
Mang Jaka nampak kecewa sekali, kenyataannya tidak sesuai dengan bayangannya selama dalam perjalan pulang. Padahal mang Jaka ingin sekali melihat ekspresi dari istri dan dua anaknya makan makanan yang sangat enak dan mahal tersebut. Namun mang Jaka memaklumi tidak bisa memaksakan merea untuk makan lagi.
Nengsih langsung membuka bungkusan plastik yang berisi Tongseng daging sapi dan sayur sop iga sapi tersebut. Lalu ia mendekatkan hidung ke plastik makanan itu mencoba menghirup bau dari tongseng.
“Baunya sih enak ya kang?” kata nengsih.
“Enak banget Neng, akang saja sampai nambah waktu makan disana,” ujar mang Jaka.
"Biar buat lauk besok saja kang, tinggal diangetin lagi," ucap Nengsih menghibur sauminya yang terlihat kecewa.
“Yowis bu, saya mandi dulu,” ujar mang Jaka dengan langkah kecewa.
......................
Di rumah bos Karso,
Bos karso sedang duduk santai di teras depan rumahnya. Diantara jarinya terselip sebatang rokok yang baru saja dinyalakan. Diatas meja disebelah tempat duduk bos Karso tersaji segelas kopi, segelas the dan sepiring gorengan pisang. Sedangkan romlah duduk di kursi satunya hanya terpisah oleh meja kayu jati yang berukir mewah.
Wajah bos Karso nampak sumringah, pandangannya menatap jauh ke halaman hingga membentur pada pohon mangga berbatang besar yang berdiri dengan megah. Bos Karso mengepulkan asap rokok keluar dari hidung dan mulutnya seakan merasakan kenikmatan merokok. Dia tersenyum penuh misteri membayangkan mang
Jaka sedang menyantap makanan yang diberikannya tadi.
“Gimana pak, apakah sudah dapat?” tanya Romlah memecah keheningan sekaligus membuyarkan lamunan bos Karso.
“Sudah bu, sekarang bapak sudah lega nggak lagi pusing memikirkan sesembahan lagi,” jawab bos karso.
‘Siapa?” tanya Romlah penasaran.
Bos karso tak langsung menjaawab, ia sejenak menghisap dalam- dalam rokoknya kemudian perlahan- lahan dihembuskannya. Sebelum menjawab.
“Keluarganya Jaka bu,” bisik bos Karso memelankan suaranya seolah- olah takut ada yang mendengar.
“tapi bapak nggak lupa kan dengan ritual dan bacaan manteranya sebelum memberikan makanan itu pada jaka?” romlah ingin memastikan sekaligus mengingatkan suaminya.
“Tentu, bapak nggak akan lupa bu. Sekarang kita bisa tenang bu, tinggal kita lihat apa yang akan terjadi besok lusa,” jawab bos Karso.
“Jangan lupa juga pak, kasih sumbangan untuk keluarganya ya,” ujar romlah.
“itu sudah bapak rencanakan bu,” balas bos karso.
__ADS_1
......................
Keesokan hari, mang Jaka sudah sampai di tempat kerjanya sekitar pukul 7.15 wib. Mang Jaka memarkirkan sepeda motor bututnya ditempat biasa di bawah pohon mangga di depan rumah bos Karso bersama dengan gerobak- gerobak pengepul rongsokan.
Sekilas mang Jaka melirik kearah rumah bos Karso yang pintunya masih menutup dan sepi. Nampaknya bos Karso belum bangun.
“tumben bos Karso dan bos Romlah belum bangun. Biasanya bos romlah sedang menyiramai tanaman,” gumam mang jaka kemudian berlalu meninggalkan sepeda motornya.
Seperti biasa mang Jaka langsung menuju gudang rongsok untuk membuka pintunya dan berbenah sambil menunggu teman- teman kerja lainnya.
Tak lama kemudian, mang Gogon datang disusul mang Cucun, mang Diman, dan mang Tayo. Mereka pun
berukumpul duduk- duduk lesehan beralaskan kardus yang diambil dari tumpukan didepan gudang.
“Cun kopi dan air panasnya belum diambil,” seru mang Jaka yang usianya 5 tahun lebih tua dari Cucun.
“Iya mang,” sahut Cucun kemudian bergegas pergi ke rumah bos Karso melalui samping rumah bos Karso yang terhubung dengan dapur.
Hal itu sudah biasa mereka lakukan setiap pagi begitu pun dengan pintu dapur yang sengaja tidak dikunci. Entah sudah dibuka sejak pagi atau entah memang sengaja tidak dikunci tapi yang jelas pintu dapur selalu dapat
dimasuki ketika pagi hari.
mengambil kopi dan termos air panas karena berniat hendak memeriksa lebih dulu pekerjaannya yang tertunda kemarin.
Rencananya setelah melihat hasil pekerjaannya barulah mengambil kopi dan air panas. Akan tetapi teman- temannya keburu datang.
Sesaat kemudian mang Jaka pun keluar dari dalam gudang dan bergabung duduk lesehan dengan mang
Gogon, mang , mang Diman, dan mang Tayo. Mereka ngobrol ringan sambil menunggu Cucun membawa kopi dan air panas.
“mang Jaka, kemrain ada apa dipanggil bos Karso?” tanya mang Gogon penasaran karena waktu itu dia yang memberitahukan panggilan bos karso kepada mang Jaka.
“Tadinya suruh nemenin bos Karso ketemu dengan rekan bisnisnya katanya. Tapi rekannya itu nggak jadi datang. Jadi, ya saya diajak makan di restouran mewah loh,” jawab mang Jaka penuh rasa bangga.
“Waaah, beruntung sekali kamu mang, pasti enak- enak makannya ya? Sela mang diman.
“Bukan enak lagi mang Diman, harganya juga muaaahallll..” ujar mang Jaka.
“eh, tapi tumben baru kali ini Bos Karso ngajak makan gitu. Coba inget- inget deh apakah selama ini ada diantara
__ADS_1
kita yang pernah diajak bos Karso makan- makan di luar?” tanya mang Gogon.
“kayaknya belum pernah tuh,” timpal mang Tayo.
“Ya mungkin kebetulan saja mang, kemarin saya diajak karena bos Karso ada keperluan itu,” kata mang Jaka mencegah prasangka buruk khawatir teman- temannya merasa iri sekaligus memutus perbincangan mengenai dirinya kemarin.
“Iya juga sih,” gumam teman- temannya.
Cucun pun muncul sambil menenteng termos air panas dan sepalstik kresek berisi kopi dan gelas cup.
“Wedangan… wedangan…” ucap Cucun sambil meletakkan termos dan kantong kresek dihadapan mang Gogon dan lain- lain.
“sekalian bikinin Cun,” ujar mang Tayo.
“Siap mang….” Balas Cucun.
Sementara itu tanpa mereka sadari bos Karso keluar pintu sambil menenteng secangkir kopi. Sejenak dia berdiri melihat- lihat sekelilingnya. Pandangannya kini tertuju pada mang Jaka dan teman- temannya yang sedang duduk- duduk lesehan.
Kemudian matanya kembali tertuju pada sosok mang Jaka sambil menyunggingkan senyum penuh misteri. Kemudian bos karso duduk di kursi teras, menyalakan sebatang rokok filter.
“tukang pengepul barang belum pada datang?!”
Seketika mang Gogon dan yang lain sontak kaget mendengar suara bos Karso. Mereka semua menoleh kearah bos Karso duduk.
“Belum bos!” sahut mang Gogon mewakili teman- temannya.
“Ngopi bos!” timpal Cucun sekedar basa- basi menawarkan.
“Iya, iya… ini saya juga lagi ngopi,” jawab bos karso.
“Jangan lupa mang Gogon hari ini barang akan diambil dari jakarta. Jadi siapin semuanya ya,” kata bos karso.
“Siap bos. Barang sudah siap angkut,” jawab mang Gogon.
Karena tak ada sahutan lagi dari bos Karso, mang Gogon dan yang lain pun kembali melanjutkan ngobrol dengan teman- temannya. Sementara bos Karso sudah kembali tenggelam ke dalam pikirannya memikirkan target tumbal.
Ini adalah tumbal pertama semenjak melakukan ritual pesugihan tersebut dimana setiap tanggal 1 Syuro Karso dan Romlah harus menyediakan tumbal sebagai bayaran atas harta kekayaannya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1