Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KEMURKAAN RAJA KALAS PATI


__ADS_3

Buuuuummm!!!


Bentrokan sinar cahaya putih yang menghajar batang tongkat emas membuat tongkat emas Raja Kalas Pati terpental dan jatuh ke arah Gus Harun dan yang lainnya. Mereka segera menghindar ke berbagai arah dengan cepat saat tongkat emas itu meluncur jatuh ke arah mereka. Tongkat emas Raja Kalas Pati pun menancap di tengah-tengah posisi Gus Harun dan yang lainnya yang berdiri sebelumnya.


“Cepat, ambil tongkat emas itu!” tiba-tiba sebuah suara yang khas dan berwibawa terdengar menggema.


“Yai!” pekik Gus Harun, Abah Dul, Basyari, dan Baharudin segera mengenali suara tersebut.


Suara itu adalah suara Kiyai Sapu Jagat, guru dari Gus Harun, Abah Dul, Basyari, dan Baharudin. Sedetik kemudian, samar-samar muncul sosok manusia berpakaian gamis berwarna hijau panjang hingga menutupi bagian kaki, melayang lima meter di atas kepala Gus Harun dan yang lainnya.


Seluruh kepala sosok bergamis panjang hijau itu dililit sorban putih hingga membentuk kopyah dengan seutas ujung sorbannya tergerai ke belakang, persis seperti yang dipakai oleh Pangeran Diponegoro, lengkap dengan sebilah keris terselip di sisi kiri pinggangnya. Penampilan sosok yang muncul tersebut sangat gagah dan memiliki karisma yang sangat besar.


“Assalamualaikum Guru…” ucap Gus Harun, Abah Dul, Basyari, dan Baharudin serempak sambil menjatuhkan kedua lututnya dan menangkupkan kedua telapak tangan di dada.


“Waalaikumsalam, sudah, cepat ambil dan simpan tongkat emas Raja Kalas Pati itu. Saya akan membantu Kosim dan Mahmud di atas sana!” tegas Kiyai Sapu Jagat.


“Njih Yai,” sahut Gus Harun dan yang lainnya bersamaan.


Namun, saat hendak melakukan tugas yang diperintahkan Kiyai Sapu Jagat, Gus Harun dan ketiga sahabatnya tertegun di tempat sambil memperhatikan tongkat emas yang menancap seperempatnya ke dalam pijakan mereka. Raut wajah mereka nampak bingung dan hanya terpaku di tempat, melihat besarnya tongkat emas tersebut.


“Yai…” Gus Harun bergumam, setengah meminta pendapat Kiyai Sapu Jagat. Keempat murid Kiyai Sapu Jagat itu tak mengalihkan pandangannya ke arah tongkat emas di hadapan mereka dengan seksama.


Kiya Sapu Jagat yang hendak pergi meninggalkan keempat muridnya pun mengurungkan niatnya. Kontan Kiayi Sapu Jagat mengernyitkan keningnya melihat ekspresi keempat muridnya yang terdiam sambil terus memandangi tongkat emas milik Raja Kalas Pati tersebut.

__ADS_1


“Hehehehe… tentu kalian bingung bagaimana menyimpannya kalau untuk mencabutnya saja kesulitan dengan ukuran tongkat sebesar dan sepanjang itu,” ucap Kiayi Sapu Jagat terkekeh melihat raut wajah kebingungan keempat muridnya.


“Njihhh, Yai…” sahut Gus Harun, Abah Dul, Basyari, dan Baharudin serempak.


Tongkat emas milik Raja Kalas Pati memiliki panjang sepuluh kali lipat dari ukuran tinggi manusia, sedangkan diameter besarnya dua kali lipat dari ukuran drum minyak. Di sepanjang batang tongkat emas tersebut terdapat ukiran-ukiran unik dan aneh, namun Gus Harun dan yang lainnya tidak mengetahui secara pasti apakah ukiran-ukiran aneh tersebut merupakan simbol sebuah kekuatan atau hanya sebuah ukiran hiasan saja.


“Sangat indah sekali,” celetuk Baharudin memandang takjub pada tongkat emas. Seketika, terbersit dalam hatinya ingin memiliki tongkat emas tersebut.


“Murid-muridku, ada satu amalan yang pernah aku ajarkan pada kalian. Jika di antara kalian ada yang bisa menaklukkan tongkat milik Kalas Pati itu berarti itulah yang berhak menyimpannya. Amalan itu akan membuat tongkat emas itu mengecil atau pun membesar sesuai dengan permintaan kalian,” ucap Kiyai Sapu Jagat lalu melesat ke atas menuju tempat ledakkan sebelumnya.


Setelah sampai di tempat, cahaya putih bertabrakan dengan batang tongkat emas yang mana Kiyai Sapu Jagat tidak menemukan Kosim atau pun Mahmud. Kiyai Sapu Jagat segera mengedarkan pandangannya melihat keseliling, lalu pandangannya tertuju ke bawah di mana sesosok besar nampak tengah bangkit berdiri.


“Raja Kalas Pati! Ternyata belum musnah,” gumam Kiyai Sapu Jagat lalu pandangan Kiyai Sapu Jagat bergeser ke arah lain sambil mengernyitkan keningnya dalam-dalam.


Di kejauhan, tampak samar-samar ada banyak sekali mahluk seperti sedang bergerak menuju ke tempat Gus Harun, Abah Dul, Basyari, dan Baharudin yang berdiri mengelilingi tongkat emas. Pergerakan mahluk itu seperti hamparan rumput di padang luas terlihat bergerak bersamaan tak ubahnya seperti sebuah tirai yang menutupi lapangan luas.


“Bahaya! Itu prajurit-prajurit siluman monyet!” seru Kiyai Sapu Jagat keningnya berkerut dalam.


Sementara itu, di bawah posisi Kiyai Sapu Jagat yang melayang di langit, tampak Raja Kalas Pati sudah kembali tegak berdiri dengan kedua tangan terkepal erat-erat. Raut mukanya menunjukkan amarah yang tak terkira. Sorot kedua matanya memancar merah darah, sesaat memperhatikan situasi di sekelilingnya dengan wajah yang nampak sangat murka.


“Grrrrrrkkkkkhhhh…! Grrrrrrkkkkkhhhh…!  Grrrrrrkkkkkhhhh…! “ teriak Raja Kalas Pati seraya menghentakkan kakinya hingga menimbulkan getaran seperti gempa bumi.


Cetar! Duaaarrrr…!

__ADS_1


Suara teriakan kemarahan Raja Kalas Pati terdengar menggelar menggema di seantero alam siluman disambut kilatan-kilatan petir dan dentuman-dentuman guntur yang memecah pekatnya alam siluman.


Sementara itu, sekumpulan pasukan prajurit siluman monyet yang mendengar reaksi alam dan teriakan raja mereka secara serempak juga mengeluarkan teriakan seolah-olah menjawab kemurkaan sang Raja.


“Huugkk! Huugkk! Huugkk! Huugkk!”


“Huugkk! Huugkk! Huugkk! Huugkk!”


“Huugkk! Huugkk! Huugkk! Huugkk!”


Suasana seantero alam siluman monyet begitu terasa mencekam! Teriakan-teriakan yang menggidikkan itu bercampur baur menjadi satu dengan dentuman-dentuman suara guntur dan sambaran kilatan-kilatan petir yang menghujam dari langit ke bawah.


Mendengar suara gemuruh guntur dan kilatan petir yang menggelegar di langit membuat Gus Harun, Abah Dul, Basyari, dan Baharudin berhenti sejenak dari usaha mereka dalam menaklukkan tongkat emas milik Raja Kalas Pati. "Subhanallah!" seru Gus Harun sambil mendongak melihat ke atas.


"Astagfirullah!" timpal Abah Dul, kaget dengan fenomena alam yang terjadi di hadapannya.


"Pertanda apa ini?" tanya Basyari, memperhatikan langit yang kelam dan mencekam.


"Suara raungan itu..." ucap Baharudin, lebih terfokus pada suara yang terdengar dari jauh daripada fenomena alam yang tiba-tiba muncul.


Mereka kembali terkejut ketika suara guntur dan raungan Raja Kalas Pati terdengar lagi, diikuti oleh suara sumpah serapah prajuritnya di kejauhan. Suara-raungan itu semakin keras dan menggema di langit.


"Ayo cepat taklukkan tongkat emas ini!" seru Gus Harun, mengajak mereka untuk fokus kembali pada misi mereka.

__ADS_1


Seruan itu berhasil membawa kembali fokus Abah Dul, Basyari, dan Baharudin. Mereka kembali berupaya untuk menaklukkan tongkat emas Raja Kalas Pati.


Sementara itu, di atas langit, Kiyai Sapu Jagat melihat dengan jelas betapa marahnya Raja Kalas Pati dan prajuritnya. Dia merasa khawatir dan berpikir untuk menentukan langkah selanjutnya dalam menghadapi mereka. Semua yang terlihat tidak sesuai dengan ekspektasinya. **BERSAMBUNG


__ADS_2