringi Abah Dul, Mahmud, Kosim Mang Ali, Dewi dan Arin sambil menggendong Dede mengekor dibelakangnya.


"Sebentar Gus, hampir lupa ada oleh-oleh sedikit khas Indramayu, mangga Gedong Gincu," sergah Mahmud.


Gus Harun semalam memang sempat ngobrol mengutarakan niatanya untuk pulang esokan harinya kalau situasinya sudah tidak ada teror lagi. Mahmud pun langsung memesan buah mangga untuk persiapan jika Gus Harun benar-benar pulang esok atau lusanya.


"Sim, tolong ambilkan ikatan kardus yang ada di dapur ya," bisik Mahmud kepada Kosim.


Kosim menganggukan kepala lalu bergegas masuk kedalam rumah lagi.


"Wah, Kang Mahmud ngerepotin aja," ujar Gus Harun.


"Ah, nggak seberapa Gus dibandingkan tenaga dan waktu Gus Harun membantu kami." Kata Mahmud.


"Biar nanti dibawakan Kosim sampai Gus Harun naik bus." Sambung Mahmud.


Abah Dul, Mang Ali, Mahmud dan Kosim melangkah mengiringi Gus Harun menuju jalan raya yang jaraknya tak begitu jauh hanya 100 meteran dari rumah Mahmud.


Sementara Dewi dan Arin menatap kepergian Gus Harun dari teras rumah dengan perasaan berkecamuk di hatinya.

__ADS_1


......................


__ADS_2