Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Dilema


__ADS_3

Umur kematian manusia tiada seorang pun yang mengetahuinya hanya Allah SWT yang memiliki catatan batas hidup setiap manusia di dunia. Dimana pun kita ngumpet kalau umurnya sudah sampai pada waktunya kematian pasti akan datang.


Tetapi sebaliknya meskipun usia manusia tercatat masih panjang namun apabila manusianya tidak menghendaki hidup, Tuhan pun tidak akan melarangnya namun hal itu sangat dibenci oleh-NYA karena mati dalam keadaan putus asa tidak menerima cobaan hidupnya.


......................


Masih di hari ke-10 menjelang Purnama tiba,


Sudah lebih dari tiga Minggu Kosim dan keluarga kecilnya tinggal menumpang di rumah kakak iparnya, Mahmud dan Dewi. Upaya melawan perjanjian gaibnya hingga hari ke-22 Kosim, Arin dan Dede yang berusia 3 tahun masih dapat bertahan hidup meskipun dalam ancaman yang setiap saat datang utusan mahluk gaib untuk menagih tumbal atas perjanjiannya.


Cuaca pagi ini sangat cerah, mentari memuntahkan cahayanya terasa panas menyiangi Desa Selaka Jaya. Mahmud, Kosim, Arin, Dede dan Dewi baru saja selesai menyantap makan paginya diatas gelaran tikar di ruang tengah.


“Mas, Mbak, saya dan Arin sudah terasa lama numpang tinggal disini dan selalu merepotkan. Saya sudah bicarakan ini dengan Arin rencananya sehabis Duhur nanti kami pulang kembali ke rumah,” kata Kosim.


Mahmud dan Dewi seketika terhenti mengunyah jeruknya. Wajahnya nampak kaget mendengar ucapan pamit Kosim yang tiba-tiba ingin kembali ke rumahnya.


Jika Dewi merasa keberatan karena suasana rumahnya bakal sepi, namun berbeda dengan Mahmud. Mahmud menunjukkan ekspresi cemas dirinya merasa kalau keadaan Kosim dan keluarganya tidaklah baik-baik saja.


“Apa sebaiknya nanti aja Sim atau nanti tunggu pendapat dari Abah Dul dulu. Saya khawatir kalau kamu dan keluargamu tinggal disana tidak akan terpantau sepenuhnya. sekarang-sekarang kan banyak kejadian-kejadian aneh muncul saya khawatir sesuatu terjadi dan luput dari pantauan,” ujar Mahmud.


‘Iya ya Sim, tinggallah disini dulu sampai keadaan normal kembali, ya minimalnya sampai tidak ada lagi gangguan-gangguan mahluk halus. Lagian Mbak dan Mas Mahmud senang kok kalian ada disini, Mbak jadi nggak kesepian. Ya Rin, ya? Apa nggak kasihan sama Mbak, Mbak kan belum dikaruniai keturunanadanya kalian terutama Dede membuat hidup Mbak lebih bersemangat,” timpal Dewi.


“Sebenarnya apa yang sedang terjadi sih Mas? Sepertinya banyak kejadian-kejadian aneh dan sering menggangu keluarga saya,” sela Arin.


Wajah Kosim sedikit berubah cemas, sembari menundukkan wajahnya Kosim berpura-pura mengambil rokok diatas bupet yang tak jauh dari jangkauannya tanpa beranjak.


Sementara Mahmud yang ditanya demikian oleh Arin pun nampak gugup. Selama ini yang Arin dan kakaknya tahu kalau gangguan-gangguan mahluk gaib yang datang itu sebatas hanya menyukai Dede, tidak lebih dari itu. Itupun setelah mendapat penjelasan dari Abah Dul pada saat pertama kali Dede akan dijemput bangsa siluman monyet.


“Jika saya jelaskan penyebab gangguan-gangguan ini akibat saya melakukan ritual pesugihan dan menjaminkan Dede sebagai tumbal pasti Arin kaget dan sangat marah atau mungkin Mbak Dewi akan pinsan mendengarnya. Ya Allah tolong saya,” batin Kosim menjerit menghadapi dilema perasaannya.


Mahmud melirik Kosim, ia tahu kalau Kosim hanya pura-pura sibuk dengan rokoknya. Mahmud berusaha tenang dan tetap menjelaskan seperti yang diketahui Arin kalau Dede sedang disukai sama mahluk halus dan ingin diambilnya.


“Rin, kenapa Mas sebegitu melarangnya kamu, Kosim dan Dede pulang untuk sekarang-sekarang ini karena situasinya masih belum normal dan aman. Mahluk gaib itu tidak menentu datangnya, seandainya kamu ada di rumah kamu sendiri, Mas khwatir pertolongan datang terlambat karena jarak dari sini ke rumah mu kan memakan waktu. Meski hanya 20 menit juga bisa jadi fatal,” terang Mahmud dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Arin kalau dirinya menutup-nutupi penyebab yang sebenarnya.


Arin terdiam mencerna setiap ucapan kakak iparnya. Wajahnya menunjukkan menerima penjelasan Mahmud.


Pertanyaan Arin dirasakan Kosim tidak ubahnya seperti sebuah tuntutan kejujuran yang selama ini melekat pada dirinya. Namun menjadi dilema bagi dirinya sendiri situasinya yang tidak mengharuskannya berkata jujur. Dan jalan terbaik baginya hanyalah diam tidak menjelaskan apapun akan lebih baik daripada berkata panjang lebar tapi bohong yang pada akhirnya akan terungkap juga.

__ADS_1


"Ya terserah Mas Kosim aja Mas, saya mah apa kata suami saja," ucap Arin.


Mendengar jawaban Arin membuat perasaan Kosim merasa plong. Tidak seperti tadi dadanya sesak menyangga beban jawaban yang sangat berat membuat Kosim bingung dan ketakutan oleh perasaan bersalahnya sendiri.


"Tok... tok.. tok..!


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..." jawab Mahmud, Kosim, Arin dan Dewi bersamaan.


"Suara Abah Dul tuh," ujar Mahmud.


"Iya Mas, biar saya kedepan," timpal Kosim sambil beranjak dari duduknya.


Kosim berlangkah meninggalkan ruang tengah menuju pintu depan menemui Abah Dul.


"Kreooot..." Kosim membuka pintu.


"Sim, gimana kondisi ente?" tanya Abah Dul begitu pintu dibuka.


"Suwun, suwun, makasih Sim barusan makan sebelum kesini." ujar Abah Dul.


Abah Dul mengikuti langkah Kosim dibelakangnya menuju ruang tengah.


"Bah, sekalian makan yah," sahut Mahmud melihat Abah Dul muncul bersama Kosim.


"Iya ya Bah, saya ambilin." timpal Dewi.


"Udah, udah Wi, Mud barusan makan sebelum kesini," sergah Abah Dul.


"Hay jagoan, makannya banyak nggak?" goda Abah Dul pada Dede yang duduk dipangkuan Arin.


"Buaanyak Abah!" seru Dede sembari tangannya menunjukkan ke perutnya.


"Hahahahahahaha..."


Hahahahahahahaha..."

__ADS_1


"Hahahahahahahaha..."


"Hahahahahahahahaa..."


Semuanya tergelak melihat tingkah lucu Si Dede.


"Ayo salim dulu sama Abah," ucap Abah Dul disela-sela ketawa.


Bosah 3 tahunan yang sedang lucu-lucunya itu berdiri melangkahi pangkuan Mahmud lalu melangkah lagi ke pangkuan Abah Dul meraih tangannya dengan manja.


Dibalik derai tawa melihat kelucuan tingkah anaknya, hati Kosim terenyuh dan menjerit keras. "Ya Allaaaaah... Bapak seperti apa saya ini. Anak saya yang tidak tahu-menahu harus dijadikan tumbal, sungguh saya ini Dajjal, ya Allaaaaaaahhh!"


Batinnya menjerit keras, membuat wajahnya tersenyum hambar sembari memperhatikan Dede. Ada perasaan sakit yang teramat sangat di batin Kosim yang tak henti-hentinya menyesali perbuatannya telah melakukan ritual pesugihan.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh! harusnya saya tidak terpancing oleh tuntutan Arin yang membuay saya menjadi kalut hingga nekad berpikir pendek untuk memenuhi tuntutannya. Tapi semua yang saya lakukan karena saya sangat sayang mereka, tapi cara saya memenuhinya salah, saya salah ya Allaaaaah...!"


Pemberontakkan batinnya tersalur tanpa disadari jarinya menjepit keras rokok ditangannya membuat rokok disela-sela jari Kosim remuk. Beruntung tidak ada yang melihatnya, Kosim cepat-cepat mematikan rokoknya diatas piring bekas makannya dan membuangnya.


"Jadi nggak ambil motornya Mud?" tanya Abah Dul.


"Ya jadi Bah, kalau nggak diambil gimana Kosim berangkat kerjanya." jawab Mahmud.


"Lah, emang semalam Kosim pulangnya nggak bawa motor? Lalu ditaruh dimana motornya Sim? tanya Dewi terkejut.


"Iya, dimana motornya Mas?" timpal Arin.


Abah Dul, Mahmud dan Kosim terkesiap. Ketiganya saling berpandangan satu sama lain. Mereka baru menyadari kalau peristiwa semalam tidak diketahui Dewi dan Arin.


"Anu, semalam motornya mogok di mess. Pulangnya dianterin sama Juned sampai rumah malam banget," sela Kosim menjawab pertanyaan Arin dan Dewi.


"Ayo Bah, otw..." ujar Mahmud membuyarkan prasangka buruk Dewi dan Arin.


......................


NB:


Cukup Tinggalin jejak sayang, Aku sudah sangat senaaaaang bingit...

__ADS_1


__ADS_2