Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MALAM PURNAMA 2


__ADS_3

PUKUL 21.00 WIB MALAM TANGGAL 13,


Makan malam bersama yang biasanya meriah dan ramai gelak canda tawa, kini tidak banyak obrolan disepanjang makan berlangsung. Beragam pikiran menari-menari dibenak mereka masing-masing.


Arin lebih merasakan makan malam ini tidak ubahnya seperti makan malam terakhir kebersamaannya dengan Kosim. Sama halnya dengan yang dirasakan Dewi, kakaknya, merasakan apa yang sedang dirasakan adiknya.


Setelah selesai makan malam itu Arin dan Dewi segera membereskan semuanya dan membawanya ke dapur. Kini, di ruang tengah, Mahmud, Abah Dul, Gus Harun dan Mang Ali masing-masing berlomba menyulut rokoknya. Bagi penikmat rokok, waktu yang paling nikmat dirasakannya itu menghisap rokok sehabis makan. Entah apa yang membuatnya nikmat, mungkin hanya sebuah kebiasaan saja atau hanya sebuah imej saja yang seakan-akan habis makan lalu merokok itu terasa nikmat.


Sedangkan Kosim, dia tidak mengikuti yang lainnya menyulut rokok. Dia lebih asyik meladeni Dede yang saat ini tidak mau lepas dari Kosim. Seolah-olah bocah usia tiga tahunan itu merasakan akan ditinggal oleh ayahnya.


Suasana ruang tengah masih hening hanya memperdengarkan suara-suara tetesan rintik hujan yang berjatuhan di genteng begitu jelas terdengar. Bahkan suara tetesan-tetesan air yang meluruh dari genteng ke tanah pun begitu jelas terdengar.


"Gus, rasa berdebar ini makin santer aja," celetuk Mang Ali memecah keheningan.


"Iya benar Mang Ali," timpal Mahmud.


Abah Dul masih terdiam namun sesaat kemudian dari raut wajahnya menyiratkan kalau dia sedang berkonsentrasi untuk mencari tahu situasi sekitar rumah Mahmud.


Gus Harun memahami apa yang dilakukan Abah Dul, ia hanya bisa menunggu Abah Dul selesai dan menyampaikan apa yang didapatnya.


Beberapa saat kemudian, raut wajah Abah Dul nampak seperti terkejut.


"Gus lihatlah diatas sana," ucap Abah Dul sembari mendongakkan kepalanya keatas memberi kode pada Gus Harun.


Mahmud dan Mang Ali yang tidak memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib, hanya bisa memperhatikan kedua orang berilmu tinggi itu dengan mulut sedikit menganga. Sedangkan Kosim nampak tidak terlalu memperhatikan keadaan, dia masih asyik bercanda dengan Dede yang sedang dipangkunya.


Tidak menunggu lama, Gus Harun langsung terdiam mata batinnya jauh menerawang keatas. Didalam alam tak kasat mata, pandangan mata batinnya melihat dibalik gumpalan-gumpalan awan mendung nan pekat itu terdapat ratusan monyet berpakaian perang dengan beragam senjata ditangannya.


Ratusan monyet itu sigap siap sedia berbaris rapih membentuk kotak-kotak berjajar. Sepertinya hanya tinggal menunggu seruan aba-aba saja ratusan monyet itu sudah siap bergerak.


Tidak jauh berbeda dengan ekspresi wajah Abah Dul, Gis Harun pun terkesiap kaget tak terkira.


"Apakah malam ini mereka akan menyerang?!" kata Gus Harun membatin.

__ADS_1


Lalu Gus Harun membuka matanya, seraya berkata; "Dul, Basyari dan Baharudin langsung dikontak saja datang sekarang. Saya khawatir mereka menyerang disaat kita belum siap."


Untuk yang satu ini, Abah Dul tak menggunakan mata batin, melainkan dengan meloloskan sukmanya. Tubuh Abah Dul sesaat kemudian nampak diam kaku tak bergerak. Sukmanya membias keluar dari raga lalu secepat kilat melesat cepat kearah selatan. Apabila dilihat dialam tak kasat mata selarik sinar putih melesat seperti meteor dengan cepatnya dibawah gumpalan-gumpalan mendung yang berwarna hitam. Sehingga kepergian sukma Abah Dul tidak dapat terlihat oleh para monyet siluman yang berada diatasnya.


SURABAYA,


Ustad Basyari sedang bercengkrama dengan istri dan seorang putranya yang berusia 10 tahunan di ruang makan. Tiba-tiba Ustad Basyari terdiam ditengah-tengah obrolan, sedetik berikutnya ia tersenyum.


Sementara istri dan anaknya hanya menatap bingung perubahan sikap ayahnya yang tiba-tiba terdiam lalu senyum-senyum sendiri. Ibu dan anak itu tidak melihat kehadiran sukma Abah Dul berada diantara mereka.


“Bu, ayah ke saung dulu ya. Le, nanti kamu tidurnya jangan kemalaman ya.” Kata Ustad Basyari.


“Injih, Yah...” jawab ibu dan anak itu berbarengan.


“Ya sudah ayah ke saung.” Ucap Ustad Basyari sambil melangkah meninggalkan ibu dan anaknya di meja makan.


Sukma Abah Dul nampak berjalan disamping Ustad Basyari. Meskipun jalan didepannya terhalang tembok dan pintu namun sukma Abah Dul terus saja berjalan tanpa terhalang. Sukmanya menembus apapun yang dilewatinya hingga ke pintu keluar. Keduanya berjalan menuju saung yang berada dihalaman samping rumah.


“Duduk Dul,” ucap Ustad Basyari mempersilahkan sukma Abah Dul.


“Apakah ente sudah siap Bas? Gus Harun memintanya datang sekarang,” ucap sukma Abah Dul.


“Sebagai sahabat, tidak diminta pun kalau saya tau pasti saya selalu siap Dul,” jawab Ustad Basyari tersenyum simpul.


Mendengar jawaban itu, sukma Abah Dul reflek menepuk bahu sahabatnya. Tapi ia lupa kalau kedatangannya itu dalam wujud sukma sehingga tepukkan tangannya hanya menembus tubuh Ustad Basyari.


“Hahahahaha... Dul, Dul.. Kebiasaanmu itu loh nggak ilang-ilang toh yo,” Ustad Basyari tergelak melihat tangan Abah Dul yang menepuk bahunya hanya lewat.


“Hahahahaha... iya sering lupa saya Bas. Kemarin-kemarin juga diketawain sama Gus Harun, ya sama kaya barusan tadi,” sukma Abah Dul pun ikut terkekeh.


Beberapa lamanya kedua sahabat satu pesantren itu tertawa dengan lepas. Dari empat orang yang dulu sama-sama satu pesantren di Madura itu, dua orang Basyari dan Baharudin sudah menikah dan masing-masing sudah memiliki satu anak. Hanya Abah Dul dan Gus Harun saja yang masih belum menemukan jodohnya.


Entah mengapa hingga saat ini keduanya belum juga menikah, padahal wajah Abah Dul gantengnya ya 11-12 dengan Syekh Mansour, itu loh Politisi Uni Emirat Arab sekaligus anggota keluarga penguasa Abu Dhabi saudara tiri Presiden UEA Khalifa bin Zayed Al Nahyan.

__ADS_1


Gus Harun juga memiliki kegantengan khas wajah blasteran Indonesia-Arab. Menurut silsilahnya harusnya Gus Harun dipanggil Habib namun ia memilih menyembunyikan sebutan itu. Dia lebih senang terlihat sebagai orang biasa pada umumnya.


“Ayo Dul, kita ke Baharudin kan?” kata Ustad Basyari, tau-tau sudah melepas sukmanya.


“Ayo kita kemon,” ujar sukma Abah Dul sambil terkekeh.


Kedua sukma itu lantas melesat kearah barat menuju kediaman Ustad Baharudin.


KUTAI-KALIMANTAN TIMUR,


Ustad Baharudin terlihat baru saja selesai mengajar santrinya belajar mengaji Qiroah. Semenjak sholat isya ia tidak langsung pulang karena kebetulan hari ini jadwalnya mengajar qiroah. Ketika sukam Abah Dul dan sukma Ustad Bsyari tiba, langsung disuguhkan dengan lantunan-lantunan merdua ayat-ayat suci Al Quran dari suara-suara santri Ustad Baharudin.


Dua sukma itu tidak langsung menemui Ustad Baharudin, keduanya memilih duduk di dekat pintu utama masjid menunggunya hingga Ustad Baharudin selesai mengajar.


Meski begitu namanya orang yang memiliki ilmu kebatinan tingkat tinggi, tetap saja Ustad Baharudin terlihat celingukkan. Nalurinya mengatakan ada yang datang dan benar saja saat menoleh kebelakang, dilihatnya ada sukma Abah Dul dan Ustad Basyari.


“Adik-adikku semua, pelajaran hari ini cukup sampai disini dulu. Tapi ingat pelajaran tadi di deres (diulang) di pondokan ya. Amir, antum harus perdalam lagi pernafasannya ya supaya tidak kehabisan nafas saat menggunakan nada Hijaz dan Nihawand. Saya akhiri, wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.” ucap Ustad Baharudin mengakhiri.


“Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh...” sahut para santri berbarengan.


Dilanjutkan satu persatu para santri berbaris menyalami Ustad Baharudin sebelum keluar meninggalkan masjid. Sukam Abah Dul tersenyum melihat pemandangan itu.


Diantara tiga sahabatnya, hanya dirinya yang tidak memiliki pesantren ataupun mengajar di pesantren. Karena Abah Dul sendiri sebelumnya hanyalah dari keluarga biasa di kampungnya, sedangkan ketiga sahabatnya berasal dari keturunan Kiyai yang memang sudah memiliki pesantren besar.


Ustad Baharudin kemudian berjalan menuju dimana sukam Abah Dul dan Ustad Basyari duduk dengan senyum mengembang.


“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,” ucap Ustad Baharudin melambaikan tangan.


“Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh,” jawab kedua sukma sahabatnya.


“Sekarang?” tanya Ustad Baharudin seperti mengetahui maksud kedua sukma itu datang.


“Iya Har, sudah siap?” tanya sukma Abah Dul.

__ADS_1


“Saya mesti pulang dulu. Kalau tubuh saya tinggal disini nanti dikira saya meninggal. Bisa gawat, hehehe...” ujar Ustad Baharudin seraya mengajak sukma Abha Dul dan sukma Ustad Bsyari ke rumahnyanya yang hanya berjarak 200 meter dari masjid.


......................


__ADS_2