
"Ayo cepetan sedikit rin, pak Diman sudah nunggu!" kata Dewi sedikit mengeraskan suaranya di depan pintu kamar Arin.
"Iya mbaaak, sebentar lagi tinggal nyisir rambut Dede aja kok!" sahut Arin dari dalam kamar.
Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka, seketika Dewi terpana saat melihat adiknya keluar kamar, Dewi terbengong- bengong menatap Arin tak berkedip.
"Kenapa sih mbak?!" sungut Arin melihat Dewi diam mematung sambil menatapnya sedikit melotot.
"Mbak! Halloooo... Mbak!" seru Arin melambai- lambaikan telapak tangan di depan wajah Dewi.
"Eh, ah!" Dewi terkgagap buru- buru merubah ekspresinya setelah tersadar sesaat tenggelam dalam kekagumannya.
"Kenapa sih mbak?!" sungut Arin sedikit kesal.
"Rin... Kamu... Kamu cantik banget," gumam Dewi menatap wajah adiknya kagum.
"Ih, mbak... Adik mbak inikan sudah cantik dari lahir, hikhikhik..." sergah Arin tertawa kecil tersipu- sipu.
"Ayo mbak, kok malah bengong! Halloooo... Mbak! Ayo Katanya sudah di tunggu pak Diman?!" sungut Arin.
"I, iya ayo," jawab Dewi tergagap, kemudian melangkah menuju ruang tamu dimana pak Diman sudah duduk
menunggu.
"Suadah siap mbak Dewi, mbak Arin?" tanya pak Diman langsung berdiri melihat Dewi dan Arin muncul di
ruang tamu.
"Sudah pak Diman, Rin apa tidak ada yang ketinggalan?" jawab Dewi lalu menoleh kearah Arin yang berada di
belakangnya.
"Mmm, sepertinya sudah semua mbak," sahut Arin sambil menggendong Dede, dan menenteng tas perlengkapan
Dede.
"Sini saya yang bawain tasnya mbak Arin, mbak Dewi," sergah pak Diman melihat Arin tampak kerepotan.
"Nggak usah pak Diman, nanti ngerepotin," ujar Dewi berusaha mencegah pak Diman.
"Ah, nggak apa- apa mbak, sini tasnya mbak," ujar pak Diman.
"Makasih ya pak Diman," ucap Dewi kemudian ketiganya keluar.
Setelah Dewi mengunci pintu rumahnya, mereka pun berjalan menuju mobil yang di parkir di depan gang.
Cuaca pagi hari begitu cerah, udara terasa sejuk berpadu dengan hangatnya cahaya matahari yang masih hangat- hangat kuku menyinari desa Sukadami seakan- akan saling bersaing untuk memberikan rasa sejuk dan hangat
bagi warga desanya.
“Mau pada kemana mbak Dewi, mbak Arin?” tanya warga saat berpapasan.
__ADS_1
“Mau ke tempat saudara pak,” sahut Dewi.
Warga masyarakatnya yang bersahaja, melenggang kangkung dengan penuh semangat menggapai asa menuju ladangnya masing- masing. Sesekali Dewi dan Arin yang berpapasan dengan warga menganggukkan kepala seraya tersenyum ramah. Hingga mobil yang membawa Arin dan Dewi beserta Dede melaju di jalan
raya meninggalkan Desa Sukadami menuju ke Desa Palu Wesi tepat pada pukul 6 lewat 10 menit.
“Bun, Dede mau diajak kemana?” tanya Dede yang duduk bersama Arin di jok tengah.
“Kita mau silaturahmi ke keluarganya pak Harjo De,” jawab Arin.
“Jauh ya Bun?” tanya Dede penuh keingin tahuan.
“Jauh nggak pak Diman?” Arin mengalihkan pertanyaan putranya pada pak Diman yang duduk dibalik kemudi.
“Deket kok nak Dede, paling satu jam- an, hehehe…” sahut pak Diman.
“Oooo…” celetuk Dede spontan, padahal belum tahu satu jam itu berapa lama.
“Kake Diman, jangan mampir di rumah makan lagi ya,” ucap Dede dengan suara asal.
“Loh kenapa nak Dede?” sahut pak Diman.
“Ada orang jahat!” seru Dede acuh tak acuh dengan keasyikannya sendiri.
“Ha, masa?” pak Diman sedikit terperangah, namun juga ada rasa tidak percaya dengan ucapan seorang bocah berusia 3 tahunan tersebut.
“Benelan kakek Diman, Dede nggak bohong!” seru Dede dengan logat kental anak- anak.
Sekitar 45 menit perjalanan, pak Diman pun membelokkan mobilnya di halaman parkir sebuah rumah makan. Dewi yang duduk di depan langsung mengerutkan keningnya seraya bertanya, “Kenapa ke rumah makan pak
Diman?”
“Punten mbak Dewi, saya belum sarapan. Takutnya penyakit mag saya kambuh, lagipula mbak Dewi, Arin dan Dede juga belum sarapan kan sebelum berangkat tadi?” kata pak Diman bertanya balik.
Dewi hanya mengangguk kecil, ucapan pak Diman memang benar. Dirinya dan Arin serta Dede memang belum sarapan. Namun hati kecilnya mengingatkan akan ucapan Dede agar tidak usah mampir di rumah makan, meskipun Dede tidak menyebutkan nama rumah makannya. Dewi pun hanya manut saja mengikuti kemauan
pak Diman.
Dewi pikir tidak ada salahnya juga mampir di rumah makan, lagian pak Diman juga harus makan agar sakit mag nya tida kambuh. Sementara di jok tengah, Arin dan Dede nampak sedang terlelap tidur. Dede berbaring
berbantal paha Arin, sedang Arin sendiri menyenderkan kepalanya kebelakang di sandaran jok mobil.
“Mari mbak kita turun, makan dulu ya. Takutnya saya disalahkan sama pak Harjo kalau tidak mengajak makan mbak Dewi, mbak Arin dan Dede, hehehe…” kata pak Diman lalu turun dari mobil setelah mematikan mesin
mobil.
Dewi menoleh ke jok belakang dimana Arin dan Dede nampak sedang terlihat tertidur pulas. Dengan pelan- pelan, Dewi menepuk- nepuk ujung sepatu Arin untuk membangunkannya.
“Rin… Rin… bangun,” ucap Dewi.
Arin seketika langsung terjaga dari tidurnya, sesaat celingukkan ke kanan dan ke kiri melihat sekelilingnya.
__ADS_1
“Sudah sampai ya mbak?” tanya Arin bersiap membangunkan Dede yang juga terlelap berbantal pahanya.
“Belum, kita diminta makan dulu, sarapan. Ayo bangunin Dedenya,” jawab Dewi.
“Oh, iya deh mbak,” sahut Arin lalu perlahan- lahan membopong tubuh Dede kedalam gendongannya. Arin sengaja tidak membangunkannya karena kasihan barangkali masih ngantuk.
Dewi dan Arin yang menggendong Dede dengan kedua tangannya langsung berjalan kedalam rumah makan yang sudah di tunggu pak Diman di pintu masuk.
“Nak Dede nya tidur mbak Arin?” tanya pak Diman melihat Dede di bopong Arin.
“Iya pak, sengaja tidak saya bangunin takutnya dia masih ngantuk,” jawab Arin.
“Mari masuk mbak,” ajak pak Diman.
Rumah makan tersebut tidak terlalu mewah namun juga kelihatannya tidak terlalu murahan. Di area parkir tampak ada beberapa mobil pribadi dan tiga mobil truk besar. Arin dan Dewi melangkah memasuki rumah makan mengikuti pak Diman. Di dalam ruangan rumah makan tak begitu ramai hanya beberapa meja saja yang
terisi.
Saat rombongan pak Diman berjalan mencari tempat duduk, beberapa pasang mata langsung memperhatikannya. Pandangan mereka langsung tertuju pada Arin dan Dewi, mata mereka tak berkedip seperti sedang menguliti tubuh kakak beradik tersebut.
Dewi dan Arin yang merasa sedang menjadi perhatian orang- orang di dalam ruangan makan tersebut seketika merasa risih. Kakak beradik itu langsung melempar pandangannya melihat kearah lain lalu melirik ke meja- meja
yang terisi, Barulah Dewi menyadari kalau di dalam ruangan tersebut hanya Dewi dan Arin saja perempuanya sedangkan semuanya adalah laki- laki.
“Pak Diman kita duduk di meja sebelah situ aja,” kata Dewi menunjuk meja didekat jendela bersamaan saat melihat pak Diman sedang memilih meja kosong.
“Oh iya mbak,” sahut pak Diman, kemudian mereka pun menuju meja yang ditunjuk oleh Dewi.
Dede masih belum bangun juga di pangkuan Arin saat Arin memilih menu makanan dari selembar kertas menu yang dilaminating.
“Mbak saya nasi goreng saja ya, satu aja barengan sama Dede,” ucap Arin.
“Loh, kok Cuma satu mbak Arin?” timpal pak Diman.
“Iya, tidak apa- apa pak Diman. Takutnya nggak habis, kan sayang kalau tidka habis pak,” ujar Arin.
“Kalau gitu, saya juga sama. Nasi gorengnya dua ya mbak,” kata Dewi kepada pelayan rumah makan yang siap mencatat pesanannya.
“Saya tulis ya bu. O iya nasi gorengnya ada special, ada nasi goreng mata sapi, nasi goreng ampela atau nasi goreng seafood?” tanya pelayan.
“Seafood aja mbak,” sahut Dewi.
“Nasi goreng seafood dua ya mbak? Kalau bapak?” tanya pelayan menoleh pada pak Diman.
“Sama saja deh neng, nasi goreng,” sahut pak Diman.
“Baik pak, berarti nasi goreng seafood tiga ya, minumnya?” tanya pelayan.
“Teh manis hangat saja mbak,” jawab Dewi yang diangguki Arin.
“Saya the tawar hangat ya neng,” timpal pak Diman.
__ADS_1
“Baik, ditunggu ya…” kata pelayan kemudian berlalu dari meja rombongan pak Diman.* BERSAMBUNG