Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
LORONG KEMATIAN


__ADS_3

Begitu Mahmud mengucapkan "Mata Batin" seketika raut wajahnya memucat! Mahmud terkesiap kaget tiba- tiba melihat sosok mahluk yang sangat menyeramkan di depannya. Seketika Mahmud reflek membuang wajahnya ke samping mengalihkan penglihatannya sambil memejamkan matanya rapat-rapat.


“Ada apa Mud?!” sergah ustad Arifin terkejut melihat ekspresi Mahmud.


“Abah Dul sedang di lilit ular besar ustad!” pekik Mahmud bergetar.


“Astagfirullah!” seru ustad Arifin.


"Gimana ini ustad!?" Mahmud sangat kebingungan.


Ustad Arifin segera merubah duduknya dengan bersila, tangannya diletakkan diatas ujung lutut, matanya dipejamkan rapat-rapat dengan mulut bergetar komat kamit membaca amalan yang di punyanya.


Sesaat kemudian ustad Arifin pun terpekik dengan wajah penuh kengerian. Ia juga dapat melihat sosok mahluk ular hitam besar yang tengah melilit tubuh Abah Dul setelah mengerahkan mata batinnya. Ustad Arifin beringsut menggeser duduknya mundur mengambil jarak dua langkah dengan posisi Abah Dul yang terkulai lemah dengan bersandar pada dinding ruangan.


Bibir Ustad Arifin kembali bergetar membaca rangkaian amalan. Sedetik betikutnya ustad Arifin mengangkat tangan kanannya dengan telapak terbuka menghadap tubuh Abah Dul sesaat kemudian di hentakkannya trlapak tangannya kuat-kuat menghantam tubuh Abah Dul yang terlilit ular sembari berucap; "Allahu Akbar!!!"


Wusssshhh...


Selarik cahaya putih keluar dari telapak tangan ustad Arifin menghantam tubuh ular sebesar pohon kelapa yang melilit bagian perut Abah Dul itu.


Dalam penglihatan Mahmud, ular itu langsung bereaksi memberikan respon mendongak begitu tubuhnya terhantam oleh kekuatan tak kasat mata yang dikeluarkan ustad Arifin. Kepala ular hitam itu seketika menjulur tegak menghadap ustad Arifin dengan lidah bercabangnya menjulur-julur lalu membuka mulutnya lebar-lebar memperlihatkan empat taring runcing di kedua sudut mulutnya.


Tanpa di duga sebelumnya oleh ustad Arifin dan Mahmuf, ular hitam yang terlihat kesakitan itu menggeliat-geliatkan tubuhnya kemudian dalam sekejapan mata kepala ular itu bergerak cepat menghantam tubuh ustad Arifin dengan keras menggunakan bagian atas kepalanya yang bertanduk


Bukkkk...!!!


Tubuh Ustad Arifin terdorong kebelakang hingga menghantam dinding ruang tamu di belakangnya hingga menggetarkan hiasan- hiasan dinding. Ustad Arifin menekukkan badannya menahan sesak dan sakit pada bagian perut dan dadanya, disusul memuntahkan darah dari mulutnya.

__ADS_1


"Astagfirullah ustad!!!" pekik Mahmud.


Tubuh ustad Arifin terkulai dengan banyak noda muntahan darah mengotori lantai ubin, kemudian menyandarkan punggungnya di sudut ruang tamu dengan nafas tersengal-sengal.


Mahmud terkesiap melihat kondisi ustad Arifin yang mengerang kesakitan sembari memegang perutnya. Ia pun bergegas menyongsong tubuh ustad Arifin yang tersandar di sudut ruang tamu.


"Gimana kondisinya ustad?!" tanya Mahmud cemas.


"Uhukk, uhuk, uhuk.. Abah Dul... di serang... guna-guna Mud...., segera ...minta... bantuan!" ujar ustad Arifin terbata- bata.


Di saat kondisi genting seperti ini, Mahmud merasa buntu, tidak ada satu orang pun nama yang muncul di kepalanya. Mahmud dan ustad Arifin hanya bisa menatap pasrah dengan sotot mata nanar memandang kondisi Abah Dul di depannya.


Abah Dul terlihat sudah tidak bergerak lagi, matanya perlahan-lahan menutup tetapi tidak rapat. Kondisi Abah Dul kian memburuk, tangannya yang semula memegangi dada nampak terkulai melemah, matanya perlahan-lahan mengatup tertutup. Namun bibir Abah Dul terlihat bergetar seperti sedang mengucapkan sesuatu. Mahmud dan ustad Arifin terpaku tak berdaya melihat kondisi Abah Dul lalu sesaat berikutnya keduanya terbelalak melihat tubuh Abah Dul seperti tersentak kemudian diam tak bergerak.


“Mud cepak periksa urat lehernya!” seru ustad Arifin panik.


Mahmud langsung menjulurkan telapak tangannya kearah leher Abah Dul dan menempelkannya. Ustad Arifin memperhatikan raut wajah Mahmud penuh kecemasan, seraya bertanya; “Bagaiamana Mud?!”


......................


Abah Dul terkesiap, ia celingukkan kesana kemari melihat sekelilingnya yang terasa sangat asing. Ditempatnya berdiri saat ini, di sekelilingnya ia mendapati hanyalah ada cahaya putih yang tak berujung. Dirinya merasakan seperti berdiri diatas kabut putih dan melayang-layang kebingungan.


“Dimanakah aku?!” gumam Abah Dul.


Di saat bertanya-tanya kebingungan, tiba-tiba muncul sesosok mahluk bercahaya putih terang hingga menyilaukan mata Abah Dul. Abah Dul mengangkat tangannya untuk menutupi silaunya cahaya tersebut. Di tengah kilauan cahaya itu Abah Dul melihat bayangan hitam berdiri seperti tertutupi jubah panjang menutupi kepala hingga menjuntai hingga ujung bawahnya berkibar-kibar. Sosok itu tingginya sekitar dua kali dari tinggi Abah Dul lalu berjalan perlahan-lahan mendekati Abah Dul yang sedang ternganga tertegun melihat sosok di hadapannya.


"Kembali cepat nak! Alam ini bukan alam untukmu!" kata sosok bercahaya itu memperingatkan Abah Dul.

__ADS_1


Abah Dul semakin tidak mengerti dengan keadaan yang sedang dialaminya saat ini. Belum sempat ia hendak menanyakan identitas sosok tersebut, namun sosok bercahaya itu sudah lebih dulu mengucapkan salam dan berpamitan. Setelah berpamitan dan mengucap salam sosok bercahaya itu hilang dari hadapan Abah Dul seperti kabut.


Abah Dul celingukkan menoleh ke arah samping kiri dan kanan. Dan ketika menoleh ke samping kanan, ia melihat sebuah lorong seperti jalan setapak. Abah Dul mengingat-ingat, kalau jalan tersebut adalah Jalan awal saat dirinya sampai ketempat tersebut. Abah Dul berjalan gontai tertatih karena badannya terasa lemah dan ngilu. Kemudian Abah Dul melihat diujung jalan setapak berbentuk lorong itu terdapat kilauan cahaya sangat terang benderang. Ia terus saja melangkahkan kakinya menuju ujung lorong. Semakin mendekati ujung lorong jalan itu, Abah Dul merasakan tubuhnya tertarik oleh sebuah energi yang datang dari ujung lorong tanpa mampu ia tolak.


Tubuh Abah Dul tersedot melayang ke ujung lorong yang bersinar sangat terang, ketika sampai diujung lorong Abah Dul terkesiap kaget. Ujung lorong itu hanyalah sebuah cahaya putih dan ketika tubuhnya memasuki Cahaya terang tersebut Abah Dul hanya dapat memejamkan matanya.


Saat Abah Dul membuka matanya kembali, ia melihat tubuh dirinya terkulai tak bergerak berada di ruang tamu rumah Mahmud. Abah Dul melihat sekujur jasadnya masih duduk bersila dalam keadaan zikir dengan kepala tertunduk dalam- dalam tak bergeming.


Sukma Abah Dul pun segera memasuki jasadnya, akan tetapi seketika itu juga sukmanya terpental. Dia merasakan seolah sukmanya tidak bisa memasuki lagi ke dalam raganya. Abah Dul mencoba lagi, tetapi terpental lagi. Dalam kondisi setengah puþus asa, tetlintas di kepalanya untuk mengucap salam 3 kali;


"Assalamualaikum..."


"Assalamualaikum..."


"Assalamualaikum..."


Lalu dilanjutkan membaca syahadat dan basmallah; "Asyhadu ala ilaha illallah, Wa'asyhadu anna muhammadarrosulallah..."


"Bismillahirohmaanirrohiim..."


Usai Abah Dul membaca itu, tiba-tiba muncul sebuah pusaran angin besar kemudian menyeret sukma Abah Dul untuk memasuki raganya. Bersamaan sukmanya memasuki raga, sebuah ledakkan tak kasat mata mengagetkan Mahmud dan ustad Arifin. Keduanya merasakan daya kejut yang menggetarkan tubuh mereka.


"Astagfirullah!" pekik Mahmud dan ustad Arifin serempak.


Wajah Mahmud dan ustad Arifin seketika berubah sumringah melihat Abah Dul membuka matanya dan melihat tubuhnya kembali menyegar tidak layu seperti sebelumnya.


Secara tiba-tiba memancar cahaya merah darah keluar dari tangan Abah Dul.

__ADS_1


......................


BERSAMBUNG....


__ADS_2