Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Kontradiksi


__ADS_3

Alam Tak Kasat Mata,


Nun jauh didalam istana nan megah berlapiskan emas, Raja Kalas Pati duduk gelisah menanti kabar dari Arya dan empat pimpinan prajurit Siluman Monyet lainnya. Didepannya sudah berderet didua sisi kanan dan kiri para petinggi kerajaan Siluman Monyet.


Tidak berapa lama kemudian semua mata tertuju pada kedatangan Monyet besar dengan ikat kepala berwarna biru tergopoh-gopoh sambil memegangi dadanya.


Monyet berikat kepala biru itu tak lain adalah Anggada Gola, satu-satunya Siluman Monyet yang berhasil melarikan diri dalam penyerangan di rumah Mahmud. Sedangkan tiga temannya musnah termasuk Anggada Arya Si Pemimpin Penjemput Tumbal akibat dihajar Gus Harun, Abah Dul dan dua sukma Basyari dan Baharudin. (*baca episode 28)


Beberapa jengkal dihadapan Raja Kalas Pati, Anggada Gola langsung bersimpuh memberikan hormat menghadap sembari memegang dadanya menahan kesakitan.


"Dimana yang lainnya?!" Tanya Raja Kalas Pati berang.


"Ampun Paduka, Anggada Arya, Anggada Sora dan Anggada Soka sudah musnah. Ampun Paduka, empat manusia itu terlalu tinggi ilmunya," Lapor Anggada Gola dengan raut ketakutan.


"Aaakkkhhhh! Kurang ajar!" Teriak Raja Kalas Pati berang.


Raja Kalas Pati lalu bangkit dari kursi singgasananya berjalan mondar-mandir didepan kursinya sambil mengeluarkan umpatan-umpatan tak henti-henti.


Didepannya puluhan prajurit siluman monyet kasta tertinggi tertunduk tak ada yang berani bertingkah apalagi berkata-kata. Sesekali mereka menggaruk-garuk kepalanya penuh rasa ketakutan.


Mereka sangat hafal dengan kebengisan rajanya yang tak segan-segan memusnahkan dengan pukulan tongkat besar berwarna kuning ditangan kanannya dengan sekali tebasan.


"Apa aku harus turun tangan sendiri?!" Seru Raja Kalas Pati.


Semua prajurit siluman monyet terdiam mematung. Tak ada satupun yang berani bergerak dan menyahut, mereka menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Arya sudah musnah, Anggada Sora, Anggada Raksa semuanya juga musnah!" Suaranya menggelegar hingga menggetarkan seisi istana.


Raut Kalas Pati merah padam membesi, sorot matanya berkilat penuh kemarahan. Dalam kondisi murka wajahnya kian sangat mengerikan, tiap kali berkata memperlihatkan dua taringnya yang runcing dikedua sudut bibirnya yang hitam legam.


"Anggada Geni, Anggada Garda, Anggada Tala, kalian gantikan mereka yang musnah. Pimpin pasukan, serang mereka dan seret manusia bernama Kosim!" Teriak Kalas Pati.


"Huuuu... Huuu.. Huuu..!!!" teriakkan para prajurit seketika bergemuruh memenuhi ruang istana.


Diiringi sorakkan para prajurit, tiga siluman monyet bertubuh besar berubulu hitam legam maju ketengah-tengah menghadap Rajanya. Disaksikan oleh para petinggi siluman monyet lainnya yang berdiri disisi kanan kiri memberikan hormat merangkapkan kedua tangannya di dada dengan setengah berjongkok.


"Siap mengemban tugas, Paduka!" Seru ketiganya.


"Susun kekuatan baru, lancarkan siasat. Gunakan dengan cara apapun untuk memusnahkan manusia-manusia itu! Sampai kapan pun tidak ada ampun bagi manusia semacam Kosim!" Seru Kalas Pati bergetar dengan rahang gemeretak.


"Daulat Tuanku Raja Kalas Pati," jawab tiga monyet yang baru naik jabatan itu.


"Jika ini gagal lagi, aku akan meminta bantuan Raja Monyet penguasa negeri Jazirah. Kurang ajar sekali para murid Kiyai Sapu Jagat itu!" Seru Kalas Pati.


Bergetar seisi ruang utama istana oleh kaki dan tongkat para prajurit yang dihentakkan-hentakkan di lantai istana. Bersamaan itu di langit pekat diatas istana terdengar suara menggelegar diiringi kilatan petir bersahutan seakan-akan ikut merasakan kemurkaan Raja Kalas Pati.


......................

__ADS_1


Rumah Mahmud,


Setelah mengantarkan Gus Harun hingga naik bus, Mahmud, Abah Dul, Kosim dan Mang Ali lalu kembali ke rumah mahmud.


Keempatnya duduk-duduk lesehan beralaskan tikar di teras depan. Sementara Arin di ruang tengah sedang menyuapi Dede sambil menonton televisi bersama Dewi.


Mendengar ada suara orang ngobrol diluar, Dewi pun langsung beranjak melangkah ke depan.


"Gus Harun sudah naik bus Mas?" Tanya Dewi pada Mahmud.


"Sudah Wi," Jawab Mahmud.


"Kebetulan banget lewat bus Luragung jurusan Serang jadi nggak naik bus jurusan terminal Pulo Gadung lagi." Jawab Mahmud.


"Syukurlah.."


"Mau pada minum apa nih," Tanya Dewi kepada keempatnya.


"Saya mah kopi" sahut Mang Ali.


"Sama Wi," sahut Mahmud.


"Abah sih, minum apa?" Tanya Dewi.


"Teh tubruk aja Wi," ujar Abah Dul kalem.


"Biar saya aja Mbak yang bikinin," sergah Kosim.


Kosim merasa tak enak hati karena kakak iparnya sudah begitu baik selama ia numpang di rumahnya.


"Iya deh, hayu Sim." Kata Dewi. Kosim pun beranjak dari duduknya mengikuti Dewi menuju dapur.


Sedari tadi usai mengantarkan Gus Harun, Abah Dul tak banyak bicara. Raut mukanya nampak sedang memikirkan sesuatu.


"Bah, apakah ini sudah benar-benar aman?" Tanya Mahmud yang tahu kalau Abah Dul sedang memikirkan sesuatu.


"Iya Bah, saya juga mau nanyain itu," sela Mang Ali.


"Itulah yang sedang saya pikirkan Mud, Mang Ali," jawab Abah Dul.


"Dua hari ini tak ada kejadian-kejadian teror lagi. Saya nggak tau apa para siluman monyet itu menyerah atau sedang menyusun rencana lagi," sambungnya.


"Apa mungkin mahluk gaib itu menyerah?" Tanya Mahmud.


"Kalau menurut saya, rasanya nggak mungkin siluman monyet itu melepaskan Kosim begitu saja," sela Mang Ali.


"Betul Mang Ali. Tak ada sejarahnya manusia yang pernah melakukan ritual pesugihan akan dilepaskan begitu saja," kata Abah Dul sejenak menarik nafas.

__ADS_1


"Terkecuali kita dapat menaklukkan Rajanya." Sambung Abah Dul.


"Abah sanggup kan melawan Raja siluman monyet?" sergah Mahmud.


"Itu dia masalahnya Mud. Ente ingat waktu beberapa hari lalu saya dan Gus Harun nyaris saja koit dan terluka parah bahkan dua sahabat saya pun mengalami hal yang sama. Nah, itu akibat kita bertempur melawan Rajanya," terang Abah Dul.


"Seperti apa sosok Rajanya Bah?" Tanya Mang Ali penasaran.


"Gueeeedeee banget Mang Ali. Wujudnya tinggi besar, mukanya merah dengan dua taring diantara sudut bibirnya, pokoknya seram banget. Senjatanya itu sebuah tongkat kuning keemasan besar banget," kata Abah Dul.


"Apa sosoknya seperti itu tuh, Sun Go Khong di film-film Bah?" Mang Ali kian penasaran.


"Mmm..., sangat jauh berbeda Mang Ali. Kalau Sun Go Khong itu mah enak dilihat, gagah seperti kesatria. Kalau Raja Monyet yang ini sekujur tubuhnya berbulu lebat hitam, wajahnya terlihat bengis, sorot matanya merah menyala, sereemmm banget Mang Ali." Terang Abah Dul.


"Hiiiiihhh... " Mang Ali sampai menggidikkan badannya mendengar penjelasan Abah Dul.


"Kekuatannya itu Mang Ali, dahsyat sekali. Sewaktu kita bertempur dan terluka saja, itu belum bersentuhan langsung. Kita hanya terkena hantaman tenaga dari hawa tongkatnya saja." Lanjut Abah Dul.


"Waduh! Gimana kalau Rajanya yang akan turun langsung ya Bah?" Sergah Mahmud.


"Itu dia yang sedari tadi saya pikirkan Mud. Bisa jadi korbannya bukan hanya Kosim, kita semua." Kata Abah Dul dengan muka cemas.


"Soalnya saya sudah merasakan langsung kekuatannya. Rasanya saya dan Gus Harun pun tidak akan mampu mengalahkannya, terkecuali..." Abah Dul menggantungkan ucapannya.


"Kecuali apa Bah???!" Tanya Mahmud dan Mang Ali serempak.


Belum juga Abah Dul menjawab, Kosim muncul dengan membawa kopi dan teh tubruk diatas nampan dari teras samping yang berhubungan langsung ke dapur.


"Wedangan, wedangan..." Ujar Kosim sambil meletakkan nampan dan membagikan gelas berisi kopi dan teh tubruk sesuai pesanannya masing-masing.


Selesai membagikan minuman, Kosim pun duduk disebelah Mahmud.


"Kecuali apa Bah?"


Mahmud kembali menanyakan penuh penasaran karena jawabannya tertunda.


"Soal itu biar saya berembuk dengan Gus Harun dulu. Tapi keyakinan saya, ilmu Allah tidak akan kalah dengan iblis sekalipun." Kata Abah Dul.


Ucapan Abah Dul membuat sedikit menenangkan perasaan Mahmud dan Mang Ali. Sementara Kosim hanya diam karena ia tak tahu topik pembicaraan sebelumnya.


......................


Suasana didua alam yang berbeda itu sangat kontradiksi sekali. Satu hal yang sebagian besar tidak diketahui manusia adalah bangsa manusia tidak bisa masuk alam gaib dan melihat aktifitas mahluk gaib terkecuali oleh orang-orang yang memiliki keahlian spiritual khusus atau tinggi.


Berbeda dengan mahluk gaib, mereka bisa melihat aktifitas manusia dengan segala tingkahnya di alam dunia. Bahkan kita seringkali mendengar kalimat, "godaan syetan" hal itu salah satu gambaran kalau manusia tidak bisa melihatnya sedangkan para mahluk gaib dapat melihat tingkah kita.


Semoga yang membaca kisah ini selalu berada dalam lindungan Allah SWT, amiin...

__ADS_1


......................


__ADS_2