
Seandainya pada saat itu Kosim tertidur lelap di kamar Kumala dan Kumala memanggil pasukan yang bertugas menjemput tumbal datang, mungkin nyawa Kosim sudah dibawa ke alam siluman monyet. Bersama manusia-manusia pengabdi pesugihan, Kosim harus menjalani sisa umur takdir kematiannya di dunia dengan melanjutkan hidup penuh siksaan dan penderitaan di alam siluman monyet hingga akhir jaman.
Manusia-manusia yang mengikat perjanjian gaib dan pernah merasakan menikmati kemewahan semu yang diberikan oleh siluman pesugihan, pada akhirnya mereka harus menjadi abdi atau budak bangsa siluman dan menghuni alam tak kasat mata dimana mereka mengikat kontraknya.
Mobil Avanza merah yang dikendarai Abah Dul menjemput Kosim melanju meninggalkan lokasi pekuburan Karang Turi. Kosim duduk ditengah diantara Mang Ali dan Juned. Wajah Mahmud, Abah Dul, Juned dan Mang Ali tidak lagi setegang dan secemas sewaktu berangkat ke lokasi Kosim ditemukan tadi.
"Stop, stop Kang!" suara Juned sedikit mengagetkan seisi mobil.
"Saya turun disini saja," ujar Juned.
"Astagfirullah, maaf Mas saya lupa," kata Abah Dul.
Jalan persimpangan menuju tempat kerja Juned dan Kosim terlewati beberapa meter, Abah Dul menepikan mobilnya dan berhenti didepan kios warung yang tutup.
"Sim saya duluan ya, kalau kondisinya sudah baik cepat kabari saya," kata Juned pada Kosim lalu beranjak turun dari mobil.
"Iya Ned, suwun yo," balas Kosim.
"Mas Juned, makasih banyak ya," ucap Mahmud dari jendela mobil depan sembari melambaikan tangan.
Mobil Avanza merah kembali bergerak melaju meninggalkan Juned yang berjalan menuju mess proyek tempatnya bekerja.
Kini Kosim duduk berdua di kursi tengah bersama Mang Ali, wajahnya masih terlihat lelah dan nampak masih bingung belum sepenuhnya menyadari kenapa dirinya sampai berada di pekuburan. Kosim menarik nafas dalam-dalam sambil menyandarkan kepalanyan di sandaran jok, perlahan-lahan tanpa sadar matanya terpejam lalu terlelap tidur.
Didalam mobil suasana hening hanya suara mesin mobil dan ac yang terdengar. Abah Dul, Mahmud dan Mang Ali tidak ada yang berani membuka obrolan menanyakan yang terjadi pada Kosim.
Mobil melaju diatas 80 km/jam namun tidak sekencang saat akan menuju lokasi tempat Kosim ditemukan. Pukul 2 lewat dinihari jalanan masih cukup lenggang, dibalik kemudi Abah Dul tersenyum mengingat kejadian saat mengobrak-abrik alam tak kasat mata.
__ADS_1
Berkat bantuan gurunya, Kiyai Sapu Jagat posisi Kosim berhasil ditemukan. Jika saja kedatangannya bersama sukma Gus Harun dan Sukma Kiyai Sapu Jagat terlambat mungkin Kosim sudah tidak bisa diselamatkan.
Hanya hitungan detik saat Kosim akan memejamkan mata tertidur, ketiga sukma datang dengan hantaman kekuatan tingkat tinggi menembus alam tak kasat mata sekaligus menghancurkan tempat yang akan mengeksekusi Kosim.
Bersamaan dentuman keras membuat tubuh Kosim terpental dan seketika rumah Komala lenyap. Yang nampak hanyalah pemakaman umum dan tubuh Kosim tergeletak ditengah-tengah pekuburan sampai akhirnya ditemukan oleh seorang pencari bangkong.
Abah Dul hanya geleng-geleng kepala dibalik belakang kemudinya manakala mengingat pada saat itu tiba-tiba muncul sosok perempuan di mulut pintu memanggil nama Kosim. Lalu bersama Gus Harun dan Kiyai Sapu Jagat langsung menghantamnya hingga terpental dan lenyap dibalik pintu. Entah bagaimana nasib perempuan itu, Abah Dul tersenyum mengingatnya.
"Toloooong...! Tolooooong...! Bebaskan sayaaaa... Saya tidak mau disinii...!" Kosim berteriak-teriak histeris.
Lamunan Abah Dul mengingat persitiwa penyelamatan Kosim pun buyar seketika mendengar teriakkan Kosim yang cukup kencang.
Kosim terus-menerus berteriak kepalanya menggeleng-geleng kekanan dan kiri dengan liar sembari mengibas-ngibaskan tangannya. Mang Ali yang duduk disampingnya beringsut menjauh hingga mepet ke pintu. Mang Ali mencoba memegang tangan Kosim yang bergerak liar menggapai-gapai.
Kosim meronta-ronta kedua tangannya berada dalam cengkeraman dua monyet bertubuh besar dan hitam. Dihadapannya, Koaim melihat ribuan manusia dengan tangan dan kaki terbelenggu rantai besi dipaksa terus bekerja menggali tanah, ada yang hanya berdiri menopang sebuah tiang besar, ada yang sedang membuat masakan, ada yang sedang diduduki monyet besar dengan posisi jongkok, ada yang tengkurap berderet didepan gerbang istana menjadi alas keset.
"Jangaaan... Jangaaaann bawa saya, jangaaaan...! Saya mau pulaaaaang...!"
Mang Ali tersentak kaget karena Kosim berteriak keras. Abah Dul sempat mengerem mendadak karena teriakkan Kosim, Mahmud spontan menoleh kebelakang melihat Kosim meronta-ronta dengan mata terpejam.
"Sim, sim! Istigfar!" seru Mang Ali panik sambil menepuk-nepuk bahu Kosim dan memegangi tangannya.
Sesaat kemudian Kosim gelagapan terbangun dari tidurnya. Kosim mengerjao-ngerjapkan matanya menengok kanan dan kiri melihat Mang Ali lalu melihat didepannya ada Abah Dul dan Mahmud, barulah dia tersadar kalau dirinya sedang berada didalam mobil dan baru saja mengalami mimpi yang sangat menyeramkan.
"Astagfirullah.." Kosim bergumam.
Kosim yerbangun dari tidurnya. Dia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan sambil menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Ada apa Sim, apa yang ente alami sampai teriak-teriak kenceng," kata Abah Dul sambil menyetir.
Kosim terdiam hatinya masih merasakan kengerian setelah melihat apa yang ada didalam mimpinya. Pikirannya diselimuti ketakutan yang teramat sangat, siksaan dan penderitaan yang dilihatnya sungguh tidak ingin dirinya berada diantara ribuan manusia-manusia tiu. Kosim menghela nafasnya lalu menjawab pertanyaan Abah Dul dengan singkat
"Sangat mengerikan, Bah..." ucap Kosim.
Semuanya terdiam menanti kelanjutan ucapan Kosim penuh dengan rasa penasaran. Namun lama Kosim terdiam tidak juga kunjung meneruskan ucapannya.
Mereka pun sepertinya tidak mau memaksa Kosim untuk menceritakannya. Mobil Avanza merah terus melaju membelah gelapnya malam menjelang subuh menuju rumah Mahmud.
......................
Istana Raja Siluman Monyet,
Petir berkilatan diatas istana Raja Siluman Monyet membiaskan cahaya dipekatnya alam tak kasat mata dibarengi suara guntur menggelagar sekonyong-konyong menjadi irama sifoni Alam tak kasat mata mengiringi kemurkaan Kalas Pati, Raja Siluman Monyet.
Raja Kalas Pati bertolak pinggang dengan muka merah membesi. Sorot merah matanya menatap tajam pada monyet perempuan dihadapannya yang duduk bersedeku sambil meringis menahan kesakitan di dadanya.
"Bodoh! Bodoh sekali! Mengapa bisa sampai gagal?!" seru Raja Kalas Pati.
"Ampun Junjunganku, sedianya akan berhasil manusia bernama Kosim sudah terkunci di alam ini namun tidak disangka-sangka ada tiga sosok bercahaya putih tiba-tiba datang dan menghancurkan tempat penjemputan," jawab monyet perempuan yang tidak lain adalah Kumala.
"Gggrrrrrrkkkkkhhhhh...! Kurang Ajar! Lagi-lagi manusia-manusia itu bisa melindungi Kosim. Kenapa manusia ini sangat susah diambil nyawanya," teriak Raja Kalas Pati.
"Aku tidak sabar menunggu Purnama tiba!" teriak Raja Kalas Pati sangat murka.
"Purnama Junjungan?" sergah Kumala.
__ADS_1
"Yah, purnama nanti aku sendiri yang akan mengadakan pesta penjemputan manusia bernama Kosim," seru Raja Kalas Pati.
......................