
Tuan Denta diam tertunduk usai bercerita sedikit masa lalunya, nampaknya ada sesuatu hal yang mengganjal dibalik kisahnya itu. Abah Dul langsung bertanya melihat perubahan sikap yang ditunjukan tuan Denta.
"Kenapa tuan? Sepertinya ada hal yang mengganjal diingatan tuan," ucap Abah Dul.
"Aku merasa sangat bersalah pada keluargaku, dari kabar yang aku dengar selama aku dalam pelarian itu istri dan tujuh putra serta empat putriku di bantai dan di musnahkan oleh para prajurit kerajaan. Istri dan anak-anakku di paksa menunjukkan keberadaanku padahal mereka benar-benar tidak mengetahuinya, namun mereka tetap dituduh menyembunyikan kebeeradaanku sehingga terjadiah pembantaian itu," ucap tuan Denta dengan wajah muram.
"Sebelumnya kami minta maaf tuan, gara-gara kami sekarang tuan kembali di buru dan identitas tuan sudah di ketahui," ucap Abah Dul menyesal.
"Tidak, kalian tidak salah. Sebenarnya pada saat para petugas kerajaan itu mulai berlaku kasar, aku pun hendak melakukan perlawanan tetapi kalian lebih dulu menolongku. Aku bisa saja memusnahkan orang-orang kerajaan itu, tapi sudahlah..." kata tuan Denta.
"Maaf tuan, tadi tuan bilang kalau hutan terlarang ini dulunya istana kerajaan. Kenapa pihak kerajaan yang sekarang sampai membuat larangan memasuki wilayah ini?" tanya Abah Dul.
Tuan Denta menarik nafas dalam-dalam, kemudian dia kembali menceritakan kisah yang sudah turun temurun dari moyangnya yang hampir diketahui semua mahluk jin sehingga tidak ada yang berani melanggarnya, kecuali dirinya hingga saat ini.
Semenjak pelariannya dan tinggal di tepi hutan terlarang, Tuan Denta nekad menerobos masuk ke dalam hutan terlarang tersebut dengan menghancurkan aray pelindung terlebih dahulu. Aray itu memagari seluruh tepi hutan terlarang yang sengaja di buat oleh raja sebelumnya setelah berhasil mengambil alih kerajaan dan memusnahkan seluruh mahluk yang ada di dalam istana tersebut untuk menutupi sejarah kelam yang pernah ada itu.
Tidak mudah bagi Tuan Denta membuka aray pelindung itu. Butuh waktu ratusan tahun (waktu di alam jin) untuk menghancurkan Aray itu, itupun setelah tuan Denta melakukan tapa hingga memperoleh kekuatan besar.
"Setelah aku berhasil membuka aray itu aku merasakan seperti ada sebuah kekuatan besar yang terus-menerus menarikku untuk masuk ke dalam hutan ini. Aku pun tak kuasa menahan enegi itu dan mencoba mengikutinya sekaligus penasaran mencari tahu sebenarnya ada apa di dalam hutan sana," tutur Tuan Denta.
"Lalu tuan..?" sela Kosim penasaran.
Tuan Denta kembali menceritakan setelah dirinya memasuki hutan terlarang. Dirinya merasakan perjalanan menuju ke tengah hutan yang sekaligus menjadi pusat energi itu terasa sedikit lama yang menandakan jauhnya perjalanan itu.
Di hadapan tuan Denta nampak reruntuhan bangunan yang sudah banyak diselimuti pepohonan dan alang-alang semak belukar berserakan. Energi yang menarik tuan Denta itu terasa semakin besar, ia merasa pusat energi itu berada di tengah-tengah puing-puing reruntuhan. Tuan Denta terus melangkahkan kakinya dengan hati-hati menuju pusat energi yang semakin kuat menariknya.
Tidak berapa lama, tuan Denta melihat sebuah cahaya merah kehitaman yang begitu pekat menyeruak diantara puing-puing reruntuhan. Cahayanya berpendaran dari celah-celah yang menguburnya.
"Terus, gimana tuan? Apakah cahaya merah itu?" Tanya Abah Dul sangat penasaran.
"Sepertinya sebuah benda pusaka kerajaan," jawab Tuan Denta.
__ADS_1
"Apakah tuan mengambilnya?" sela Kosim.
"Tidak! Aku tidak mau mengambilnya, aku merasa itu bukan hak ku," ujar tuan Denta.
Tuan Denta melanjutkan ceritanya setelah melihat pusat energi itu dia memutuskan untuk keluar hutan dan kembali ke tempat tinggalnya. Andaikan pihak kerajaan Azazil mengetahui di dalam hutan sana ada benda pusaka peninggalan kerajaan terdahulunya mungkin sudah diambilnya.
Kerajaan yang di pimpin Raja Azazil begitu patuhnya dan sangat mentaati larangan yang di berikan oleh ayahnya dahulu sehingga hutan terlarang ini tetap menjadi sebuah misteri dan semua penduduknya pun tak ada yang berani melanggarnya. Mereka percaya di balik larangan itu pastinya ada sesuatu yang sangat berbahaya, begitu dugaannya.
......................
Sudah dua hari Abah Dul tidak ada kabarnya, Mahmud pun di buat pusing dengan menghilangnya Abah Dul. Dia menjadi orang yang paling terbebani tanggung jawab oleh orang tua Abah Dul. Upaya pencarian Mahmud sudah di lakukan dengan menelpon semua teman-teman Abah Dul yang ia ketahui.
Mulanya Mahmud menyimpan sendiri soal hilangnya Abah Dul, akan tetapi tanpa disadari ia sempat bercerita pada salah satu tetangganya pada saat acara tahlilan meninggalnya Dede.
Keesokan harinya kabar menghilangnya Abah Dul dari rumah Mahmud pun langsung tersebar dari mulut ke mulut membuat warga Desa Sukadami gempar. Hampir setiap jam para tetangga sekitar datang ke rumah Mahmud hanya untuk mendengarkan langsung soal hilangnya Abah Dul. Rumah Mahmud pun menjadi sorotan warga desa Sukadami karena kabar yang sudah beredar itu kadung tersebar kalau Abah Dul hilang di rumah Mahmud.
Bermacam-macam dugaan versi pun bermunculan, ada yang bilang kalau Abah Dul di bawa siluman, ada juga yang bilang Abah Dul di ajak Kosim ke alamnya dan ada pula yang berpikiran positif kemungkinan Abah Dul sedang pergi ke salah satu temannya atau sedang di panggil untuk mengobati orang di desa lain.
"Gimana mas, sudah ada kabar Abah Dul?" tanya Dewi.
"Gimana kalau tanya sama orang pintar mas?" ucap Dewi.
"Ya nggak ada salahnya sih, tapi siapa?" Mahmud balik tanya.
"Coba tanya ke ustad Arifin mas, barangkali bisa bantu," ucap Dewi.
"Iya Deh nanti saya ke rumahnya setelah sholat duhur," ujar Mahmud.
Bersamaan Mahmud mengucapkan itu azan Duhur pun terdengar di kejauhan. Mahmud pun bergegas melangkah menuju bak mengambil air wudlu diikuti Dewi.
"Rin, ayo sholat Duhur dulu," ajak Dewi melihat Arin masih tiduran di depan televisi.
__ADS_1
Kondisi kejiwaan Arin sendiri masih belum stabil setelah mengalami goncangan hebat berturut-turut di tinggal mati suami dan anaknya. Arin seringkali menangis tanpa sebab, saat menonton televisi, saat memasak bahkan nyaris tak bisa tidur sejak Dede meninggal. Bayanyan-bayangan tingkah lucunya seolah tergambar di pelupuk matanya setiap saat.
......................
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum..." ucap Mahmud.
"Waalaikum salam..." sahut suara dari dalam rumah ustad Arifin kemudian muncul membuka pintu.
"Alhamdulillah, saya kira belum pulang dari masjid Ustad," ucap Mahmud.
"Mari masuk, masuk Mud..." sambut Ustad Arifin.
"Iya gimana kabar Abah Dul Mud? Orang-orang pada nanya ke saya," kata ustad Arifin sambil duduk di kursi tamu.
"Ustad sudah tahu juga kabar hilangnya Abah Dul?" Mahmud balik tanya.
"Kayaknya semua orang sudah pada tahu, kabarnya sudah meluas Mud," ujar ustad Arifin.
"Justru saya ke sini mau minta tolong ustad, barangkali ustad bisa tahu kira-kira Abah Dul berada dimana?" kata Mahmud.
Ustad Arifin terdiam sesaat lalu beucap; "Saya akan coba Mud."
Kemudian Ustad Arifin memejamkan kedua matanya, ia mengerahkan mata batinnya untuk mencari jejak keberadaan Abah Dul. Sesaat kemudian suasana pun hening, Mahmud hanya memperhatikan dan menunggu serta berharap banyak ustad Arifin dapat memperoleh petunjuk.
Raut wajah ustad Arifin nampak menegang, dahinya berkerut dalah-dalam, sesekali ia seperti tersentak kemudian biasa lagi. Sekitar 5 menitan ustad Arifin membuka matanya kembali diiringi usapan tangan di wajahnya.
"Gimana ustad?" tanya Mahmud tak sabar.
Ustad Arifin menghela nafas panjang lalu berkata, "Aneh Mud, saya tidak menemukan keberadaannya. Tidak ada sedikit pun aura dari Abah Dul. Heran..."
__ADS_1
"Kemana ya ustad?" Mahmud nampak kecewa dan putus asa. Harapan satu-satunya pencarian Abah Dul pun menemui kebuntuan.
......................